Aroma tajam bahan kimia bercampur bubuk pupuk yang menguar di udara membuatku menahan napas untuk kesekian kalinya. Toko Pertanian "Bina Tani" ini letaknya di pinggiran kota, jauh dari rute jalan tol yang biasa kulewati, dan terjepit di antara pasar tradisional yang becek serta terminal bus antarkota.

Kipas angin berdebu di langit-langit toko berputar malas, seolah sama lelahnya denganku yang sudah berdiri selama hampir satu jam penuh.

"Bu, kalau NPK Mutiara yang karung lima puluh kilo ambil dua, harganya bisa potong lagi kan? Masa harganya sama kayak eceran," suara Saras terdengar memecah suara bising mesin giling padi dari toko sebelah.

Ia berdiri di depan meja kasir kayu yang catnya sudah mengelupas, menunjuk-nunjuk kalkulator raksasa milik si ibu penjaga toko. Di samping kaki Saras, sudah bertumpuk-tumpuk barang pesanan kelompok kami: cangkul baru, sepatu boots karet, lusinan polybag, alat tes pH tanah, sampai beberapa botol pestisida nabati.

"Aduh, Neng. Itu udah harga pas, modalnya aja udah naik dari distributor," balas si ibu, mengelap keringat di dahi dengan ujung daster.

Saras menyilangkan tangan di dada. "Saya tahu harga distributor bulan ini turun tiga persen gara-gara subsidi pupuk cair, Bu. Saya langganan di sini dari semester satu. Potong lima belas ribu per karung, atau saya ambil satu aja sisanya saya cari di toko depan."

Aku memutar bola mata, menyeka keringat yang menetes di pelipisku dengan tisu. Suhu di dalam toko ini rasanya mencapai tiga puluh lima derajat Celcius, dan kami menghabiskan waktu lima belas menit hanya untuk berdebat soal selisih harga tiga puluh ribu rupiah? Tiga puluh ribu rupiah. Uang parkir valet mobilku saja lebih mahal dari itu.

"Ras," aku melangkah maju, memangkas jarak di antara kami. Aku merogoh dompet kulitku, menarik sebuah kartu berwarna hitam legam. "Udah, nggak usah nawar lagi. Kasihan ibunya. Biar gue yang bayar semuanya. Gesek di mana, Bu?" tanyaku sambil menyodorkan kartu itu ke meja kasir.

Ibu penjaga toko itu menatap kartuku dengan bingung, lalu menunjuk sebuah mesin EDC tua yang tertutup plastik berdebu di sudut meja. Namun, sebelum tanganku sempat menyentuh mesin itu, Saras menepis lenganku. Cukup keras hingga kartuku hampir terjatuh.

"Kita pakai uang kas fakultas yang udah dicairkan, Arka. Sesuai RAB (Rencana Anggaran Biaya). Gue udah susun hitungannya," desis Saras, menatapku dengan mata memicing. "Simpan kartu lo."

"Ini cuma selisih beberapa puluh ribu, Saras. Daripada kita berdiri di sini kepanasan nungguin lo nego, mending gue bayarin. Beres, kan? Waktu adalah uang," balasku santai, sengaja menggunakan istilah yang sering dilontarkan Papa di meja makan.

Saras mendengus kasar. "Waktu lo mungkin nilainya setara uang. Tapi buat gue, mengelola anggaran dengan benar itu soal tanggung jawab. Lo pikir petani di desa gampang ngeluarin duit segitu buat beli pupuk? Buat mereka, tiga puluh ribu itu bisa buat makan keluarga dua hari."

Ia kembali menoleh pada si ibu penjaga toko, menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari amplop cokelat berlogo fakultas. "Sesuai harga awal aja deh, Bu. Teman saya ini sepertinya alergi berdiri lama-lama."

Aku membuang napas kasar, memasukkan kembali kartuku dengan perasaan dongkol. Selalu saja begini. Sejak insiden di kantin dan sawah hari itu, hubungan kami memang sedikit membaik dalam artian kami bisa bekerja sama secara teknis. Tapi secara personal? Kami seperti air dan minyak. Cara pandang kami tentang dunia terlalu berbeda.

Setelah transaksi selesai, kami memindahkan barang-barang itu ke bak belakang mobil double cabin yang sengaja kupinjam dari kantor Papa. Aku mengangkat karung pupuk seberat lima puluh kilogram itu dengan susah payah. Otot lenganku terasa mau putus, tapi aku menggigit bibir, menolak meminta bantuan kuli angkut pasar hanya karena tidak mau mendengar komentar pedas Saras lagi.

Selesai memuat barang, Saras melangkah ke sebuah warung kopi kecil beratap terpal biru tepat di seberang toko pertanian. Ia duduk di bangku kayu panjang dan memesan dua gelas es teh manis. Aku menyusulnya, duduk di ujung bangku yang berlawanan, membiarkan angin jalanan yang membawa debu menerpa wajahku.

"Lo tahu," ujarku memecah keheningan, memandangi gelas es teh yang baru saja diletakkan di atas meja basah. "Gue beneran nggak paham sama pola pikir lo."

Saras mengaduk es tehnya dengan sedotan plastik merah. "Tentang apa?"

"Tentang semua ini. Tentang idealisme lo soal petani." Aku mencondongkan tubuh ke depan, menyandarkan siku di atas lutut. "Lo bilang di Sukamaju tanahnya rusak parah. Panen gagal, utang menumpuk. Terus kenapa mereka ngotot bertahan? Kalau gue jadi mereka, lahan itu udah gue jual dari dulu."

Gerakan tangan Saras terhenti. Ia menatapku lewat sudut matanya. "Dijual ke siapa maksud lo?"

"Ke siapa aja yang punya kapital. Developer perumahan, atau ya perusahaan agribisnis korporat. Dapat uang ganti rugi miliaran, mereka bisa pindah ke kota, buka usaha yang lebih pasti, warung kelontong kek, bengkel kek. Daripada berjudi sama cuaca dan tanah yang udah mati. Itu kan lebih logis, Ras. Hukum ekonomi dasar. Alokasi sumber daya ke sektor yang lebih produktif."

Aku mengucapkannya dengan penuh keyakinan. Itu adalah teori yang kudengar sepanjang hidupku. Jika sebuah aset tidak lagi menghasilkan return of investment yang bagus, likuidasi. Jual. Sederhana.

Namun, bukannya membalas dengan argumen logis, wajah Saras berubah pias. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga aku bisa melihat urat halus berkedut di pelipisnya. Udara di sekitar kami yang tadinya panas tiba-tiba terasa membekukan.

"Logis?" Saras mengulangi kata itu, suaranya terdengar pelan, namun bergetar hebat. "Lo bilang... logis?"

"Ya. Kenapa harus menderita kalau ada jalan keluarnya?" balasku, mulai merasa ada yang salah dengan arah pembicaraan ini.

Saras memutar tubuhnya sepenuhnya menghadapku. Matanya, yang biasanya memancarkan tekad keras, kini dipenuhi oleh campuran antara kemarahan yang membakar dan luka yang sangat dalam.

"Jalan keluar buat siapa, Arka? Buat perusahaan-perusahaan rakus yang mengincar tanah murah?" Nada suaranya naik setengah oktaf, membuat beberapa sopir angkot di meja sebelah menoleh ke arah kami.

"Tanah bagi seorang petani itu bukan sekadar aset di atas kertas, Arka! Itu identitas mereka. Itu tempat kakek buyut mereka berkeringat. Lo pikir kalau tanah itu dijual, masalah selesai? Nggak!" Saras menggebrak meja dengan telapak tangannya, membuat gelas es teh kami bergetar.

"Uang ganti rugi itu bakal habis dalam setahun dua tahun karena mereka nggak punya kemampuan finansial ala orang kota. Terus setelah uangnya habis, mereka jadi apa? Jadi kuli bangunan di atas tanah mereka sendiri! Jadi buruh pabrik yang dibayar di bawah UMR sama perusahaan yang merampas sawah mereka!"

Aku terdiam, punggungku kaku. Rentetan kalimat Saras menghantamku bertubi-tubi. Aku tidak pernah memikirkannya sampai sejauh itu.

"Lo ngomong pakai kacamata anak orang kaya yang dari lahir udah disuapin pakai sendok emas!" Mata Saras mulai berkaca-kaca, tapi ia menolaknya jatuh dengan mengedipkan mata cepat. "Lo nggak pernah tahu rasanya melihat bapak lo sendiri duduk di teras semalaman, diam menatap sawahnya yang menguning tapi bulirnya kosong. Lo nggak pernah tahu rasanya makan nasi lauk garam cuma karena uang yang ada harus dipakai buat bayar bunga utang ke tengkulak gara-gara gagal panen!"

"Ras, gue nggak maksud—"

"Gue belum selesai!" potongnya tajam. Ia menunjuk tepat ke dadaku. "Dan lo dengan entengnya bilang jual aja ke perusahaan korporat? Asal lo tahu ya, perusahaan-perusahaan sialan itu yang merusak ekosistem! Mereka bangun pabrik pengolahan di hulu sungai, limbahnya mengalir ke irigasi sawah. Tanah keracunan, panen gagal, lalu dengan santainya mereka datang menawarkan harga miring buat beli lahan warga yang lagi putus asa. Itu bukan hukum ekonomi, Arka. Itu perampokan yang dilegalkan!"

Napas Saras memburu. Dadanya naik turun dengan cepat. Ia menatapku seolah aku adalah manifestasi dari semua musuh yang selama ini ia benci.

"Lo nggak tahu apa-apa soal bertahan hidup," ucapnya pelan, setiap kata ditekankan seolah ingin menancapkannya ke dalam otakku. "Dan selama lo masih berpikir kalau uang bisa menyelesaikan semua masalah, lo selamanya bakal jadi orang buta yang berkeliaran di fakultas ini. Lo nggak pantas menginjak tanah Sukamaju minggu depan."

Saras berdiri dengan kasar, kursinya berderit mundur. Tanpa menyentuh es tehnya sama sekali, ia meraih tas ranselnya yang lusuh.

"Gue pulang sendiri naik bus. Bawa semua logistiknya ke kampus. Jangan ada yang rusak," perintahnya dingin.

"Ras, ini udah sore, terminal bahaya—" Aku ikut berdiri, mencoba meraih lengannya.

"Jangan sentuh gue." Saras menepis tanganku dengan tatapan jijik. "Gue lebih milih desak-desakan di bus ekonomi daripada harus semobil sama orang yang nggak punya hati."

Ia berbalik dan berjalan cepat menuju terminal yang padat, menghilang di antara kerumunan orang-orang yang bergegas pulang.

Aku berdiri mematung di warung itu. Panas matahari sore menyengat tengkukku, tapi aku merasa dingin. Kata-katanya menggema di kepalaku. Perampokan yang dilegalkan. Perusahaan sialan yang merusak ekosistem.

Aku menunduk, menatap tanganku sendiri. Tangan yang tidak pernah menebas rumput, tangan yang tidak pernah menahan lapar.

Tiba-tiba, rasa mual yang luar biasa menghantam perutku. Bukan karena es teh manis murahan ini, melainkan karena sebuah fakta yang selama ini kubungkam rapat-rapat. Fakta tentang dari mana asal uang di kartu hitamku tadi. Fakta tentang siapa namaku yang sebenarnya.

Arkadia Dwipa. Putra tunggal dari CEO PT Dwipa Agroindo—salah satu perusahaan agribisnis dan pengolahan kelapa sawit terbesar di negeri ini. Perusahaan yang model bisnisnya persis seperti yang baru saja Saras kutuk dengan penuh kebencian.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa harga diriku hancur bukan karena dihina, tapi karena aku sadar, aku adalah bagian dari dunia yang telah menghancurkan hidup perempuan itu.