Matahari makin terik, menyengat kulit seolah mencoba menguapkan sisa-sisa kesabaranku. Es kopi susu di tanganku sudah mulai kehilangan rasanya, es batunya mencair, berpadu dengan kondensasi yang menetes di meja kantin fakultas.
Aku mengetuk-ngetukkan jari ke meja kayu yang lengket, mataku menyapu sekeliling kantin yang riuh. Sesuai kesepakatan—yang sebenarnya dipaksakan lewat grup WhatsApp kelas yang dibuat ketua tingkat—kami, para pasangan praktikum, harus berkumpul hari ini untuk mendiskusikan pembagian tugas awal.
"Itu dia," Dimas yang duduk di depanku mengangkat dagu, memberi isyarat ke arah pintu masuk kantin.
Aku menoleh. Seorang perempuan berjalan masuk. Rambut hitamnya diikat asal-asalan menjadi cepol yang berantakan, beberapa helai anak rambut menempel di lehernya yang berkeringat. Ia memakai kemeja flanel pudar berlengan pendek di luar kaus hitam polos, celana jeans yang bagian bawahnya menggulung, dan sepatu kets kanvas yang warnanya sudah tidak bisa dibedakan lagi antara abu-abu atau cokelat lumpur.
Di tangannya, ia memeluk sebuah map tebal dan dua buah tabung sampel tanah. Ekspresi wajahnya datar, rahangnya tegas, dan tatapan matanya tajam menyapu kantin seolah sedang mencari target operasi.
Itu dia. Saraswati.
Aku menghela napas, berdiri dari kursiku. "Gue cabut dulu, Dim. Mau nego harga sama preman kampus."
"Hati-hati, Ka. Jangan sampai lo dilempar pakai tabung sampel," kekeh Dimas.
Aku berjalan menghampiri Saras yang baru saja meletakkan barang-barangnya di salah satu meja kosong di sudut kantin. Semakin dekat, aku bisa melihat detail-detail kecil yang membuatku mengerutkan kening. Ada sisa tanah di bawah kuku jemarinya. Ada memar kecil di lengannya. Ia benar-benar representasi dari segala hal yang aku hindari di fakultas ini: kotor, lelah, dan terlalu bersemangat.
"Saras?" sapaku saat tiba di depan mejanya.
Ia mendongak. Matanya yang gelap menatapku dari atas sampai bawah. Ia memperhatikan sneakers putih bersihku yang harganya setara uang semesteran, celana jeans bermerek, dan kemeja bersihku yang sama sekali tidak menampakkan tanda-tanda kehidupan seorang mahasiswa pertanian.
Hanya butuh dua detik bagi Saras untuk memberikan penilaian. Bibirnya melengkung ke bawah, membentuk seringai tipis yang lebih mirip cibiran.
"Arkadia," ucapnya. Suaranya tidak tinggi, tapi cukup dingin untuk membuat es di gelasku terasa seperti air hangat. "Duduk."
Bukan tawaran, melainkan perintah. Aku menarik kursi plastik berdecit di depannya dan duduk dengan santai, mencoba menguasai keadaan.
"Jadi," aku memulai, meletakkan es kopiku di meja. "Gue denger dari anak-anak kalau lo ini tipe yang perfeksionis. Gue orangnya nggak suka ribet. Jadi, biar gampang dan efisien, kita bagi tugas sekarang aja. Gimana?"
Saras membuka map tebalnya, mengeluarkan selembar kertas folio bergaris yang sudah penuh dengan tulisan tangannya yang rapi. Ia tidak menatapku sama sekali saat berbicara. "Tugas pertama kita adalah survei lokasi, ambil tiga titik sampel tanah di lahan miring, ukur pH, dan bawa ke lab buat dioven. Besok pagi, jam setengah enam. Kumpul di gerbang depan."
Aku terbatuk pelan. "Tunggu, tunggu. Jam setengah enam pagi? Lo gila? Matahari aja belum absen."
Saras akhirnya menghentikan gerakan bolpoinnya. Ia menatapku tajam. "Pertanian nggak kenal jam sembilan pagi, Arka. Jam enam matahari udah naik, tanah udah mulai menguapkan airnya. Kalau lo mau ambil sampel dengan tingkat kelembapan alami, lo datang sebelum tanahnya kepanasan. Lagian, besok gue ada shift asisten lab jam sembilan. Jadi kita kerjain pagi."
Aku memutar bola mata, menyandarkan punggung ke kursi. "Dengar, Ras... Saras. Gue hargai dedikasi lo. Tapi gue rasa kita bisa bikin kerja sama ini lebih... realistis."
"Realistis gimana maksud lo?" Matanya sedikit menyipit.
"Gini aja," aku mencondongkan tubuh ke depan, merendahkan suaraku seolah sedang menawarkan transaksi bisnis. "Gue jujur aja, lapangan bukan keahlian gue. Gue nggak suka kotor, gue nggak tahan panas, dan gue benci bangun pagi cuma buat ngaduk-ngaduk lumpur."
Saras masih diam, wajahnya tidak terbaca.
Aku melanjutkan, merasa di atas angin. "Jadi, pembagiannya gini. Lo bagian lapangan. Lo ambil sampel, lo yang ke lab, lo lakuin semua hal teknis yang lo suka itu. Sebagai gantinya, gue yang cover semua biayanya. Transportasi lo, biaya cetak, sewa alat, sampai makan siang lo selama praktikum, gue yang bayar. Buat laporannya, lo kasih raw data-nya ke gue, gue yang olah statistiknya, gue yang ketik, gue yang rapihin sampai layak dapat nilai A. Adil, kan? Win-win solution."
Aku tersenyum tipis, merasa argumenku tidak bisa dipatahkan. Ini cara yang selalu berhasil kugunakan selama empat semester terakhir. Semua orang butuh uang, dan semua orang benci mengetik laporan yang tebalnya puluhan halaman.
Namun, senyumku perlahan luntur saat melihat rahang Saras mengeras. Urat halus di pelipisnya menegang. Tangan kanannya yang memegang bolpoin mencengkeram begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Saras menutup map-nya dengan suara bantingan pelan yang entah kenapa terdengar mengancam. Ia menatap lurus ke dalam mataku.
"Lo pikir," suaranya bergetar pelan, menahan amarah yang meletup-letup. "Lo pikir lo lagi di mana sekarang, Arka?"
"Di kantin?" jawabku asal.
"Lo pikir pertanian itu apa? Lelucon? Tempat lo bisa buang uang saku buat beli nilai?" Mata Saras berkilat marah. "Ini bukan bisnis bokap lo yang bisa lo sogok pakai duit."
Aku tersentak. Sedikit terkejut dengan reaksinya yang berlebihan. "Gue nggak nyogok lo, gue cuma nawarin efisiensi—"
"Efisiensi pantat lo!" potong Saras tajam. Tangannya menunjuk ke arah dadaku. "Lo dengar ya, Tuan Muda. Gue nggak peduli seberapa tebal dompet lo, atau seberapa mahal sepatu putih lo itu. Tanah nggak peduli sama status sosial lo. Kalau lo nggak mau sentuh tanah, kalau lo ngerasa terlalu bersih buat megang cangkul, lo nggak pantas ada di fakultas ini!"
Suaranya tidak berteriak, tapi intonasinya begitu menekan hingga beberapa mahasiswa di meja sebelah mulai mencuri pandang ke arah kami. Aku merasakan panas menjalar di leherku. Harga diriku seperti ditampar secara kasat mata. Selama ini, tidak ada yang berani bicara seperti itu padaku. Apalagi seorang perempuan yang baru kukenal lima menit yang lalu.
"Lo nggak usah bawa-bawa personal," desisku, mulai terpancing emosi. "Gue cuma nawarin cara kerja. Kalau lo nggak mau, ya udah. Tapi jangan nyeramahin gue soal kepantasan. Lo nggak tahu apa-apa soal alasan gue ada di sini."
Saras tertawa hambar, tawa yang tidak mencapai matanya. "Oh, gue tahu persis orang-orang kayak lo. Lo di sini karena terpaksa, kan? Lo muak, tapi lo pengecut buat keluar. Jadi lo milih bertahan dengan cara jadi benalu."
Kata 'benalu' itu menghantam dadaku telak. Aku mengepalkan tangan di bawah meja. "Jaga omongan lo, Saras."
Saras berdiri, meraih map dan tabung sampelnya. Ia menatapku dari atas ke bawah, kali ini dengan ekspresi jijik yang tidak ditutup-tutupi.
"Besok jam setengah enam pagi. Di gerbang depan," ucapnya final, nadanya sedingin es. "Kalau lo nggak datang, gue bakal laporin ke Pak Yanto kalau gue kerja sendiri, dan gue bakal pastiin nama lo nggak ada di satu lembar pun laporan akhir kita. Kalau lo emang niat numpang nama doang, mending lo mundur dari jurusan ini sekarang, Arka. Karena gue nggak sudi punya partner pengecut."
Tanpa menunggu balasanku, Saras membalikkan badan dan berjalan pergi, meninggalkan aku yang mematung dengan rahang mengeras.
Dadaku bergemuruh. Rasa kesal, tersinggung, dan amarah bercampur aduk menjadi satu. Aku melirik es kopiku yang sudah sepenuhnya mencair, rasanya hambar. Sama seperti harga diriku saat ini.
Sialan.
Tadinya aku hanya ingin semester ini cepat berlalu dengan tenang. Tapi melihat punggung Saras yang menjauh, sesuatu dalam diriku yang selama ini tertidur tiba-tiba tersentak bangun. Ia meremehkanku. Ia menyebutku pengecut.
Aku mengeluarkan ponsel, mengetik pesan ke Dimas yang mengawasiku dari jauh.
‘Dim, besok pagi jam lima bangunin gue. Gue mau tempur di sawah.’
Semester ini sepertinya akan terasa sangat panjang. Dan sangat, sangat melelahkan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar