Aku berdiri.
Aku menatap amplop kuning di atas kotak kayu di meja. Tujuh belas tahun. Surat pertama dari tujuh belas. Yang sebentar lagi akan aku buka. Yang seharusnya aku buka SEKARANG, sebelum Reza datang, sebelum dunia menyela lagi, sebelum aku sempat memikirkan ulang dan menutup pintu hatiku kembali.
Tapi Reza datang.
Dan dalam dua belas tahun terakhir, sejak kami berdua keluar dari panti dengan ijazah SMA dan saldo bank delapan puluh tiga ribu rupiah berdua, Reza tidak pernah — tidak pernah — masuk ke ruanganku tanpa mengetuk. Bahkan saat istrinya melahirkan anak pertama dan dia harus pergi ke rumah sakit segera, dia mengetuk dulu sebelum membuka pintu.
Hari ini dia masuk tanpa mengetuk.
Itu artinya satu hal: yang dia akan katakan tidak boleh menunggu lima detik pun.
"Kinanti," kataku, "tolong temani Mama di ruang rapat kecil. Ambilkan teh. Ada cookies di lemari. Saya akan kembali sebentar."
"Baik, Pak."
Kinanti berdiri. Mengulurkan tangannya pada Mama dengan lembut. Mama menatap Kinanti dengan tatapan baru — bukan tatapan kepada orang asing, tapi tatapan kepada anak gadis yang baru-baru ini dia kenali sebagai anak dari orang yang pernah menyelamatkan anak laki-lakinya. Mereka berdua keluar dari ruangan dalam diam.
Pintu tertutup.
Tinggal aku dan Reza.
Reza berjalan ke kursi yang baru saja dikosongkan Kinanti. Tapi dia tidak duduk. Dia berdiri di belakang kursi, kedua tangannya mencengkeram sandaran kursi sampai buku jarinya memutih.
"Di."
Aku menunggu.
"Aku ngomong duluan. Kalau lo motong, aku ulang dari awal. Oke?"
"Oke."
Reza menarik napas.
"Pertama. Keluarga lo — Bambang, Surti, Rian — mereka sudah tahu lo itu Aldi Pratama si CEO Arsa Group, bukan baru hari ini. Bukan baru karena majalah pagi tadi. Mereka sudah tahu sejak satu tahun lalu."
Aku merasa darahku turun dari kepalaku ke dasar perut. Cepat. Seperti seseorang baru saja menarik colokan dari dalam tubuhku.
"Satu tahun?"
Reza mengangguk.
"Aku tahu ini sejak tiga bulan lalu, Di. Aku tahu lo akan marah karena aku nggak langsung kasih tahu lo. Tapi gue butuh memastikan dulu — gue butuh tahu kenapa mereka tidak datang lebih cepat. Karena kalau mereka cuma mau uang lo, mereka mestinya datang detik mereka tahu. Tapi mereka nggak. Mereka nunggu setahun."
"Lo investigasi mereka tiga bulan terakhir?"
"Iya."
"Dan?"
Reza menatapku.
"Dan gue nemuin sesuatu yang gue belum bisa percaya. Tapi sebelum gue cerita itu, lo harus tahu fakta nomor dua dulu, Di."
Reza menatap pintu, memastikan tertutup rapat.
"Donatur misterius lo. Yang bayar setengah biaya operasi jantung lo dari umur sepuluh sampai dua puluh dua. Yang transfernya berhenti tiba-tiba tiga tahun lalu — dan lo pikir dia meninggal."
Aku merasa udara di ruangan menipis.
"Dia tidak meninggal, Di. Dia masih hidup. Dia ada di Singapura. Dia koma dua tahun lalu — itu kenapa transfernya berhenti. Tapi minggu lalu, dia sadar."
Aku tidak bisa bersuara.
Reza mengeluarkan HP-nya. Membuka aplikasi pesan. Menunjukkan layar padaku.
Foto seorang lelaki tua di ranjang rumah sakit. Selang oksigen di hidungnya. Wajahnya kurus dan keriput. Tapi matanya — matanya terbuka. Dan menatap langsung ke kamera.
Di bawah foto, ada caption tertulis dalam Bahasa Inggris:
"Tell Aldi I'm sorry it took me twenty years to find him again. Tell him I have one final story to tell, before this body decides to stop. Tell him I'm still in Mount Elizabeth Hospital. Bed 1407."
"Dr. Hartono Wijaya."
Aku menatap layar selama waktu yang terasa lama sekali.
"Bagaimana lo dapat foto ini, Za?"
"Anaknya yang kirim ke gue. Tiga hari lalu."
"Anaknya?"
Reza menatapku.
"Kinanti."
Aku duduk pelan-pelan di kursi kerjaku.
Aku mengusap wajahku dengan kedua tangan. Lambat. Seperti orang yang sedang mencoba membangunkan diri dari tidur yang terlalu dalam.
"Kinanti adalah anak Dokter Hartono."
"Iya."
"Dia bekerja di sini selama dua tahun — sengaja melamar jadi asisten gue — karena ayahnya menyuruhnya menjaga gue sampai gue 'siap mendengar kebenaran'."
"Itu yang dia bilang ke gue, iya."
"Dan ayahnya — donatur misterius gue — masih hidup."
"Masih hidup. Dan sekarang sadar. Dan sekarang menunggu lo di Singapura."
Aku menutup mata.
Ada terlalu banyak yang harus diproses. Ada terlalu banyak versi cerita yang tiba-tiba berbenturan. Selama dua puluh tahun, cerita di kepalaku adalah cerita yang sederhana:
Aku dibuang oleh keluargaku. Aku diselamatkan oleh panti. Aku tumbuh dengan susah payah. Aku berhasil. Donatur misteriusku, siapa pun dia, sudah meninggal. Keluargaku, di mana pun mereka, tidak peduli.
Cerita yang bersih. Cerita yang sederhana. Cerita yang bisa aku pegang.
Sekarang, dalam waktu satu jam:
Keluargaku tahu tentangku setahun lalu, tapi menunggu. Donatur misteriusku ternyata masih hidup. Asisten pribadiku ternyata anaknya. Ibuku ternyata menulis tujuh belas surat untukku. Foto yang aku pegang dua puluh tahun ternyata bukan satu-satunya.
Cerita lamaku roboh.
Dan aku tidak tahu cerita baru apa yang harus aku pegang.
"Di," kata Reza, suaranya lebih pelan sekarang, "ada lagi. Yang fakta nomor tiga. Dan ini... ini yang paling berat."
Aku membuka mata.
"Selama tiga bulan gue investigasi keluarga lo, gue temuin satu hal yang nggak masuk akal. Bambang — bapak lo — bukan orang biasa-biasa aja. Dia tukang bangunan, iya. Tapi sebelum tahun dua ribu lima — tahun lo dibuang — dia punya hubungan dekat dengan seorang dukun bernama Karyo. Dukun ini punya jaringan di sembilan kampung di Bandung Selatan. Dan jaringan ini bukan jaringan dukun biasa, Di. Mereka..."
Reza menelan ludah.
"Mereka sindikat jual beli anak. Anak-anak sakit. Yang keluarganya dianggap pembawa sial. Mereka jual ke pasar adopsi gelap di Singapura dan Malaysia."
Aku menatap Reza.
"Apa?"
"Anak-anak sakit, Di. Yang penyakitnya berat, yang biaya pengobatannya mahal. Keluarganya didekati dukun. Diancam. Atau ditawarkan jalan keluar. Anak itu 'dibuang ke air' — istilah ritual mereka. Tapi sebenarnya anak itu dijual."
"Bapak gue..."
"Bapak lo bukan korban dukun, Di. Bapak lo... bagian dari jaringan itu."
Aku berdiri.
Aku tidak tahu kenapa aku berdiri.
Aku tidak menuju ke mana pun.
Aku hanya merasa kalau aku tetap duduk, dadaku akan meledak.
"Reza, lo serius?"
"Aku punya dokumen, Di. Surat-surat lama dari kampung. Catatan keuangan. Saksi yang sekarang masih hidup. Dua orang sudah mau bicara — tapi mereka takut. Bapak lo masih hidup, dukun Karyo juga masih hidup. Mereka berdua sudah tua sekarang, tapi masih punya jaringan."
"Tapi gue dititipkan ke panti. Sama Bu Ratna. Gue tidak dijual ke Singapura."
Reza menatapku.
"Iya. Lo tidak dijual. Karena lo diselamatkan."
"Sama siapa?"
"Sama Hartono."
Aku menatap Reza.
"Dokter Hartono mencegat sindikat itu. Membayar lebih mahal dari yang bapak lo bisa terima dari pasar adopsi gelap. Lima juta rupiah, harga yang tercatat di kuitansi penjualan. Tapi setelah lo 'dibeli' oleh Hartono, dia tidak menjual lo lagi. Dia menitipkan lo ke Bu Ratna di Panti Cahaya Kasih. Dan dia membayar biaya operasi jantung lo selama dua belas tahun ke depan dari rekening pribadinya."
Aku menatap Reza lama sekali.
"Jadi gue... gue bukan dibuang."
"Lo dibuang, Di."
"Tapi lo bilang gue diselamatkan."
"Iya. Dibuang oleh keluarga lo, diselamatkan oleh orang asing. Dua hal bisa terjadi bersamaan."
Aku duduk kembali.
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
Aku tidak menangis. Aku tidak yakin aku tahu bagaimana caranya menangis lagi setelah dua puluh tahun terakhir. Tapi ada sesuatu di tenggorokanku yang naik dan tidak mau turun.
"Reza."
"Iya, Di?"
"Mama gue. Bu Surti. Dia... dia tahu tentang sindikat itu?"
Reza diam lama.
"Itu yang gue belum bisa pastikan, Di. Gue cuma punya bukti soal bapak lo. Soal mama lo — gue belum nemuin apa-apa. Bisa jadi dia tahu. Bisa jadi dia tidak tahu. Bisa jadi dia tahu tapi tidak berdaya melawan suaminya."
Aku menatap kotak kayu di meja.
Di sana, ada amplop kuning. Surat pertama dari tujuh belas.
Surat dari perempuan yang sekarang sedang minum teh chamomile di ruang rapat kecil bersama anak dari pria yang mungkin membeli aku dengan harga lima juta rupiah dua puluh tahun lalu.
"Reza," kataku, suaraku rendah, "satu hal lagi. Lo bilang Dokter Hartono ingin gue datang ke Singapura."
"Iya."
"Dia bilang apa lagi yang spesifik?"
Reza menatap layar HP-nya. Membuka pesan terbaru. Menyerahkan HP padaku.
Pesan terakhir dari Kinanti, dikirim tiga puluh menit lalu — saat aku masih turun di lift menuju lobi.
"Pak Reza. Ayah saya menelepon tadi pagi dari Singapura. Beliau bilang ada satu informasi yang harus disampaikan ke Pak Aldi sebelum Pak Aldi mengambil keputusan apa pun tentang keluarganya. Beliau bilang — Aldi tidak hanya 'dibeli' oleh ayah saya dua puluh tahun lalu. Aldi adalah anak ketiga yang ayah saya selamatkan dari sindikat itu. Dua anak yang lain mati sebelum ayah saya bisa membawa mereka pergi. Salah satu dari mereka... adalah saudara kandung Aldi. Saudara yang lebih muda. Yang Aldi tidak pernah tahu pernah ada."
Aku menatap layar HP.
Tanganku gemetar.
"Reza..."
"Ya, Di."
"Gue punya adik?"
"Lo punya adik, Di. Adik yang mati dua puluh tahun lalu. Sebelum lo sempat tahu dia pernah lahir."
Aku menatap kotak kayu.
Aku menatap amplop kuning.
Aku menatap ke arah pintu — di balik pintu itu, Mama sedang duduk dengan Kinanti. Mama yang mungkin tahu tentang sindikat. Mama yang mungkin tahu tentang adik yang aku tidak pernah tahu pernah ada. Mama yang punya tujuh belas surat untukku, dan satu rahasia yang tidak ada di surat-surat itu.
Aku menarik napas dalam.
"Reza, batalkan semua agenda gue minggu depan. Gue mau ke Singapura. Dan sebelum gue pergi — gue mau Mama gue duduk di hadapan gue. Tanpa Kinanti. Tanpa kamu. Tanpa siapa pun."
"Lo mau ngapain, Di?"
Aku menatap amplop kuning di meja.
"Gue mau Mama yang menceritakan langsung. Sebelum gue baca tujuh belas surat itu. Sebelum gue bertemu Hartono di Singapura. Sebelum apa pun. Gue mau dengar dari mulut Mama — apa yang sebenarnya terjadi dua puluh tahun lalu. Dan kalau ada satu kata yang Mama bohongkan dari gue malam ini..."
Aku berdiri.
"...gue tidak akan pernah mau bertemu dia lagi seumur hidup gue."
Reza mengangguk. Berjalan ke pintu.
Sebelum dia keluar, dia berbalik.
"Di. Satu hal terakhir."
"Apa?"
"Adik lo yang mati itu — Hartono masih simpan dokumennya. Termasuk akte kelahiran yang tidak pernah diurus. Dan nama yang sudah dipilih bapak lo untuk dia, sebelum dia mati."
Reza menatap mataku.
"Lo mau tahu nama adik lo, Di?"
Aku tidak menjawab.
Tapi Reza menjawab sendiri:
"Nama dia... Reza."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar