Hening yang menyelimuti kamar ini terasa jauh lebih pekat setelah kepergian Farel. Aku masih terduduk di lantai berkarpet tebal, memeluk kedua lututku dengan gaun kebaya pengantin yang kini terasa seperti kostum badut yang menyedihkan. Di sampingku, Arsen masih berjongkok dalam diam. Ia tidak mengucapkan satu patah kata pun untuk menghiburku. Tidak ada kalimat "semua akan baik-baik saja" atau "kamu harus kuat". Ia hanya berada di sana, membiarkan kehadirannya menjadi jangkar yang menahanku agar tidak sepenuhnya tenggelam dalam lautan keputusasaan.
Entah berapa lama kami berada dalam posisi itu. Napasku yang semula memburu perlahan mulai teratur, meski dadaku masih terasa sesak seolah ada batu besar yang menekan tulang rusukku. Aku mengusap wajahku yang basah dan lengket oleh perpaduan air mata dan sisa make-up.
"Berdirilah," suara bariton Arsen akhirnya memecah keheningan. Nadanya tenang, namun mengandung perintah yang lembut. "Lantai ini dingin. Kau harus membersihkan diri dan melepas gaun itu. Kau terlihat seperti sedang dicekik oleh pakaianmu sendiri."
Aku mendongak, menatapnya dengan pandangan nanar. Ia benar. Korset kebaya ini memang menekan tulang rusukku begitu kuat hingga aku kesulitan bernapas. Dengan gerakan lambat dan kaku, aku mencoba bangkit. Namun, kakiku yang telah berdiri berjam-jam di atas heels setinggi dua belas sentimeter ditambah dengan guncangan emosional yang hebat, menolak bekerja sama. Aku terhuyung ke depan.
Dengan sigap, kedua tangan Arsen menangkap lenganku. Cengkeramannya kokoh, menyeimbangkan tubuhku seketika. Bau musk dan cedarwood dari kemejanya kembali menguar, sebuah aroma asing yang entah bagaimana perlahan mulai terasosiasi dengan rasa aman di otakku.
"Terima kasih," gumamku pelan, menarik lenganku dari pegangannya begitu aku bisa berdiri tegak.
Aku berjalan tertatih menuju cermin rias besar di sudut ruangan. Pantulan diriku di sana sungguh menyedihkan. Rambut yang disanggul elegan kini mulai berantakan dengan beberapa helai yang menjuntai lelah. Kantung mataku menghitam, maskaraku luntur menciptakan jejak kelabu di pipiku. Aku terlihat seperti hantu dari masa lalu yang kehilangan arah.
Tanganku terulur ke belakang punggung, mencoba meraih ritsleting gaun kebayaku. Namun, desain kebaya ini sangat rumit. Ada deretan kancing kait kecil yang menyembunyikan ritsleting utama, membentang dari tengkuk hingga ke pinggang bawah. Tanganku gemetar, jariku kebas, dan kepalaku terlalu pening untuk berkonsentrasi membuka kaitan-kaitan kecil itu. Berkali-kali aku mencoba, berkali-kali pula jariku terpeleset.
Rasa frustrasi tiba-tiba meledak. Ini hanya sebuah ritsleting, tapi entah mengapa terasa seperti sebuah tembok raksasa yang tidak bisa kuhancurkan. Mengapa semuanya terasa begitu sulit? Mengapa melepaskan gaun ini saja aku tidak mampu?! Air mataku kembali merebak, memanas di pelupuk mata.
"Biar aku bantu," suara Arsen terdengar dari belakangku.
Aku tersentak saat melihat pantulannya di cermin. Ia sudah berdiri tepat di belakangku, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi mesum atau kurang ajar sedikit pun. Tatapannya murni profesional, seolah ia sedang memperbaiki mesin yang rusak.
"Tidak usah. Aku bisa sendiri," tolakku dengan suara bergetar, kembali mencoba menarik kain di punggungku dengan kasar.
"Berhenti bersikap keras kepala untuk hal-hal kecil, Nayra. Kau akan merobek gaun itu, dan aku tidak mau disalahkan jika keluargamu menagih ganti rugi besok pagi," ucapnya datar.
Ia menepis tanganku yang gemetar dengan lembut, lalu mengambil alih. Aku menahan napas saat buku-buku jarinya tanpa sengaja menyentuh kulit tengkukku yang terbuka. Sentuhannya dingin, kontras dengan kulitku yang terasa panas karena ketegangan. Ia membuka kancing kait itu satu per satu dengan telaten dan cekatan. Dari cermin, aku bisa melihat rahangnya yang mengeras, matanya fokus menatap deretan kancing di punggungku tanpa sedikit pun melirik ke arah lain yang tidak seharusnya.
"Selesai," gumamnya saat ritsleting terakhir diturunkan hingga sebatas pinggang, melonggarkan korset yang sedari tadi menyiksaku.
Udara segar seketika mengisi paru-paruku. Aku bisa bernapas kembali. Aku menunduk, memegang bagian depan kebayaku agar tidak merosot. "Terima kasih," bisikku, tak berani menatap matanya di cermin.
Arsen langsung mundur beberapa langkah, memberikan ruang aman bagiku. "Kamar mandinya di sebelah sana. Air hangatnya sudah kunyalakan saat kau menangis tadi. Bersihkan dirimu. Pakaian gantimu ada di dalam koper hitam itu."
Aku mengangguk kaku, bergegas menarik koperku dan masuk ke dalam kamar mandi mewah yang berdinding pualam. Suara gemericik air yang mengisi bathtub menyambutku. Aku mengunci pintu, membiarkan gaun itu luruh ke lantai, dan melangkah masuk ke bawah pancuran shower. Aku membiarkan air hangat mengguyur kepalaku, berharap air itu bisa melunturkan tidak hanya sisa make-up dan hairspray, tapi juga rasa sakit, kenangan, dan sisa-sisa perasaanku pada Farel. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Semakin aku mencoba membersihkan diri, bayangan Farel dan Keisya semakin tergambar jelas di benakku.
Setelah menghabiskan waktu hampir setengah jam di dalam kamar mandi, aku keluar mengenakan piyama panjang berbahan katun sutra berwarna navy yang menutupi tubuhku dengan sopan. Saat aku melangkah kembali ke area kamar tidur, aku melihat Arsen sedang duduk di sofa beludru, memangku sebuah laptop yang memancarkan cahaya ke wajahnya. Ia sudah berganti pakaian dengan kaos oblong hitam dan celana training abu-abu. Ia terlihat... sangat manusiawi. Sangat biasa. Bukan seperti CEO kejam atau dewa penyelamat yang arogan.
Ia melirikku sekilas. "Sudah merasa lebih baik?"
"Sedikit," jawabku singkat. Aku berjalan ke arah nakas, menuangkan segelas air, lalu menatap dinding kaca besar yang memperlihatkan pemandangan lampu kota dari lantai tertinggi hotel ini.
"Kau bisa tidur duluan di ranjang. Aku masih harus memeriksa beberapa email masuk dari kantor cabang di Singapura. Pembatalan acaraku malam ini membuat beberapa meeting berantakan," jelasnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. Nada suaranya menyiratkan bahwa aku tidak perlu merasa bersalah atas hal itu.
Aku berjalan menuju ranjang raksasa yang kelopak mawarnya sudah dibersihkan oleh Arsen entah kapan. Aku naik ke atas kasur, menarik selimut tebal hingga ke dada, dan memiringkan tubuh membelakanginya.
Satu jam berlalu. Kamar ini sangat sunyi, hanya terdengar suara ketikan keyboard yang ritmis dari arah sofa. Namun, mataku sama sekali tidak bisa terpejam. Otakku terus berputar bagai kaset rusak. Aku merindukan rasa kantuk, tapi adrenalin dan rasa sakit membuatku terjaga penuh.
Udara di dalam kamar tiba-tiba terasa pengap. Aku butuh udara segar. Aku menyingkap selimut dengan pelan, turun dari ranjang tanpa menimbulkan suara. Arsen melirikku.
"Mau ke mana?" tanyanya.
"Hanya... mencari angin. Aku mau ke balkon sebentar," jawabku lirih.
Arsen hanya mengangguk pelan dan kembali fokus pada layarnya. Aku melangkah menuju pintu kaca geser di ujung ruangan, membukanya, dan melangkah keluar menuju balkon pribadi yang melengkung mengikuti desain arsitektur gedung. Angin malam yang dingin langsung menerpa wajahku, mengeringkan sisa kelembapan di rambutku. Dari sini, aku bisa melihat kelap-kelip lampu kota yang terlihat seperti lautan bintang di bawah sana.
Aku menyandarkan lenganku di pagar balkon yang dingin, memejamkan mata, mencoba menenangkan gemuruh di dadaku. Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik.
Sayup-sayup, terbawa oleh hembusan angin malam yang sunyi, aku mendengar suara isakan. Suara tangisan yang sangat familier. Mataku terbuka lebar. Aku menoleh ke arah kanan, ke arah balkon kamar suite di sebelah kamar ini. Sebagai keluarga VIP penyelenggara, Ayah memang mem-booking seluruh kamar suite di lantai ini untuk keluarga inti. Dan kamar di sebelah kanan ini... adalah kamar yang ditempati oleh keluargaku.
Aku menahan napas, berjalan perlahan mendekati partisi kaca buram yang memisahkan balkon kamarku dengan balkon kamar sebelah. Telingaku menangkap suara perdebatan yang tertahan.
"Mas... tolong jangan bersikap begini padaku," itu suara Keisya. Suaranya serak, penuh dengan nada memelas yang sangat kubenci. "Aku juga tidak mau ini terjadi. Tapi anak ini... ini darah dagingmu, Mas."
Duniaku serasa berhenti berputar. Tanganku mencengkeram pagar balkon hingga buku-buku jariku memutih.
Lalu terdengar balasan dari suara pria yang sangat kukenal, suara yang selama lima tahun selalu membisikkan kata cinta di telingaku. Farel.
"Darah daging? Kau yakin itu darah dagingku, Sya?!" Suara Farel terdengar penuh dengan frustrasi dan keputusasaan yang sangat dalam. Terdengar suara benda kecil ditendang atau dilempar. "Malam itu aku mabuk berat! Aku bahkan tidak ingat apa yang terjadi! Kau yang sengaja membawaku ke sana! Kau sengaja menghancurkan hubunganku dengan Nayra!"
"Aku tidak sengaja, Mas! Aku mencintaimu! Sejak dulu aku mencintaimu, tapi kamu hanya melihat Mbak Nayra!" Keisya berteriak histeris, suaranya pecah oleh tangisan yang menyayat. "Aku tahu aku salah! Tapi sekarang nasi sudah menjadi bubur. Mbak Nayra sudah membuangmu! Dia sudah menikah dengan pria lain! Cuma aku yang tersisa untukmu sekarang, Mas! Cuma aku dan anak kita!"
"Diam! Jangan sebut nama Nayra dengan mulut kotormu itu!" bentak Farel. Terdengar suara napasnya yang memburu. "Aku tidak akan pernah mencintaimu, Keisya. Sampai mati pun, aku hanya mencintai Nayra. Kau mungkin berhasil menggagalkan pernikahanku, kau mungkin menjebakku dengan kehamilan sialan ini, tapi kau tidak akan pernah bisa memilikiku seutuhnya!"
"Mas Farel... jangan begini, Mas... kasihan anak kita..." Keisya meraung, suaranya terdengar seperti hewan yang terluka.
"Gugurkan."
Satu kata dari Farel itu meluncur dengan nada sedingin es. Menghentikan isakan Keisya seketika. Dan menghentikan detak jantungku di saat yang bersamaan.
Aku mundur selangkah. Kakiku gemetar hebat. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang merogoh ke dalam dadaku dan meremas jantungku hingga hancur berkeping-keping. Mereka membicarakan kehamilan, tentang anak, tentang menggugurkan kandungan... hal-hal yang seharusnya menjadi pembicaraan sakral antara suami dan istri, kini menjadi senjata berdarah yang mereka lemparkan satu sama lain di malam yang seharusnya menjadi malam pengantinku.
Farel mungkin menolak Keisya, ia mungkin mengatakan hanya mencintaiku. Tapi fakta bahwa benihnya telah tertanam di rahim adikku sendiri adalah sebuah kebenaran menjijikkan yang tidak bisa dihapus oleh seribu kata cinta.
Udara malam yang dingin terasa menusuk tulangku, tapi rasa dingin di dalam jiwaku jauh lebih membekukan. Aku merosot ke lantai balkon yang keras, tak lagi peduli dengan udara kotor atau debu. Aku memeluk lututku erat-erat, membenamkan wajahku di sana. Tangisku pecah lagi. Kali ini bukan isakan histeris, melainkan tangisan sunyi yang mengoyak dari dalam. Tangisan seseorang yang jiwanya telah mati.
Lima tahun... lima tahun aku menjaga diriku, menjaga batasanku dengan Farel karena kami ingin semuanya sempurna setelah pernikahan. Tapi pria yang kujaga kesuciannya itu dengan mudahnya menodai adikku sendiri dalam satu malam. Rasa mual yang luar biasa menyerang perutku. Aku membekap mulutku sendiri agar suara tangisku tidak terdengar ke balkon sebelah.
Tiba-tiba, rasa hangat menyelimuti bahuku. Sesuatu yang tebal dan berat diletakkan di atas punggungku. Aku mendongak dengan pandangan buram oleh air mata.
Arsen berjongkok di hadapanku. Ia telah memakaikan jaket hoodie abu-abunya ke bahuku. Ia tidak melihat ke arah partisi kaca, meski aku yakin dengan pendengarannya, ia pasti mendengar setiap kata-kata menjijikkan dari perdebatan Farel dan Keisya tadi.
Arsen menatapku. Matanya yang biasa terlihat sinis dan santai, kini memancarkan sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sesuatu yang lembut. Sebuah pemahaman yang kelam.
"Tutup telingamu, Nayra," bisiknya pelan.
Ia mengangkat kedua tangannya yang besar dan hangat, lalu meletakkannya di telingaku, menutupi kedua cuping telingaku rapat-rapat. Suara perdebatan dari balkon sebelah seketika teredam, digantikan oleh suara detak jantungku sendiri dan kehangatan dari telapak tangannya.
"Dunia ini terlalu kotor untuk kau dengar malam ini," ucap Arsen. Aku masih bisa membaca gerak bibirnya dan mendengar suaranya yang tertahan. "Menangislah sampai kau merasa muak. Setelah air matamu habis malam ini, aku tidak mau melihatmu menangisi pria pengecut itu lagi. Paham?"
Aku menatap matanya dalam-dalam. Di bawah cahaya rembulan yang redup, wajah kerasnya terlihat begitu menenangkan. Pertahananku kembali runtuh. Aku memiringkan kepalaku, menyandarkan pelipisku ke telapak tangannya yang masih menutupi telingaku. Aku memejamkan mata dan membiarkan air mataku mengalir bebas, membasahi tangannya.
Arsen tidak menarik tangannya. Ia membiarkanku menjadikan telapak tangannya sebagai tempat pelarianku. Ia bergeser sedikit, mengubah posisinya agar lebih nyaman, membiarkan tubuhku bersandar ringan pada lengannya. Aroma musk dari jaketnya membungkus penciumanku, menyingkirkan aroma malam yang membawa kebusukan rahasia keluargaku.
Entah sudah berapa lama aku menangis dalam posisi itu. Suara dari balkon sebelah sudah lama hilang. Kelelahan fisik dan emosional yang luar biasa akhirnya mengambil alih kesadaranku. Mataku terasa seberat timah. Isakanku berubah menjadi tarikan napas lambat. Hal terakhir yang kuingat sebelum kesadaranku benar-benar terenggut ke dalam kegelapan adalah rasa hangat dari ibu jari Arsen yang dengan sangat lembut mengusap jejak air mata di pipiku.
Aku tertidur di sana. Di lantai balkon yang dingin. Di bawah langit malam yang kelam. Namun anehnya, untuk pertama kalinya di hari yang hancur ini... aku merasa aman di dekat pria asing ini.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar