Aku tidak bermaksud mencarinya.
Tapi ketika kamu tiba-tiba hidup dengan nama seseorang yang berputar di kepalamu setiap saat, tangan-tanganmu mulai bergerak sendiri.
Tiga hari setelah malam Selasa itu, aku membuka ponselku. Mengetik nama Syifa Nuraisyah di kolom pencarian. Jemariku berhenti sebentar di atas layar — lalu aku tekan enter sebelum aku bisa berpikir lebih jauh.
Tidak banyak yang muncul.
Sebuah akun media sosial. Fotonya tidak banyak. Sebagian besar foto anaknya — bocah laki-laki dengan mata bulat dan pipi tembam yang selalu terlihat sedang tertawa atau berlari. Satu foto selfie sederhana di depan kelas, dengan caption: Anak-anak minta foto bareng Ibu Guru. Hati langsung penuh. Satu foto makam dengan bunga segar di atasnya, tanpa caption.
Aku menatap layar itu lama.
Perempuan yang kukira akan terlihat seperti ancaman, ternyata terlihat seperti seseorang yang lelah.
Wajahnya biasa — bukan tidak cantik, tapi bukan juga jenis kecantikan yang membuat orang berbalik. Yang lebih menarik perhatianku adalah matanya. Ada sesuatu di sana yang aku kenal, meskipun aku tidak bisa menamakannya waktu itu.
Baru belakangan aku menyadari apa itu.
Mata orang yang terbiasa meneruskan hari meskipun lelah.
Aku meletakkan ponsel.
Lalu mengambilnya lagi.
Lalu meletakkan lagi.
Ini tidak sehat, kata salah satu bagian dari diriku.
Tapi bagian yang lain menjawab: kamu hanya ingin tahu dengan siapa hidupmu akan berbagi suami.
Rafi tidak banyak bicara hari-hari itu.
Ia hadir secara fisik — sarapan bersama, sholat berjamaah, kadang duduk di sofa sambil membaca — tapi ada jarak yang tidak kasat mata di antara kami, seperti kaca bening yang bisa kami lihat tembus tapi tidak bisa kami sentuh.
Pada hari keempat, ia akhirnya bertanya.
"Hana. Kamu sudah berpikir?"
Aku sedang memilah baju yang baru diangkat dari jemuran. Tanganku tidak berhenti.
"Masih," jawabku.
"Kalau kamu butuh ngobrol—"
"Aku tahu." Aku melipat baju batik miliknya, meletakkannya di tumpukan paling atas. "Rafi, aku tidak diam karena aku tidak mau ngobrol. Aku diam karena aku sedang belajar jujur sama diriku sendiri dulu sebelum jujur sama kamu."
Ia terdiam.
"Itu butuh waktu," lanjutku. "Tolong kasih aku waktu itu."
Rafi mengangguk. Pelan, seperti orang yang baru saja menerima sesuatu yang berat tapi sadar memang harus diterima.
Malam itu aku menelepon Ummi — begitu aku memanggil ibuku.
Bu Rohani, perempuan enam puluh tahun yang hidupnya penuh keputusan-keputusan sulit dan tidak pernah sekalipun mengajarkanku untuk lari dari kenyataan. Ia mantan koordinator pengajian ibu-ibu di kampung kami. Perempuan yang tahu banyak tentang agama, dan tahu lebih banyak lagi tentang kehidupan.
"Ummi," kataku begitu ia mengangkat.
"Hana." Suaranya langsung berubah — nada itu, nada seorang ibu yang mengenali anaknya dari satu suku kata. "Ada apa?"
Aku tidak langsung menjawab.
Di ujung sana, Ummi diam menunggu. Tidak memaksa. Tidak bertanya lagi. Hanya ada.
"Rafi mau nikah lagi, Mi," akhirnya kataku.
Keheningan panjang.
"Kamu sudah tahu siapa perempuannya?"
"Sudah."
"Kamu sudah ketemu?"
"Belum."
"Kamu mau cerai?"
Pertanyaan itu tidak datang dengan nada menghakimi. Ummi bertanya seperti orang yang sedang menginventarisir pilihan, bukan mengarahkan.
"Aku tidak tahu," jawabku jujur.
Ummi menghela napas panjang.
"Hana," katanya akhirnya. "Ibu tidak akan bilang ini mudah. Ibu tidak akan bilang kamu harus ikhlas sekarang juga. Tapi ibu minta satu hal."
"Apa?"
"Jangan buat keputusan dari tempat yang paling gelap. Tunggu sampai ada sedikit cahaya dulu."
Aku menggigit bibir.
"Maksud Ummi?"
"Maksud Ummi: jangan iya karena takut. Jangan tidak karena marah. Dua-duanya bukan keputusan — itu reaksi."
Aku menyimpan percakapan itu di kepala selama berhari-hari.
Jangan iya karena takut. Jangan tidak karena marah.
Tapi bagaimana caranya membuat keputusan yang bukan salah satu dari keduanya, ketika hampir semua yang aku rasakan adalah campuran dari ketakutan dan kemarahan yang tidak punya nama?
Pada hari ketujuh, tanpa aku rencanakan, aku bertemu Syifa.
Bukan pertemuan yang diatur. Bukan pertemuan yang aku inginkan. Aku sedang di apotek dekat komplek — membeli vitamin yang sudah seminggu tertunda — ketika seseorang memanggilku.
"Mbak Hana?"
Aku berbalik.
Perempuan itu lebih kecil dari yang kubayangkan dari fotonya. Berdiri dengan menggandeng tangan bocah laki-laki kecil di sebelahnya — mata bulat, pipi tembam, sama persis seperti di foto.
Syifa.
Wajahnya langsung pucat ketika melihatku tidak bergerak.
"Maaf," katanya cepat. "Saya… Mas Rafi pernah cerita soal Mbak. Jadi saya tahu wajah Mbak dari—" Ia berhenti. Menelan ludah. "Maaf kalau ini tidak nyaman."
Aku menatapnya.
Hati kecilku berperang dengan sengit malam-malam sebelumnya — sudah menyiapkan berbagai kemungkinan tentang perempuan ini. Kemungkinan ia angkuh. Kemungkinan ia diam-diam senang. Kemungkinan ada kemenangan yang tersembunyi di balik sopannya.
Tapi yang berdiri di depanku adalah perempuan yang tangannya gemetar.
Yang matanya sudah merah bahkan sebelum aku mengucapkan sepatah kata.
Yang anak kecilnya menatapku dengan polos sambil berkata, "Halo, Tante."
Aku menunduk kepada bocah itu.
"Halo," kataku pelan. "Siapa namanya?"
"Nabil," jawabnya bangga. "Nabil Arjuna."
Aku tersenyum meskipun dadaku terasa berat.
Lalu aku menatap Syifa lagi.
Ia masih menunggu — entah menunggu apa. Mungkin kemarahanku. Mungkin kedinginanku. Mungkin ia tidak tahu sendiri apa yang ia tunggu.
"Syifa," kataku akhirnya. Namanya terasa aneh di lidahku — terlalu nyata setelah selama ini hanya ada di kepala. "Kamu sehat?"
Matanya bergetar.
"Saya… iya, Mbak. Terima kasih."
Aku mengangguk sekali.
Lalu aku berbalik, membayar vitaminku di kasir, dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi.
Di dalam mobil, aku duduk tanpa menyalakan mesin selama mungkin sepuluh menit.
Tangan di atas setir. Mata memandang ke depan, ke tembok apotek yang cat putihnya sudah mengelupas di beberapa sudut.
Aku tidak bisa membencinya.
Itu yang paling menyakitkan.
Bukan karena ia tidak menyakitiku — secara tidak langsung, ia adalah bagian dari sesuatu yang mengguncang seluruh fondasi hidupku.
Tapi karena ia manusia. Dengan tangan yang gemetar dan anak yang polos dan mata yang sudah lelah jauh sebelum hari ini.
Dan aku tidak diciptakan untuk membenci manusia yang tidak jahat.
Malam itu, aku membuka buku catatan lamaku — buku cokelat tua yang sudah lama tidak kusentuh. Aku menulis satu kalimat saja.
Aku belum ikhlas. Tapi aku juga tidak bisa membenci. Di antara dua itu, mungkin, jalanku dimulai.
Aku menutup buku itu.
Di luar kamar, aku dengar suara Rafi mengambil air wudhu untuk sholat malam.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam Selasa itu, aku ikut bangun, mengambil sajadahku, dan sholat di sampingnya — tanpa kata-kata, tanpa keputusan, tanpa tahu apa yang akan terjadi besok.
Hanya dua orang yang sama-sama berlutut di depan yang satu.
Dan itu, malam itu, cukup.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar