"Mama, Aldi janji nggak akan sakit lagi."
Tangan kecilku menggenggam ujung daster Mama. Erat. Sampai jari-jariku putih. Hujan turun deras di luar gerbang Panti Asuhan Cahaya Kasih, dan aku berdiri di sana — tujuh tahun, basah kuyup, memegang plastik kresek hitam berisi dua celana pendek dan satu kaos bergambar Power Rangers yang sudah robek di lengan.
"Aldi diem ya, sayang. Mama mau beli obat sebentar."
Suara Mama bergetar. Aku tahu suara itu. Suara yang sama saat Bapak pulang malam dan membanting piring di dapur. Suara yang sama saat dukun Karyo datang ke rumah minggu lalu dan menunjuk wajahku sambil berkata, *"Anak ini pembawa sial. Buang ke air. Buang ke air sebelum kalian semua mati."*
Aku tidak mengerti waktu itu. Yang aku tahu, dadaku sakit. Sudah tiga tahun ini sakit. Kalau lari sedikit, napasku habis. Kalau menangis, bibirku biru. Setiap bulan aku dibawa ke rumah sakit besar di kota, dan setiap pulang dari sana, Bapak diam tiga hari, tidak bicara dengan siapa pun.
Aku tidak tahu kenapa sekarang Mama mengajakku ke tempat yang tidak pernah aku kunjungi sebelumnya. Aku hanya tahu, pagi tadi Mama membangunkanku dengan air mata yang sudah lebih dulu ada di pipinya, sebelum aku sempat membuka mata.
"Mama, Aldi ikut beli obat ya?"
Mama menggeleng. Cepat. Terlalu cepat.
"Nggak, Nak. Aldi tunggu di sini aja. Sebentar. Bentar banget."
"Tapi hujan, Ma. Aldi takut."
Mama berjongkok. Wajahnya sejajar dengan wajahku. Aku ingat detail wajah itu sampai hari ini — keriput halus di ujung matanya, bekas luka kecil di dagu kiri yang katanya dari jatuh sepeda waktu SMP, dan harum minyak kayu putih yang selalu menempel di leher Mama setiap kali musim hujan tiba.
"Aldi sayang... dengar Mama ya. Mama sayang Aldi. Mama sayang banget. Tapi Mama..."
Mama tidak melanjutkan. Mama memelukku. Erat sekali. Sampai aku bisa merasakan dadanya bergetar menahan sesuatu yang tidak aku mengerti. Lalu Mama melepaskan pelukan itu. Berdiri. Mundur satu langkah.
Dua langkah.
Tiga.
"Ma?"
Mama berbalik. Berjalan menjauh.
"Ma! MAMA!"
Aku berlari mengejar. Tapi gerbang panti sudah terkunci dari dalam — aku tidak tahu siapa yang menguncinya, dan kapan. Tanganku menggapai sela-sela besi yang dingin oleh hujan. Mama terus berjalan menjauh, tidak menoleh, walaupun aku berteriak dengan seluruh udara yang masih bisa kutarik dari paru-paruku yang sakit.
"Ma! Aldi nggak akan sakit lagi! Aldi nggak akan minta obat lagi! Aldi nggak akan nangis lagi! Mama jangan tinggalin Aldi, Ma!"
Aku berteriak sampai dadaku seperti dipalu dari dalam. Sampai pandanganku buram — entah karena hujan, entah karena air mata, entah karena oksigen yang habis dari paru-paruku.
Mama tidak menoleh.
Tidak sekali pun.
Sampai sosoknya hilang di tikungan jalan.
Aku tidak ingat berapa lama aku berdiri di sana. Yang aku ingat, langit sudah gelap saat tangan kecilku tidak bisa lagi memegang besi pagar. Yang aku ingat, lututku jatuh ke tanah berlumpur. Yang aku ingat, suara terakhir yang aku dengar sebelum semuanya menjadi hitam adalah dentuman jantungku sendiri — yang melemah, melemah, melemah.
Lalu hening.
---
"Pak Aldi? Pak Aldi sudah dengar saya?"
Aku berkedip.
Cermin kaca jendela memantulkan wajahku — bukan wajah anak tujuh tahun dengan baju robek. Wajah lelaki dua puluh tujuh tahun, jas hitam Tom Ford yang masih hangat dari laundry pagi ini, dasi sutra warna abu, dan dua mata yang sudah lama tidak menangis sejak hari di gerbang panti itu.
Aku menoleh.
Kinanti, asistenku, berdiri di ambang pintu ruangan dengan tablet di tangan. Wajahnya tenang seperti biasa, tapi ada sesuatu di matanya yang berbeda hari ini. Sesuatu yang tidak bisa kutebak.
"Saya minta maaf, Pak. Saya panggil Bapak tiga kali tadi."
"Tidak apa-apa." Aku berbalik dari jendela. "Ada apa?"
Kinanti melangkah masuk. Menyerahkan tablet. Di layar terbuka cover majalah *Indonesia Business Quarterly* edisi terbaru — foto setengah badanku dengan latar belakang gedung Arsa Group lantai tiga puluh. Tulisan besar di sampingnya: **ALDI PRATAMA — DARI PANTI KE UNICORN: KISAH CEO TERMUDA INDONESIA**.
Aku sudah melihat cover itu pagi tadi. Reza sudah mengirimkan tiga puluh tujuh versi notifikasi via WhatsApp sejak pukul enam. Bahkan satpam lobi tadi memberi salam dengan ekstra hormat — yang biasanya cuek itu.
"Kenapa dengan ini?"
"Bukan covernya, Pak." Kinanti menarik napas. Pendek. Terkendali. Tapi aku yang sudah dua tahun bekerja dengan dia bisa membaca tarikan napas itu. Itu napas yang Kinanti tarik kalau ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan satu email.
"Ada seorang wanita di lobi, Pak. Sudah dua jam menunggu. Resepsionis sudah mencoba mengusirnya, tapi dia tidak mau pergi. Dia bilang..."
Kinanti berhenti.
Aku menunggu.
"Dia mengaku ibu kandung Bapak."
Ruangan itu mendadak hening. Bahkan suara AC sentral terdengar terlalu keras.
Aku tidak tahu wajahku menunjukkan apa. Yang aku tahu, jariku menutup tablet dengan satu gerakan pelan. Yang aku tahu, denyut di dadaku berubah pola — bukan lebih cepat, tapi lebih dalam. Seperti seseorang sedang memukul-mukul jantungku dari dalam dengan palu kayu kecil.
"Pak Aldi?"
"Kamu bilang apa tadi?"
Kinanti mengulang dengan suara yang lebih pelan. Lebih hati-hati.
"Ada wanita di lobi. Sekitar lima puluhan tahun. Membawa tas plastik. Mengaku sebagai ibu kandung Bapak."
Aku berjalan ke meja. Duduk perlahan. Kursi kulit Italia seharga delapan puluh juta itu terasa asing di bawah pantatku. Tanganku — yang biasanya tenang, yang biasanya bisa menandatangani kontrak tiga ratus miliar tanpa gemetar — sekarang gemetar. Halus, tapi gemetar.
Dua puluh tahun.
Dua puluh tahun aku menunggu kalimat ini. Dua puluh tahun aku berlatih dalam pikiranku — apa yang akan aku katakan, bagaimana aku akan tertawa, bagaimana aku akan mengusir mereka pergi. Aku punya tujuh skenario yang berbeda untuk hari ini. Tujuh skenario yang sudah aku susun sejak aku berumur lima belas tahun.
Tapi sekarang, saat momen itu benar-benar datang, semua skenario itu kosong. Hilang. Otakku seperti dilap papan tulis yang masih basah.
"Pak Aldi, mau saya minta dia pergi?"
Aku tidak menjawab langsung. Aku menatap layar yang sudah mati. Aku menatap pantulan diriku — wajah yang sudah dewasa, yang sudah sukses, yang sudah punya semua yang dulu aku tidak punya — kecuali satu hal.
Aku menatap Kinanti.
"Tidak. Jangan suruh dia pergi."
Kinanti menunggu.
"Saya akan turun. Sendiri."
"Pak, sebaiknya saya..."
"Sendiri, Kinanti."
Kinanti mengangguk. Tapi sebelum dia keluar dari ruangan, dia berkata satu hal yang membuat tanganku berhenti gemetar — dan beralih ke sesuatu yang lebih dingin.
"Pak Aldi, satu hal. Wanita itu... saat saya periksa CCTV lobi, dia datang bukan sendirian. Ada mobil yang menurunkannya di depan gedung. Mobil Avanza putih, plat B 1247 KKR. Dan di mobil itu, di kursi belakang, ada seorang laki-laki tua. Dengan kursi roda."
Aku menatap Kinanti.
"Bapak Aldi, saya rasa Bapak tidak hanya bertemu ibu kandung Bapak hari ini. Saya rasa seluruh keluarga Bapak ada di luar gedung. Mereka hanya... mengirim ibu Bapak duluan."
Kinanti menutup pintu di belakangnya.
Aku duduk diam. Lalu pelan-pelan, aku membuka laci paling bawah meja kerjaku. Mengeluarkan satu kotak kayu kecil yang sudah berusia dua puluh tahun. Membukanya.
Di dalamnya hanya ada satu foto.
Foto seorang anak laki-laki tujuh tahun yang sedang tersenyum, memegang plastik kresek hitam, di depan pagar besi yang berkarat.
Aku menatap foto itu lama sekali.
Lalu aku berdiri.
Berjalan ke lift.
Menekan tombol lantai 1.
Mereka ingin masuk kembali ke hidupku.
Mari kita lihat seberapa jauh mereka berani melangkah.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar