BAB 3

Aturan Dunia

Pada hari ketiga, Araya mulai menguji batas.

Ini bukan keputusan yang ia buat dengan lantang atau dramatis. Tidak ada momen 'baik, aku akan melawan sistem!' yang disertai musik latar dan tatapan penuh tekad. Itu adalah sesuatu yang lebih tenang — keputusan seorang penulis yang terbiasa menguji logika dunia yang ia bangun sendiri, hanya saja kali ini ia berada di dalam dunia yang dibangun orang lain.

Eksperimen pertama: berjalan ke arah yang tidak ada dalam plot.

Dalam Scarlet Curtain, Akademi Margenta digambarkan memiliki enam gedung utama, dua lapangan, satu teater, satu gedung olahraga, dan sebuah taman kecil di bagian belakang. Tapi di luar itu — di luar batas akademi — ada kota. Araya tahu ada kota karena penulis menyebutkannya: 'kota di bawah bukit tempat akademi berdiri, dengan kafe-kafe kecil dan toko-toko yang sering dikunjungi siswa di akhir pekan.'

Masalahnya: kota itu tidak pernah muncul secara aktual dalam narasi. Tidak ada adegan yang terjadi di sana. Tidak ada karakter yang pergi ke sana dalam bab-bab yang sudah Araya baca.

Araya ingin tahu apa yang terjadi jika ia pergi ke sana.

✦ ✦ ✦

Hari Rabu. Jam bebas antara pukul dua dan empat sore. Araya memberi tahu Seira bahwa ia ingin jalan-jalan sendiri — Seira mengangguk dengan hangat dan mengatakan, 'Hati-hati ya,' dengan cara yang terasa sangat seperti karakter yang baru saja selesai menjalankan peran 'teman yang peduli tapi tidak ikut campur.'

Araya berjalan melewati gerbang akademi tanpa masalah. Petugas jaga mengangguk. Jalanan menuju kota dimulai dengan jalan setapak berbatu yang menurun ke bawah bukit.

Selama lima menit pertama, segalanya normal.

Di menit keenam, Araya mulai memperhatikan sesuatu.

Pemandangan di kiri dan kanannya — pohon-pohon, bukit yang menggelombang, langit biru dengan awan yang tertata terlalu sempurna — mulai terasa seperti lukisan cat air yang belum kering. Bukan kabur secara visual. Lebih seperti... kurang kedalaman. Seperti latar panggung yang terlihat sempurna dari jarak tiga puluh meter tapi semakin tidak nyata semakin kau mendekatinya.

Di menit kesembilan, jalanan yang harusnya menurun ke kota mulai terasa seperti treadmill.

Araya terus berjalan. Kakinya bergerak, tanah bergerak di bawahnya, tapi posisinya di bukit tidak berubah. Akademi di belakangnya tidak mengecil. Kota di bawahnya tidak mendekat.

Di menit kedua belas, ia berhenti.

Ia berbalik, melihat ke akademi, lalu berbalik lagi ke arah kota.

Kemudian ia melakukan sesuatu yang impulsif: ia berlari.

Ia berlari sekencang yang ia bisa, ke arah bawah bukit, ke arah kota, ke arah sesuatu yang tidak ada dalam naskah. Kakinya memukul tanah, napasnya memburu, rambutnya ikatan berantakan — dan tepat ketika ia merasa akan tiba di tikungan pertama jalanan kota, tangannya menyentuh sesuatu.

Tidak ada apa-apa di sana. Udara kosong. Tapi tangannya berhenti, seolah menyentuh permukaan yang sangat tipis, sangat halus — seperti plastik wrap, seperti membran. Dan dari membran itu, Araya merasakan: dingin, dan kekosongan, dan sesuatu yang menyerupai peringatan.

Di luar sini tidak ada apa-apa. Belum ada apa-apa. Penulis belum menulisnya.

Araya menarik tangannya.

Ia berbalik dan berjalan kembali ke akademi dengan langkah yang lebih pelan, lebih hati-hati, seperti orang yang baru saja menyadari lantai di bawahnya adalah es tipis di atas air yang sangat dalam.

✦ ✦ ✦

Eksperimen kedua: berbicara di luar naskah.

Sore itu di ruang bersama asrama, Araya duduk bersama Seira dan dua gadis lain — Hyuna dan Rin, karakter latar yang muncul beberapa kali dalam novel tapi tidak punya arc sendiri. Percakapan berlangsung sesuai yang Araya ingat: Seira bercerita tentang koreografi baru yang sedang ia coba, Hyuna memberikan komentar yang antusias, Rin tertawa di waktu yang tepat.

Di titik di mana Araya-karakter seharusnya mengatakan 'Kamu pasti bisa, Seira. Aku yakin penampilanmu akan luar biasa,' Araya memutuskan untuk mencoba sesuatu lain.

Ia membuka mulutnya untuk mengatakan: 'Sebenarnya aku ingin tanya — apakah ada yang pernah merasa seperti sedang memainkan peran dalam cerita yang bukan milik kita?'

Yang keluar: 'Kamu pasti bisa, Seira. Aku yakin penampilanmu akan luar biasa.'

Kata-katanya sendiri, yang sudah siap di lidahnya, tidak keluar. Sebagai gantinya, kalimat yang sudah tertulis meluncur keluar dengan sendirinya, lancar, alami, seperti ia memang ingin mengatakannya.

Seira tersenyum.

Percakapan berlanjut.

Dan Araya duduk di sofa krem itu dengan wajah yang tersenyum dan pikiran yang sedang berteriak.

✦ ✦ ✦

Eksperimen ketiga: pemuda di kursi pojok.

Ia menemukannya lagi di hari yang sama — kali ini di taman belakang, duduk di bangku batu di bawah pohon, membaca buku yang covernya tidak bisa Araya lihat dari jauh. Ia duduk dengan cara yang sangat tenang — punggung tegak, kaki silang, satu tangan menopang dagu — dan sekali lagi, tidak ada satu pun orang lain di taman yang tampak melihat keberadaannya.

Araya menghampirinya.

Ini yang aneh: ia bisa. Tidak ada resistansi. Tidak ada arus yang mengarahkannya menjauh. Kakinya bergerak bebas, percakapan yang ingin ia mulai tidak tergantikan oleh kalimat yang sudah tertulis. Seolah interaksi ini tidak ada dalam naskah — yang berarti dunia tidak tahu harus mengarahkannya ke mana.

Ia berhenti dua langkah dari bangku batu.

Pemuda itu tidak menengok. Tapi ia berkata, dengan suara yang tenang seperti orang yang sudah tahu ia sedang dihampiri tapi memilih untuk tidak terburu-buru:

"Kau satu-satunya yang bisa melihatku."

Araya mengedipkan mata. 'Apa?'

Kali ini ia menengok. Matanya — di balik kacamata tipis itu — tidak seperti yang Araya bayangkan. Bukan dingin, bukan misterius dalam cara yang klise. Lebih seperti mata seseorang yang sudah lama mengamati sesuatu dari jauh dan baru saja ada yang duduk di sebelahnya untuk melihat pemandangan yang sama.

"Orang-orang di sini," katanya, mengangguk pelan ke arah asrama yang terlihat di kejauhan, "mereka tidak bisa melihatku. Atau lebih tepatnya — mereka bisa melihatku, tapi tidak mencatatku. Aku seperti... noise. Gangguan kecil yang otak mereka langsung filter."

Araya duduk di ujung bangku yang lain. 'Tapi aku bisa melihatmu.'

"Ya." Ia menutup bukunya. "Karena kau bukan seperti mereka."

"Kau tahu aku dari mana?"

Ia tersenyum — tipis, lelah, tapi bukan tidak tulus. 'Aku tahu semua orang di sini. Aku sudah ada cukup lama.' Ia menyodorkan tangannya. 'Namaku Kai.'

Araya menatap tangannya sebentar. Kemudian ia menjabatnya. 'Araya.'

"Aku tahu."

'Siapa kamu?' tanya Araya. 'Kamu bukan karakter dalam novel ini. Aku sudah membaca sampai bab—'

'Dua ratus tiga puluh tujuh,' kata Kai. 'Aku tahu sampai mana kau membaca.'

Araya membeku.

Kai melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya, seperti sedang menjelaskan fakta cuaca: 'Aku bukan karakter dalam naskah. Aku lahir dari sesuatu yang lain. Tapi itu cerita panjang, dan kau tampaknya baru saja menemukan bahwa kau terjebak di sini, jadi mungkin ada pertanyaan lain yang lebih mendesak untuk diajukan dulu.'

Araya mengeluarkan buku catatannya.

'Baik,' katanya. 'Pertanyaan pertama: apakah ada cara keluar dari sini?'

Kai diam sebentar. Pandangannya kembali ke halaman buku yang sudah ia tutup, seolah membaca sesuatu yang tidak ada di sana.

'Belum ada yang berhasil,' katanya akhirnya. 'Tapi kau adalah yang pertama yang sadar dan masih mau bertanya.'

Araya mencatat itu.

'Pertanyaan kedua,' katanya, pena masih bergerak, 'apa yang kamu ketahui tentang bab tiga puluh?'

Kai menatapnya. Kali ini ada sesuatu di matanya — sesuatu yang menyerupai rasa hormat, atau mungkin simpati, atau keduanya.

'Cukup banyak,' jawabnya. 'Dan tidak ada satupun yang menyenangkan.'