Kelas Pak Yanto pagi itu terasa lebih pengap dari biasanya. Mungkin karena aku baru saja melakukan aktivitas fisik berat, atau mungkin karena aku bisa merasakan tatapan Saras dari barisan depan yang sesekali menoleh ke arahku di barisan belakang.
"Baik, semuanya sudah mendapatkan pasangan," suara Pak Yanto memecah riuh rendah di kelas. Beliau berdiri di depan proyektor yang menampilkan peta sebuah desa. "Seperti yang saya katakan kemarin, praktikum kali ini bukan sekadar mengambil sampel tanah di lahan kampus. Itu hanya pemanasan."
Beliau mengetuk layar dengan tongkat penunjuknya. "Desa Sukamaju. Ini adalah lokasi penelitian kalian selama sebulan ke depan. Desa ini memiliki karakteristik tanah yang unik, tapi sayangnya produktivitas padinya menurun drastis dalam dua tahun terakhir. Tugas kalian adalah tinggal di sana, menyatu dengan warga, dan menemukan apa yang salah dengan tanah mereka."
Bisik-bisik ketakutan mulai terdengar. Tinggal di desa? Selama sebulan?
"Kita berangkat minggu depan. Peralatan disediakan laboratorium, tapi logistik adalah tanggung jawab masing-masing kelompok. Sekarang, silakan diskusikan rencana kalian dengan pasangan masing-masing."
Begitu kelas bubar, aku langsung menghampiri Saras. Dia sudah sibuk melingkari beberapa area di peta yang dibagikan.
"Sukamaju? Itu kan daerah pelosok yang akses sinyalnya susah, kan?" tanyaku, merasa sedikit waswas.
Saras mendongak, matanya berkilat penuh semangat—sesuatu yang baru kulihat darinya. "Itu daerah dengan potensi irigasi luar biasa, Arka. Tapi tanahnya mengalami keracunan besi. Kalau kita bisa memecahkan masalahnya, itu bakal jadi penelitian yang hebat buat skripsi kita nanti."
"Lo udah mikirin skripsi? Kita baru semester lima!" aku menggeleng tak percaya.
"Gue nggak punya waktu buat santai-santai, Arka. Setiap hari yang kita sia-siakan di kelas tanpa aksi nyata adalah penghinaan buat para petani yang nunggu inovasi dari kita."
Aku terdiam. Idealisme Saras begitu kental hingga rasanya aku bisa menciumnya di udara.
Sesuai instruksi Pak Yanto, sore itu kami harus melakukan simulasi awal di lahan sawah basah kampus sebelum berangkat ke desa minggu depan. Ini adalah "Lumpur Pertama" bagi banyak mahasiswa yang terbiasa di laboratorium.
Lahan sawah basah itu terletak di sisi timur fakultas. Hamparan lumpur kecokelatan yang pekat, dengan air setinggi mata kaki yang menutupi permukaan tanah yang lunak.
"Buka sepatu lo," kata Saras singkat. Dia sendiri sudah melangkah masuk ke dalam lumpur tanpa ragu. Suara plop terdengar saat kakinya tenggelam hingga betis.
Aku menelan ludah. Menatap celana kargoku yang bersih, lalu menatap lumpur yang tampak seperti bubur kental yang menjijikkan itu. "Nggak pakai boots?"
"Di sawah begini, boots cuma bakal bikin lo terperosok karena daya hisap lumpurnya kuat. Pakai kaki telanjang supaya lo bisa ngerasain tekstur tanahnya," jelasnya sambil terus berjalan ke tengah.
Dengan ragu, aku melepas sepatuku, menggulung celana hingga di bawah lutut, dan meletakkan kakiku di pinggir pematang. Begitu jemari kakiku menyentuh lumpur, rasa dingin dan geli yang aneh menjalar. Saat aku memberikan beban penuh, kakiku langsung amblas.
"Woy! Sialan!" aku kehilangan keseimbangan. Tanganku bergerak liar mencari pegangan, dan tanpa sengaja aku mencengkeram pundak Saras yang berdiri tak jauh dariku.
Saras tersentak, hampir terjatuh juga karena taruhanku yang tiba-tiba. Dia berbalik, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Aku bisa melihat bintik-bintik matahari di hidungnya dan aroma sabun mandi yang samar, kontras dengan bau lumpur di sekitar kami.
"Lepasin," desisnya, tapi dia tidak mendorongku dengan kasar. Dia justru memegang lenganku agar aku stabil.
"Sori, sori... lumpurnya... dalem banget," kataku dengan napas memburu, jantungku berdegup kencang—mungkin karena hampir jatuh, atau mungkin karena jarak kami yang terlalu dekat.
"Jangan panik. Distribusikan berat badan lo. Jangan bertumpu di tumit," kata Saras, suaranya sedikit melunak. Dia melepaskan pegangannya setelah memastikan aku bisa berdiri tegak.
Aku mencoba mengatur napas, kakiku terasa tertanam kuat di dalam lumpur. Rasanya berat, setiap kali aku ingin melangkah, aku harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menarik kakiku keluar dari hisapan lumpur.
"Lihat ini," Saras berjongkok, merogoh lumpur dengan tangannya dan mengangkat segenggam tanah basah itu ke depan mataku. "Ini bukan cuma kotoran, Arka. Lihat warnanya yang agak kemerahan? Itu indikasi oksida besi yang tinggi. Di desa Sukamaju nanti, masalahnya bakal lebih parah dari ini."
Aku memperhatikan tanah di tangannya. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa jijik. Aku melihat bagaimana Saras memandang tanah itu dengan rasa hormat, seolah tanah itu memiliki nyawa dan cerita untuk diceritakan.
"Gimana cara lo bisa seserius ini sama tanah, Ras?" tanyaku tanpa sadar.
Saras terdiam sejenak, menatap hamparan sawah di depan kami. "Tanah nggak pernah bohong, Arka. Kalau lo rawat dia dengan bener, dia bakal kasih lo kehidupan. Tapi kalau lo khianati dia, dia bakal hancur, dan orang-orang yang bergantung sama dia bakal ikut hancur."
Ada nada kesedihan yang terselip di balik ketegasannya. Dia seolah sedang membicarakan sesuatu yang lebih dari sekadar sains.
"Bapak gue seorang petani," lanjutnya pelan, hampir seperti bisikan. "Dia kehilangan lahannya karena nggak sanggup bayar utang setelah gagal panen tiga tahun berturut-turut. Bukan karena dia nggak kerja keras, tapi karena tanahnya rusak oleh limbah perusahaan dan nggak ada yang tahu gimana cara benerinnya. Gue di sini supaya nggak ada lagi petani yang kehilangan mimpinya karena tanah mereka mati."
Aku tertegun. Tiba-tiba, alasan-alasanku berada di sini—karena paksaan Papa, karena ingin warisan, karena bosan—terasa begitu dangkal dan memalukan.
"Sori soal bokap lo," kataku tulus.
Saras menoleh padaku, sebuah senyum tipis—sangat tipis hingga hampir tak terlihat—muncul di bibirnya. "Jangan cuma sori. Buktiin kalau lo bukan sekadar benalu di kelompok ini. Sekarang, ambil cangkul itu. Kita harus bikin bedengan percobaan sebelum matahari terbenam."
Aku mengangguk, kali ini tanpa keluhan. Aku meraih cangkul yang diletakkan di pematang, dan dengan sisa tenaga yang kupunya, aku mulai menghantamkan bilah besinya ke dalam lumpur.
Setiap ayunan cangkul terasa berat, keringat menetes masuk ke mataku, dan punggungku mulai terasa panas. Tapi setiap kali aku menoleh dan melihat Saras yang bekerja di sampingku, aku merasa ada sesuatu yang mulai berubah di dalam sini. Di antara bau lumpur dan terik matahari, ada sebuah perasaan asing yang mulai berakar. Pelan, namun pasti.
"Arka, ayunannya jangan terlalu tinggi, nanti lumpurnya nyiprat ke muka lo!" teriak Saras.
Terlambat. Crat! Segumpal lumpur mendarat tepat di pipi kananku. Aku membeku. Saras terdiam sejenak, lalu untuk pertama kalinya, dia tertawa. Bukan tawa mengejek, tapi tawa lepas yang membuat wajahnya terlihat sepuluh kali lebih cantik.
Aku mengusap lumpur di pipiku, lalu tanpa pikir panjang, aku menyentilkan sisa lumpur di tanganku ke arahnya.
"Woy! Berani lo ya!" pekiknya, mencoba menghindar tapi malah terpelesat dan terduduk di lumpur dengan sukses.
Kami berdua berakhir di tengah sawah, kotor dari kepala hingga kaki, di bawah langit sore yang mulai menguning. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun kuliah, aku merasa benar-benar hidup. Dan anehnya, aku tidak lagi merasa salah jurusan.
"Minggu depan di desa bakal lebih parah dari ini, Tuan Muda," kata Saras sambil menyeka wajahnya dengan lengan baju, matanya masih menyimpan sisa tawa.
"Gue siap," kataku mantap. Dan saat itu, aku benar-benar bersungguh-sungguh.
Namun, di balik kegembiraan kecil itu, aku tahu ada satu hal yang masih mengganjal. Rahasia tentang siapa sebenarnya keluargaku, dan apa kaitan perusahaan Papa dengan dunia yang Saras cintai—dan benci—ini.
Aku hanya berharap, akar yang baru saja tumbuh ini cukup kuat untuk menghadapi badai yang pasti akan datang.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar