"Mama yang foto kamu hari itu."
Kalimat itu menggantung di udara lobi seperti racun yang tidak punya tempat untuk turun.
Aku tidak bergerak.
Selama dua puluh tahun, aku memegang versi cerita yang sangat spesifik di dalam kepalaku. Versi yang aku ulang setiap malam sebelum tidur, sampai detail-detailnya menjadi lebih nyata dari kenyataan itu sendiri. Versi yang berbunyi:
"Mama mengantarmu ke panti dengan plastik kresek hitam berisi dua celana pendek. Mama tidak menoleh saat pergi. Mama tidak punya kenangan tentangmu — karena kalau Mama punya kenangan, Mama tidak akan pernah pergi."
Itu versiku.
Versi yang aku butuhkan agar bisa bertahan hidup.
Karena anak tujuh tahun yang ditinggalkan di gerbang panti butuh dua hal untuk tidak gila — dia butuh marah pada seseorang, dan dia butuh percaya bahwa orang itu sama sekali tidak menyayanginya. Karena kalau ternyata orang itu menyayanginya — kalau ternyata orang itu menangis saat pergi, menyimpan kenangannya, memikirkannya setiap hari — maka rasa sakitnya akan terlalu besar untuk ditampung oleh dada anak tujuh tahun.
Jadi aku memilih versi yang lebih mudah. Versi di mana Mama adalah perempuan dingin yang tidak menyimpan apa pun tentangku.
Sekarang, perempuan itu berdiri di hadapanku, memegang foto yang seharusnya tidak boleh ada di tangannya.
"Bu," kataku lagi. Suaraku berbeda sekarang. Lebih rendah. Lebih hati-hati. Seperti orang yang berjalan di atas kaca tipis. "Ibu yakin foto itu Ibu yang ambil?"
Wanita itu mengangguk. Pelan.
"Tanggal di belakangnya, Nak. Coba lihat tanggalnya."
Dia menyerahkan foto itu padaku dengan kedua tangan, seperti orang menyerahkan sesuatu yang sangat berharga ke hadapan raja. Aku tidak ingin mengambilnya. Tapi tubuhku — tubuh yang sudah berkhianat sejak Kinanti menyebut namanya — mengulurkan tangan.
Foto itu pindah ke jariku.
Aku membaliknya.
Di belakang foto, tertulis dengan pulpen biru yang sudah pudar:
"Aldi, 17 Februari 2005. Mama sayang Aldi selamanya."
Tulisan tangan itu — tulisan tangan Mama yang aku ingat dari surat-surat di kotak biskuit di bawah tempat tidur Bapak, surat-surat yang aku sering intip diam-diam saat masih kecil — tulisan tangan itu sama persis. Huruf "a" yang melengkung di ujung. Huruf "y" yang ekornya panjang sekali. Titik di atas "i" yang tidak pernah berada tepat di tengah, selalu agak miring ke kanan.
Aku memegang foto itu sampai jariku memutih.
Lalu sesuatu di dalam otakku menyambungkan diri.
"Bu," kataku.
Suaraku berubah. Sekarang lebih dingin lagi. Bukan dingin karena marah — dingin karena ada bagian dari otakku yang baru saja memasuki mode investigatif. Mode yang sama yang aku pakai saat menyelidiki kontrak yang mencurigakan, atau saat melacak insider trading di salah satu portofolio Arsa Group.
"Foto ini, Bu... Ibu bilang Ibu yang ambil hari itu. Tapi seingat saya, Ibu tidak punya kamera. Bapak tidak punya kamera. Tidak ada orang di rumah kita yang punya kamera. Kami hanya punya satu HP — HP lipat Nokia 3310 milik Bapak — dan itu tidak ada kameranya."
Wanita itu mengernyit.
"Nak..."
"Pertanyaan saya, Bu. Bagaimana Ibu mengambil foto saya hari itu?"
Wanita itu diam.
Tangannya yang tadi gemetar, sekarang membeku.
"Itu... itu kamera tetangga, Nak. Bu Eni. Mama pinjam pagi itu."
"Bu Eni yang mana, Bu?"
"Bu Eni di pasar..."
"Ibu," potongku, "saya tujuh tahun saat itu. Tapi saya ingat seluruh tetangga kita. Bu Eni yang Ibu maksud adalah tukang sembako yang baru pindah ke kampung kita dua tahun setelah saya pergi. Tahun dua ribu tujuh. Saya tahu itu karena saya pernah melihat datanya di buku tabungan keluarga yang Bapak masih simpan — yang fotonya viral di Twitter tahun lalu, saat seorang wartawan menggali masa lalu saya."
Wajah wanita itu memucat.
"Nak..."
"Bu, saya tidak menyalahkan Ibu kalau Ibu salah ingat. Dua puluh tahun lalu adalah waktu yang sangat panjang. Tapi saya ingin Ibu menjawab pertanyaan saya dengan jujur. Karena saya akan tahu kalau Ibu berbohong."
Aku melangkah lebih dekat.
"Foto ini bukan diambil oleh Ibu. Lalu siapa?"
Wanita itu tidak menjawab.
Dia menatap lantai.
"Bu."
"Dokter..."
Suaranya pelan sekali. Hampir berbisik.
"...Dokter yang ada di rumah sakit besar di kota. Yang kamu sebut 'Om Hartono' dulu. Dia yang foto kamu hari itu, Nak. Bukan Mama."
Aku menatapnya.
Nama itu.
Nama yang sudah dua puluh tahun ini ada di rekening pribadiku — pengirim transfer rutin yang membayar setengah biaya operasi jantungku setiap kali aku harus masuk rumah sakit, sampai aku berumur dua puluh dua tahun. Pengirim yang tidak pernah ingin diidentifikasi. Pengirim yang aku coba lacak selama lima tahun terakhir — dan setiap pelacakan berakhir di tembok buntu di sebuah bank swasta yang menolak membuka data nasabahnya.
Hartono.
"Bu Eni," kataku, dan aku tidak sadar suaraku jadi serak, "saya rasa kita perlu bicara di tempat yang lebih privat dari lobi ini."
Wanita itu mengangguk gemetar.
Aku berbalik. Membuat isyarat pada satpam — bukan untuk mengusir, tapi untuk membersihkan jalan. Aku berjalan menuju lift. Wanita itu mengikutiku dari belakang, sandal jepitnya menampar pelan lantai marmer Carrara.
Di dalam lift, kami berdiri dalam diam. Aku melihat pantulannya di dinding cermin tembaga. Tinggi Mama hanya sampai dadaku. Aku lupa dia sekecil itu.
Pintu lift terbuka di lantai tiga puluh.
Aku membawa wanita itu ke ruanganku.
Kinanti yang berdiri di mejanya berdiri otomatis saat melihat kami. Matanya menangkap mataku. Aku memberi isyarat — jangan ikut, jangan bertanya. Kinanti mengangguk.
Aku menutup pintu ruangan.
Aku menunjuk kursi tamu.
"Duduk, Bu."
Wanita itu duduk dengan canggung. Kursi itu jauh lebih nyaman daripada kursi makan kayu di rumahnya, aku yakin. Tapi dia duduk di ujung kursi, seperti orang yang takut menumpahkan minuman.
Aku berjalan ke laci paling bawah meja kerjaku.
Aku membuka kotak kayu kecil yang sudah berusia dua puluh tahun.
Aku mengeluarkan satu foto dari dalamnya.
Aku meletakkannya di atas meja, menghadap wanita itu.
Foto anak laki-laki tujuh tahun memegang plastik kresek hitam di depan pagar berkarat.
Foto yang persis sama dengan foto di tangan wanita itu.
Wanita itu menatap foto di meja. Matanya membesar. Lalu dia menatap foto di tangannya sendiri. Lalu kembali ke foto di meja. Lalu ke aku.
"Aldi... ini... dari mana?"
Aku tersenyum tipis.
"Bu, foto ini sudah ada di laci saya selama dua puluh tahun. Saya membawanya dari panti — Bu Ratna memberikannya kepada saya saat saya berumur sepuluh tahun. Beliau bilang seseorang yang tidak ingin diidentifikasi menitipkan foto ini untuk saya."
Aku menatap wanita itu.
"Jadi pertanyaan saya bukan lagi bagaimana Ibu punya foto ini. Pertanyaan saya sekarang adalah — kenapa ada DUA foto identik? Dan siapa yang punya negatifnya?"
Wanita itu tidak bisa menjawab.
Aku mengetuk meja dengan jari telunjuk. Pelan. Tiga kali. Sebuah kebiasaan yang aku punya saat menunggu jawaban yang aku tahu akan datang lambat.
"Bu, saya akan jujur ke Ibu. Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dua puluh tahun lalu. Saya pikir saya tahu — tapi sekarang saya rasa saya tidak tahu apa-apa. Dan kalau Ibu ingin saya mempertimbangkan permintaan Ibu untuk menemui suami Ibu — Ibu harus mulai bercerita. Dari awal. Tanpa berbohong."
Wanita itu menatapku lama.
Lalu pelan, dia berkata:
"Aldi, sebelum Mama cerita... ada satu hal yang Mama harus tanya dulu. Untuk memastikan kamu memang Aldi yang sama."
"Silakan, Bu."
"Di pundak kanan kamu — ada tanda lahir berbentuk bulan sabit kecil. Apakah masih ada di sana?"
Aku mengangguk lambat.
"Ada, Bu."
Mata wanita itu basah lagi.
"Nak... kalau begitu Mama harus minta kamu mengecek satu hal lagi. Bukan di tubuhmu — tapi di laci itu. Di kotak kayu yang baru saja kamu buka. Apakah di dasar kotak itu, ada selembar kertas yang dilipat? Kertas tua. Yang Bu Ratna titipkan bersama foto ini."
Aku mengernyit.
"Tidak ada, Bu. Hanya ada foto."
Wanita itu menutup mulutnya dengan tangan. Tubuhnya gemetar.
"Berarti benar..."
"Berarti benar apa, Bu?"
Wanita itu menatapku dengan mata yang berair tapi tajam.
"Berarti benar... ada orang yang sudah lebih dulu sampai ke kotakmu itu, Nak. Karena Mama tahu pasti — Bu Ratna menitipkan dua benda untukmu. Foto, dan surat. Kalau suratnya tidak ada di laci itu, berarti seseorang sudah mengambilnya. Dan satu-satunya orang di gedung ini yang punya akses ke laci pribadimu adalah..."
Wanita itu berhenti.
Aku menatapnya.
Lalu pelan, aku berbalik ke pintu ruangan.
Di balik pintu yang tertutup, aku tahu Kinanti masih duduk di mejanya. Asisten pribadiku selama dua tahun. Wanita yang tahu kombinasi brankas pribadiku, jadwal harianku, password emailku, dan setiap rapat rahasia yang pernah aku ikuti.
Tanganku perlahan terkepal di samping tubuhku.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar