Aku tidak langsung membuka pintu.

Aku berdiri membelakangi wanita itu, tangan masih terkepal, mendengarkan suara samar di balik pintu. Suara keyboard Kinanti yang mengetik dengan ritme tetap. Suara dering pendek telepon kantornya, satu kali, lalu diam — diangkat dan dijawab dengan profesional seperti biasa. Suara air dari dispenser yang dia tekan untuk membuat teh chamomile sore — minuman rutin yang dia siapkan untukku setiap pukul empat lebih tujuh menit, tidak pernah meleset dalam dua tahun terakhir.

Bunyi-bunyi normal. Bunyi-bunyi yang sudah aku percayai.

Aku membuka pintu.

Kinanti mengangkat wajahnya dari layar. Senyum profesional yang sama. Mata yang sama tenang. Tablet yang sama di tangan kanan. Cangkir teh chamomile yang sudah disiapkan di tatakan keramik di sudut mejanya — masih mengepul.

"Pak Aldi, butuh apa?"

Aku menatapnya selama lima detik. Mungkin enam.

"Kinanti, masuk ke ruangan saya. Sekarang."

Senyum profesional Kinanti tidak bergerak. Tapi ada perubahan kecil — sangat kecil — di sudut matanya. Kerutan halus yang biasanya muncul saat dia akan menanyakan klarifikasi soal jadwal yang berbenturan, atau saat dia akan menyampaikan email dari klien yang marah.

Kerutan itu muncul sekarang.

Tapi kemudian hilang.

"Baik, Pak."

Dia menutup laptop. Berdiri. Mengikutiku masuk ke ruangan.

Saat dia melewati ambang pintu, dia melihat wanita tua yang duduk di kursi tamu. Senyum profesionalnya kali ini benar-benar berhenti — tapi hanya untuk seperseribu detik. Lalu kembali normal.

"Selamat sore, Bu," sapa Kinanti pada wanita itu. Sopan. Hangat. Seolah-olah dia tidak tahu apa-apa.

Wanita itu tidak menjawab. Dia hanya menatap Kinanti dengan ekspresi yang aneh — bukan ekspresi orang yang baru bertemu orang asing, tapi ekspresi orang yang sedang melihat sesuatu yang sudah lama dia dengar tapi belum pernah dia lihat.

Aku menutup pintu di belakang Kinanti.

"Duduk, Kinanti."

Kinanti duduk di kursi tamu lain, di seberang wanita itu. Punggungnya tetap lurus. Tangannya melipat di atas pangkuannya. Postur seorang asisten profesional yang sedang menunggu instruksi.

Aku berjalan ke laci paling bawah meja kerjaku.

Aku mengangkat kotak kayu itu.

Aku membawanya ke meja kopi di antara dua kursi tamu.

Aku meletakkannya di atas meja.

"Kinanti," kataku, "kotak ini ada di laci paling bawah meja saya. Berapa orang di gedung ini yang punya akses ke laci itu?"

Kinanti menjawab cepat. Suaranya tidak bergetar.

"Hanya Bapak, secara teori. Tapi secara praktis, saya dan Pak Reza punya akses sekunder — saya untuk keperluan administratif yang Bapak instruksikan, Pak Reza untuk hal-hal yang berkaitan dengan finansial pribadi Bapak."

"Bagus. Pertanyaan kedua — kapan terakhir kali kamu membuka laci itu?"

Kinanti berpikir sebentar. Atau pura-pura berpikir. Aku tidak bisa membedakan keduanya saat ini.

"Hari Selasa minggu lalu, Pak. Saat Bapak menugaskan saya menyimpan dokumen MoU dengan investor Singapura ke laci kedua. Saya tidak membuka laci paling bawah."

"Kamu yakin?"

"Saya yakin, Pak."

Aku menatapnya.

Lalu aku berjalan ke meja kerjaku, mengambil tablet, dan menyentuh layar. Aplikasi CCTV gedung terbuka. Sistem ini terhubung ke seluruh kamera di gedung Arsa Group, termasuk kamera mikro di setiap ruangan — kamera yang aku pasang setelah ada kasus pencurian data dari pesaing tiga tahun lalu. Hanya tiga orang yang tahu tentang kamera ini: aku, Reza, dan kepala IT security. Bukan Kinanti.

Aku memutar rekaman tujuh hari ke belakang.

Hari Selasa. Pukul lima belas lewat tiga puluh dua menit. Kinanti masuk ke ruanganku. Membuka laci kedua. Menaruh dokumen. Menutupnya. Keluar. Sesuai dengan keterangannya.

Aku memutar lebih jauh. Tiga hari sebelumnya. Hari Sabtu. Pukul dua puluh tiga lewat sebelas malam.

Layar menampilkan ruanganku yang gelap.

Pintu terbuka pelan.

Seseorang masuk. Tinggi. Ramping. Membawa senter HP. Sosok itu langsung menuju meja kerjaku — bukan ke laci kedua tempat dokumen-dokumen biasa disimpan, tapi langsung ke laci paling bawah. Laci yang aku kunci dengan kombinasi yang tidak pernah aku tulis di mana pun.

Sosok itu memutar kombinasi tanpa ragu.

Laci terbuka.

Tangan itu mengambil kotak kayu. Membukanya. Mengeluarkan sesuatu — sesuatu yang aku tidak bisa lihat detailnya karena sudut kamera, tapi sesuatu yang dilipat seperti kertas. Sosok itu memasukkan kertas itu ke dalam tas selempangnya. Lalu mengembalikan kotak ke posisi semula. Menutup laci. Memutar kembali kombinasi.

Sebelum sosok itu pergi, dia berhenti sebentar. Berdiri di depan jendela ruanganku. Menatap ke arah skyline Jakarta yang berkelap-kelip di luar.

Lalu sosok itu menoleh — sengaja — ke arah kamera mikro yang dia tidak seharusnya tahu keberadaannya.

Wajah Kinanti.

Tersenyum.

Bukan senyum profesional. Senyum yang berbeda. Senyum yang lebih lelah, lebih tua, lebih... pribadi. Senyum seseorang yang sudah lama menunggu sesuatu yang akhirnya terjadi.

Aku menjeda video.

Aku memutar tablet menghadap Kinanti.

"Kinanti," kataku, "tolong jelaskan."

Kinanti menatap layar. Senyum profesionalnya akhirnya hilang. Tapi tidak dengan cara yang aku harapkan — bukan dengan panik, bukan dengan rasa bersalah, bukan dengan denial. Senyumnya hilang dengan cara yang tenang. Seperti seorang aktor yang akhirnya melepas topengnya setelah pertunjukan selesai.

Dia menarik napas pelan.

"Pak Aldi, saya bisa menjelaskan. Tapi tidak di sini. Tidak sekarang. Dan tidak di hadapan Bu Surti."

Wanita tua di kursi seberang — Bu Surti, ibuku — menoleh tajam ke arah Kinanti.

"Kamu kenal saya?" tanya Mama. Suaranya gemetar.

"Saya kenal Ibu, Bu Surti. Saya kenal Ibu sejak lama."

"Bagaimana..."

Kinanti menatap Mama dengan tatapan yang berbeda lagi — sekarang bukan tatapan profesional, dan bukan tatapan tersenyum dari rekaman. Tatapan yang ini lebih lembut, hampir menyakitkan, seperti tatapan seseorang yang melihat ibu sahabatnya untuk pertama kali setelah bertahun-tahun.

"Saya kenal Ibu, karena ayah saya yang menyuruh saya mengenal Ibu."

"Ayah kamu?"

"Iya, Bu."

"Siapa ayah kamu, Nak?"

Kinanti menatap Mama.

Lalu menatapku.

"Pak Aldi," katanya, dengan suara yang akhirnya — untuk pertama kali sejak aku mengenalnya — terdengar manusiawi sepenuhnya, bukan seperti asisten profesional. "Sebelum saya menjawab pertanyaan Bu Surti, saya mohon Bapak duduk. Karena yang akan saya katakan setelah ini akan mengubah banyak hal yang Bapak yakini selama dua puluh tahun terakhir."

Aku tidak duduk.

"Jawab dulu, Kinanti. Apa yang kamu ambil dari laci saya?"

"Saya ambil surat, Pak."

"Surat dari siapa?"

"Surat dari ibu Bapak. Bu Surti."

Aku menatap Mama. Mama mengangguk pelan — tatapannya bilang ya, itu surat yang Mama titipkan dulu lewat Bu Ratna.

"Kenapa kamu ambil surat itu, Kinanti?"

"Karena ayah saya melarang Bapak membacanya, Pak. Sampai waktu yang tepat tiba."

"Waktu yang tepat tiba kapan?"

"Sekarang, Pak."

Kinanti merogoh tasnya. Aku berdiri tegang — bukan karena takut, tapi karena instingku yang sudah terlatih bertahun-tahun di dunia bisnis bilang bahwa apa yang dia keluarkan sekarang akan menjadi titik balik hidupku.

Kinanti mengeluarkan amplop putih yang sudah agak menguning.

Amplop yang dilipat empat kali.

Tulisan di luar amplop dengan tinta biru yang sudah pudar:

"Untuk Aldi, anak Mama. Jika kamu sudah cukup besar untuk membaca dengan kepala dingin."

Kinanti meletakkan amplop itu di atas kotak kayu di meja.

"Pak Aldi, saya bukan mencuri. Saya menjaga. Selama tujuh tahun, ayah saya menyimpan surat ini agar tidak dibaca terlalu cepat. Tiga tahun lalu, sebelum ayah saya tidak sadarkan diri, beliau menitipkan surat ini pada saya. Beliau bilang — Kinanti, kamu kuliahlah di bidang manajemen. Lalu carilah cara masuk ke perusahaan Aldi Pratama. Ketika dia siap, berikan surat ini kepadanya. Sebelum dia siap, jaga supaya dia tidak membacanya sendirian. Karena anak itu akan hancur kalau membaca surat itu sendirian."

Aku menatap amplop itu.

Lalu Kinanti.

Lalu Mama.

Lalu kembali ke amplop.

Tanganku terasa dingin. Lebih dingin dari saat aku berdiri di depan investor pertama Arsa Group dengan tabungan terakhirku di rekening. Lebih dingin dari saat dokter di rumah sakit memberitahuku bahwa operasi jantung berikutnya hanya punya peluang sukses tujuh puluh dua persen.

"Kinanti," kataku, "kamu menyatakan surat ini ditulis oleh Mama. Tapi Mama baru bertemu saya hari ini. Bagaimana mungkin ayahmu sudah menyimpan surat ini tujuh tahun?"

Kinanti tersenyum. Senyum tipis. Senyum yang menyakitkan.

"Pak Aldi, ada hal yang Bapak tidak tahu tentang dua puluh tahun terakhir. Bu Surti tidak baru menulis surat untuk Bapak hari ini. Bu Surti menulis surat untuk Bapak setiap tahun, di tanggal ulang tahun Bapak — sejak Bapak berumur sepuluh tahun. Total ada tujuh belas surat. Yang ini, yang ada di tangan saya sekarang, adalah surat pertama. Yang Bapak tidak pernah baca selama tujuh belas tahun."

Aku menatap Mama.

Mama menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Tubuhnya berguncang.

Aku duduk pelan-pelan di kursi kerjaku.

Aku tidak tahu lagi mana yang benar. Aku tidak tahu lagi versi mana yang aku pegang.

Aku mengulurkan tangan ke arah amplop.

Dan saat jariku menyentuh amplop itu, pintu ruanganku terbuka tanpa diketuk.

Reza berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat. Di tangannya ada HP yang masih menyala. Dia menatapku, lalu menatap Kinanti, lalu menatap Mama. Lalu kembali ke aku.

"Di," kata Reza. Suaranya serak. "Kita harus bicara. Sekarang. Berdua."