Nara tidak pernah menceritakan kemampuannya kepada siapa pun dengan cara yang lengkap.
Ada yang tahu sedikit — teman-teman lama yang memperhatikan bagaimana Nara bisa menyebut nama teman sekelas SD yang hanya masuk tiga hari sebelum pindah sekolah, atau rekan kerja yang heran kenapa Nara selalu ingat wajah pengunjung meski tidak mencatatnya. Tapi tidak ada yang tahu sepenuhnya. Tidak ada yang tahu bahwa kemampuan itu datang dengan harga yang tidak pernah bisa ia bayar lunas: ia tidak bisa melupakan wajah orang-orang yang sudah pergi.
Termasuk wajah ibunya.
Malam setelah insiden laci arsip, Nara duduk di meja makan apartemennya yang kecil di daerah Tebet. Apartemen ini tidak berbeda jauh dari ruang arsip tempatnya bekerja — rapi karena ia tidak punya banyak barang, bukan karena ia seorang yang tertib. Satu rak buku di dinding timur. Meja kerja kecil dengan dua laci. Dapur yang hampir tidak pernah dipakai karena Nara lebih sering makan di warteg bawah gedung.
Di atas meja makan ada album foto.
Nara tidak sering membukanya. Tapi malam ini, setelah makan dan mandi dan berbaring menatap langit-langit selama dua puluh menit tanpa bisa tidur, ia bangkit dan mengambil album itu.
Halaman pertama: foto wisuda SMA. Nara berseragam putih abu-abu yang kekecilan karena ia pinjam dari teman, berdiri di depan gerbang sekolah dengan senyum yang terlihat lelah. Di sebelahnya tidak ada siapa-siapa — hanya tiang gerbang.
Halaman kedua: foto ulang tahun ke-20 bersama dua teman kuliah yang sekarang sudah di luar kota. Keduanya tersenyum ke kamera. Nara menatap makanan di meja.
Halaman ketiga, keempat, kelima: kronologi hidup yang biasa-biasa saja, tidak terlalu menyedihkan tapi juga tidak terlalu bahagia. Foto-foto yang diambil karena momen memintanya diabadikan, bukan karena ada yang begitu ingin mengabadikannya.
Lalu halaman terakhir.
Kosong.
Bukan kosong karena tidak pernah terisi — ada bekas di sana. Sudut-sudut perekat yang sudah mengering dan tertinggal di pojok halaman. Nara mengusap permukaannya dengan ujung jari. Sebuah foto pernah ada di sini. Dilepas dengan sengaja, cukup hati-hati sehingga kertas albumnya tidak robek, tapi tidak hati-hati cukup untuk menghapus bekasnya.
Nara tahu foto apa yang dulu ada di sana.
Ibunya. Sinta. Diambil di teras rumah lama mereka di Depok, pada hari ulang tahun Nara yang ke-17. Ibunya memakai baju terusan hijau yang Nara pernah bilang terlalu mencolok tapi ibunya keras kepala memakainya dengan alasan bahwa hari itu spesial dan hari spesial butuh warna spesial. Ibunya tersenyum langsung ke kamera dengan cara yang selalu membuat Nara merasa dilihat — bukan hanya difoto, tapi benar-benar dilihat.
Foto itu ada sampai dua bulan setelah kecelakaan. Lalu suatu hari ia tidak ada lagi, dan Nara tidak pernah bertanya siapa yang mengambilnya karena pada masa itu ia juga tidak pernah bertanya tentang banyak hal lain yang menghilang dari hidupnya.
Tapi Nara tidak perlu fotonya. Ia ingat.
Ibunya pergi ketika Nara berusia tujuh belas tahun, sepuluh tahun yang lalu. Kecelakaan mobil di jalan tol Cipularang, hujan deras, truk yang oleng. Polisi menangani kasusnya dengan cepat — terlalu cepat, kalau Nara boleh jujur, tapi ia tidak pernah benar-benar mempertanyakannya karena kesedihan pada umur tujuh belas terasa seperti sesuatu yang harus diselesaikan sendiri tanpa banyak tanya.
Yang tidak pernah bisa Nara rekonsiliasi adalah satu detail yang selalu tertinggal di tepi ingatannya seperti noda yang tidak bisa dicuci:
Ekspresi ibunya saat pamit terakhir kali.
Bukan sedih. Bukan takut. Bukan terburu-buru. Terlalu tenang. Terlalu rapi. Seperti orang yang sudah lama menyiapkan diri untuk sesuatu dan akhirnya hari itu tiba. Ibunya memeluk Nara lebih lama dari biasanya di pagi itu, lalu mundur dan menatap wajah Nara dengan cara yang aneh — seperti seseorang yang sedang mengingat sesuatu untuk terakhir kali.
"Kamu akan baik-baik saja,"
kata ibunya. Bukan pertanyaan. Bukan harapan. Pernyataan. Keyakinan.
Nara, yang waktu itu terlambat sekolah dan sedang sibuk mencari tali sepatunya, hanya mengangguk.
Enam jam kemudian, polisi datang ke sekolah.
Nara menutup album. Ia meletakkannya di sudut yang sama di mana ia selalu meletakkannya dan kembali duduk di kursi makan dengan kedua tangannya rata di atas meja.
Foto-foto di laci arsip tadi. Wajah-wajah yang tidak ada orangnya lagi di dunia ini — atau setidaknya, tidak ada yang mengingatnya. Dan jam tangan dengan jarum mundur yang entah kenapa terasa seperti sesuatu yang pernah Nara lihat sebelumnya, meski ia yakin belum.
Nara memejamkan mata. Dalam gelap di balik kelopak matanya, puluhan wajah dari foto-foto itu berdiri dengan sabar. Menunggu.
Ia tidak akan bisa melupakannya.
Malam itu, untuk pertama kali dalam bertahun-tahun, Nara bermimpi lorong putih yang sangat panjang.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar