Udara di lorong hotel ini terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya, atau mungkin aliran darahku yang merosot tajam membuatnya terasa seperti itu. Genggaman tangan Arsen di pergelanganku adalah satu-satunya sumber panas yang menahanku agar tidak pingsan. Tangan besarnya membungkus tanganku dengan posesif, bukan sebagai bentuk afeksi, melainkan sebuah pernyataan. Sebuah deklarasi perang yang akan kami bawa kembali ke medan pertempuran di ballroom.

Ketika kami melangkah mendekati pintu ganda kayu jati itu, suara keributan dari dalam masih terdengar riuh. Bisik-bisik, suara tangis Ibu, dan bentakan Ayah menciptakan simfoni kekacauan yang membuat perutku melilit. Aku menghentikan langkahku sejenak, kakiku yang terbalut sepatu hak tinggi seolah dipaku ke lantai karpet.

Arsen menyadarinya. Ia ikut berhenti, menoleh menatapku. Wajahnya yang tampan dengan rahang tegas itu tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Mata elangnya menatap lurus ke dalam pupilku, seolah menembus segala keraguan yang bergolak di dadaku.

"Kau siap?" suaranya rendah, mengalun stabil di tengah gemuruh jantungku.

"Apa yang akan kita katakan pada keluargaku?" bisikku parau. "Ayahku bukan pria yang mudah menerima hal tidak masuk akal seperti ini, Arsen. Dan ibuku... beliau punya riwayat jantung."

"Biar aku yang bicara dengan ayahmu. Tugasmu hanya satu, Nayra," Arsen melepaskan pergelangan tanganku, lalu menggeser tangannya untuk menggenggam jemariku. Erat. Meyakinkan. "Berdiri tegak. Jangan menunduk. Jangan tunjukkan setetes pun air mata saat kau melangkah masuk. Orang-orang di dalam sana sedang menunggu untuk mengasihanimu. Jangan berikan mereka kepuasan itu."

Kata-katanya menamparku dengan kenyataan. Ia benar. Aku tidak akan membiarkan diriku menjadi tontonan menyedihkan. Aku menarik napas panjang, mengisi paru-paruku dengan udara sebanyak mungkin, mengangkat daguku, dan mengangguk pelan.

"Bagus," gumam Arsen. Ia memberi isyarat pada dua petugas hotel yang berdiri kaku di dekat pintu. "Buka pintunya."

Pintu ganda itu terbuka lebar, dan seketika itu juga, ratusan pasang mata kembali tertuju pada kami. Namun kali ini, pemandangannya berbeda. Aku tidak lagi berjalan sendirian dengan gaun kusut dan wajah hancur. Aku berjalan berdampingan dengan Arsenio, salah satu pengusaha muda paling disegani di kota ini, pria yang auranya begitu mendominasi hingga membuat ruangan yang bising itu berangsur-angsur hening.

Di depan meja akad, kekacauan masih tersisa. Farel duduk mematung di lantai, mengusap wajahnya yang frustrasi, sementara Keisya sedang ditenangkan oleh salah satu bibiku, terisak-isak dengan wajah disembunyikan. Ayahku berdiri dengan napas memburu, matanya memerah menahan marah, dan Ibu... Ibu sedang bersandar lemas di kursi, dipijat tengkuknya oleh kerabat kami.

Saat melihatku masuk kembali, apalagi dengan jari-jari yang bertautan dengan pria lain, mata Ayah membelalak.

"Nayra? Apa-apaan ini?" Ayah melangkah maju, membelah kerumunan kerabat yang menghalangi. Tatapan Ayah beralih dari wajahku ke wajah Arsen, dan aku bisa melihat kerutan kebingungan yang sangat dalam di dahi pria paruh baya itu. "Arsenio? Apa yang kamu lakukan dengan putriku?"

Arsen melepaskan genggaman tangannya dariku, melangkah satu langkah mendahuluiku, seolah memposisikan dirinya sebagai perisai. Ia membungkuk sedikit, memberikan penghormatan yang sangat sopan namun penuh wibawa kepada ayahku.

"Maafkan kelancangan saya, Pak Surya," suara Arsen menggema dengan tenang, terdengar jelas oleh setiap telinga di ruangan itu karena keheningan yang tiba-tiba tercipta. "Saya tahu ini bukan situasi yang ideal, dan apa yang akan saya sampaikan mungkin terdengar gila bagi Bapak."

Ayah menelan ludah, rahangnya mengeras. "Katakan apa maumu. Aku sedang tidak ingin bermain teka-teki. Keluargaku baru saja dipermalukan habis-habisan!"

"Justru karena itu saya ada di sini," Arsen menegakkan tubuhnya, menatap Ayah tanpa berkedip. "Saya meminta izin untuk menggantikan posisi pria pengecut itu." Arsen melirik sekilas ke arah Farel dengan tatapan penuh jijik. "Saya ingin menikahi putri Bapak. Hari ini. Detik ini juga."

Hening. Sunyi yang memekakkan telinga.

Ibu Ratna terkesiap, tangannya menutup mulutnya sendiri. Penghulu yang sejak tadi duduk kaku di kursinya, kini nyaris menjatuhkan mikrofon yang dipegangnya.

"Apa kamu bilang?!" Ayah setengah berteriak. Wajahnya yang tadi memerah karena marah, kini pucat pasi karena terkejut. "Pernikahan bukan mainan, Arsen! Kamu tidak bisa datang tiba-tiba dan menawarkan diri seperti barang pengganti! Kamu pikir putriku ini apa?!"

"Justru karena saya sangat menghargai putri Bapak, saya tidak akan membiarkan dia menanggung aib yang bukan salahnya," jawab Arsen lugas, nadanya sedikit pun tidak meninggi. "Gedung ini sudah disewa. Tamu kolega Bapak, para pejabat, rekan bisnis, semuanya sudah hadir. Jika pernikahan ini dibatalkan, saham perusahaan Bapak akan anjlok besok pagi akibat skandal ini. Media akan mencabik-cabik nama keluarga Bapak. Dan yang terburuk, Nayra akan selamanya dicap sebagai korban yang ditinggalkan demi adiknya sendiri."

Arsen maju selangkah lagi, suaranya kini lebih pelan, namun cukup keras untuk didengar oleh barisan terdepan. "Izinkan saya melindunginya, Pak. Izinkan saya menjaga nama baik keluarga ini. Saya berjanji, Nayra akan berdiri di altar ini bukan sebagai pihak yang hancur, melainkan sebagai wanita yang berhak mendapatkan pria yang seribu kali lebih baik."

Aku menatap punggung tegap Arsen dengan perasaan campur aduk. Kata-katanya disusun dengan begitu sempurna. Ia menyentuh titik terlemah ayahku: kehormatan keluarga dan stabilitas bisnis.

"Gak! Ini gila!" Farel tiba-tiba bangkit dari lantai, menerjang ke arah kami dengan mata liar. "Nay, kamu gak bisa ngelakuin ini! Kamu gak cinta sama dia! Kamu cuma cinta sama aku!"

Aku merasakan empedu naik ke tenggorokanku mendengar suaranya. Aku melangkah keluar dari balik punggung Arsen, menatap pria yang pernah menjadi pusat duniaku itu dengan tatapan sedingin es.

"Cinta?" Aku mengulang kata itu seolah rasanya pahit di lidahku. "Cinta macam apa yang membuatmu meniduri adik kandungku, Farel? Cinta macam apa yang menyembunyikan kehamilan itu dariku sampai hari pernikahan kita?"

"Aku bisa jelaskan, Nay! Itu kecelakaan! Tolong beri aku waktu!" Farel memohon, mengatupkan kedua tangannya di depan dada, air matanya mengalir membasahi wajahnya yang tampak menyedihkan.

"Waktumu sudah habis sejak kamu membuka kancing bajumu untuk perempuan lain," desisku tajam.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah kursi tamu, tempat Keisya duduk. Saat pandangan kami bertemu, aku melihat sesuatu yang membuat darahku mendidih. Di balik air mata yang terus menetes, di balik bahu yang pura-pura terguncang, ada kilatan kepuasan di mata Keisya. Sudut bibirnya nyaris melengkung ke atas. Sangat tipis. Sangat cepat. Tapi aku melihatnya.

Dia menang diam-diam. Dia berhasil menghancurkan kebahagiaanku, dan mungkin, jauh di lubuk hatinya, dia memang menginginkan Farel untuk dirinya sendiri. Atau sekadar ingin melihatku jatuh. Kebenaran itu menohokku begitu keras, membakar habis sisa-sisa keraguanku.

Jika aku mundur sekarang, Keisya akan benar-benar menang. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.

Aku menoleh menatap Ayah. "Yah," panggilku, suaraku bergetar namun penuh penekanan. "Nayra mau menikah dengan Arsen."

"Nayra! Kamu tidak sadar apa yang kamu katakan, Nak!" Ibu menangis, berusaha bangkit namun ditahan oleh kerabat. "Pernikahan tanpa cinta itu neraka! Kamu tidak kenal dia!"

"Dan aku pikir aku mengenal Farel selama lima tahun, Bu! Tapi lihat apa yang dia lakukan!" teriakku, suaraku pecah. Aku menarik napas, menekan emosiku dalam-dalam. "Keputusanku sudah bulat. Aku tidak akan keluar dari ruangan ini sebagai perempuan yang batal nikah. Ayah... tolong. Nikahkan aku dengan Arsen."

Ayah menatapku lama. Ia melihat tekad yang keras di mataku, berpadu dengan keputusasaan yang kelam. Lalu, perlahan, bahu Ayah yang tegang sedikit mengendur. Ia menatap Arsen dengan sorot menilai, tajam dan penuh ancaman.

"Jika kamu menyakiti putriku seujung kuku pun, Arsen... kekuasaanmu tidak akan bisa menyelamatkanmu dari tanganku," ancam Ayah dengan suara serak.

"Saya mempertaruhkan nama saya, Pak Surya," jawab Arsen mantap.

Tidak ada lagi diskusi. Ayah membalikkan badan, memberi isyarat kepada pihak keamanan. "Bawa Farel keluar dari ruangan ini. Jangan biarkan dia membuat keributan."

"Nay! Nayra! Kamu gak bisa gini! Nayra!" Farel berteriak histeris saat dua pria berseragam hitam mencengkeram lengannya, menyeretnya menjauh dari meja akad. Ia meronta, menendang, namun kekuatannya tidak sebanding. Suaranya perlahan menjauh dan hilang di balik pintu yang ditutup paksa.

Kini, ruangan itu hanya menyisakan ketegangan yang pekat. Penghulu menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan, mencoba memulihkan kewibawaannya. Ayah duduk di kursi di seberang meja akad. Arsen mengambil tempat di hadapannya, persis di kursi yang beberapa menit lalu diduduki oleh pria yang mengkhianatiku.

Aku duduk di kursi mempelai wanita, sedikit di belakang Arsen. Jantungku berdetak sangat keras hingga telingaku berdenging. Ini benar-benar terjadi. Aku mengikatkan hidupku pada pria asing demi sebuah pembalasan dendam dan harga diri.

Prosesi dimulai kembali. Suara penghulu terdengar bergetar saat membacakan khotbah nikah yang dipersingkat. Aku menatap punggung Arsen. Bahunya lebar, tertutup jas hitam yang dipotong dengan sangat presisi. Dia tidak terlihat tegang sama sekali.

Ayah mengulurkan tangannya, menjabat tangan kanan Arsen.

"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Arsenio Dirgantara, dengan putri kandung saya, Nayra Anindhita, dengan maskawin seperangkat alat salat dan perhiasan emas seberat lima puluh gram, dibayar tunai." Suara Ayah lantang, menggema di seluruh ballroom, memastikan tidak ada satu pun yang meragukan keabsahan momen ini.

Arsen menarik napas panjang. Dan dengan suara baritonnya yang jernih, tegas, tanpa jeda atau keraguan sedikit pun, ia menjawab dalam satu tarikan napas.

"Saya terima nikah dan kawinnya Nayra Anindhita binti Surya Adikusuma dengan maskawin tersebut, dibayar tunai."

"Bagaimana saksi? Sah?"

"Sah."

"Sah."

"Alhamdulillah..."

Doa dilantunkan, namun telingaku sudah kebas. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya lolos, meluncur melewati riasanku. Tapi ini bukan air mata kebahagiaan. Ini adalah tangisan kematian dari mimpi-mimpiku. Aku baru saja menjual masa depanku untuk sebuah skenario kepura-puraan.

Arsen berbalik menghadapku. Kami berpandangan untuk pertama kalinya sebagai suami istri secara hukum dan agama. Ia tidak tersenyum, namun matanya memancarkan ketenangan yang aneh. Ia mengulurkan tangannya. Dengan jemari yang sedingin es, aku menyambut tangannya, lalu mencium punggung tangannya seperti yang seharusnya dilakukan seorang istri. Aroma musk itu kembali memenuhi paru-paruku.

Kamera menyala, kilatannya membutakan mataku selama beberapa detik. Tepuk tangan tamu undangan terdengar riuh, meski aku tahu sebagian besar dari mereka masih kebingungan dengan drama plot twist yang baru saja mereka saksikan.

Sisa acara malam itu adalah sebuah penyiksaan. Kami harus berdiri di pelaminan, bersalaman dengan ratusan tamu yang tersenyum canggung, membisikkan kata-kata selamat yang terdengar kosong, dan sesekali melemparkan tatapan penuh rasa ingin tahu ke arah perut Keisya yang duduk menunduk di sudut ruangan.

Arsen memainkan perannya dengan sangat brilian. Ia merangkulkan tangannya di pinggangku, tersenyum sopan kepada para tamu, dan bahkan sesekali berbisik di telingaku seolah kami adalah pasangan yang sedang dimabuk asmara. Padahal, yang ia bisikkan hanyalah instruksi.

"Tahan senyummu, yang datang ini saingan bisnis ayahmu," atau "Ambil napas panjang, kau terlihat sangat pucat."

Entah sudah berapa ratus orang yang kami salami hingga akhirnya ruangan itu perlahan kosong. Kakiku terasa mati rasa. Sendi-sendiku seperti mau rontok. Ayah dan Ibu mendekat. Ibu memelukku erat, menangis lagi tanpa bersuara, sementara Ayah menepuk bahu Arsen dengan kaku.

"Bawa Nayra istirahat. Kamar presidensial di lantai paling atas sudah disiapkan. Kunci dan barang-barangnya sudah ada di sana," ucap Ayah lelah. Hari ini telah menguras habis usia Ayah sepuluh tahun lebih tua.

"Baik, Pak. Bapak dan Ibu juga harus segera istirahat," balas Arsen sopan.

Kami berjalan meninggalkan ballroom yang kini dipenuhi kelopak bunga mawar yang berserakan, hancur terinjak-injak, persis seperti hatiku. Perjalanan di dalam lift menuju lantai teratas terasa seperti berada di ruang kedap suara. Angka digital di atas pintu lift terus naik, seiring dengan kepanikan yang mulai merayap di dadaku.

Malam pertama.

Kesepakatan kami jelas, ini hanya pernikahan pura-pura. Tidak akan ada sentuhan. Tapi menyadari bahwa aku akan menghabiskan malam berdua saja di dalam satu kamar dengan pria yang sepenuhnya asing... membuat nyaliku menciut.

Pintu lift terbuka berdenting. Kami berjalan menyusuri lorong yang sepi. Arsen menempelkan kartu akses pada pintu kamar bernomor 801. Suara klik elektronik terdengar tajam. Ia mendorong pintu kayu tebal itu terbuka, lalu menyingkir, membiarkanku masuk lebih dulu.

Aku melangkah masuk, dan seketika udara di paru-paruku terasa habis. Malam pertama yang sesungguhnya baru saja dimulai.