BAB 4
Karakter yang Tidak Tertulis
Kai Aldric — nama belakang yang ia katakan sendiri ketika Araya bertanya, dengan nada seseorang yang tidak yakin nama belakang itu betul-betul miliknya atau hanya yang paling terdengar benar — bukanlah karakter dalam Scarlet Curtain.
Ini bukan hal yang sederhana.
Dalam sebuah dunia yang eksis karena teks, menjadi sesuatu yang tidak tertulis sama dengan menjadi sesuatu yang tidak seharusnya ada. Seperti noda di halaman buku — bukan bagian dari cerita, bukan latar, bukan karakter, bukan kata. Hanya noda.
Tapi Kai ada. Dan ia ada sudah cukup lama untuk memahami cara kerjanya.
✦ ✦ ✦
Mereka bertemu lagi keesokan harinya, di bangku yang sama, jam yang sama. Araya datang dengan daftar pertanyaan yang sudah ia siapkan malam sebelumnya, ditulis dengan rapi di halaman baru buku catatannya, dibagi dalam tiga kategori: Tentang Kai, Tentang Dunia Ini, dan Tentang Bab 30.
Kai tampak sedikit terhibur oleh daftar itu.
'Kau menulis seperti jurnalis,' komentarnya.
'Aku penulis,' kata Araya. 'Atau aku... pernah mencoba menjadi penulis. Di dunia aslinya.'
'Menarik.' Kai bersandar ke punggung bangku. 'Mungkin itu kenapa kau bisa melihatku. Penulis punya sensitivitas terhadap hal-hal yang ada di antara kata-kata.'
Araya mencatat itu juga. 'Ceritakan tentang asalmu.'
Kai diam sebentar — bukan karena ragu-ragu, lebih karena sedang memilih kata yang tepat untuk sesuatu yang ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti.
'Penulis,' ia mulai, 'ketika menulis, tidak hanya menciptakan yang tertulis. Ia juga menciptakan — bayangan. Kemungkinan. Karakter yang ia bayangkan lalu tidak gunakan. Adegan yang ia tulis lalu ia hapus. Dialog yang tidak pernah sampai ke halaman final.' Ia menatap tangannya sebentar. 'Semua itu pergi ke suatu tempat.'
'Ke mana?' tanya Araya.
'Ke antara halaman. Ada celah antara satu bab dan bab berikutnya — momen jeda, momen transisi. Di situlah hal-hal yang tidak tertulis berkumpul.' Ia menatap Araya. 'Aku lahir dari salah satu celah itu. Aku adalah akumulasi dari karakter-karakter yang penulis ini bayangkan tapi tidak pernah tulis — semuanya bercampur jadi satu entitas. Itulah aku.'
Araya mencerna ini. 'Jadi kamu... bukan satu karakter yang dihapus. Kamu adalah campuran dari banyak yang dihapus.'
'Kurang lebih.'
'Dan karena tidak ada satu pun darimu yang benar-benar tertulis, kamu tidak punya peran dalam cerita ini. Tidak punya tempat di naskah. Karena itu orang-orang tidak mencatatmu.'
'Tepat.'
'Tapi kamu sadar.' Araya menunduk ke catatannya. 'Kamu tahu tentang naskah, tentang bab-bab, tentang plot. Bagaimana?'
Kai mengangkat bahu dengan cara yang terasa lebih seperti ekspresi ketidakmampuan menjelaskan daripada ketidakpedulian. 'Karena aku berasal dari antara halaman — aku bisa membacanya. Dari posisiku, naskah adalah sesuatu yang... terlihat. Seperti arsitektur yang kau bisa lihat struktur penyangganya dari dalam dinding.'
'Jadi kamu tahu tentang bab tiga puluh.'
'Ya.'
'Kamu tahu bahwa aku...' Araya berhenti. Ada sesuatu yang aneh tentang mengucapkan ini dengan lantang. Seperti membuat sesuatu yang abstrak menjadi nyata. '...dijadwalkan mati.'
'Ya,' kata Kai, dengan nada yang tidak berubah tapi ada sesuatu di matanya yang berubah — sesuatu yang mungkin adalah cara ia memilih untuk tidak terlihat terpengaruh. 'Aku tahu.'
'Dan kamu tidak...' Araya memilih kata-kata dengan hati-hati, 'tidak melakukan apa-apa tentang itu? Selama ini, ketika karakter-karakter lain Araya—' Ia berhenti. Tentu saja. Ia belum tahu ini waktu itu. 'Berapa kali cerita ini sudah berjalan?'
Kai menjawab setelah jeda yang terlalu panjang: 'Lebih dari sekali.'
Araya tidak merespons langsung. Ia mencatat: LEBIH DARI SEKALI. Lalu menggaris bawahi.
'Dan Araya-Araya sebelumnya — mereka sadar?'
'Tidak. Sebelum kau, tidak ada satu pun yang sadar bahwa mereka ada di dalam novel.' Kai menatapnya langsung. 'Kau adalah anomali. Bukan hanya karena kau sadar, tapi karena kau sadar dan membawa pengetahuan dari luar — kau pernah membaca novel ini. Itu belum pernah terjadi sebelumnya.'
Araya meletakkan penanya.
'Kenapa ini terjadi padaku?' tanyanya. 'Kenapa sekarang?'
Kai menggeleng. 'Aku tidak tahu. Mungkin ketidaksengajaan. Mungkin bukan.' Ia menatap langit sebentar. 'Tapi aku tahu satu hal: jika kau mau mencoba mengubah sesuatu, aku bisa membantu. Aku tahu cara dunia ini bekerja. Dan kau tahu isi naskahnya.' Ia mengulurkan tangannya lagi — kali ini bukan untuk dijabat, tapi lebih seperti tawaran. 'Kita bisa saling melengkapi.'
Araya menatap tangannya.
Ini bisa jadi perangkap. Ia tidak cukup mengenal Kai untuk mempercayainya. Ia tidak tahu apa motivasinya — karakter yang tidak tertulis itu, apa yang ia inginkan? Apa yang ia dapatkan dari membantu Araya?
Tapi di sisi lain — ia tidak punya banyak pilihan. Dan Kai adalah satu-satunya makhluk di dunia ini yang bisa berbicara dengan Araya tanpa naskah di antaranya.
Ia menjabat tangan itu.
'Perjanjian,' katanya. 'Tapi aku butuh satu hal dari kamu dulu.'
'Apa?'
'Jujur. Selalu.' Ia menatapnya. 'Kalau ada yang kamu sembunyikan — hal apapun yang relevan — aku butuh tahu. Aku tidak bisa membuat keputusan berdasarkan informasi yang tidak lengkap.'
Kai diam sebentar. Kemudian, dengan ekspresi yang sulit dibaca: 'Adil.'
✦ ✦ ✦
Hari-hari berikutnya Araya menemukan bahwa interaksinya dengan Kai punya sifat yang berbeda dari seluruh interaksi lain di dunia ini.
Di seluruh akademi, percakapan punya tekstur yang sedikit kaku — seperti aktor yang sangat bagus tapi tetap aktor. Ada momen-momen kecil di mana Araya bisa melihat 'roda berputar' — pemilihan kata yang terlalu sempurna, reaksi emosional yang datang tepat pada waktunya, keheningan yang terjaga dengan presisi dramatis.
Dengan Kai, tidak ada itu.
Percakapan mereka berliku, tidak efisien, kadang berakhir tanpa resolusi. Kai suka diam di tengah kalimat karena menemukan sesuatu yang menurutnya menarik. Ia punya humor yang kering yang sering muncul di tempat yang tidak terduga. Ia kadang tidak setuju dengan Araya dan mengatakannya tanpa basa-basi yang berlebihan.
Ini terasa berbeda.
Ini terasa nyata.
'Menurutmu,' kata Araya suatu hari, 'apakah karakter-karakter di sini... apakah mereka punya perasaan sungguhan? Atau itu semua hanya simulasi yang ditulis?'
Kai berpikir cukup lama sebelum menjawab. 'Pertanyaan yang lebih sulit dari yang terlihat.' Ia memutar pena di antara jarinya — kebiasaan yang Araya perhatikan sering ia lakukan ketika berpikir. 'Dari yang aku amati: di dalam momen yang ada dalam naskah, mereka menjalani emosi yang sesuai dengan yang tertulis. Tapi ada momen-momen kecil di antara adegan — transisi, jeda — di mana sesuatu yang berbeda muncul. Seperti... orang yang sedang tidak tampil.'
'Dan di momen itu?'
'Di momen itu, kurasa mereka adalah diri mereka sendiri. Sejauh 'diri sendiri' punya arti untuk seseorang yang lahir dari kata-kata orang lain.'
Araya mencatat itu. Kemudian ia menambahkan, lebih untuk dirinya sendiri: 'Seperti kita semua, mungkin.'
Kai menatapnya. 'Maksudmu?'
'Kita semua lahir dari cerita orang lain, kan? Cerita orang tua kita tentang kita, cerita yang kita dengar tentang siapa kita harus menjadi.' Araya mengangkat bahu. 'Perbedaannya mungkin hanya seberapa literal.'
Kai tidak menjawab. Tapi ada sesuatu di ekspresinya — sesuatu yang belum pernah Araya lihat sebelumnya di wajahnya — yang menyerupai orang yang baru saja mendengar sesuatu yang ia butuhkan tanpa tahu bahwa ia membutuhkannya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar