Dean tidak pulang ke apartemennya malam itu.
Ia pergi ke kantor redaksi yang sudah sepi — hanya ada satu editor malam yang sedang mengedit foto di sudut lain ruangan, dan ia tidak peduli Dean masuk atau tidak. Dean menyalakan lampu meja di mejanya sendiri, membuka laptopnya, dan mulai bekerja.
Ia sudah mengumpulkan data selama setahun. Tapi baru malam ini, setelah pertemuan dengan arsipis aneh bernama Nara itu, ia merasa data yang ia miliki sudah cukup untuk mulai membentuk pola. Bukan pola yang samar-samar seperti yang ia pertahankan selama ini karena takut salah — tapi pola yang tajam dan spesifik, yang akan terlihat jelas kalau ia cukup berani untuk menggambarnya.
Ia membuka spreadsheet besar yang sudah ia kumpulkan. Nama-nama. Tanggal. Lokasi terakhir terlihat. Kondisi sosial sebelum menghilang. Dan kolom terakhir yang belum ia isi dengan data yang cukup: waktu antara kasus pertama dan berikutnya.
Dean mulai menghitung.
1981: tiga orang. 1988: empat orang. 1995: tiga orang. 2002: lima orang. 2009: tiga orang. 2016: empat orang.
Ia menghentikan jarinya di atas keyboard.
Tujuh. Selalu tujuh tahun.
Ia memeriksa ulang. Lagi. Lagi. Angka-angkanya tidak berubah. Setiap tujuh tahun sejak 1981, ada tiga sampai lima orang yang hilang dari catatan dengan cara yang sama — bukan kematian, bukan penculikan yang terdokumentasi, tapi menghilang dari ingatan kolektif orang-orang di sekitar mereka seperti sebuah foto yang perlahan-lahan overexposed sampai gambarnya tidak terlihat lagi.
Dean berdiri dan berjalan ke jendela. Dari lantai tujuh kantor redaksinya, Jakarta malam hari terlihat seperti sirkuit elektronik raksasa yang bernapas — cahaya-cahaya kecil yang bergerak dan diam bergantian, jalan tol yang tidak pernah benar-benar sepi, gedung-gedung yang sebagian besar jendelanya masih menyala meski sudah hampir tengah malam.
Satu pertanyaan yang belum bisa ia jawab: kenapa tujuh tahun? Apa artinya angka itu?
Ia kembali ke meja dan membuka catatan lapangannya. Ada satu detail yang selalu ia tandai dengan tanda tanya merah — sesuatu yang disebutkan oleh tiga narasumber berbeda secara terpisah, masing-masing dengan versinya sendiri, tapi semuanya mengarah pada hal yang sama: semua korban — semua orang yang menghilang — terakhir terlihat di sekitar kawasan Kota Tua.
Bukan di satu tempat spesifik. Bukan di satu hari yang sama. Tapi selalu di kawasan yang sama. Jarak maksimum dari pusat kawasan itu: tidak lebih dari tiga ratus meter.
Dean membuka Google Maps dan memperbesar kawasan Kota Tua. Gedung-gedung kolonial, museum, kawasan wisata yang ramai di siang hari dan sepi di malam hari. Jalan-jalan sempit yang namanya sudah berubah berkali-kali sejak zaman Belanda. Gang-gang yang tidak selalu muncul di peta digital.
Ia mencatat dua hal terakhir yang baru ia sadari malam ini:
Pertama: tahun ini 2024. Terakhir kali pola ini terjadi adalah 2016. Tujuh tambah tujuh: 2023. Dean menghitung lagi dengan jari. 2016 ditambah tujuh: 2023. Ia sudah terlambat setahun. Atau pola ini sudah dimulai dan ia tidak tahu.
Kedua: semua penghilangan selalu terjadi di akhir Oktober.
Dean melihat kalender di pojok layar laptopnya.
Tanggal hari ini: 15 September. Akhir Oktober tinggal enam minggu lagi.
Ia menutup laptopnya dengan hati-hati — bukan karena terburu-buru, tapi karena ada sesuatu yang bergerak di dadanya yang perlu ia kelola dengan tenang. Bukan takut. Lebih seperti sesuatu yang ia kenali dari bertahun-tahun kerja investigasi: perasaan bahwa ia baru saja menginjakkan kaki di tepi sesuatu yang sangat dalam, dan belum bisa melihat dasarnya.
Ia memasukkan buku catatannya ke tas, memadamkan lampu meja, dan berjalan ke pintu.
Di balik kaca jendela kantor, lampu-lampu Jakarta berkedip seperti biasa. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang memperhatikan. Tiga sampai lima orang setiap tujuh tahun — hilang tanpa jejak yang dimengerti, tanpa pembunuh yang bisa ditangkap, tanpa motif yang bisa dijelaskan.
Sekarang ada dua orang yang tahu pola ini.
Dan keduanya belum tahu bahwa salah satunya sudah ada di dalam daftar.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar