Lift turun dari lantai tiga puluh ke lantai satu dalam waktu empat puluh enam detik.
Aku menghitungnya.
Selama empat puluh enam detik itu, aku menatap pantulan diriku di dinding lift yang dilapisi cermin tembaga. Lelaki dua puluh tujuh tahun. Jas masih rapi. Dasi masih lurus. Wajah masih tenang. Hanya satu yang berbeda dari Aldi yang naik ke lantai tiga puluh kemarin sore — denyut di pelipisnya.
Pintu lift terbuka di lantai dasar.
Lobi Arsa Group dirancang oleh arsitek pemenang Pritzker Prize asal Jepang. Lantai marmer hitam dari Carrara. Dinding kaca yang menampilkan air terjun mini di balik instalasi karya seniman Bandung. Patung bonsai berusia dua ratus tahun di tengah ruangan. Ini adalah lobi yang setiap inci nya dirancang untuk memberi kesan kepada siapapun yang memasukinya: *kamu sedang berdiri di tempat orang yang sudah berhasil.*
Lobi yang aku rancang sendiri, ironisnya, untuk satu tujuan rahasia — supaya kalau suatu hari mereka datang, mereka tahu persis seperti apa duniaku sekarang. Dunia yang mereka tinggalkan.
Aku berjalan keluar dari lift.
Aku langsung melihatnya.
Dia duduk di kursi tamu pojok ruangan. Sengaja dipilihkan resepsionis di pojok, jauh dari pandangan tamu bisnis yang lain. Kursi kulit putih yang harganya delapan belas juta itu sekarang ditempati seorang perempuan tua berbaju daster bunga-bunga warna ungu — daster yang aku yakin dia beli di Pasar Andir seharga tiga puluh lima ribu rupiah. Rambutnya disanggul rapi tapi sudah ada banyak helai putih. Kakinya yang memakai sandal jepit terjuntai canggung dari kursi yang terlalu tinggi untuknya. Di pangkuannya, ada tas plastik bertuliskan *"Toko Sembako Bu Eni — Sedia Pulsa & Token Listrik"*.
Aku berhenti.
Aku tahu wanita itu.
Dua puluh tahun tidak menghapus apa pun.
Bekas luka kecil di dagu kirinya. Cara dia menyusun jari kelingking di atas ibu jari saat gugup. Helaian rambut yang selalu jatuh ke pelipis kanan, yang dia sapu kembali dengan punggung tangan — bukan dengan jari. Aku tahu kebiasaan itu. Mama selalu menyapu rambutnya dengan punggung tangan kalau jari-jarinya basah oleh apa pun — air sumur, minyak goreng, atau air mata.
Saat ini, jari-jarinya tidak basah.
Tapi tangannya menyapu rambut. Tiga kali dalam sepuluh detik.
Aku berjalan mendekat.
Wanita itu mengangkat wajahnya. Mata kami bertemu.
Dia berdiri terlalu cepat. Tas plastiknya jatuh. Pulpen, dompet kulit imitasi, dan satu kotak kecil bersarung kain terjatuh ke lantai marmer. Tapi dia tidak peduli pada barangnya. Dia menatapku dengan ekspresi yang aku tidak bisa beri nama — bukan haru, bukan bahagia, bukan takut. Sesuatu yang lebih primitif dari semua itu. Sesuatu yang seperti orang yang berjalan tiga hari di gurun lalu melihat sumur.
"Aldi..."
Satu kata.
Bibirnya gemetar.
"Aldi... Nak..."
Dia melangkah maju.
Aku mundur satu langkah.
Wanita itu berhenti. Tangannya yang sudah terangkat untuk meraihku, membeku di udara. Matanya berkedip cepat. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Lalu air mata itu jatuh — bukan deras seperti yang ada di sinetron, tapi pelan, satu tetes, seperti hujan terakhir yang menetes dari atap rumah lama.
"Maaf, Bu," kataku.
Suaraku tidak gemetar. Aku sudah berlatih dua puluh tahun untuk momen ini.
"Saya rasa Ibu salah orang."
Wanita itu menggeleng. Cepat. Seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk.
"Tidak, Nak. Tidak salah. Mama tidak salah. Mama hafal wajahmu, Nak. Dari dulu. Dari kamu masih bayi. Dari kamu masih..."
Dia menelan ludah.
"...dari kamu masih sehat."
Aku menatapnya.
Aku tidak boleh goyah.
Aku tidak boleh.
Tapi tubuhku — tubuhku berkhianat. Ada sesuatu di belakang tenggorokanku yang naik. Sesuatu yang aku tidak izinkan untuk naik. Sesuatu yang sudah aku kunci di dasar dada sejak umur tujuh tahun, yang sekarang menggedor pintu kuncinya dengan kepalan tangan kecil seorang anak laki-laki yang berdiri di depan pagar panti, berteriak memanggil mamanya.
Aku menelan kembali sesuatu itu.
"Bu," kataku, "kalau Ibu pernah punya anak yang namanya Aldi — saya turut berduka. Saya rasa orang itu sudah tidak ada. Saya bukan dia."
Wanita itu seperti tertampar.
Dia mundur. Setengah langkah.
Lalu — dan ini bagian yang aku tidak siap — dia tersenyum. Senyum yang menyakitkan. Senyum yang seperti orang tua yang sudah lama belajar bahwa dia tidak berhak meminta apa pun lagi dalam hidup ini.
"Mama tahu, Nak. Mama tahu Mama tidak pantas berdiri di sini. Mama tahu kamu punya hak menyuruh Mama pergi. Mama tahu... Mama tahu Mama tidak punya kata-kata yang cukup untuk menebus apa yang Mama lakukan dua puluh tahun lalu."
Dia berlutut.
Di tengah lobi Arsa Group, di antara patung bonsai dua ratus tahun dan air terjun karya seniman Bandung, di hadapan resepsionis yang berhenti mengetik dan satpam yang berhenti bergerak, perempuan tua berbaju daster ungu seharga tiga puluh lima ribu rupiah itu berlutut di atas lantai marmer Carrara.
"Mama hanya minta satu, Nak. Hanya satu."
Suaranya gemetar.
"Bapakmu sakit. Bapakmu sekarat. Dokter bilang dia tidak akan sampai tahun depan. Sebelum dia pergi — sebelum dia menutup mata — dia ingin meminta maaf padamu, Nak. Dia ingin melihat wajahmu sekali saja. Dengan matanya sendiri. Bukan dari foto di majalah."
Dia menunduk lebih dalam.
"Mama tahu permintaan ini terlalu besar. Mama tahu Mama tidak punya hak meminta apa pun. Tapi Mama hanya... Mama hanya seorang ibu yang mencoba memenuhi keinginan terakhir suaminya. Itu saja, Nak. Mama tidak meminta kamu untuk memaafkan. Mama hanya meminta kamu untuk... datang. Satu kali. Lima menit. Lalu kamu boleh pergi selamanya."
Lobi itu hening.
Aku menatap puncak kepala wanita itu.
Aku menatap helai-helai putih di rambutnya yang dulu hitam pekat. Aku menatap kuduknya yang sudah keriput. Aku menatap punggung daster yang sudah agak pudar di bagian bahu — bagian yang biasanya pudar duluan karena terkena keringat saat dipakai memasak di dapur.
Aku menatap perempuan yang dulu melepas tanganku di gerbang berkarat.
Dan aku berkata, dengan suara yang lebih dingin dari AC sentral gedung ini:
"Bu, berdiri."
Wanita itu tidak bergerak.
"Bu. Berdiri."
Dia mengangkat wajahnya pelan. Wajahnya basah.
"Ibu tidak boleh berlutut di lobi saya. Ini bukan tempat untuk berlutut. Ini tempat untuk berdagang. Dan kalau Ibu mau bicara dengan saya, Ibu harus tahu dulu — di sini, semua percakapan adalah negosiasi. Termasuk yang ini."
Wanita itu menatapku.
Tidak ada yang dia katakan.
"Ibu ingin saya datang menemui suami Ibu. Saya tanya satu — apa yang Ibu tawarkan sebagai imbalannya?"
Dia mengernyit.
"Imbalan, Nak?"
"Iya, Bu. Imbalan."
Wanita itu menelan ludah. Tangannya yang gemetar meraih tas plastik di lantai. Membongkar isinya. Mengeluarkan kotak kain kecil yang tadi jatuh. Membukanya dengan jari yang gemetar.
Di dalamnya — sebuah foto. Sangat lama. Pinggirannya sudah kuning. Aku bisa melihatnya bahkan dari jarak dua meter.
Aku tahu foto itu.
Aku punya satu yang persis sama, di dalam kotak kayu di laci paling bawah meja kerjaku, di lantai tiga puluh.
Foto anak laki-laki tujuh tahun memegang plastik kresek hitam di depan pagar berkarat.
Tanganku — yang sudah dua puluh tahun terlatih untuk tidak gemetar — sekarang gemetar.
"Bu," kataku, dengan suara yang kali ini tidak sepenuhnya milikku, "dari mana Ibu dapat foto itu?"
Wanita itu menatap foto di tangannya. Lalu menatapku.
Dan dia menjawab dengan kalimat yang membuat seluruh skenario dua puluh tahunku berantakan dalam satu detik.
"Foto ini, Nak... Mama yang ambil. Mama yang foto kamu hari itu. Sebelum Mama mengantar kamu ke panti."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar