Amplop untuk Dean
Tiga hari setelah 28 Oktober, Jakarta kembali menjadi dirinya sendiri.
Ini bukan metafora. Ini yang Nara perhatikan dengan cara yang paling konkret: kemacetan di Jalan Sudirman sudah seperti biasa, suara klakson dan deru kendaraan yang sudah seperti frekuensi latar yang tidak perlu dipikirkan lagi, dan warung nasi di sebelah gedung perpustakaan sudah buka lagi setelah dua hari tutup tanpa keterangan. Jakarta tidak menyimpan drama. Ia menyerap dan melanjutkan, seperti sungai yang menerima batu yang dijatuhkan ke dalamnya dan menutup kembali permukaannya dalam hitungan detik.
Nara sendiri belum sepenuhnya kembali ke ritme yang sama.
Ia datang ke perpustakaan pada hari pertama kerja setelah kejadian — hari Selasa, delapan pagi, masuk dari pintu samping seperti biasanya, menyapa Pak Rustam yang sudah ada di mejanya dengan kacamata yang satu gagangnya sudah mulai longgar. Pak Rustam mengangguk dan tidak bertanya tentang alasan Nara tidak masuk selama beberapa hari. Nara menghargai itu. Ada pegawai yang ingin diperlakukan seperti ada sesuatu yang terjadi; Nara bukan salah satunya, atau setidaknya tidak hari itu.
Ia turun ke ruang arsip. Menyalakan lampu. Menunggu mesin pendingin berdengung ke suhu normalnya.
Kemudian ia pergi ke rak B-7 dan menarik laci keempat dari kanan.
Di dalamnya ada amplop.
Bukan amplop yang sama dengan yang pernah ada di sana sebelumnya — bukan foto-foto orang tanpa nama yang menjadi awal dari segalanya. Ini amplop yang berbeda: putih, bersih, belum pernah dibuka, dengan satu nama yang ditulis dengan tulisan tangan yang tidak Nara kenali. Kecil dan rapi, miring sedikit ke kiri, dengan tekanan yang konsisten di setiap huruf. Bukan tulisan ibunya. Bukan tulisan Dean. Bukan tulisan siapapun yang pernah menuliskan sesuatu untuk Nara.
Di amplop itu tertulis: DEAN ADITYA HARAHAP.
Nara berdiri di depan laci itu dengan amplop di tangannya dan berpikir tentang beberapa hal sekaligus. Pertama: bagaimana amplop ini ada di sini, di laci yang kemarin ia buka dan kosong — kosong benar-benar, tidak ada sisa apapun. Kedua: nama yang tertulis bukan nama yang ada di KTP Dean yang ia lihat, bukan nama yang Dean pakai sehari-hari — tapi nama lengkap yang ada di kartu lama yang Pak Wargo simpan selama tujuh belas tahun. Nama aslinya. Ketiga: ada sesuatu yang terasa seperti ia seharusnya kaget tapi tidak, seperti bagian dari dirinya sudah mengantisipasi bahwa sesuatu akan ada di sini, meski ia tidak bisa menjelaskan darimana antisipasi itu berasal.
Ia membawa amplop itu naik ke mejanya. Tidak membukanya. Itu bukan haknya.
Ia menelepon Dean.
Dean datang satu jam kemudian — terlambat dari yang ia bilang karena ada kemacetan di Semanggi yang bahkan untuk ukuran Jakarta sudah di luar batas normal. Ia masuk dengan ransel di satu bahu dan jaket yang sama yang sudah ia pakai selama investigasi ini, yang sekarang punya noda tipis di lengan kiri dari malam di basement gedung Palimpsest yang tidak pernah benar-benar bersih meski sudah dicuci.
Nara meletakkan amplop di meja di depan Dean tanpa kata-kata pembuka.
Dean melihat amplop itu. Melihat namanya. Menoleh ke Nara dengan satu alis yang naik sedikit.
"Dari mana?"
"Laci B-7. Tadi pagi. Kemarin tidak ada."
Dean mengambil amplop itu. Menimbangnya. Meneliti tulisan tangannya dari jarak dekat. Nara mengamati wajahnya selama proses itu — mencatat cara ia mengerutkan dahi, cara ia memiringkan amplop sedikit ke arah cahaya lampu meja, cara jarinya bergerak menelusuri tepi amplop sebelum akhirnya memutuskan untuk membukanya.
Isinya tidak banyak. Tiga lembar kertas, dilipat rapi. Dan sebuah foto ukuran dompet.
Dean membuka lipatannya. Halaman pertama: dokumen yang tampak seperti salinan akta kelahiran yang sudah sangat tua, dengan nama yang tertulis di bagian nama anak: KARIN HARAHAP. Tanggal lahir: 1991. Nama orang tua yang sama dengan yang ada di kartu lama dari Pak Wargo. Halaman kedua: dua paragraf tulisan tangan — singkat, padat, tulisan yang sama dengan yang ada di luar amplop. Nara tidak bisa membacanya dari posisinya. Halaman ketiga: selembar foto lama, dicetak di kertas foto yang sudah sedikit kekuningan, menampilkan dua orang anak di depan rumah yang tidak asing — rumah yang sama dengan yang ada di alamat di amplop.
Dan kemudian foto ukuran dompet: seorang bayi yang tidak bisa langsung diidentifikasi siapapun berdasarkan wajah, tapi dengan cara mata dan bentuk dagunya ada sesuatu yang familier. Di belakang foto itu, tulisan pensil yang hampir terhapus: 2006.
Dean membaca halaman kedua. Membacanya lagi. Kemudian ia meletakkan semua kertas itu di meja dengan cara yang sangat hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang mudah pecah meski secara teknis kertas tidak pecah.
Nara menunggu.
Dean menatap dinding di belakang meja Nara selama beberapa saat tanpa ekspresi yang bisa langsung dibaca. Bukan kosong — ada sesuatu yang bekerja di matanya, tapi bekerja ke dalam, bukan keluar.
"Kamu punya adik,"
kata Nara akhirnya, karena kalimat itu perlu diucapkan dengan suara keras untuk menjadi nyata.
Dean mengangguk, satu kali, pelan.
"Karin,"
katanya. Bukan konfirmasi pada Nara. Lebih seperti ia sedang memperkenalkan nama itu kepada udara di sekitarnya, membiarkannya ada di luar kepalanya untuk pertama kali dengan cara yang nyata.
Nara melihat kertas-kertas yang Dean baca tadi. Tulisan tangan di halaman kedua yang tidak ia bisa baca dari posisinya — sekarang Dean sudah tidak memegangnya, Nara bisa melihat sebagian dari posisi duduknya: kalimat yang terakhir sebelum tanda tangan yang hanya inisial.
Tiga kata yang bisa Nara baca dengan jelas: 'Dia menunggumu.'
Dean mengambil foto kecil dari meja — foto bayi yang tidak bisa langsung diidentifikasi tapi ada sesuatu yang familier — dan menyimpannya di saku kemejanya. Bukan di dompet, bukan di tas. Di saku kemeja, di sebelah kirinya, di mana ia bisa merasakannya kalau ia menaruh tangan di dadanya.
"Bogor,"
kata Dean. Alamat yang ada di dokumen.
"Iya."
"Jauh tidak?"
"Satu jam dari sini. Kalau tidak macet."
Dean mengangguk lagi. Ia menatap amplop yang sudah terbuka di meja — sekarang kosong kecuali satu lembar yang belum ia ambil. Ia mengambilnya. Selembar kertas kecil dengan satu kalimat yang ditulis di bagian tengahnya, dikelilingi banyak ruang kosong yang membuat kalimatnya terasa lebih besar dari ukuran fisiknya:
"Kamu punya adik."
Dean membaca kalimat itu. Kemudian melipatnya kecil-kecil dan memasukkannya ke saku yang sama dengan foto tadi.
Ia berdiri dari kursi.
"Aku perlu ke Bogor."
"Aku tahu."
"Kamu mau ikut?"
Nara berpikir sebentar. Ada bagian dari dirinya yang ingin — perjalanan ke Bogor, menemukan siapa yang ada di ujung alamat itu, melihat ekspresi Dean ketika bertemu dengan bagian dari hidupnya yang hilang. Tapi ada bagian lain yang tahu bahwa beberapa hal perlu dihadapi sendiri terlebih dahulu sebelum bisa dibagi.
"Tidak. Ini perlu kamu lakukan sendiri dulu."
Dean melihat Nara. Sesuatu di matanya mengakui kebenaran dari keputusan itu meski mungkin sebagian dari dirinya lebih memilih jawaban yang lain.
"Oke."
Ia mengambil tasnya. Di pintu ruang arsip, ia berhenti.
"Nara."
"Apa?"
"Tulisan tangannya — yang di amplop. Kamu kenali tidak?"
Nara menggeleng.
"Aku juga tidak,"
kata Dean.
"Tapi rasanya seperti tulisan seseorang yang sudah sangat lama tidak menulis apa-apa dan baru sekarang menemukan alasan untuk menulis lagi."
Ia pergi sebelum Nara bisa menjawab.
Nara duduk di mejanya dan menatap amplop kosong yang masih ada di sana. Di dalam kepalanya, pertanyaan yang sudah ada sejak pagi tapi belum ia izinkan untuk membentuk diri sepenuhnya: siapa yang tahu nama lengkap Dean, tahu tentang adiknya, tahu alamat keluarganya — dan siapa yang tahu bahwa laci B-7 di ruang arsip perpustakaan ini adalah tempat yang akan Nara periksa?
Hanya satu kelompok jawaban yang masuk akal. Dan semua jawaban di dalam kelompok itu sama-sama tidak nyamannya.
Nara menyimpan amplop kosong itu di buku catatannya. Kemudian ia membuka komputernya dan mulai bekerja — pekerjaan nyata, pekerjaan sehari-hari, tugas-tugas arsipis yang tidak ada hubungannya dengan semua yang baru saja terjadi.
Tapi di sudut bawah layarnya, tab baru yang sudah ia buka sebelum Dean datang masih ada: pencarian nama yang ditulis dengan cara tertentu, dicari dengan kombinasi kata kunci tertentu, yang hasilnya masih belum ia proses.
Nama pertama dari daftar yang Pak Wargo letakkan di mejanya — yang masih harus ia lacak.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar