Dinda tahu pada hari kesembilan.
Bukan karena aku cerita. Tapi karena Dinda adalah Dinda — perempuan yang kerjanya di kantor hukum membuat ia terbiasa membaca hal-hal yang tidak diucapkan. Ia menelepon siang itu dengan nada yang sudah berbeda dari biasanya.
"Rafi mau poligami."
Bukan pertanyaan.
Aku terdiam sebentar di ujung telepon, lalu menjawab, "Dari mana kamu tahu?"
"Kamu kirim voice note jam dua pagi seminggu lalu. Kamu nggak ingat?" Suaranya tajam tapi ada gemetar di baliknya. "Aku tunggu kamu cerita. Kamu nggak cerita. Jadi aku tanya langsung."
Aku menghela napas.
"Iya," kataku pelan. "Betul."
Keheningan tiga detik — yang terasa seperti tiga menit.
Lalu, "Aku ke sana sekarang."
Dinda tiba empat puluh menit kemudian dengan dua gelas es teh dari warung dekat rumahku — kebiasaan lama kami waktu ada masalah besar yang perlu dibicarakan. Ia masuk, meletakkan gelasnya di meja, duduk di kursi seberangku, dan langsung menatapku tanpa basa-basi.
"Cerita."
Aku menceritakan semuanya.
Dari awal sampai akhir, termasuk pertemuan tak sengaja dengan Syifa di apotek. Aku bicara dengan suara yang cukup rata — bukan karena aku baik-baik saja, tapi karena aku sudah mengulang cerita ini begitu sering di dalam kepala sampai kata-katanya terasa seperti hafalan.
Dinda mendengarkan tanpa memotong. Itu yang membuatku sedikit lega — biasanya ia tidak bisa diam lebih dari dua menit.
Tapi begitu aku selesai, wajahnya berubah.
"Hana."
"Hm."
"Kamu nggak marah?"
"Marah."
"Tapi?"
"Tapi aku juga tidak mau membuat keputusan dari tempat yang paling gelap."
Dinda menatapku lama. Ekspresinya sulit dibaca — ada frustrasi di sana, tapi juga ada sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih lembut.
"Itu kalimat siapa?"
"Ummi."
Ia menghela napas panjang, bersandar ke kursi.
"Hana." Suaranya kini lebih pelan. "Aku mengerti kamu coba adil. Aku mengerti kamu coba nggak reaktif. Tapi ada batas antara bersabar dan membiarkan diri kamu disakiti tanpa suara."
"Aku tidak diam," kataku. "Aku sedang memproses."
"Berapa lama?"
"Selama yang aku butuhkan."
Dinda mengetuk-ketuk meja dengan jarinya — kebiasaannya waktu menahan sesuatu yang ingin ia katakan tapi ia tahan.
"Kalau kamu mau pisah," katanya akhirnya, "aku bisa bantu urusan hukumnya. Kamu tahu itu."
"Aku tahu."
"Dan kalau kamu mau bertahan—" Ia berhenti. Menelan ludah. "Aku juga akan ada. Meskipun aku tidak setuju."
Aku menatapnya.
Dinda — yang selama ini kukenal sebagai perempuan paling vokal, paling tidak suka kompromi, paling susah diam ketika melihat ketidakadilan — duduk di depanku dengan mata yang sedikit merah dan berkata bahwa ia akan ada.
Aku menunduk. Menahan sesuatu yang naik ke kerongkongan.
"Makasih, Din," kataku pelan.
Ia mendengus. "Nggak usah makasih. Sudah tugasku."
Dinda pulang menjelang maghrib.
Rumah kembali sepi.
Aku mengerjakan hal-hal kecil yang biasa — menyiapkan makan malam, menyapu lantai yang sebenarnya sudah bersih, menyiram bunga di teras meskipun tadi pagi sudah disiram. Tanganku butuh sesuatu untuk dikerjakan supaya kepalaku tidak terlalu keras berpikir.
Rafi pulang jam tujuh. Kami makan malam hampir tanpa bicara — bukan makan malam yang dingin, lebih tepat disebut makan malam yang berhati-hati. Seperti dua orang yang sedang membawa sesuatu yang mudah pecah dan sama-sama tidak mau jadi yang pertama menjatuhkannya.
Setelah makan, Rafi membantu mencuci piring.
Itu yang membuatku sedikit goyah — karena ia tidak pernah diminta, tidak pernah diingatkan, selalu saja tahu kapan ia harus ada tanpa diperintah.
Kenapa kamu tidak bisa lebih mudah untuk kubenci, pikirku.
Aku tidak tidur malam itu.
Bukan karena tidak mau. Tapi karena begitu aku berbaring dan menutup mata, kepala ini tidak mau diam.
Jam sebelas malam, aku masih terjaga. Rafi sudah tidur di sampingku, napasnya teratur, wajahnya di kegelapan terlihat damai — cara tidurnya selalu seperti itu, seperti orang yang tidak punya beban. Dulu aku senang dengan itu. Malam ini aku sedikit iri.
Aku bangkit pelan-pelan agar tidak membangunkannya. Mengambil mukena di lemari. Pergi ke ruang sholat kecil yang kubuat dari sudut kamar tamu — sajadah hijau, tasbih kayu, al-Quran yang sudah lusuh di ujungnya karena sering dibuka.
Aku sholat malam.
Dua rakaat, empat rakaat, delapan rakaat.
Duduk di antara sholat, aku memeluk lutut dan menghadap ke arah kiblat, merasakan keheningan yang berbeda dari biasanya. Bukan keheningan kosong — keheningan yang berisi. Penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum punya jawaban.
Ya Allah, aku mulai bicara dalam hati. Tidak ada kalimat yang tersusun rapi. Hanya kejujuran yang kasar dan tidak beraturan.
Aku tahu hukumnya. Aku sudah mengajarkan ini kepada anak-anak pengajian. Aku tahu dalilnya, aku tahu syaratnya, aku tahu bahwa ini bukan hal yang Kau haramkan.
Tapi hatiku, ya Allah. Hatiku belum sampai ke sana.
Apakah aku berdosa karena hatiku sakit?
Apakah aku kurang beriman karena aku tidak langsung bisa menerima?
Angin dari ventilasi kecil bergerak. Tirai tipis bergoyang.
Aku tidak mendapat jawaban dalam bentuk suara. Tentu saja tidak — Allah tidak bekerja seperti itu, dan aku tahu itu.
Tapi ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih halus dari suara.
Semacam… ketenangan kecil. Bukan ketenangan yang menyelesaikan masalah, melainkan ketenangan yang cukup untuk membuatku bisa bernapas sampai besok.
Cukup untuk malam ini, rasanya seperti itu yang ia sampaikan. Tidak perlu selesai malam ini.
Aku kembali ke kamar menjelang subuh.
Berbaring di sisi kiriku, memandang langit-langit.
Rafi masih tidur. Tapi mungkin setengah sadar, karena tangannya bergerak pelan — mencari tanganku, menemukan telapakku di atas kasur, lalu menggenggamnya. Tanpa bangun. Tanpa berkata apa-apa.
Aku menatap tangan itu.
Tangan yang sama yang menulis surat cinta pertamanya padaku dua belas tahun lalu dengan tulisan berantakan karena katanya ia gugup. Tangan yang sama yang menggendongku masuk ke UGD malam aku keguguran kedua kali, dan ia tidak melepasnya sampai dokter memintanya ke luar ruangan.
Aku tidak menarik tanganku.
Tapi aku juga tidak menggenggam balik.
Aku hanya berbaring di sana, di antara kegelapan dan fajar yang belum tiba, di antara ikhlas yang belum kuraih dan sakit yang belum selesai, dan membiarkan malam itu berlalu dengan caranya sendiri.
Subuh, aku yang membangunkan Rafi.
Seperti biasa. Seperti dua belas tahun.
Ia membuka mata, melihatku sudah berdiri di sisi tempat tidur dengan mukena yang sudah kupakai, dan ekspresinya — ada sesuatu yang lewat di sana, cepat, seperti campuran syukur dan kesedihan.
"Makasih," katanya pelan.
"Ayo sholat," jawabku.
Dan kami sholat subuh bersama. Di sajadah yang bersebelahan. Dalam keheningan yang masih menyimpan banyak hal yang belum terselesaikan.
Tapi kami ada. Masih di sini. Masih bersama.
Untuk hari ini, itu dulu yang cukup.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar