Rini tahu hari sudah pagi bukan karena alarm. Alarm di HP-nya sudah lama dimatikan — dia tidak lagi membutuhkannya. Yang membangunkannya adalah suara cakaran pelan di pintu kamar. Konsisten. Tidak tergesa. Seperti tamu yang sopan tapi tahu dia tetap akan dapat yang dia minta.

"Bonang," gumamnya, mata masih tertutup. "Lima menit lagi."

Cakaran berhenti.

Hening tiga detik.

Lalu cakaran berlanjut, sekarang dengan ritme yang sedikit lebih tegas.

Rini mendesah dan membuka mata. Di langit-langit kamar masih tergantung sisa-sisa malam — biru gelap yang perlahan meluntur ke ungu. Setengah lima. Mungkin lima kurang seperempat. Dia sudah hampir bisa menebak waktu hanya dari warna langit-langit, dan dia tidak yakin itu pencapaian yang membanggakan atau menyedihkan.

Dia bangun, membuka pintu, dan disambut oleh kucing oren berukuran kira-kira satu setengah kali kucing normal yang menatapnya dengan ekspresi seseorang yang sudah lama menunggu pelayanan hotel bintang lima.

"Selamat pagi, Yang Mulia."

Bonang mengeong sekali — singkat, datar, tidak sopan — lalu berbalik menuju dapur tanpa menunggu majikannya.

Rini mengikuti, melewati lorong kecil yang setiap pagi terasa lebih sempit dari yang seharusnya. Itu karena di sepanjang dinding kanan ada deretan kandang kucing yang ditumpuk dua-dua, dengan jarak yang sengaja diatur supaya tidak terlalu sesak tapi tetap cukup untuk dilewati satu orang. Lampu di lorong belum dinyalakan, tapi dari kandang-kandang itu terdengar suara-suara yang sudah Rini hafal — Coco yang selalu bangun paling awal dan mulai mengetuk pintu kandang seperti seseorang yang ingat punya janji penting, Choco yang biasanya cuma mengembuskan napas keras-keras karena tahu Coco yang akan repot duluan, dan Cookie yang masih akan tidur selama mungkin sebelum akhirnya ikut bangun saat tercium bau makanan.

"Sebentar," kata Rini ke arah lorong. Pada siapa, tidak jelas. Mungkin pada semua. Mungkin pada dirinya sendiri.

Di dapur, dia menyalakan lampu, dan delapan belas kucing tahu artinya.

Yang di kandang mulai bersuara serempak — sebagian protes, sebagian sekadar mengingatkan keberadaan diri, sebagian (Rini yakin) cuma ikut-ikutan karena yang lain ikut-ikutan. Bonang duduk di mangkuknya, ekornya bergerak pelan, menatap Rini dengan tatapan yang artinya: aku lebih dulu, kan, ya.

"Iya, kamu duluan. Selalu duluan."

Rini membuka kulkas kecil yang khusus untuk makanan kucing. Lemari es yang dia gunakan untuk dirinya sendiri ada di sebelahnya, lebih kecil. Bukan karena dia tidak makan — tapi karena makanan kucing membutuhkan tempat yang lebih banyak dan, harus diakui, lebih sering dibeli.

Dia mulai dari Bonang, karena Bonang memang selalu duluan. Bonang adalah kucing oren tua yang Rini pungut dari pasar lima tahun lalu, di hari pertama dia resign. Itu kebetulan yang Rini tidak suka diceritakan ke siapa-siapa — terlalu mirip cerita inspiratif murahan. Tapi memang begitu kejadiannya. Dia keluar dari kantor untuk terakhir kali, naik angkot, dan di pasar dekat rumah lamanya ada anak kucing kurus yang ribut sekali. Rini berhenti karena tidak ada alasan untuk tidak berhenti. Lima tahun kemudian, anak kucing itu masih ada di hidupnya, sudah tidak kurus, dan jelas merasa dirinya yang memungut Rini, bukan sebaliknya.

Setelah Bonang, Rini menuju kandang-kandang. Dia tahu urutan pemberian makan tanpa harus berpikir. Coco-Choco-Cookie dulu karena Coco akan terus menggedor pintu kalau dia dilewati. Lalu kucing-kucing yang berdiet — ada tiga, masing-masing punya takaran berbeda yang Rini catat di buku kecil yang menempel di pintu kulkas dengan magnet beruang. Lalu yang lain-lain, beberapa yang minum susu tambahan, beberapa yang harus dipisahkan dari kucing tertentu karena di hari pertama menginap mereka mencoba berkelahi.

Dia melakukan ini selama satu jam sebagaimana yang dia lakukan setiap pagi selama lima tahun terakhir. Dan ada sesuatu di proses itu — di kerja yang berulang dan tidak butuh keputusan besar — yang Rini diam-diam syukuri.

Pintu pagar berbunyi.

"Mbak, saya datang!"

Suara Mbak Tum. Setengah enam, tepat. Mbak Tum yang konsistensinya melebihi jam atom di Greenwich.

"Pintu nggak dikunci, Mbak!"

Mbak Tum masuk dengan tas plastik yang berisi entah apa — Rini tidak pernah berhasil menebak, dan Mbak Tum tidak pernah menjelaskan. Pernah berisi mangga. Pernah berisi sapu lidi baru. Pernah berisi nasi uduk untuk dua orang. Hari ini sepertinya berisi sesuatu yang berbentuk persegi.

"Coco udah bangun?" tanya Mbak Tum, melepas sandalnya.

"Coco selalu bangun. Coco itu nggak bisa tidur. Coco mungkin malaikat dalam tubuh kucing yang ditugaskan untuk mengingatkan kita semua bahwa hidup nggak boleh terlalu santai."

Mbak Tum tertawa pelan — tawa yang lebih dekat ke embusan napas — dan masuk ke dapur. Dia mulai bekerja tanpa diminta, tanpa briefing, karena sudah tiga tahun mereka kerja bareng dan briefing sudah lama jadi tidak perlu.

Rini melirik papan kecil di dinding dapur. Papan itu adalah peta operasional rumahnya: daftar nama kucing yang sedang menginap, kolom tanggal datang, kolom tanggal jemput, kolom catatan khusus. Dia tulis manual karena dia pernah coba pakai aplikasi dan gagal — bukan karena teknologinya yang sulit, tapi karena tangannya yang lebih cepat percaya kalau dia menulis sendiri.

Hari ini: dua kucing harus pulang. Mocha dijemput Pak Arya sore. Dan kucing Persia milik Bu Indah yang sudah seminggu, dijemput pagi sekitar jam delapan.

"Bu Indah jemput jam delapan, ya, Mbak?"

"Iya. Persi udah saya pisahin di kandang depan, biar gampang."

Bu Indah datang jam sembilan kurang sepuluh. Itu cukup tepat waktu untuk standar Bu Indah, yang biasanya datang antara setengah sembilan dan setengah sepuluh tanpa pemberitahuan. Persi langsung manja begitu melihat majikannya — pemandangan yang Rini selalu suka, walaupun secara tidak resmi dia juga sedikit cemburu setiap kali kucing yang baru saja seminggu menempel-nempel sama dia berubah jadi pura-pura tidak kenal begitu pemiliknya muncul.

"Aduh, Mbak Rini, makasih ya, dia kelihatan bahagia banget."

"Dia memang anak baik, Bu. Cuma nggak suka makan basah kalau bukan rasa salmon. Yang lain dia tolak."

"Ah, itu dia. Saya sudah mau coba kasih yang ayam, eh dia ngambek seharian."

Rini mengangguk, lalu menerima amplop yang sudah Bu Indah siapkan. Dia tidak menghitung di depan pelanggan. Pernah dulu di awal-awal dia melakukan itu, dan rasanya tidak enak — bukan karena dia tidak percaya, tapi karena ada sesuatu yang terlalu transaksional di sana. Jadi sekarang dia hanya menerima, mengangguk, dan mengantar Bu Indah sampai ke pagar.

Setelah Bu Indah pergi, rumah jadi lebih kosong satu kucing. Satu kandang depan jadi kosong. Rini akan membersihkannya nanti sore.

Hari berjalan seperti hari-hari sebelumnya.

Mbak Tum pulang jam dua. Rini makan siang sendirian — nasi sisa kemarin dengan telur dadar yang dia goreng sambil ngobrol dengan Bonang yang duduk di kursi sebelah seolah-olah dia juga punya piring di sana.

Sore, jam empat, Pak Arya datang menjemput Mocha. Pak Arya selalu datang tepat waktu, selalu rapi, dan selalu, tanpa gagal, mengomentari sesuatu yang positif tentang rumah Rini. Hari ini: "Mbak Rini, lukisan di lorong itu baru, ya? Cakep."

"Beli di pasar Triwindu pas ke Solo bulan lalu."

"Solo? Saya juga sering ke Solo. Kapan-kapan kalau ke sana, saya tahu kafe yang menurut saya cocok banget sama selera Mbak."

Rini tersenyum sopan. Dia tahu cara Pak Arya bicara — dia tidak naif. Tapi dia juga tahu Pak Arya bukan tipe yang memaksa, dan itu yang membuatnya tetap nyaman.

"Boleh kapan-kapan, Pak."

Mocha dibawa pulang dalam keranjang putih yang elegan. Dari semua kucing yang menginap di rumah Rini, Mocha yang paling sedikit suaranya. Sebagaimana majikannya — yang elegan tapi tidak diam.

Setelah Pak Arya pergi, rumah jadi lebih kosong satu kucing lagi. Tujuh belas yang tersisa, plus Bonang.

Rini duduk di teras menjelang magrib, di kursi rotan tua yang sebenarnya sudah waktunya diganti tapi dia tidak tega. Sore itu langit oranye, dan Bonang duduk di pangkuannya seperti memang itu fungsinya berada di dunia ini.

Lalu langit berubah.

Awan datang dari arah utara — gelap, padat, bergerak cepat. Rini sempat berpikir untuk pindah ke dalam, tapi Bonang sudah nyaman dan dia tidak ingin mengganggu. Lagi pula, hujan-hujan kecil di teras kadang justru menenangkan.

Tapi hujan ini bukan hujan kecil.

Setengah jam kemudian, langit sudah hitam, dan air turun seperti seseorang menumpahkan ember besar dari atas. Suara hujan menutup semua suara lain — termasuk suara TV tetangga yang biasanya terdengar sampai ke teras. Rini di dalam, di dapur, sedang menyiapkan makan malam kucing untuk porsi kedua sekaligus mengecek-cek kalau-kalau ada kandang yang bocor dari atap (atap rumah ini, secara teknis, sudah harus diganti tiga tahun lalu).

Saat itulah dia mendengar suara ketukan.

Pelan sekali pertama kali. Rini pikir itu pintu kandang. Lalu ketukan kedua, lebih keras. Dia menoleh.

Ada bayangan di depan pintu kaca yang menuju teras.

Rini meraih lap di meja, mengeringkan tangannya, dan berjalan ke pintu. Di luar, di balik kaca yang berembun karena suhu, berdiri seorang laki-laki yang sangat basah.

Lebih dari basah. Kuyup. Dari rambut sampai ujung celananya.

Di tangannya, dia memegang sebuah keranjang plastik tertutup. Dengan tangan satunya, dia menutupi keranjang itu pakai jaketnya sendiri — yang juga sudah kuyup, tapi sepertinya itu tidak penting baginya.

Rini membuka pintu.

"Maaf," kata laki-laki itu. "Saya tahu ini malam-malam. Tapi—"

Dia berhenti. Bukan karena dia ragu. Tapi karena dia, kelihatannya, baru saja menyadari bahwa kalimatnya tidak akan punya kelanjutan yang masuk akal.

Rini menatapnya. Lalu menatap keranjang itu. Lalu menatapnya lagi.

Dari dalam keranjang, ada suara meongan pelan. Tidak panik. Tidak parah. Cuma — lapor.

Laki-laki itu menarik napas pelan, seperti baru sadar dia masih menahannya.

"Saya butuh tempat untuk kucing ini," katanya akhirnya. "Cuma untuk malam ini."

Rini tetap di tempatnya, satu tangan di gagang pintu. Di luar, hujan masih turun seperti seseorang yang lupa mematikan keran langit.

"Bapak," katanya pelan, "saya kira penitipan kucing harus janji dulu."

"Saya tahu," kata laki-laki itu. Suaranya tenang, tapi ada sesuatu di sana — sedikit kelelahan, sedikit kepasrahan. "Maaf."