Nara sedang merapikan dokumen di lantai tiga ketika ia mendengar langkah orang asing.
Ada ritme tertentu dari langkah orang yang tidak tahu mau ke mana. Langkah pengunjung yang sudah tahu tujuannya terdengar ritmis dan langsung — sepatu yang berbunyi dengan interval yang sama, berhenti di titik yang tepat, tidak ada momen ragu. Langkah orang asing di perpustakaan berbeda: sedikit melambat di setiap persimpangan rak, terhenti sebentar, lalu bergerak lagi ke arah yang tidak selalu benar.
Nara tidak mendongak dari dokumennya.
"Koleksi arsip ada di bawah,"
katanya. Bukan pertanyaan, bukan tawaran bantuan — hanya informasi yang ia perkirakan dibutuhkan.
Langkah itu berhenti.
"Aku tidak bilang aku mau ke arsip."
Kali ini Nara mendongak. Laki-laki. Sekitar tiga puluhan akhir. Tinggi, berjaket gelap yang tampak seperti sesuatu yang dibeli setengah tahun lalu dan sudah terlalu sering dipakai. Ia membawa tas ransel yang tampaknya berat, dan ekspresinya adalah ekspresi orang yang sudah lama tidak tidur cukup tetapi tidak mau mengakuinya.
"Semua orang yang datang ke sini dengan ekspresi seperti itu biasanya mau ke arsip,"
kata Nara. Ia kembali ke dokumennya.
Ada jedah. Kemudian orang itu duduk di kursi di seberang meja Nara — tidak diminta, tidak ditolak.
"Dean. Jurnalis."
"Nara. Arsipis."
Dean membuka tasnya dan mengeluarkan buku catatan yang sudah sangat penuh — lipatan di tiap sudut, beberapa halaman bertanda post-it warna-warni, tutupnya sedikit retak. Ia membukanya ke suatu halaman dan meletakkannya di meja dengan cara seseorang yang sudah melakukan gerakan ini ratusan kali.
"Aku sedang cari arsip kasus orang hilang. Khususnya kasus yang tidak pernah benar-benar dibuka secara resmi. Tiga puluh tahun ke belakang, wilayah Jakarta dan sekitarnya."
Nara menutup dokumennya. Ia melihat buku catatan itu. Lalu menatap Dean.
"Itu spesifikasi yang sangat tidak spesifik."
"Aku tahu. Tapi ini yang aku punya untuk sekarang."
Nara berdiri dan berjalan ke rak referensi. Ia tahu persis di mana catatan kasus yang dimaksud biasanya tersimpan — bukan di arsip bawah tanah, tapi di koleksi referensi publik lantai tiga, dalam map-map cokelat tua yang jarang disentuh karena tidak ada yang tahu mereka ada.
Ia meletakkan tiga map di depan Dean.
"Ini bukan arsip resmi kepolisian. Ini kompilasi laporan dari lembaga swadaya masyarakat yang aktif tahun delapan puluhan sampai awal dua ribuan. Mereka mencatat kasus-kasus yang tidak masuk radar resmi. Kalau yang kamu cari ada di mana pun, kemungkinan di sini."
Dean membuka map pertama dan mulai membaca. Nara kembali ke meja dan pura-pura kembali bekerja — tapi sesungguhnya ia mengamati dari sudut mata. Ada sesuatu yang tidak ia bisa singkirkan: wajah orang ini terasa familiar. Bukan familiar seperti ia pernah bertemu. Lebih seperti familiar seperti ia pernah melihat foto orang ini.
Nara diam-diam membuka buku catatannya sendiri. Deskripsi yang ia tulis kemarin tentang foto-foto di laci arsip. Ia membaca ulang.
Dua nama yang ia sempat baca di bagian belakang beberapa foto — nama yang ditulis dengan tinta yang tampaknya berbeda dari nama-nama lain, seperti ditambahkan belakangan. Saat Dean mulai menyebutkan beberapa nama dari map yang ia baca, Nara mendengarkan dengan sangat seksama.
Nama ketiga yang Dean sebut: terdengar di kepala Nara seperti sebuah klik. Ia ingat nama itu. Tertulis di belakang foto perempuan tua yang ada di laci arsip kemarin.
Nama keempat: lagi. Foto pria berkacamata yang sedang tertawa.
Nara menutup buku catatannya. Ia meletakkan pulpennya dengan gerakan yang ia semoga terlihat biasa-biasa saja.
"Nama-nama yang kamu sebut tadi — dari mana kamu dapatnya?"
Dean mendongak.
"Dari berbagai sumber. Kenapa?"
Nara memilih kata-katanya dengan hati-hati.
"Ada dua di antaranya yang aku pernah lihat sebelumnya. Di dokumen yang aku temukan kemarin."
Dean menutup map dan duduk tegak. Ekspresinya berubah — bukan dramatis, tapi ada sesuatu yang hidup kembali di matanya, seperti seseorang yang sudah lama berjalan di lorong gelap dan tiba-tiba melihat cahaya di ujungnya.
Mereka berbicara selama dua jam berikutnya.
Di luar, sore turun menjadi malam. Di dalam, di bawah cahaya lampu perpustakaan yang hangat dan sedikit kuning, dua orang yang belum sepenuhnya percaya satu sama lain mulai membangun sesuatu yang — meski belum ada yang menamai — sudah berbentuk kerja sama.
Saat Dean akhirnya berdiri untuk pergi, ia menggulung lengan jaketnya sejenak untuk mengecek jam tangan. Nara melihatnya — hanya dari sudut mata, tidak sengaja.
Jarumnya bergerak normal.
Tapi sesaat — satu detik yang sangat singkat, dan Nara tidak yakin apakah matanya yang lelah atau memang nyata — ia melihat jarum itu bergerak ke arah yang salah.
Dean menurunkan lengan jaketnya. Mengangguk pamit.
Nara tidak mengatakan apa-apa.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar