Ada hal-hal yang hanya bisa kamu kenali setelah kehilangannya.

Seperti suara langkah kaki suami di koridor. Seperti cara ia menggantung tasnya di balik pintu. Seperti kebiasaan kecilnya meminum teh sambil berdiri di dekat jendela sebelum duduk.

Hal-hal yang dulu tidak pernah kuperhatikan karena aku pikir akan selalu ada.

Sekarang — dua hari setelah malam Selasa itu — aku memperhatikan semuanya. Seolah mataku sedang membuat katalog dari sesuatu yang belum hilang, tapi sudah terasa berbeda.

Rafi tidak banyak berbicara sejak malam itu.

Ia ke kantor seperti biasa, pulang di waktu yang sama, sholat berjamaah denganku tanpa ada yang berubah dari ritualnya. Tapi ada semacam jarak baru di antara kami — bukan jarak yang penuh amarah, melainkan jarak yang penuh kehati-hatian. Seolah kami berdua sedang berjalan di atas permukaan yang belum kami tahu seberapa kuat menanggung berat kami.

Malam itu — dua hari sebelum ia mengucapkan kata-kata itu — kami duduk di teras belakang setelah Isya.

Aku sedang menjahit kancing baju Rafi yang lepas. Ia sedang membaca — sebuah buku fiqih yang sudah seminggu ini sering ada di tangannya. Waktu itu aku tidak terlalu memperhatikan judulnya.

Sekarang aku menyesal.

"Hana."

"Hm?"

"Kamu bahagia, kan?"

Aku mengangkat kepala dari jahitan. Rafi tidak menatapku — matanya masih di buku, tapi telunjuknya tidak bergerak menelusuri baris.

"Maksudnya?" tanyaku.

"Di sini. Di rumah ini. Sama aku." Ia menutup buku, kini menatapku. "Kamu bahagia?"

Pertanyaan yang sederhana. Tapi caranya bertanya membuat sesuatu di dadaku mengkerut.

Aku tersenyum. "Kenapa tanya begitu?"

"Jawab dulu."

Aku meletakkan jahitan di pangkuanku. Menatap taman kecil di belakang rumah — beberapa pot bunga yang kurawat setiap pagi, satu pohon jambu yang sudah tua, lampu taman yang redup.

"Iya," jawabku jujur. "Aku bahagia."

Rafi mengangguk pelan.

"Syukurlah," katanya.

Hanya itu. Ia kembali membuka bukunya.

Dan aku kembali menjahit, tidak tahu bahwa malam itu adalah malam terakhir kami duduk di teras ini dengan perasaan yang masih utuh.

Dua hari kemudian, segalanya berubah.

Tapi malam di teras itu — aku sering kembali ke sana dalam ingatanku.

Bukan karena ada yang istimewa. Justru sebaliknya.

Karena malam itu adalah malam paling biasa dalam pernikahan kami. Rafi membaca buku. Aku menjahit. Angin bertiup pelan. Lampu taman yang redup.

Dan kami berdua ada di sana, sama-sama, tanpa tahu bahwa ada itu adalah sesuatu yang tidak bisa dijamin selama-lamanya.

Aku menceritakan ini bukan untuk membuat siapa pun bersedih.

Aku menceritakan ini karena aku ingin jujur: pernikahanku tidak sedang dalam masalah ketika Rafi mengatakannya.

Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada jarak yang menganga. Tidak ada tanda-tanda yang, kalau dipikir ulang, seharusnya kudeteksi lebih awal.

Rafi bukan suami yang berpaling karena bosan. Bukan suami yang mencari perempuan lain karena aku kurang.

Dan justru itulah yang membuatnya begitu sulit untuk kuproses.

Karena kalau ia jahat, setidaknya aku tahu harus merasa apa.

Dinda menelepon pagi itu, sehari setelah malam Selasa.

"Kamu oke?" tanyanya langsung, tanpa basa-basi.

Aku sedang menyapu halaman depan. "Oke. Kenapa?"

"Kamu kirim voice note jam dua pagi. Cuma bunyi napas sama diam. Hampir dua menit."

Aku berhenti menyapu.

Aku tidak ingat melakukan itu.

"Sorry," kataku. "Ketiduran mungkin, HP kepencet."

Hening sebentar di ujung telepon.

"Hana."

"Hm."

"Kamu bisa cerita kalau ada apa-apa."

Mataku menghangat. Aku menggigit bibir.

"Iya," kataku. "Aku tahu."

Aku mematikan telepon sebelum suaraku berubah.

Sore itu, ada anak kecil di pengajian yang bernama Faza — tujuh tahun, selalu datang paling awal, selalu duduk paling depan — yang bertanya padaku di tengah-tengah pelajaran.

"Ustadzah Hana, kalau kita udah berusaha buat nggak nangis tapi nangis juga, itu dosa nggak?"

Aku menatapnya.

"Nggak dosa, Sayang," jawabku pelan. "Nangis itu manusiawi. Yang penting hatinya tetap yakin sama Allah."

Faza mengangguk puas dan kembali menulis di bukunya.

Dan aku duduk di depan kelas, menatap dua puluh tiga kepala kecil yang menunduk, dan bertanya-tanya kepada diri sendiri:

Apakah aku sendiri percaya pada apa yang baru saja kukatakan?