Dean sudah tiga bulan tidak bisa menerbitkan satu tulisan pun.

Bukan karena tidak punya bahan. Ia punya lebih dari cukup — tumpukan catatan, rekaman wawancara, foto-foto dokumen yang ia ambil diam-diam dari berbagai kantor yang bersedia setengah hati membiarkannya masuk. Bahan ada. Tapi setiap kali ia mengontak narasumbernya untuk konfirmasi akhir sebelum artikel tayang, hal yang sama terjadi: narasumbernya tidak mengenalinya.

Bukan tidak mau bicara. Benar-benar tidak mengenal.

"Maaf, Bapak siapa? Saya rasa kita belum pernah ketemu."

Padahal Dean punya foto selfie bersama narasumber itu diambil tiga minggu lalu di sebuah warung makan di Menteng. Padahal ada rekaman suara wawancara yang jelas selama empat puluh menit. Padahal nama narasumber itu tertulis di catatannya dengan komentar-komentar yang hanya bisa ia tulis kalau sudah benar-benar berbicara dengan orangnya.

Dean tadinya mengira ini konspirasi. Orang-orang yang merasa kasus yang akan ia tulis terlalu panas lalu bergerak cepat membungkam narasumbernya. Ia tidak asing dengan skenario itu. Tapi konspirasi biasanya meninggalkan jejak — intimidasi, ancaman, perpindahan mendadak. Ini tidak. Narasumbernya masih ada di tempat yang sama, masih hidup, masih bekerja. Mereka cuma tidak ingat Dean.

Tiga bulan. Tujuh narasumber. Satu pola yang sama.

Dean duduk di sudut favoritnya di warung kopi dekat kantor redaksi — sudut yang paling jauh dari jendela, yang mendapat sedikit saja cahaya matahari sehingga layar laptopnya tidak silau. Kopi sudah dingin. Ia tidak ingat kapan terakhir kali meminumnya.

Di layar laptopnya ada dokumen yang sudah ia buka selama dua jam tanpa menambahkan satu kalimat pun: daftar nama orang-orang yang hilang dari catatan publik di Jakarta dalam rentang dua puluh tahun terakhir. Bukan hilang dalam artian polisi dan kasus orang hilang. Hilang dalam artian lain — orang-orang yang perlahan tidak ada lagi di memori kolektif sekitarnya. Kolega yang sudah tidak diingat mantan rekan kerjanya. Tetangga yang tidak dikenali warga sekampungnya. Anggota keluarga yang foto-fotonya tidak ada di album rumah.

Dean menemukan pola ini setahun lalu dari sebuah laporan kecil di surat kabar lokal yang sudah gulung tikar — satu kolom pendek tentang seorang perempuan yang mendatangi kantor polisi karena merasa suaminya hilang, tapi tidak ada rekam jejak pernikahan, tidak ada tetangga yang ingat ada laki-laki tinggal di rumah itu, dan bahkan fotonya sudah tidak ada di telepon genggam istrinya sendiri meski riwayat hapusnya tidak tercatat.

Kasus itu tidak pernah dibuka secara resmi. Tapi Dean menyimpannya.

Kemudian ia menemukan kasus lain. Dan lain. Dan lain.

Semuanya punya benang merah yang sama: orang-orang yang ada, lalu tidak ada — bukan karena meninggal, bukan karena pindah, tapi karena seolah pernah dihapus dari tempat yang paling sulit dihapus: ingatan orang-orang yang mencintai mereka.

Dean mengambil kopinya, meminumnya meski sudah dingin, dan menutup laptopnya. Ia memasukkan tangan ke saku celana untuk mengambil ponselnya — dan menemukan sesuatu lain.

Selembar kertas kecil. Dilipat empat. Ia tidak ingat menaruhnya di sana.

Ia membukanya. Pamflet. Perpustakaan Kota Jakarta. Jam operasional, alamat, dan tagline yang terasa generik: 'Temukan yang tersimpan, ingat yang terlupakan.' Di bawah tagline ada tulisan tangan yang jelas bukan cetakan — huruf kecil-kecil rapi dengan tinta biru, seperti orang yang terbiasa menulis catatan untuk dirinya sendiri:

"Arsip. Lantai B. Tanya arsipis muda."

Dean membalik kertas. Kosong.

Ia menatap tulisan itu cukup lama. Tulisan tangannya sendiri. Ia mengenali cara huruf A-nya yang sedikit miring ke kanan, cara huruf B-nya yang lingkarannya tidak pernah bertemu sempurna di tengah. Jelas tulisannya sendiri. Tapi ia benar-benar tidak ingat menulis ini atau menaruhnya di sakunya.

Ia membuka ponsel dan memeriksa kalendernya. Tidak ada jadwal ke perpustakaan. Tidak ada catatan riset terkait perpustakaan. Ia membuka galeri fotonya dan mencari — tidak ada foto dari dalam atau sekitar perpustakaan.

Dean menghela napas. Ia melipat kertas itu kembali dan memasukkannya ke saku kemeja, bukan saku celana. Tindakan kecil yang tidak ada logisnya — seolah dengan memindahkan kertas ke tempat yang berbeda ia bisa lebih mengontrol dari mana asalnya.

Ia membuka laptopnya lagi dan menambahkan satu baris di dokumennya:

"Perpustakaan Kota. Arsip bawah tanah. Belum tahu apa. Pergi besok."

Kemudian ia menutup laptopnya lagi dan memesan kopi baru.

Di sudut ingatannya — yang tidak begitu ia perhatikan malam itu karena terlalu lelah — ada satu fakta kecil yang mestinya lebih ia perhatikan:

Ia tidak punya satu pun foto dirinya yang diambil sebelum usianya sembilan belas tahun. Tidak di ponsel, tidak di rumah, tidak di mana pun. Ia mengira kameranya rusak waktu itu, atau memori lamanya terhapus tidak sengaja, atau ada penjelasan logis lain yang belum ia temukan.

Malam itu, Dean tidak memikirkan hal itu.

Tapi nanti — jauh ke depan, ketika segalanya sudah tidak bisa dikembalikan — ia akan menyadari bahwa fakta kecil itu adalah retakan pertama di tembok yang selama ini ia kira solid.