Malam itu aku tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan wajah Saras yang menatapku penuh kejijikan terus berputar di kepala, seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang. Kata-katanya tentang "benalu" dan "pengecut" terasa jauh lebih menyakitkan daripada teguran Pak Yanto di depan kelas. Mungkin karena ada bagian dari diriku yang tahu, jauh di dalam sana, bahwa apa yang dikatakannya benar. Aku memang tidak punya hati di sini.
Alarm ponselku berteriak tepat pukul lima pagi. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, aku menyeret tubuh ke kamar mandi. Air dingin menyentuh kulitku, memaksaku untuk sepenuhnya terjaga. Aku menatap pantulan diriku di cermin—wajah yang biasanya terlihat rapi di balik meja kafe, kini tampak sedikit lebih suram dengan kantung mata tipis.
Aku memilih pakaian dengan hati-hati. Bukan lagi kemeja flanel mahal atau sepatu putih yang kemarin dicibir habis-habisan oleh Saras. Aku menarik sebuah kaus katun tua berwarna abu-abu gelap, celana kargo yang punya banyak saku, dan sepatu outdoor yang sudah lama mendekam di sudut lemari sejak acara naik gunung gagal dua tahun lalu.
Pukul 05.25 pagi, aku sudah memarkirkan mobilku di depan gerbang kampus yang masih sepi. Kabut tipis masih menggantung di udara, memberikan kesan magis yang jarang sekali kunikmati. Hanya ada beberapa petugas keamanan yang sedang menyeruput kopi di pos mereka.
"Arka?"
Suara itu datang dari arah samping. Aku menoleh dan melihat Saras sudah berdiri di sana. Dia mengenakan caping bambu di punggungnya, sebuah tas ransel besar yang tampak berat, dan sepatu boots karet hitam setinggi betis. Dia terlihat seperti sudah siap untuk melakukan operasi militer di tengah sawah.
"Lo... udah di sini?" tanyaku, mencoba terdengar sesantai mungkin.
Saras melirik jam tangannya, lalu melirikku dari atas sampai bawah. Sedikit perubahan di matanya saat melihat penampilanku, tapi itu hanya bertahan sepersekian detik sebelum kembali dingin. "Bagus. Setidaknya lo tahu cara membaca jam."
"Gue bukan orang yang suka ingkar janji," balasku, menyandarkan tubuh di kap mobil. "Jadi, mana sampel tanah yang mau diambil? Lahan miring mana yang lo maksud?"
Saras tidak menjawab. Dia hanya memberi isyarat dengan kepalanya agar aku mengikutinya. Kami berjalan menembus kabut menuju bagian belakang kampus, area yang luasnya berhektar-hektar dan didedikasikan untuk lahan percobaan Fakultas Pertanian. Bau embun yang bercampur dengan aroma vegetasi yang basah mulai memenuhi indra penciumanku.
"Kita ke Blok C. Lahan miring di sana punya masalah erosi yang cukup parah sejak musim hujan kemarin," jelas Saras sambil berjalan dengan langkah lebar. Aku harus mempercepat langkah agar tidak tertinggal. "Gue mau kita ambil sampel dari tiga kedalaman berbeda: 10 cm, 30 cm, dan 60 cm."
"Kenapa sampai 60 cm? Bukannya struktur akar tanaman palawija rata-rata cuma di lapisan atas?" tanyaku, mencoba mempraktikkan teori yang pernah kubaca di jurnal.
Saras berhenti sejenak, menoleh padaku. "Banyak yang berpikir begitu. Tapi kalau kita mau tahu tingkat pencucian nutrisi akibat erosi, kita harus lihat profil tanah di bawahnya. Lo nggak bisa cuma lihat permukaan kalau mau tahu seberapa parah lukanya, Arka. Begitu juga sama tanah."
Kalimat terakhirnya terasa sedikit personal, tapi aku memilih untuk diam.
Kami sampai di tepi lahan yang miring. Itu bukan sekadar miring, tapi sebuah lereng curam yang di bawahnya terdapat aliran sungai kecil. Tanah di sana tampak pecah-pecah di beberapa bagian, sisa-sisa longsor kecil terlihat jelas.
"Oke, tugas lo yang gali. Gue yang ambil sampel dan labeli," perintah Saras, menyerahkan sebuah sekop kecil dan bor tanah kepadaku.
Aku menatap bor tanah itu seolah itu adalah benda asing dari planet lain. "Gali sampai 60 cm?"
"Iya. Pakai tenaga, jangan pakai perasaan," sahutnya datar, lalu berjongkok untuk menyiapkan botol-botol sampel.
Aku mulai bekerja. Menekan bor tanah ke dalam tanah yang keras dan kering karena belum sepenuhnya terkena hujan pagi itu. Otot lenganku mulai menegang. Setiap putaran bor membutuhkan usaha lebih. Keringat mulai membasahi punggungku meski udara masih dingin.
Saras memperhatikanku sebentar, lalu kembali fokus pada catatannya. "Putar searah jarum jam, lalu tarik perlahan supaya strukturnya nggak rusak," instruksinya tanpa menoleh.
"Gue tahu cara kerja bor, Ras," napasku mulai memburu.
"Bagus kalau lo tahu. Karena kalau sampai sampelnya rusak, kita harus mulai lagi dari awal di titik lain."
Dua jam berlalu seperti siksaan fisik bagiku. Tanganku mulai terasa perih, mungkin lecet karena tidak terbiasa memegang gagang kayu yang kasar. Tapi aku menolak untuk mengeluh. Setiap kali aku ingin berhenti, aku melihat Saras yang begitu teliti—membersihkan sisa-sisa akar dari tanah sampel, mencatat koordinat GPS dengan presisi, dan memastikan setiap botol tersegel rapat. Dia bekerja dengan ritme yang stabil, seolah ini adalah bagian dari napasnya.
Setelah titik ketiga selesai, aku terduduk di tanah dengan napas tersengal-sengal. Bajuku sudah penuh dengan bercak tanah kecokelatan.
"Nih."
Sebuah botol air mineral dingin disodorkan ke depan wajahku. Aku mendongak dan melihat Saras berdiri di depanku. Wajahnya tidak lagi sedingin tadi, meski tetap tidak bisa dibilang ramah.
"Makasih," kataku, menerimanya dan langsung menenggak isinya sampai setengah.
Saras duduk di atas sebuah batu besar tak jauh dari tempatku. Dia membuka topinya, memperlihatkan rambutnya yang sedikit basah karena keringat. "Lo ternyata bisa juga kerja kasar."
"Lo beneran mikir gue selembek itu, ya?" tanyaku sambil mengusap bibir.
Saras mengangkat bahu. "Kebanyakan anak kota yang gue kenal di jurusan ini cuma pengen gelar buat dipajang di LinkedIn, atau buat nerusin bisnis keluarga tanpa mau tahu gimana rasanya tanah di bawah kuku mereka."
"Gue bukan mereka," kataku, meski sebagian kecil dari diriku merasa tertusuk.
"Kita lihat nanti," sahutnya, lalu berdiri dan merapikan barang-barangnya. "Jam delapan kita harus masuk kelas Pak Yanto buat pengumuman resmi kelompok. Jangan sampai telat, dan tolong... cuci muka lo. Lo kelihatan kayak habis perang."
Aku hanya bisa mendengus kecil melihatnya berjalan mendahuluiku. Cewek ini beneran kelompok sialan, pikirku. Tapi anehnya, ada secercah rasa bangga yang menyelinap karena aku berhasil menyelesaikan tugas pertama tanpa lari.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar