(Malam Selasa itu — dari sudut pandang yang lebih dalam)

Ada yang tidak kuceritakan tentang malam Selasa.

Ketika Rafi memintaku duduk, ketika ia mulai bercerita dengan suara yang dijaga agar tidak gemetar — ada satu momen kecil yang selalu kuingat setelah itu.

Saat ia mengucapkan nama Syifa untuk pertama kali, tangannya yang ada di atas lututnya mencengkeram celananya sedikit. Seperti orang yang sedang menahan diri agar tidak jatuh.

Aku melihat itu.

Dan tanpa kusadari, aku justru merasakan kasihan padanya.

Kasihan pada suamiku yang sedang minta izin menikah lagi.

Aku tidak tahu apakah itu kebaikan atau kebodohan. Mungkin keduanya.

"…makanya aku bilang sekarang. Sebelum terlalu jauh."

Rafi selesai bicara.

Jam di dapur masih berdetak. Motor di luar sudah berlalu. Yang tersisa hanya keheningan di antara kami — keheningan yang terasa seperti kaca, bening tapi kalau dipukul akan pecah menjadi ribuan serpihan.

Aku menunduk ke sajadah di tanganku.

Empat belas tahun aku kenal Rafi. Dua belas tahun kami menikah. Aku tahu kapan ia berbohong — ada kedutan kecil di sudut matanya. Aku tahu kapan ia gugup — ia selalu mengelap wajahnya dengan telapak tangan.

Malam itu tidak ada kedutan. Ada pengelap wajah.

Ia gugup. Tapi ia tidak berbohong.

Dan itu, pikirku, lebih berat dari kalau ia berbohong.

"Kamu diam saja," kata Rafi akhirnya, dengan nada yang menggantung di antara bertanya dan memohon. "Itu artinya apa?"

Aku mengangkat kepala.

Matanya menungguku. Ada ketakutan di sana — bukan takut pada marahku, aku rasa, melainkan takut pada apa pun yang sedang terjadi di balik diamku.

"Artinya aku sedang berpikir," jawabku pelan.

"Hana—"

"Rafi." Aku memotongnya dengan lembut tapi jelas. "Kamu tadi minta aku dengerin sampai selesai. Sekarang aku minta kamu kasih aku waktu untuk merespons dengan benar. Bukan asal ngomong."

Ia terdiam.

Mengangguk.

Apa yang bergolak di kepalaku malam itu tidak bisa kuceritakan secara urut.

Potongan-potongan.

Kami di KUA dua belas tahun lalu, aku memakai kebaya putih yang terlalu besar di bagian bahu karena aku kurus.

Rafi pertama kali masak untuk aku waktu aku sakit demam, hasilnya gosong tapi ia bangga sekali.

Kami bertengkar tentang warna cat dinding kamar, setengah jam penuh, lalu kami berdua tertawa karena sadar betapa konyolnya kami.

Malam-malam panjang waktu aku keguguran — satu kali, dua kali — dan Rafi tidak pernah pergi, tidak pernah menyalahkan, tidak pernah membuat aku merasa kurang.

Semua itu ada di kepalaku.

Dan juga: perempuan itu. Syifa. Yang belum pernah kulihat wajahnya. Yang hidupnya berat. Yang tidak ada hubungannya dengan aku, tapi tiba-tiba masuk ke dalam hidup aku lewat satu percakapan di malam Selasa.

"Aku tidak mau terburu-buru menjawab," akhirnya aku berkata. "Karena ini bukan soal aku marah atau tidak marah. Ini soal keputusan yang harus aku buat dengan kepala dan hati yang sama-sama jernih. Dan malam ini, aku belum jernih."

Rafi menatapku lama.

"Kamu tidak nangis," katanya pelan — bukan menghakimi, lebih seperti berkata kepada dirinya sendiri.

"Belum," jawabku jujur.

Ia menghela napas panjang.

"Aku tidak mau kamu menekan diri kamu, Hana. Kalau kamu mau marah—"

"Aku tahu." Aku berdiri. "Tapi aku tidak mau marah dulu sebelum aku adil pada diri sendiri. Adil itu artinya aku perlu tahu dulu apa yang sebetulnya aku rasakan. Bukan langsung meledak."

Aku melangkah ke arah tangga.

"Selamat malam, Rafi."

Di kamar, dengan pintu tertutup, aku berdiri di depan cermin.

Perempuan yang memandangiku dari dalam cermin itu kelihatan tenang. Wajahnya tidak merah. Matanya belum basah.

Kamu baik-baik saja, kataku kepada bayangan itu di dalam kepala.

Bayanganku tidak menjawab.

Karena kami berdua tahu: itu bukan ketenangan.

Itu jeda sebelum sesuatu yang besar pecah.

Dan malam itu, dengan sujud yang lebih lama dari biasanya, dengan doa yang tidak punya kata-kata — aku hanya menangis. Diam-diam. Tanpa suara.

Kepada Allah yang selalu tahu, bahkan ketika aku sendiri belum tahu apa yang harus kurasakan