Udara di dalam kamar Presidential Suite ini dipenuhi aroma mawar merah yang menyengat. Lampu kristal memancarkan cahaya keemasan yang temaram, memantul pada permukaan lantai marmer yang dingin. Di tengah ruangan, sebuah ranjang king size berdiri dengan angkuh. Seprai putih sutranya ditutupi oleh ratusan kelopak mawar merah yang disusun membentuk hati raksasa, dan di ujung ranjang, dua handuk yang dilipat menyerupai angsa saling menautkan leher.
Pemandangan yang seharusnya romantis ini kini terasa seperti lelucon yang kejam. Ejekan visual atas betapa palsunya pernikahan ini.
Suara pintu yang ditutup dengan pelan di belakangku membuatku berjengit. Klik. Kunci otomatis berbunyi, menyegel kami berdua di dalam ruangan yang luas namun terasa begitu menyesakkan ini.
Aku berdiri mematung di tengah ruangan, masih mengenakan kebaya pengantin yang kini terasa seberat baju besi. Tanganku memegang tas kecilku erat-erat hingga buku-buku jariku memutih.
Arsen berjalan melewatinya dengan santai. Ia melepaskan jas hitamnya, melemparkannya begitu saja ke atas sofa beludru di sudut ruangan, lalu melonggarkan dasi di kerahnya. Ia membuka tiga kancing teratas kemejanya, memperlihatkan kulit dadanya yang kecokelatan dan otot lehernya yang kokoh.
"Kau berniat berdiri di situ sampai pagi, Nayra?" tanyanya, suaranya terdengar berat dan lelah. Ia berjalan ke arah mini bar, mengambil sebotol air dingin, menuangkannya ke dalam gelas kaca, dan meminumnya hingga tandas.
Aku menelan ludah yang terasa kering. Mataku menyapu seluruh ruangan. Hanya ada satu ranjang. Tentu saja hanya ada satu ranjang. Ini kamar pengantin.
"Kita perlu menetapkan batas," ucapku akhirnya, suaraku terdengar lebih ceking dari yang kuharapkan. Aku berdeham, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa ketegasanku. "Sesuai kesepakatan kita di ruang rias tadi. Ini hanya sandiwara."
Arsen meletakkan gelasnya dengan dentingan pelan di meja kaca. Ia berbalik menatapku, melipat kedua tangannya di dada. Matanya yang gelap memancarkan kilatan geli yang membuatku kesal.
"Aku tidak amnesia, Nayra. Aku ingat persis apa yang kukatakan," jawabnya tenang. Ia melirik ranjang yang bertabur mawar, lalu kembali menatapku. "Jadi, siapa yang tidur di luar, dan siapa yang di dalam?"
"Aku tidur di ranjang. Kamu bisa tidur di sofa." Jawabanku meluncur cepat, tak terbantahkan.
Arsen mengangkat satu alisnya. Ia melangkah perlahan mendekati sofa beludru two-seater yang didudukinya tadi, lalu menunjuknya dengan dagu. "Kau lihat kakiku, Nayra? Tinggiku seratus delapan puluh enam sentimeter. Jika aku tidur di sofa itu, besok pagi tulang belakangku akan bengkok dan aku tidak bisa berjalan tegak. Kau mau media melihat suamimu keluar kamar pengantin dengan postur seperti kakek berumur delapan puluh tahun?"
Aku mengerucutkan bibir, kesal karena logikanya masuk akal. "Kalau begitu, minta pihak hotel mengirim extra bed."
"Di malam pengantin kita?" Arsen terkekeh, suara tawa yang maskulin dan beresonansi di dada. "Lalu membiarkan staf hotel bergosip bahwa pernikahan kilat ini bermasalah sejak malam pertama? Jangan bodoh, Nayra. Sandiwara kita harus sempurna, bahkan di depan pelayan hotel sekalipun."
"Lalu kamu mau tidur di mana?! Di lantai marmer itu?!" suaraku meninggi, rasa frustrasi mulai menguasai. Aku terlalu lelah secara fisik dan mental untuk berdebat soal tempat tidur dengan pria asing ini.
Arsen berjalan mendekati ranjang, menyingkirkan handuk berbentuk angsa itu dengan kasar hingga jatuh ke lantai, lalu menyapu kelopak mawar dengan lengannya hingga berserakan ke mana-mana.
"Kita tidur di ranjang yang sama," putusnya sepihak.
"Apa?! Gak! Aku gak mau!" Aku mundur selangkah, menyilangkan tangan di depan dada dengan protektif. Jantungku berdebar liar. Panik mulai menyerang. "Kamu berjanji tidak akan menyentuhku!"
"Dan aku akan menepatinya," desis Arsen, nada suaranya berubah tajam, kehilangan nada bercandanya. Ia menatapku lurus-lurus, auranya mendadak terasa sangat dominan. "Aku bukan pria hidung belang yang tidak bisa mengontrol nafsu di depan wanita yang sedang patah hati. Ranjang ini ukurannya dua kali dua meter. Cukup luas untuk kita berdua tidur tanpa harus bersentuhan. Aku akan menaruh guling di tengah sebagai batas. Kau di sisi kiri, aku di sisi kanan. Selesai."
Aku terdiam, menatap matanya mencari kebohongan atau niat terselubung. Tapi yang kulihat hanyalah kejujuran yang keras dan sedikit rasa tersinggung. Pria ini mungkin manipulatif dalam bisnis dan penuh teka-teki, tapi entah kenapa, instingku mengatakan bahwa untuk urusan ini, dia tidak berbohong.
"Baiklah," putusku akhirnya, menghembuskan napas lelah. "Aku mau mandi dan ganti baju. Jangan berani-berani menoleh ke arah kamar mandi."
Aku memutar tubuhku, berniat menuju koperku yang sudah disiapkan oleh keluargaku di dekat lemari. Namun, sebelum aku sempat melangkah, suara ketukan keras dan menggedor terdengar dari pintu utama kamar.
Brak! Brak! Brak!
Aku terlonjak kaget. Jantungku yang baru saja sedikit tenang kembali berpacu secepat kilat. Siapa yang bertamu di tengah malam begini? Staf hotel tidak akan menggedor pintu sebrutal itu.
Arsen langsung menegang. Posturnya berubah waspada. Ia memberi isyarat dengan tangannya menyuruhku mundur menjauh dari pintu.
"Buka pintunya, Nay! Aku tahu kamu di dalam! Nayra!"
Darahku membeku. Suara itu. Suara serak dan putus asa yang sangat kukenal. Farel.
Bagaimana dia bisa naik sampai ke lantai ini?! Bukankah akses Presidential Suite sangat ketat? Otakku berputar cepat, lalu aku teringat. Farel adalah bagian dari panitia inti dari pihak keluarga yang mengurus akomodasi hotel. Dia pasti memegang master key cadangan atau mengetahui celah keamanan hotel ini sebelum diboikot sepenuhnya oleh keluargaku.
Klik. Suara gagang pintu yang diputar dari luar membuat napasku tercekat. Pintu itu terbuka. Aku lupa mengunci slot rantai ganda di bagian dalam karena terlalu gugup berhadapan dengan Arsen tadi.
Farel menerobos masuk bagai badai. Kemeja putihnya sudah berantakan, tanpa beskap, dua kancing teratasnya lepas, dan rambutnya acak-acakan. Matanya merah padam, napasnya memburu, membawa serta bau alkohol yang samar namun pasti, bercampur dengan aroma keringat.
Ia menatap lurus ke arahku, mengabaikan Arsen yang berdiri tak jauh dari pintu. Farel melangkah maju dengan cepat, tangannya terulur ingin meraihku.
"Nay... tolong, kita harus bicara," suaranya parau, memohon dengan tatapan yang menyedihkan.
Sebelum jari-jari Farel sempat menyentuh kain kebayaku, sebuah tangan besar dan kokoh mencengkeram kerah kemejanya dari samping. Dengan satu tarikan keras yang brutal, Arsen melempar tubuh Farel ke belakang hingga punggung pria itu menghantam dinding kayu di dekat pintu masuk dengan bunyi debuk yang keras.
"Argh!" Farel mengerang kesakitan, terhuyung, nyaris jatuh jika ia tidak menahan diri pada nakas.
"Punya nyali berapa besar kau berani menerobos masuk ke kamar istriku, bajingan?" Suara Arsen tidak berteriak, suaranya sangat rendah, dingin, dan mematikan. Seperti suara pisau yang ditarik perlahan dari sarungnya.
Arsen melangkah maju, menjepit Farel di sudut dinding. Tubuh Arsen yang jauh lebih tegap dan tinggi membuat Farel tampak seperti anak kecil yang sedang dihukum.
"Lepasin aku, brengsek!" Farel mencoba memberontak, mendorong dada Arsen, namun usahanya sia-sia. Arsen seolah terbuat dari baja.
"Kau mengacaukan pernikahannya, kau mempermalukan keluarganya, kau menghamili adiknya, dan sekarang kau berani muncul di depan pintunya dengan bau alkohol yang menjijikkan?" Arsen mencengkeram leher kemeja Farel lebih kuat, memelintirnya hingga napas Farel tersengal. "Satu kata dariku, sekuriti hotel ini akan menyeretmu ke polisi dengan tuduhan pelecehan dan masuk tanpa izin."
"Ini... ini urusanku dengan Nayra!" Farel terengah-engah, matanya membelalak marah menatap Arsen, lalu beralih menatapku yang berdiri kaku di tengah ruangan. "Nay! Kamu tahu aku tidak mungkin melakukan itu pada Keisya! Aku dijebak! Tolong dengarkan aku, Nay!"
Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat. Melihat wajahnya... melihat bibir yang dulu selalu mengecup keningku kini memuntahkan kebohongan yang membuatku muak, rasa sakit itu kembali mengoyak dadaku.
"Dijebak?" Aku melangkah maju, keluar dari tempatku berdiri, mengabaikan tatapan peringatan dari Arsen yang memintaku untuk tetap di belakang.
Aku berdiri tepat di depan Farel, menatap wajah pria yang pernah kucintai dengan seluruh nyawaku. Mataku terasa panas, tapi tidak ada setetes pun air mata yang jatuh. Kemarahanku sudah membakar habis kesedihanku.
"Bagaimana kamu dijebak, Farel? Apakah Keisya menodongkan pistol ke kepalamu dan memaksamu melepas pakaianmu? Apakah dia mencekokimu obat tidur lalu memperkosamu?" Suaraku bergetar, namun penuh racun.
"Nay, aku mabuk malam itu! Aku tidak sadar!" Farel memohon, air matanya menetes, tangannya berusaha menggapai tanganku namun ditepis kasar oleh Arsen. "Dia yang membawaku ke hotel! Aku mengira... aku mengira dia itu kamu, Nay!"
Plak!
Tamparanku mendarat telak di pipi kirinya sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. Tenagaku begitu besar hingga telapak tanganku sendiri terasa kebas. Kepala Farel terlempar ke samping.
"Jangan pernah bawa-bawa namaku untuk menutupi nafsu binatangmu!" teriakku, dadaku naik turun menahan ledakan emosi. "Kamu tidur dengan darah dagingku sendiri! Dan kamu menyembunyikannya selama berbulan-bulan, tersenyum di depanku, merencanakan pernikahan ini seolah tidak terjadi apa-apa! Kamu pembunuh, Farel! Kamu membunuh mentalku!"
Farel menunduk, memegangi pipinya yang memerah. Tangisnya pecah, isakannya terdengar begitu menyedihkan menggema di kamar yang sunyi itu.
"Aku menyesal, Nay... aku sangat menyesal. Tolong... batalkan pernikahan palsu ini. Pria ini tidak mencintaimu, dia cuma memanfaatkan situasi! Dia musuh perusahaanku, Nay, dia punya motif lain!"
Arsen yang sejak tadi diam mengawasi, kini bertindak. Ia tidak membuang waktu untuk berdebat dengan orang mabuk. Dengan gerakan cepat dan efisien, Arsen menarik kerah belakang kemeja Farel, menyeretnya secara paksa keluar dari kamar.
"Tidak! Nay! Dengarkan aku!" Farel meronta, menggapai-gapai pintu, namun tenaga Arsen tidak sebanding dengannya.
Arsen melemparkan tubuh Farel ke lorong hotel yang berkarpet tebal hingga Farel tersungkur di lantai. Arsen berdiri di ambang pintu, menatap Farel dengan sorot mata merendahkan.
"Jangan pernah berani menampakkan wajahmu di depan istriku lagi. Jika kau mendekatinya dalam radius sepuluh meter, aku janjikan padamu, besok pagi perusahaan ayahmu tidak akan bersisa selain puing-puing."
Farel mendongak dari lantai. Wajahnya yang basah oleh air mata kini menampilkan campuran antara keputusasaan dan kemarahan yang gelap. Ia menatap melewatiku tubuh Arsen, langsung menuju kedua bola mataku.
"Ini belum selesai, Nay," desis Farel, suaranya terdengar mengerikan di lorong yang sunyi itu. "Arsen menikahimu bukan untuk menyelamatkanmu. Dia punya alasan lain. Kita harus bicara!"
Sebelum Farel bisa mengatakan apa-apa lagi, Arsen membanting pintu kayu jati itu hingga tertutup rapat.
BAM!
Suara gema bantingan pintu itu menyentakku. Aku tersadar dari ketegangan yang mengikatku, dan kakiku seketika lemas. Aku merosot jatuh ke lantai, menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan, bahuku bergetar hebat. Nafasku memburu, tersengal-sengal mencari oksigen di udara yang tiba-tiba terasa begitu menipis.
Farel. Keisya. Pengkhianatan. Dan sekarang, tatapan dendam pria itu. Semua ini terlalu banyak. Terlalu berat untuk kutanggung dalam satu malam.
Arsen berdiri bersandar di pintu yang baru saja ditutupnya, menghela napas panjang. Ia menatapku yang meringkuk di lantai, lalu berjalan perlahan menghampiriku. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak mencoba membantuku berdiri. Ia hanya duduk berjongkok di sampingku, diam, membiarkan keheningan mengambil alih hingga isak tangisku mereda.
Malam pertama kami baru saja dimulai, dan rasanya aku sudah kehilangan separuh nyawaku.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar