Panas. Itu hal pertama yang selalu menyambutku setiap kali menginjakkan kaki di tempat ini.

Bukan sembarang panas, melainkan jenis panas yang lengket, lembap, dan menempel di kulit seperti lapisan tipis madu yang dibiarkan mengering. Bau tanah basah yang bercampur dengan aroma tajam amonia dari pupuk kandang langsung menusuk hidung begitu aku mendorong pintu kasa greenhouse Fakultas Pertanian.

Aku menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan kasar. Keringat mulai menetes dari pelipis, turun melewati rahang, dan berakhir di kerah kemeja flanelku yang rasanya sudah salah kostum sejak awal.

"Ka, lo geseran dikit dong. Menghalangi kipas nih." Dimas, teman sekelasku yang entah bagaimana bisa bertahan dengan setelan jaket denim di suhu seperti ini, menyikut pinggangku dari sebelah kiri.

Aku bergeser setengah langkah, menyandarkan punggung pada tiang besi berkarat di sudut greenhouse. "Kipas angin reyot begitu aja diperebutkan. Lagian, ngapain sih kita harus berdiri di sini dengerin soal porositas tanah selama dua jam? Bukannya ada di buku semua?" bisikku, melirik tajam ke arah Pak Yanto, dosen paruh baya yang sedang asyik membelai daun tomat seolah itu adalah anak bungsunya.

"Namanya juga praktikum pendahuluan, Bos," balas Dimas santai, mencatat sesuatu di buku kumalnya yang sudah dipenuhi noda tanah. "Lagian lo tuh ya, IPK nyaris empat tapi kalau disuruh turun ke lapangan keluhannya ngalah-ngalahin bapak-bapak encok."

Aku mendengus. "Gue cuma nggak lihat poinnya, Dim. Ngapain gue repot-repot ngotorin tangan kalau akhir-akhirnya ini semua bakal digantiin sama teknologi? Smart farming, IoT, drone sprayer. Kita tuh di kampus disuruh mikir, bukan disuruh nyangkul."

"Ssst! Pelan dikit suara lo," Dimas membelalakkan mata, melirik waswas ke depan.

Namun terlambat. Suara sol sepatu boots karet yang bergesekan dengan lantai semen basah terdengar mendekat. Pak Yanto berhenti tepat tiga langkah di depanku. Matanya yang di balik kacamata tebal menatapku lekat-lekat.

"Arkadia," tegur Pak Yanto, suaranya berat dan bergema di dalam greenhouse yang tiba-tiba hening. "Kalau kamu merasa teknologi sudah bisa menggantikan segalanya, coba jelaskan ke saya dan teman-temanmu di sini. Bagaimana drone sprayer kesayanganmu itu bisa tahu kapan sebuah tanah butuh lebih banyak kalsium atau sekadar butuh aerasi yang lebih baik, tanpa campur tangan manusia yang mengerti fisiologi tanah?"

Puluhan pasang mata menoleh ke arahku. Beberapa menahan tawa, beberapa bersimpati.

Aku menegakkan posisi berdiriku, memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana jeans, dan membalas tatapan dosen itu dengan tenang. "Sensor NPK tanah, Pak. Kita bisa pasang sensor yang terhubung ke mikrokontroler. Data pH, kelembapan, dan nutrisi dikirim real-time ke server, lalu AI memproses datanya dan memerintahkan sistem irigasi pintar untuk menyuplai kalsium cair sesuai dosis yang presisi. Tidak perlu menebak, tidak perlu kotor."

Hening sejenak. Aku bisa melihat jakun Pak Yanto naik turun sebelum beliau menghela napas panjang.

"Teori yang bagus, Arkadia. Sangat futuristik. Jawaban dari anak kota yang membaca terlalu banyak jurnal dari balik meja ber-AC," ucap beliau, nada suaranya tidak marah, tapi cukup tajam untuk membuat telingaku panas. "Tapi kamu lupa satu hal. Tanah ini benda hidup. Dia bernapas, dia berubah, dia bereaksi terhadap cuaca yang tidak selalu bisa diprediksi oleh algoritma. Teknologi adalah alat, Arka. Bukan pengganti insting seorang petani."

Aku menahan diri untuk tidak memutar bola mata. Insting petani. Omong kosong macam apa itu? Aku terjebak di jurusan ini bukan karena aku ingin punya insting petani. Aku di sini karena kesepakatan sialan dengan Papa. 'Lulus dari Pertanian, mengerti dasar komoditas, baru kamu boleh pegang divisi pengembangan anak perusahaan Papa.' Begitu katanya dua tahun lalu.

Bukan berarti aku bodoh. Aku bisa menghafal siklus Krebs, aku paham struktur sel tumbuhan, dan ujian tertulisku selalu sempurna. Aku tahu cara memanipulasi angka dan teori untuk mendapatkan nilai A. Tapi di lapangan? Ini seperti lelucon yang tak lucu. Bagiku, tanah ya tanah. Tempat untuk berpijak, atau paling banter, medium yang bisa dihitung komposisinya di laboratorium. Tidak lebih.

"Baiklah, karena saudara Arkadia sepertinya butuh lebih banyak waktu untuk memahami bahwa tanah tidak sekadar soal angka di layar komputer..." Pak Yanto berbalik, menghadap seluruh kelas. "Saya sudah memutuskan format untuk Tugas Akhir Praktikum Semester ini."

Suara erangan tertahan terdengar dari berbagai penjuru.

"Kalian akan dibagi berpasangan. Satu kelompok dua orang. Tugas kalian bukan di laboratorium. Kalian akan turun langsung ke lahan, menganalisis masalah riil pada tanah pertanian, dan merumuskan solusi perbaikannya selama satu bulan penuh," lanjut Pak Yanto, membolak-balik papan jalannya. "Daftar kelompoknya sudah saya tempel di mading departemen. Tidak ada protes. Tidak ada pertukaran anggota. Kelas bubar."

Begitu Pak Yanto melangkah keluar, greenhouse meledak dalam kepanikan massal. Semua orang berebut mengambil tas dan bergegas menuju lorong departemen. Aku berjalan gontai, sama sekali tidak berniat ikut berdesak-desakan. Siapapun pasanganku, asalkan dia mau mengerjakan laporan dan tidak rewel, aku bersedia membiayai semua keperluan praktikumnya. Uang bukan masalah.

"Lo nggak penasaran dapet siapa?" tanya Dimas yang berjalan di sebelahku.

"Nggak. Palingan juga gue bakal nanya berapa nomor rekeningnya buat beli bahan, terus gue suruh dia kerjain laporannya. Gue bagian finansial dan finishing data," jawabku santai.

Dimas mendecak. "Sombong banget lo, Mentang-mentang duit jajan lo sebulan setara gaji manajer. Tapi sumpah Ka, kali ini lo harus berdoa dapet orang yang bener."

Kami tiba di depan mading yang sudah dikerubungi mahasiswa. Dimas menerobos masuk dengan tubuh kurusnya, sementara aku menyender di tembok, mengeluarkan ponsel dan mulai mengecek pesan masuk.

Beberapa menit kemudian, Dimas keluar dari kerumunan. Wajahnya pucat pasi, seperti baru saja melihat hantu di siang bolong.

"Kenapa muka lo?" tanyaku, mengangkat sebelah alis. "Dapet kelompok sama si Budi yang kalau napas bunyi?"

Dimas menelan ludah, menatapku dengan tatapan kasihan yang membuatku tiba-tiba merasa tidak enak. "Bukan gue yang apes, Ka. Tapi lo."

"Gue? Kenapa?"

"Lo... sekelompok sama Saras."

Aku mengerutkan dahi. "Saras? Saras yang mana? Yang pakai kacamata tebal anak himpunan itu?"

"Bukan." Dimas memelankan suaranya, mendekat padaku. "Saraswati. Anak Agroteknologi kelas sebelah. Cewek yang kemarin berantem sama asisten dosen gara-gara beda pendapat soal takaran pupuk urea. Cewek ambis yang kalau praktikum bawa cangkul sendiri."

Aku terdiam. Ingatanku memutar memori beberapa minggu lalu. Suara perempuan yang tajam membelah keheningan lapangan, mendebat asdos dengan argumen yang tidak bisa dibantah, dengan tangan yang belepotan lumpur.

"Mampus," gumamku pelan.

"Bukan mampus lagi, Ka. Dia benci banget sama cowok-cowok modelan lo yang kuliah cuma modal numpang nama dan teori," bisik Dimas menepuk bahuku penuh simpati. "Selamat menikmati neraka semester ini, Bos."