Waktu seakan berhenti berdetak di sekeliling kami. Hiruk-pikuk ballroom, tangisan Ibu yang baru siuman dari pingsannya, teriakan makian Ayah, isakan manipulatif Keisya, dan tatapan murka Farel, semuanya memudar menjadi latar belakang yang buram. Satu-satunya hal yang fokus di mataku adalah pria jangkung di hadapanku. Arsen.
Ia berdiri di sana seperti karang yang tak tergoyahkan oleh badai. Posturnya tegap, auranya mendominasi. Tangannya yang masih bertengger dengan sopan namun kuat di pinggangku menahan tubuhku agar tidak runtuh ke lantai.
"Apa maksudmu?" Suaraku keluar parau. Tenggorokanku terasa seperti disayat kaca.
Arsen tidak menjawab pertanyaanku secara langsung. Ia perlahan melepaskan tangannya dari pinggangku, melangkah maju, dan memposisikan dirinya di antaraku dan Farelβmenjadi perisai fisik yang memblokir pandangan pria pengkhianat itu dariku.
"Menyingkir dari sana, Arsen!" bentak Farel. Wajahnya yang memerah dipenuhi keringat dingin. "Ini urusan keluargaku! Jangan ikut campur!"
Arsen memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana panjangnya, sikapnya begitu rileks seolah ia sedang berada di cocktail party, bukan di tengah skandal pernikahan terbesar tahun ini.
"Keluargamu?" Arsen mengangkat sebelah alisnya. "Bukannya kamu baru saja dipecat dari keluarga ini lima menit yang lalu, Farel? Ah, atau kamu lebih memilih dipanggil 'Bapak' oleh calon anak dari adik iparmu?"
"Bangsat!" Farel menerjang maju, mengayunkan tinjunya ke wajah Arsen.
Namun Arsen bergerak lebih cepat. Dengan gerakan refleks yang mematikan, ia menangkis pukulan Farel, mencengkeram pergelangan tangan pria itu, lalu memelintirnya ke belakang dengan sekali sentakan keras. Farel mengerang kesakitan, tubuhnya merosot ke lantai dengan lutut menghantam karpet.
"Jaga sikapmu, Farel. Banyak wartawan kolega ayahmu di luar sana. Kau tidak mau headline besok pagi berubah dari 'Skandal Menantu' menjadi 'Penganiayaan', kan?" bisik Arsen dingin di telinga Farel.
Arsen melepaskan cengkeramannya, mendorong Farel menjauh seolah ia benda kotor. Lalu, tanpa mempedulikan Farel yang masih meringis, Arsen berbalik menatapku.
"Ikut aku," perintahnya. Nada suaranya tidak tinggi, namun mengandung otoritas yang tidak menerima penolakan.
Tanpa menunggu persetujuanku, Arsen meraih pergelangan tangankuβgenggamannya tidak menyakitkan, namun tak bisa dilepaskan. Ia menarikku menjauh dari meja akad, melewati kerumunan tamu yang sibuk merekam dengan ponsel mereka, menerobos keluar dari ballroom, dan membawaku menyusuri lorong panjang menuju ruang rias pengantin yang sunyi.
Begitu kami masuk, Arsen menutup pintu di belakang kami dan memutar kuncinya. Suara klik itu seolah memotong sisa-sisa duniaku di luar sana. Keheningan langsung menyergap. Hanya ada suara napasku yang memburu dan detak jantungku yang berpacu liar.
Kekuatanku menguap seketika. Lututku goyah. Aku merosot jatuh ke lantai berlapis karpet tebal itu, tak lagi peduli dengan gaun kebayaku yang mahal dan indah. Pertahananku runtuh. Tangis yang sejak tadi kutahan di depan banyak orang akhirnya pecah. Aku menjerit, memukul-mukul lantai dengan kepalan tanganku. Sakit. Rasanya terlalu sakit. Dadaku seolah dibelah terbuka dan jantungku diremas hingga hancur.
Lima tahun kesetiaan. Mimpi-mimpi tentang rumah kecil yang kami desain bersama. Rencana nama anak-anak kami. Semuanya dihancurkan oleh pria yang sama yang berjanji akan menjagaku, dan parahnya... dibantu oleh darah dagingku sendiri. Pengkhianatan ganda yang membuatku tak bisa bernapas.
Arsen tidak mencoba menghentikan tangisku. Ia tidak mengucapkan kata-kata penghiburan yang murahan seperti "sabar" atau "semua akan baik-baik saja". Ia berjalan ke arah meja rias, mengambil sebotol air mineral, membukanya, dan meletakkannya di lantai di dekatku. Kemudian, ia menyandarkan tubuhnya ke meja rias, melipat kedua tangannya di dada, dan hanya diam memperhatikanku. Menungguku melepaskan semua racun di dadaku.
Hampir lima belas menit aku menangis hingga suaraku habis dan mataku perih. Perlahan, isakanku mereda menjadi tarikan napas yang tersendat. Aku mengambil botol air yang ia berikan, menenggaknya rakus, merasakan air dingin itu sedikit menenangkan tenggorokanku yang terbakar.
"Sudah selesai menangisinya?" Suara bariton Arsen memecah keheningan.
Aku mendongak, menatapnya dengan sisa-sisa air mata. "Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu ada di sini, dan apa maumu?"
"Namaku Arsenio." Ia menjawab santai. "Aku yakin kau pernah mendengarnya dari Farel atau keluargamu. Perusahaanku adalah salah satu investor utama di perusahaan ayahmu. Dan soal apa mauku..." Arsen terdiam sejenak, menatapku dengan intens. "Aku mau menawarkan kesepakatan yang menguntungkan kita berdua."
Aku tertawa sumbang. Tawa yang terdengar sangat menyedihkan. "Kesepakatan? Di saat hidupku baru saja hancur berantakan? Kamu psikopat atau apa?"
Arsen mengabaikan hinaanku. Ia berjongkok di depanku, menyamakan posisi wajah kami. Bau musk itu kembali tercium, begitu dekat.
"Keluargamu sedang menjadi tontonan di luar sana, Nayra. Ratusan tamu VIP, kolega bisnis ayahmu, kerabat jauh. Malam ini, namamu akan menjadi bahan gosip paling renyah di seluruh penjuru kota. 'Nayra yang malang, ditinggal nikah karena tunangannya menghamili adiknya sendiri.' Apakah itu narasi yang ingin kau dengar seumur hidupmu?"
Kata-kata Arsen menamparku. Kebenaran yang kejam. Harga diri keluargaku sudah hancur lebur diinjak-injak oleh Farel dan Keisya. Dan aku... aku akan selamanya dicap sebagai wanita menyedihkan yang dibuang.
"Lalu aku harus apa?!" sergahku frustrasi. "Mati?! Supaya mereka puas?!"
"Menikahlah denganku."
Dua kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Tenang. Tanpa beban. Seolah ia baru saja mengajakku pergi minum kopi.
Aku membeku. Mataku melebar menatapnya, mencari tanda-tanda lelucon di wajahnya. Namun Arsen sangat serius. Rahangnya mengeras, matanya tidak berkedip.
"Kamu... gila." Aku menggelengkan kepala pelan, mundur sedikit hingga punggungku menyentuh dinding. "Kamu pasti sudah gila."
"Mungkin," jawabnya acuh tak acuh. "Tapi ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan harga dirimu. Pikirkan, Nayra. Tamu sudah hadir, penghulu sudah ada, katering sudah siap. Kau hanya butuh pengantin pria. Jika kau membatalkan pernikahan ini dan keluar dari gedung ini sambil menangis, kau kalah. Farel dan adikmu memenangkan panggungnya."
Arsen mencondongkan tubuhnya lebih dekat. "Tapi, bayangkan jika kau keluar dari ruangan ini bersamaku. Berjalan ke meja akad, dan menikah dengan pria lain yang jauh lebih segalanya dari bajingan itu. Kau tidak akan menjadi pihak yang dibuang. Kau akan menjadi wanita yang membuang pengkhianat dan menemukan pria yang lebih baik. Kau mengubah narasi kehancuran menjadi narasi pembalasan."
Jantungku berdebar kencang. Logikaku berteriak bahwa ini adalah ide paling tidak masuk akal yang pernah kudengar. Menikah dengan pria asing? Di hari yang sama saat hatiku baru saja diremukkan? Tapi di sudut gelap hatiku, rasa sakit hati dan dendam mulai berbisik. Membayangkan wajah terkejut Farel. Membayangkan Keisya yang gagal mempermalukanku sebagai pihak yang kalah.
"Kenapa kamu melakukan ini?" tanyaku, suaraku bergetar. "Tidak ada pria waras yang mau menikahi wanita yang sedang hancur di hari pernikahannya tanpa alasan."
"Anggap saja aku butuh seorang istri untuk menenangkan dewan direksi dan orang tuaku yang cerewet. Pernikahan ini murni transaksi bisnis, Nayra." Arsen menatap lurus ke mataku, suaranya berubah menjadi sangat tegas. "Kita menikah. Kita bermain peran di depan publik. Sebagai gantinya, aku akan mengembalikan harga dirimu dan melindungi keluargamu dari kebangkrutan sosial. Dan aku berjanji padamu satu hal."
Ia mengangkat satu tangannya. "Aku tidak akan menyentuhmu. Tidak akan ada hubungan suami istri. Kita hidup masing-masing dalam satu atap yang sama. Begitu keadaan mereda dan kau sudah siap, kita berpisah dengan tenang. Kau tidak akan kehilangan apa pun selain status lajangmu sementara waktu."
Kepalaku pening. Tawaran ini terlalu gila, tapi... aku tidak punya jalan keluar lain. Suara isakan Ibu yang samar-samar terdengar dari luar menyayat hatiku. Ayah yang mungkin sedang menanggung malu luar biasa di depan rekan-rekan bisnisnya. Aku tidak bisa membiarkan keluargaku hancur lebih dalam karena keegoisan Farel dan Keisya.
Aku menatap Arsen. Pria ini sangat tampan, rahangnya tegas, matanya menyembunyikan banyak rahasia. Tapi saat ini, dia bukan pria bagiku. Dia adalah perisai. Dia adalah senjata untuk memukul balik orang-orang yang telah menyakitiku.
"Hanya... kepura-puraan?" tanyaku memastikan, suaraku nyaris tak terdengar.
"Hanya kepura-puraan," Arsen mengonfirmasi, tanpa ragu sedikit pun.
Aku memejamkan mata. Bayangan Farel dan Keisya di ranjang yang sama terlintas di benakku, membuat perutku mual. Rasa sakit berubah menjadi kemarahan yang dingin dan membeku. Aku membuka mataku. Air mata itu sudah kering. Aku menatap cermin, melihat riasanku yang sedikit luntur, lalu beralih menatap tangan Arsen yang kini terulur ke arahku.
Tangan yang menawarkan keselamatan, sekaligus jurang yang tak kuketahui dasarnya.
Aku mengangkat tanganku yang gemetar, dan meletakkannya di atas telapak tangan Arsen yang besar dan hangat.
"Aku terima."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar