Laci itu tidak seharusnya ada.

Nara sudah bekerja di Perpustakaan Kota selama empat tahun. Ia hafal setiap sudut ruang arsip bawah tanah ini seperti ia hafal peta tangannya sendiri — letak noda cat di dinding sebelah timur, bunyi dengung mesin pendingin yang sedikit lebih keras di malam Selasa, bau kertas tua yang berbeda antara dokumen sebelum 1970 dan sesudahnya. Ia bahkan hafal jumlah anak tangga menuju ruangan ini: tiga belas. Tidak pernah salah hitungan.

Maka ketika Nara menarik laci keempat dari kanan di rak besi deretan B-7, dan laci itu membuka dengan hambatan berbeda dari biasanya — lebih berat, lebih lambat, seolah menahan dirinya sendiri — ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.

Laci itu seharusnya kosong. Sudah kosong sejak ia pertama kali datang bekerja di sini. Sudah kosong, katanya, sejak gedung perpustakaan ini berdiri.

Tapi sekarang ada foto-foto di dalamnya.

Nara berdiri diam sejenak dengan tangan masih memegang pegangan laci. Cahaya lampu neon di ruang arsip bawah tanah selalu remang — bukan karena lampunya rusak, tapi memang begitu disengaja, untuk melindungi dokumen dari paparan cahaya berlebih. Dalam cahaya remang itu, foto-foto di dalam laci tampak seperti sesuatu yang tumbuh dengan sendirinya di tempat gelap. Banyak. Puluhan. Tersusun rapi dalam map bening tanpa label.

Ia menarik napas. Memakai sarung tangan lateks yang selalu ada di saku jas kerjanya. Baru kemudian ia mengambil satu foto.

Seorang pria. Usia sekitar empat puluhan. Berjaket abu-abu, berdiri di depan bangunan yang tidak Nara kenali. Senyumnya biasa saja — bukan senyum lebar untuk kamera, lebih seperti senyum yang tertangkap tanpa sengaja saat seseorang sedang memikirkan hal lain. Di pergelangan kirinya ada jam tangan. Nara tidak akan terlalu memperhatikan jam itu kalau bukan karena satu detail aneh: jarum jamnya berputar ke arah yang salah.

Mundur.

Nara menaruh foto itu dan mengambil foto berikutnya. Perempuan tua. Lalu seorang anak laki-laki berseragam putih merah. Lalu pasangan muda yang berfoto di depan Monas. Lalu seorang pria berkacamata yang tampaknya sedang tertawa pada seseorang di luar frame. Puluhan wajah. Puluhan orang yang tidak Nara kenal, tidak ada nama di belakang fotonya, tidak ada tanggal, tidak ada keterangan apa pun. Hanya wajah-wajah yang menatapnya dari balik kertas foto yang terasa lebih dingin dari suhu ruangan.

Ia keluar dari ruang arsip dengan langkah cepat dan langsung menuju meja Pak Rustam, kepala arsip yang sudah dua puluh tahun bekerja di sini.

"Pak Rustam, laci B-7 nomor empat dari kanan — ada isinya."

Pak Rustam mendongak dari kacamatanya. Matanya mengerut.

"Laci mana?"

Nara mengulangi. Pak Rustam melepas kacamata, mengusap wajahnya, lalu beranjak mengikuti Nara ke bawah.

Di depan laci itu, Pak Rustam menariknya buka. Ia menatap ke dalam. Lalu menoleh ke Nara dengan ekspresi yang membuat Nara merasa seperti ia baru saja menyebut sesuatu yang tidak masuk akal.

"Kosong, Nara."

Nara menoleh ke laci. Kosong. Tidak ada map bening, tidak ada foto, tidak ada apa pun kecuali besi berkarat dan bau debu.

"Tapi tadi ada—"

"Laci ini memang sudah kosong lama. Kamu kelelahan mungkin."

Pak Rustam menutup laci dan pergi. Nara berdiri sendiri di depan rak itu, dalam cahaya remang yang sama, dan perlahan ia menunduk melihat tangan kirinya.

Di telapak tangan kirinya, ada jejak halus seperti bekas memegang sesuatu — garis-garis kecil seperti sudut map bening yang tertekan ke kulit. Nyata. Terasa. Ada.

Nara menarik napas panjang. Ia kembali ke meja kerjanya di lantai satu, duduk, dan membuka buku catatan kerjanya. Ia menuliskan hari ini dengan tangan yang benar-benar tenang: tanggal, jam, lokasi, dan deskripsi singkat tentang foto-foto itu. Termasuk detail yang paling ia ingat dengan jelas.

Seorang pria. Jaket abu-abu. Jam tangan dengan jarum yang berputar mundur.

Nara tidak pernah melupakan wajah yang pernah ia lihat. Itu bukan klaim yang ia buat dengan bangga — itu sekadar fakta tentang dirinya, seperti fakta bahwa ia tidak bisa minum kopi setelah jam tiga sore tanpa insomnia. Ia tidak tahu kenapa. Dokter yang pernah ia kunjungi menyebutnya dengan istilah panjang yang terasa seperti menampar masalah dengan penggaris — tapi intinya: satu kali melihat, selamanya tersimpan. Wajah-wajah tidak pernah pudar dari kepalanya meski nama, tempat, konteks, semuanya sudah lama terlupakan.

Maka ketika ia menutup buku catatannya dan menyimpan pulpennya, Nara tahu satu hal dengan pasti:

Ia sudah melihat wajah-wajah di foto-foto itu. Dan ia tidak akan pernah bisa melupakan mereka.

Yang ia belum tahu adalah: apakah itu akan menyelamatkannya — atau justru menghancurkannya.