BAB 2

Nama yang Tidak Ada di Cover

Ada hierarki dalam sebuah novel yang tidak pernah dijelaskan secara eksplisit tapi selalu terasa.

Karakter utama memiliki bobot. Mereka memasuki ruangan dan cahaya tampak sedikit berbeda. Musik latar berubah nada. Percakapan-percakapan di sekitar mereka mengandung informasi. Setiap gerakan mereka bermakna — tangan yang menyentuh pintu bukan hanya menyentuh pintu, melainkan mengungkapkan sesuatu tentang keadaan emosional mereka, tentang keputusan yang akan datang, tentang tema yang lebih besar.

Araya menghabiskan hari pertamanya di Scarlet Curtain dengan mengamati ini.

Seira berjalan dan seolah kamera mengikutinya. Setiap adegan yang melibatkan Seira punya fokus — detail yang kaya, dialog yang bermakna, momen yang terasa seperti akan diingat. Bahkan saat Seira hanya makan siang atau menyeka meja, ada sesuatu yang terasa... naratif.

Revano lebih dramatis lagi. Di sekitar Revano, dunia seolah berpusat. Kehadirannya menciptakan gravitasi. Karakter-karakter lain secara tidak sadar mengorientasikan diri terhadapnya — menghadap ke arahnya tanpa alasan yang jelas, memilih kata-kata yang sedikit berbeda ketika ia ada di ruangan.

Dan Araya?

Araya mengambil roti bakar di kafetaria dan kasirnya tidak mengucapkan satu kata pun padanya. Ini bukan ketidaksopanan — kasir itu memang tidak punya dialog yang ditugaskan untuknya dalam adegan ini.

✦ ✦ ✦

Perpustakaan akademi tutup pukul sepuluh malam. Araya masuk pukul tujuh, setelah makan malam yang ia habiskan dengan mendengarkan Seira bercerita tentang pertunjukan tari yang ia persiapkan, dan mengiyakan semua yang perlu diiyakan pada waktu yang tepat.

Perannya tidak sulit. Tapi setiap kali ia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu di luar naskah — pendapat yang tidak diminta, observasi yang terlalu tajam — ada sensasi aneh di tenggorokannya. Bukan sakit. Lebih seperti resistansi. Seperti mencoba berbicara dengan mulut yang sudah half-closed.

Di perpustakaan, ia memilih meja di pojok paling jauh dari pintu masuk dan mulai mencari.

Perpustakaan Akademi Margenta dalam novel digambarkan sebagai tempat yang 'kaya akan sejarah dan sunyi sebagai kuil.' Rak-raknya menjulang hingga langit-langit. Buku-bukunya berdebu dengan cara yang romantis. Ada satu jendela berbentuk setengah lingkaran di dinding timur yang memasukkan cahaya bulan pada malam-malam tertentu.

Araya tidak sedang mencari buku sejarah atau teori musik. Ia sedang mencari cermin.

Dalam perjalanan dari kelas ke asrama siang tadi, ia melewati koridor barat — koridor yang dalam novel disebutkan sekali, dalam satu kalimat yang ia ingat karena alasan yang tidak bisa ia jelaskan: 'Di koridor barat, di balik lemari katalog yang sudah tidak digunakan, ada cermin tua dengan bingkai emas yang katanya bisa menunjukkan apa yang tersembunyi.'

Itu kalimat yang ditulis penulis dan tidak pernah dilanjutkan. Sebuah detail latar yang ditinggalkan.

Tapi Araya adalah pembaca. Dan pembaca tahu bahwa detail yang disebutkan penulis tidak pernah benar-benar tanpa tujuan.

Ia menemukan lemari katalog itu di sudut ruangan — kayu gelap, berdebu, dengan laci-laci kecil yang labelnya sudah memudar. Di belakangnya, tersembunyi rapat antara lemari dan dinding, adalah cermin dengan bingkai emas yang sudah kusam.

Araya mendorong lemari itu cukup jauh untuk bisa berdiri di depan cermin.

Pantulannya normal. Seorang gadis tujuh belas tahun dengan seragam akademi, rambut diikat dua, dan lingkaran hitam di bawah mata yang tampaknya sudah ada bahkan di dunia fiksi.

Tapi di bawah pantulannya — di cermin itu, dalam teks yang terasa seperti terukir di dalam kaca daripada di permukaannya — ada kata-kata.

