Wangi melati dan mawar putih yang memenuhi udara seharusnya menjadi aroma paling membahagiakan dalam hidupku. Gaun kebaya putih gading yang melekat sempurna di tubuhku, bertabur payet kristal yang memantulkan cahaya lampu gantung hotel bintang lima ini, adalah gaun impian yang kurancang sendiri selama berbulan-bulan. Aku menatap pantulan diriku di cermin besar ruang rias. Wajahku dirias dengan sempurnaβ€”rona merah di pipi, lipstik nude yang elegan, dan mata yang berbinar penuh harap. Hari ini, aku, Nayra, akan resmi menjadi istri dari pria yang mencintaiku, dan yang sangat kucintai, selama lima tahun terakhir. Farel.

Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Kami telah melewati banyak hal bersamaβ€”tangis, tawa, jatuh bangun merintis karir, hingga akhirnya tiba di titik ini. Titik di mana kedua keluarga besar berkumpul, ratusan tamu undangan telah duduk rapi di ballroom, menanti langkahku menuju meja akad di mana Farel sudah menungguku.

Jantungku berdebar kencang, tapi itu adalah debaran kebahagiaan. Aku mengambil napas panjang, menenangkan gemuruh di dada, saat pintu ruang rias diketuk perlahan. Ayahku, Pak Surya, masuk dengan senyum hangat yang langsung membuat mataku berkaca-kaca. Beliau mengulurkan tangannya yang mulai keriput.

"Sudah siap, Tuan Putri?" tanyanya dengan suara serak yang menyiratkan keharuan.

Aku mengangguk mantap, menyambut uluran tangannya. "Siap, Yah."

Kami berjalan beriringan keluar dari ruangan, menyusuri lorong berkarpet tebal menuju pintu utama ballroom. Lantunan ayat suci Al-Quran terdengar sayup-sayup, menambah kesakralan momen ini. Saat pintu ganda berbahan kayu jati itu terbuka perlahan, kilatan cahaya kamera langsung menyambutku. Semua mata tertuju padaku. Namun, mataku hanya mencari satu sosok.

Di ujung sana, di balik meja akad yang dihiasi rona putih dan emas, Farel duduk tegak. Ia mengenakan beskap putih yang senada dengan gaunku. Wajahnya yang tampan tampak sedikit tegang, namun saat pandangan kami bertemu, senyum lega dan penuh cinta terbit di bibirnya. Senyum yang selalu berhasil menenangkan badai apa pun dalam hidupku. Aku membalas senyumnya, mempererat genggaman tanganku pada lengan Ayah.

Penghulu sudah bersiap. Ibu Ratna, ibuku, duduk di barisan terdepan dengan sapu tangan yang sudah bersiap di tangan, matanya basah oleh air mata bahagia. Segalanya sempurna. Terlalu sempurna, hingga aku lupa bahwa dunia bisa memutar balikkan takdir dalam hitungan detik.

Tepat ketika penghulu berdeham, merapikan mikrofon, dan mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Farel, sebuah suara decitan pintu yang dibuka dengan paksa memecah keheningan yang khusyuk.

"Berhenti!"

Suara jeritan melengking itu membuat seluruh isi ruangan terkesiap. Penghulu menarik tangannya. Farel menoleh dengan cepat. Aku menghentikan langkahku yang baru berjarak beberapa meter dari meja akad.

Di ambang pintu, berdiri seorang perempuan dengan rambut berantakan, wajah pucat pasi, dan napas terengah-engah. Gaun pestanya yang berwarna pastel tampak kusut. Matanya merah dan bengkak, dipenuhi air mata yang terus mengalir deras.

Keisya. Adik kandungku.

Darahku berdesir. Perasaanku mendadak tidak enak. Mengapa Keisya berteriak seperti itu? Mengapa dia baru muncul sekarang dengan keadaan sekacau itu?

"Keisya?" Suara Ibu memecah keheningan, nada suaranya bergetar penuh kebingungan. "Ada apa, Nak? Kenapa kamu..."

Keisya tidak mempedulikan panggilan Ibu. Ia melangkah maju, terhuyung-huyung melewati deretan kursi tamu yang mulai saling berbisik. Tatapannya lurus menembus kerumunan, mengunci sosok pria yang duduk di meja akad. Farel.

"Keisya, hentikan. Ini bukan waktunya bercanda," desis Ayah, mencoba menjaga wibawa di depan ratusan tamu.

Namun Keisya seolah tuli. Ia terus berjalan hingga berdiri tepat di antara aku dan Farel. Jarak kami begitu dekat, aku bisa mencium aroma keputusasaan yang menguar dari tubuhnya. Tangannya yang gemetar merogoh tas kecilnya, menarik sesuatu, dan melemparnya ke atas meja akad, tepat di depan Farel dan penghulu.

Sebuah benda plastik kecil berwarna putih. Dengan dua garis merah yang tercetak sangat jelas.

Test pack.

Ruangan itu mendadak kehilangan oksigen. Waktu seakan membeku. Bisik-bisik yang tadinya pelan kini berubah menjadi dengungan lebah yang memekakkan telinga. Aku menatap benda kecil itu dengan pandangan kosong. Otakku menolak memproses apa yang baru saja kulihat. Dua garis merah. Kehamilan. Keisya. Farel.

"Apa-apaan ini, Keisya?!" Farel akhirnya bersuara, nadanya tinggi, wajahnya pucat pasi. Ia berdiri mendadak hingga kursinya terdorong ke belakang dengan bunyi derit yang kasar.

Keisya jatuh terduduk di lantai, menangis histeris. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat. "Maafkan aku, Mbak Nayra... Maafkan aku..." ratapnya di sela-sela isakan yang menyayat hati. "Aku... aku hamil. Dan ini anak Mas Farel."

Bom itu meledak. Tepat di wajahku. Menghancurkan fondasi kewarasanku berkeping-keping.

"BOHONG!" Farel berteriak, suaranya menggema memantul di dinding ballroom. Ia menatap Keisya dengan amarah yang meledak-ledak. "Gila kamu, Sya?! Sejak kapan kita pernah berhubungan?! Jangan hancurkan pernikahanku dengan fitnah murahan ini!"

"Fitnah?!" Keisya mendongak, matanya menatap Farel dengan sorot terluka yang begitu nyata. "Kamu bilang malam itu kecelakaan, Mas! Kamu bilang kamu mabuk saat acara kantor, dan aku yang menjemputmu! Kamu menangis, kamu bilang kamu stres menjelang pernikahan, dan aku... aku cuma berusaha menenangkanmu!"

"Itu tidak pernah terjadi! Nay, sumpah, demi Allah, dia bohong!" Farel berbalik menatapku. Matanya memelas, tangannya terulur mencoba menggapai lenganku, namun aku mundur selangkah. Refleks.

Tubuhku kebas. Ribuan jarum tak kasat mata seolah menusuk-nusuk seluruh permukaan kulitku. Lima tahun. Aku mengenal Farel selama lima tahun. Aku tahu kebiasaannya, aku tahu nada suaranya saat berbohong, aku tahu ketakutannya. Dan melihat kepanikan di matanya saat ini... ada sesuatu yang ia sembunyikan.

Aku menoleh menatap Keisya. Adik perempuanku. Darah dagingku sendiri. Gadis yang selalu kujaga, yang kubelikan es krim setiap kali ia patah hati, yang selalu memelukku saat ia ketakutan. Keisya mungkin manja, ia mungkin sering iri dengan pencapaianku, tapi ia tidak pernah memiliki keberanian untuk menghancurkan hidupku di depan ratusan orang seperti ini jika ia tidak memegang kebenaran. Tangisannya... ketakutannya... rasa malunya berdiri di depan keluarga besar dengan aib seperti itu. Itu nyata.

"Kapan?" Suaraku keluar, pelan, nyaris seperti bisikan, tapi entah bagaimana berhasil membelah keributan di ruangan itu.

"Nay, jangan dengarkan dia!" Farel memohon, kini air matanya ikut menetes.

"Aku tanya, KAPAN?!" bentakku, menatap tajam ke arah Farel. Napasku memburu, korset yang mengikat tubuhku terasa mencekik leherku.

Keisya menelan ludah, suaranya bergetar. "Tiga bulan yang lalu, Mbak. Malam setelah Mbak dan Mas Farel bertengkar hebat soal undangan. Mas Farel pergi ke bar, aku yang menyusulnya... dan kami pergi ke hotel."

Tiga bulan yang lalu. Pertengkaran besar kami. Farel yang menghilang semalaman dan baru membalas pesanku keesokan siangnya, beralasan menginap di rumah temannya karena terlalu mabuk. Kepingan puzzle yang menjijikkan itu tersusun dengan sendirinya di kepalaku. Membentuk gambar pengkhianatan yang begitu nyata dan berdarah.

Ibu Ratna pingsan. Terdengar jeritan tertahan dari bibinya, dan suasana berubah menjadi kekacauan total. Ayahku melepaskan genggamannya dari lenganku, wajahnya memerah padam menahan murka. Beliau melangkah maju, dan dengan satu ayunan tangan...

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Farel. Farel terhuyung mundur, memegang pipinya, tak berani menatap wajah Ayah.

"Bajingan!" maki Ayah dengan suara bergetar. "Kupercayakan putriku padamu, dan ini balasanmu?! Menghamili adiknya sendiri?!"

"Pak, saya bisa jelaskan... ini salah paham, Pak... Saya dijebak!" Farel memohon, berlutut di lantai, mencoba meraih kaki ayahku.

Aku menatap adegan di depanku dengan perasaan mati rasa. Tidak ada air mata yang keluar dari mataku. Terlalu sakit hingga kelenjar air mataku seolah mengering. Hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaanku, berubah menjadi panggung sandiwara paling menjijikkan yang pernah aku saksikan. Ratusan pasang mata menatapku dengan tatapan kasihan. Bisik-bisik mereka terasa seperti silet yang mengiris-iris harga diriku.

Bukan dengan wanita lain. Tapi dengan adikku sendiri.

Aku menarik napas panjang. Mengumpulkan sisa-sisa kewarasan dan harga diri yang masih kumiliki. Aku memutar tubuhku, menghadap ke arah tamu undangan, lalu menatap penghulu yang masih berdiri mematung.

"Pernikahan ini batal," ucapku dengan suara lantang dan dingin. Tidak ada getaran. Tidak ada keraguan.

"Nay! Enggak, Nay! Jangan batalin, aku mohon!" Farel merangkak ke arahku, menarik ujung kebaya putihku. Ia menangis tersedu-sedu. "Aku cinta sama kamu, Nay. Demi Tuhan aku cuma cinta sama kamu!"

Aku menunduk, menatap pria yang selama lima tahun ini kuanggap sebagai pusat duniaku. Kini, ia terlihat begitu menyedihkan. Begitu asing. Dengan kasar, aku menarik gaunku dari genggamannya.

"Jangan sentuh aku," desisku tajam. "Kamu menjijikkan, Farel. Kalian berdua... menjijikkan."

Aku membalikkan badan, bermaksud berlari sejauh mungkin dari neraka ini. Namun, saat kakiku melangkah, ujung gaunku yang panjang tersangkut di kursi. Aku kehilangan keseimbangan. Pandanganku berkunang-kunang. Oksigen terasa habis dari paru-paruku. Di saat aku mengira tubuhku akan membentur lantai yang keras, sepasang lengan yang kuat menangkapku.

Lengan yang terbalut jas hitam mahal. Wangi musk dan cedarwood yang maskulin dan asing langsung memenuhi indera penciumanku, menutupi bau pengkhianatan yang menyesakkan.

Aku mendongak, mataku bertemu dengan sepasang mata elang berwarna gelap yang menatapku dengan ketenangan yang aneh. Wajah itu tegas, rahangnya keras, dengan senyum tipis yang sulit diartikan di sudut bibirnya.

"Batal, ya?" Suaranya berat, dalam, dan terdengar terlalu santai untuk situasi sekacau ini. "Sayang sekali. Padahal dekorasinya mahal."

Aku mengerjap, tidak tahu harus merespons apa. Pria ini... siapa dia? Mengapa dia berani ikut campur?

Sebelum aku sempat menepis tangannya, Farel yang melihatku berada di pelukan pria lain langsung berdiri dengan amarah yang baru. "Lepaskan calon istriku, Arsen! Apa yang kamu lakukan di sini?!"

Arsen. Nama itu terdengar familiar, namun otakku terlalu lelah untuk mencarinya dalam memori. Pria bernama Arsen itu tidak melepaskan pelukannya di pinggangku. Sebaliknya, ia menatap Farel dengan sorot merendahkan.

"Calon istri?" Arsen terkekeh sinis. "Seingatku, perempuan cerdas mana pun tidak akan sudi menikahi pria yang baru saja meniduri dan menghamili adik kandungnya sendiri."

Arsen kemudian menatap lurus ke dalam mataku. Sorot matanya yang santai berubah tajam, mengunci pandanganku, membuatku tak bisa memalingkan wajah.

"Kau butuh jalan keluar dari rasa malu ini, Nayra?" bisiknya, cukup pelan hingga hanya aku yang bisa mendengar. "Karena aku bisa memberikannya padamu. Sekarang juga."