BAB 1

Halaman Pertama

Araya Nindita memiliki kebiasaan buruk: ia membaca sambil tiduran, dengan lampu yang terlalu redup, hingga matanya memaksa dirinya menyerah sebelum ia sempat meletakkan ponselnya.

Malam itu tidak berbeda.

Jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul 23.47 ketika ia membuka aplikasi baca dan masuk ke bab terbaru Scarlet Curtain — novel web yang sudah ia ikuti selama tiga bulan terakhir. Novel itu berlatar sebuah akademi seni bergaya Eropa-Korea, penuh dengan karakter-karakter indah yang menjalani kisah cinta yang mengharu biru. Bukan jenis cerita yang biasanya ia gemari. Araya lebih suka novel petualangan, misteri, atau sains fiksi. Tapi Scarlet Curtain punya sesuatu yang membuat ia terus kembali — mungkin cara penulisnya menggambarkan ruang-ruang sunyi di antara momen-momen besar. Celah-celah kecil di mana karakter hanya... ada. Tanpa plot. Tanpa tujuan. Hanya bernapas.

Ia membaca satu halaman, dua halaman, tiga.

Di halaman keempat, matanya mulai berat.

Di halaman kelima, pikirannya mulai melayang.

Di halaman keenam—

✦ ✦ ✦

Araya membuka mata.

Yang pertama ia rasakan adalah bau. Bukan bau kamarnya yang familiar — campuran detergen, kertas buku, dan lilin vanila yang sudah hampir habis. Ini bau berbeda. Lebih bersih, lebih tajam, seperti ruangan yang sering dibersihkan dengan cairan antiseptik. Seperti asrama.

Yang kedua ia rasakan adalah kasur. Lebih keras dari kasurnya sendiri. Seprai yang berbeda — lebih kaku, lebih putih.

Yang ketiga ia rasakan adalah cahaya. Sinar matahari pagi menyusup lewat tirai putih tipis, jatuh di atas lantai kayu dengan pola persegi yang teratur.

Araya duduk. Perlahan, dengan perasaan orang yang baru saja menginjak lantai yang mungkin tidak padat.

Kamar itu tidak besar, tapi tertata rapi dengan presisi yang hampir tidak manusiawi. Dua tempat tidur, dua meja belajar, dua lemari kayu dengan label nama di pintu masing-masing. Di label sebelah kirinya tertulis: CHOI SEIRA. Di label miliknya — ia menelan ludah — tertulis: ARAYA.

Hanya Araya. Nama belakangnya tidak ada.

Di atas meja belajarnya ada tumpukan buku, sebuah tempat pensil berwarna hijau tua, dan — ia meraih ini dengan tangan gemetar — sebuah buku absen kelas. Ia membuka halaman pertama.

AKADEMI SENI MARGENTA. KELAS 2-A. TAHUN AJARAN KE-47.

Dan di antara daftar nama, baris ketiga dari atas: ARAYA — tanpa nomor induk, tanpa nama keluarga, hanya nama itu berdiri sendiri seperti catatan yang dilupakan oleh sistemnya sendiri.

Ia meletakkan buku absen itu kembali dengan hati-hati.

Lalu ia menarik napas panjang, menutup mata, dan mencoba berpikir dengan logis.

Aku tahu tempat ini.

Akademi Seni Margenta. Asrama Putri, lantai dua. Kamar 2-07. Jendela menghadap ke arah lapangan tengah di mana pohon sakura putih mekar sepanjang tahun karena sang penulis tidak peduli dengan kelogisan musim. Lorong di luar kamar ini berbau kayu jati. Di ujung lorong ada ruang bersama dengan sofa berwarna krem dan piano tua yang tidak pernah ada yang mainkan.

Ia tahu ini semua karena ia pernah membacanya.

Ia tahu tempat ini karena tempat ini ada di dalam novel.

Araya membuka mata. Ia berdiri dari kasur. Kakinya menyentuh lantai kayu, dan lantai itu terasa padat, nyata, dingin di bawah telapak kakinya. Ia berjalan ke jendela dan membukanya. Angin masuk, membawa serta bau bunga yang tidak ia kenali dan suara burung yang terdengar seperti rekaman — terlalu merdu, terlalu sempurna, sedikit berulang.

Di bawah, lapangan tengah akademi terbentang. Dan di sana, di bawah pohon sakura putih, dua sosok berjalan berdampingan.

Yang pertama: seorang pemuda dengan rambut hitam yang sedikit berantakan meski baru pagi. Seragam akademinya rapi tapi ia memakainya dengan cara yang membuat kerapian itu terasa seperti tuntutan, bukan pilihan. Ia berjalan dengan tangan di saku, tatapan di suatu titik di kejauhan, seperti orang yang selalu sedang memikirkan sesuatu yang lebih penting dari apa pun yang ada di sekitarnya.

Revano Ashford. Male lead. Usia 18. Jurusan Komposisi Musik.

Yang kedua: seorang gadis dengan rambut coklat panjang yang terurai dengan sempurna meski angin bertiup. Ia tertawa kecil pada sesuatu yang tidak ada yang katakan. Wajahnya seperti dilukis dengan pertimbangan yang matang — tidak ada satu pun sudut yang salah.

Choi Seira. Female lead. Usia 17. Jurusan Tari Kontemporer. Teman sekamarku.

Araya menarik diri dari jendela. Punggungnya menyentuh dinding, dan ia berdiri di sana — di antara dua meja, di kamar yang bukan miliknya, di dunia yang harusnya hanya ada di layar ponselnya — dan mencoba untuk tidak panik.

Ia gagal.

Napasnya datang terlalu cepat. Pandangannya sedikit berputar. Ia meraih tepi meja untuk menyeimbangkan diri, dan jari-jarinya menyentuh buku catatan yang terbuka di halaman kosong, dengan pena di sebelahnya.

Tanpa benar-benar berpikir, ia mengambil pena itu dan menulis.

Aku di mana?

Tintanya keluar dengan normal. Hitam, rapi, tidak ada yang ajaib.

Araya menatap tulisan itu sebentar. Lalu mencoretnya dan menulis lagi.

Aku di dalam Scarlet Curtain.

Tiga kata. Satu fakta yang tidak masuk akal. Ia menatapnya cukup lama hingga kata-katanya mulai terasa seperti omong kosong.

Dari luar kamar, terdengar bunyi bel.

Dan di bawah pintunya, selembar jadwal pelajaran menyusup masuk — seolah sudah menunggu ia sadar.

✦ ✦ ✦

Kelas dimulai pukul delapan.

Araya tahu ini karena ia pernah membaca jadwal Araya-karakter di bab ketiga novel. Ia juga tahu bahwa hari ini adalah hari Senin di awal semester dua — tepat setelah liburan musim dingin yang dalam novel digambarkan sebagai 'periode kesunyian yang akan segera berakhir ketika Revano dan Seira kembali ke akademi dengan hati yang berbeda dari saat mereka pergi.'

Ia tahu terlalu banyak tentang tempat ini.

Dan tidak cukup banyak tentang cara pulang.

Araya mandi dengan cepat — kamar mandi asrama bersama, lantai tiga, sudah sepi karena kebanyakan siswi turun sarapan lebih awal. Ia menemukan seragam akademinya tergantung rapi di lemarinya: blazer putih krem dengan lencana Margenta di dada kiri, rok plisket abu-abu, dan dasi tipis berwarna hijau tua yang merupakan warna kelas 2-A.

Saat ia turun ke ruang makan, suasana sudah riuh.

Tapi 'riuh' di sini punya tekstur yang aneh. Araya memperhatikan bahwa sebagian besar percakapan di ruang makan terasa... generik. Seperti latar belakang. Seperti orang-orang berbicara bukan karena mereka punya sesuatu untuk dikatakan, tapi karena cerita membutuhkan suara di latar.

Hanya dua meja yang terasa berbeda.

Meja di mana Seira duduk bersama dua gadis lain — percakapan mereka hidup, tawa mereka tulus, tapi selalu sedikit terfokus ke arah Seira. Seperti bunga matahari ke matahari.

Dan satu kursi kosong di meja pojok — yang entah mengapa, meski ruang makan penuh sesak, tidak ada yang duduki.

Araya membawa nampannya ke meja Seira karena itu yang harusnya ia lakukan. Itu perannya. Teman Seira. Karakter nomor dua puluh tiga dari kiri dalam daftar cast. Muncul sebelas kali, tidak punya arc, tidak punya nama keluarga, dijadwalkan mati di bab ke-tiga puluh supaya Seira dan Revano bisa berpelukan di atas abu kesedihannya.

Ia duduk. Ia tersenyum. Seira menyapanya dengan hangat.

Dan di sudut matanya, Araya terus menatap kursi pojok yang kosong itu.

Seseorang duduk di sana.

Seorang pemuda dengan rambut coklat muda dan kacamata tipis, memakan rotinya dengan tenang sambil membaca sesuatu. Ia tidak menengok ke mana-mana. Tidak ada yang menegurnya. Tidak ada yang meliriknya.

Seolah ia tidak ada.

Seolah ruang di sekitarnya adalah celah dalam cetakan dunia.

Araya mengerutkan dahi. Ia tidak ingat karakter ini ada di novel.

Tapi lebih dari itu — ia terganggu oleh fakta bahwa ia adalah satu-satunya orang di ruang makan ini yang tampaknya menyadari keberadaannya.

✦ ✦ ✦

Pelajaran pertama: Sejarah Musik. Ruang kelas 2-A di lantai empat, dengan jendela besar yang menghadap ke taman.

Araya masuk kelas dan langsung merasakan 'arus' itu untuk pertama kalinya.

Arus adalah kata yang akan ia temukan nanti untuk mendeskripsikan sensasi ini — dorongan halus yang tidak terlihat, seperti tangan di punggungnya yang mengarahkan ke tempat duduk tertentu. Bukan paksaan. Lebih seperti... gravitasi. Kecenderungan. Rasa bahwa ada satu tempat yang 'benar' dan semua tempat lain terasa sedikit salah.

Tempat duduknya adalah baris ketiga dari depan, kursi kedua dari kiri. Persis di belakang Seira.

Tepat di sudut pandang ideal untuk melihat Revano masuk kelas.

Revano masuk tiga menit sebelum bel berbunyi — terlambat tapi tidak cukup terlambat untuk ditegur. Pak Sung, guru Sejarah Musik, hanya menatapnya sebentar sebelum kembali ke papan tulis. Revano berjalan ke mejanya tanpa melirik kanan kiri, duduk, membuka buku, dan mengabaikan seluruh kelas dengan sempurna.

Seira, yang duduk tepat di depan Araya, melirik ke arah Revano dengan ekspresi yang sangat spesifik — campuran pengharapan dan usaha untuk terlihat seperti tidak mengharapkan apa-apa.

Araya mengenali ekspresi itu. Ia pernah membacanya. Kata-kata persisnya: 'Seira melirik sekilas ke arah Revano, jantungnya berdetak satu ketukan lebih keras, tapi ia berpaling sebelum ia sendiri menyadari apa artinya.'

Ia sedang hidup di dalam teks yang pernah ia baca.

Ada bagian dari dirinya yang ingin tertawa. Ada bagian yang ingin menangis. Kedua bagian itu sama-sama membeku saat pelajaran dimulai.

Pelajaran berlangsung selama sembilan puluh menit. Araya mencatat — bukan karena ia butuh catatan, tapi karena tidak mencatat terasa seperti hal yang aneh untuk dilakukan. Di halaman baru buku catatannya, ia menuliskan hal-hal yang ia tahu: nama-nama karakter, hubungan mereka, titik-titik plot penting, dan satu garis besar yang ia gambarkan di tengah halaman dengan tekanan pena yang lebih keras dari yang ia sadari:

BAB 30: ARAYA MATI.

Sembilan belas bab dari sekarang.

Tapi sebelum ia bisa memikirkan itu lebih jauh, bel berbunyi, dan seluruh kelas mulai bergerak — dan arus itu kembali, mengarahkan langkah-langkahnya ke koridor, ke arah yang benar, ke tempat yang sudah dituliskan.

Araya berjalan mengikutinya, untuk saat ini.

Sambil mencatat segalanya.