Kecil, rapi, seperti catatan kaki dalam sebuah buku:

ARAYA — Karakter Pendukung, Kelas 2-A. Kemunculan: Bab 2, 5, 8, 11, 14, 17, 20, 23, 26, 28, 30. Peran: Teman Seira. Fungsi naratif: pendukung emosional female lead; katalis pertemuan klimaks di Bab 30.

Araya membaca itu tiga kali.

Kemudian ia membaca kalimat terakhirnya sekali lagi.

Fungsi naratif: katalis pertemuan klimaks di Bab 30.

Katalis. Bukan korban. Bukan karakter dengan cerita sendiri. Katalis. Sesuatu yang digunakan untuk membuat sesuatu yang lain terjadi, lalu habis.

Ia menarik napas panjang. Angin dari ventilasi di atas menggerakkan rambutnya. Matanya tidak berkedip.

Lalu dengan sangat hati-hati, seperti orang yang baru saja didiagnosis dengan sesuatu yang serius dan sedang memilih untuk tidak bereaksi secara berlebihan di ruang dokter, ia mengeluarkan buku catatannya dan menuliskan tepat di bawah kalimat BAB 30: ARAYA MATI yang sudah ada:

Fungsi: Katalis. Bukan manusia.

Ia menatap kalimat itu.

Lalu ia coret kata 'bukan manusia' dan menuliskan di sebelahnya, dengan tekanan yang lebih keras:

Menurut siapa?

✦ ✦ ✦

Malam itu Araya tidak bisa tidur.

Seira sudah tertidur di kasurnya sejak pukul sepuluh — tidur yang nyenyak, napas yang teratur, seperti karakter yang tidak dibebani oleh kesadaran tentang statusnya di dalam narasi. Araya mendengarkannya sambil menatap langit-langit dan memikirkan daftar yang sudah ia buat.

Hal-hal yang ia ketahui:

Pertama — ia ada di dalam Scarlet Curtain, novel web yang ia baca di dunia aslinya. Ini fakta, bukan mimpi, karena mimpi tidak punya bau antiseptik yang konsisten dan tidak punya kasir kafetaria yang tidak punya dialog.

Kedua — ia adalah Araya, karakter figuran dengan sebelas kemunculan terjadwal dan satu fungsi naratif yang melibatkan kematiannya.

Ketiga — ia masih memiliki memorinya dari dunia asli. Ia ingat kamarnya, ibunya, laptopnya, ponselnya, dan isi dari novel ini hingga bab terakhir yang pernah ia baca.

Hal-hal yang tidak ia ketahui:

Pertama — bagaimana ia bisa masuk ke sini.

Kedua — bagaimana cara keluar.

Ketiga — apakah ada cara keluar.

Keempat — siapa pemuda di kursi pojok kafetaria itu.

Ia menambahkan satu poin di kategori 'tidak diketahui' — satu yang lebih menyakitkan dari yang lain:

Kelima — apakah 'Araya' yang asli, yang lahir dan tumbuh di dunia ini, masih ada di suatu tempat, atau apakah ia mengambil alih tubuhnya sepenuhnya dan karakter aslinya sudah tidak ada.

Ia tidak suka memikirkan yang kelima.

Jadi ia kembali ke empat yang pertama dan mulai menyusun rencana.

Rencananya sederhana dan mungkin tidak akan berhasil tapi tetap lebih baik dari tidak punya rencana: ia akan mencari informasi sebanyak mungkin tentang mekanisme dunia ini, mencari tahu apakah ada jalan keluar, dan — sementara ia melakukan itu — mencoba tidak mati di bab ke-tiga puluh.

Mudah.

Sangat mudah.

Aku akan baik-baik saja, tulisnya di buku catatan, di halaman baru, dengan huruf yang lebih besar dari biasanya.

Aku hanya perlu tidak mati.

Di luar jendela, angin bertiup. Dan sejenak — hanya sejenak — Araya merasa seolah ada yang membisikkan sesuatu lewat celah kaca jendela. Bukan kata-kata yang bisa ia pahami. Lebih seperti suara halaman buku yang dibolak-balik oleh tangan yang tidak sabar, mencari adegan tertentu.

Ia menarik selimutnya lebih tinggi dan memutuskan untuk tidak memikirkan itu.