Aku selalu percaya bahwa rumah yang baik adalah rumah yang tenang.

Bukan tenang karena tidak ada masalah — melainkan tenang karena ada cukup iman untuk menghadapi masalah apa pun. Dan selama dua belas tahun ini, aku pikir rumahku adalah rumah yang seperti itu.

Aku, Hana Saffira. Istri Rafi Aldrian. Guru ngaji untuk dua puluh tiga anak di mushola komplek perumahan kami. Perempuan yang tahu letak tasbih suaminya lebih baik dari suaminya sendiri, yang hafal suaminya tidak suka bawang merah terlalu matang, yang selalu menyiapkan teh hangat setiap jam sembilan malam karena itu waktu biasanya Rafi berhenti bekerja.

Hidupku tidak sempurna. Tapi aku bersyukur.

Setidaknya — sampai Selasa malam itu.

"Hana."

Aku sedang melipat sajadah ketika Rafi memanggilku dari ruang tengah. Suaranya biasa saja, tidak ada yang aneh. Tapi ada sesuatu — semacam nada yang berbeda dari biasanya, seperti orang yang sudah lama menyiapkan kalimat sebelum mengucapkannya.

Aku keluar sambil membawa sajadah yang belum selesai kulipat.

Rafi duduk di sofa, tangannya di atas lutut, matanya tidak langsung menatapku.

Itu yang pertama membuat dadaku sedikit tidak nyaman. Rafi selalu menatapku ketika berbicara.

"Duduk dulu," katanya.

Aku duduk di kursi seberang. Bukan di sampingnya seperti biasanya — ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat kakiku memilih jarak itu sendiri, tanpa aku minta.

"Ada apa?" tanyaku pelan.

Rafi mengembuskan napas panjang. Ia mengelap wajahnya dengan telapak tangan, lalu menatapku.

"Aku mau cerita sesuatu," katanya. "Dan aku minta kamu dengerin dulu sampai selesai sebelum kamu ngomong apa pun."

Jantungku tidak berdegup kencang. Anehnya, justru melambat — seperti sesuatu di dalam diriku sudah bersiap untuk sesuatu yang besar, meskipun aku belum tahu apa.

"Ya," kataku.

Rafi bercerita tentang Syifa pertama kali empat bulan lalu.

Perempuan yang bekerja di yayasan yang sama dengan proyek renovasi mushola yang ditangani Rafi. Janda muda. Suaminya meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan. Punya satu anak laki-laki berumur empat tahun.

"Dia sendirian, Hana. Tidak ada keluarga yang bisa diandalkan di sini. Sering aku lihat dia kelelahan — kerja, ngurus Nabil, sambil coba tetap waras."

Aku mendengarkan.

Masih mendengarkan.

Rafi mengisahkan bagaimana ia mulai sering membantu, bagaimana ia mulai berpikir, bagaimana ia kemudian istikharah — berkali-kali, katanya — dan bagaimana akhirnya ia merasa ini bukan sekadar keinginan, tapi sesuatu yang lebih berat dari itu.

"Aku tidak mau membohongi kamu," kata Rafi akhirnya. Suaranya bergetar sedikit. "Makanya aku bilang sekarang. Sebelum terlalu jauh."

Keheningan.

Jam dinding di dapur berdetak. Di luar, ada suara motor lewat.

"Hana."

Aku sadar bibirku tersenyum.

Bukan senyum bahagia. Bukan juga senyum pahit. Entah senyum apa — aku sendiri tidak tahu waktu itu. Yang kutahu hanya satu: aku tidak mau menangis di depan Rafi malam itu. Belum.

"Boleh aku sendiri dulu?" tanyaku.

Rafi menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Ada lega karena aku tidak meledak. Ada takut karena aku justru seperti ini.

"Boleh," katanya pelan.

Aku berdiri. Membawa sajadah yang sedari tadi ada di tanganku — yang ternyata sudah kulipat dengan cara salah, sudutnya tidak rata.

Aku masuk ke kamar. Menutup pintu dengan pelan.

Dan berdiri di sana, di belakang pintu, mendengar jantungku sendiri.

Malam itu aku tidak langsung menangis.

Aku sholat Isya dulu. Duduk di sajadah, diam, membiarkan keheningan duduk bersamaku.

Ya Allah, pikirku. Aku tahu hukumnya. Aku mengajarkan ini kepada anak-anak di pengajian. Aku tahu dalilnya.

Tapi kenapa rasanya seperti lantai di bawah kakiku tiba-tiba tidak ada?

Aku berbaring di sisi kiriku. Menatap langit-langit kamar yang sudah dua belas tahun kukenal setiap retaknya.

Di sebelah, tempat tidur masih ada lekukan bantal Rafi.

Aku menarik napas panjang.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun pernikahan, aku merasa asing di rumahku sendiri.

Keesokan paginya, aku menyiapkan sarapan seperti biasa.

Nasi goreng, telur mata sapi, teh manis.

Rafi turun dari tangga, melihatku di dapur, dan sejenak ia terdiam.

"Hana—"

"Sudah siap," kataku tanpa menoleh. "Makan dulu sebelum berangkat."

Ia duduk. Aku meletakkan piring di depannya.

Ia menatapku lama.

Aku balik ke kompor, membalik telur yang belum jadi.

Dan aku baru menyadari: tanganku gemetar.