Rini tidak langsung menjawab. Dia juga tidak langsung menutup pintu — meskipun itu sebenarnya yang seharusnya dia lakukan, sesuai prinsip yang sudah dia tegakkan sejak tahun pertama buka penitipan. Tidak ada walk-in. Tidak ada darurat. Tidak ada pengecualian. Karena setiap pengecualian akan jadi pengecualian berikutnya, dan sebelum dia sadar, pengecualian itu akan jadi standar.
Tapi entah karena hujan yang masih turun seperti dimarahin langit, atau karena tatapan laki-laki itu yang tidak memohon — hanya menerima — Rini hanya berdiri di sana.
"Bapak siapa, ya?"
"Daffa. Daffa Prasetya."
"Profesinya?"
Dia berkedip. Kelihatannya tidak menyangka akan ditanya itu sebagai pertanyaan kedua. "Saya dokter hewan. Klinik Hewan Prasetya, di Jalan Cendana, tiga blok dari sini."
"Tiga blok?" Rini mengangkat alisnya. "Bapak punya klinik tiga blok dari sini dan saya nggak pernah tahu?"
"Saya... baru buka enam bulan lalu."
"Hmm."
Hujan masih turun. Daffa masih basah. Kucing di keranjang masih lapor pelan.
"Boleh saya masuk dulu?" Daffa bertanya, suaranya sopan banget sampai terasa seperti minta izin masuk istana. "Bukan masalah saya kalau basah. Saya cuma takut keranjangnya kemasukan air."
Rini menggeser tubuhnya. Bukan jawaban. Tapi cukup.
Daffa masuk dengan langkah hati-hati, seperti orang yang berusaha tidak membasahi terlalu banyak lantai. Yang justru lucu, karena dia sudah basah luar biasa dan jejak air di lantai tidak terhindarkan. Rini menyodorkan handuk yang tergantung di dekat pintu — handuk yang sebenarnya dia siapkan untuk Bonang kalau Bonang main hujan, tapi Daffa tidak perlu tahu detail itu.
"Makasih," kata Daffa, menerima handuk dengan tangan yang sedikit gemetar. Bukan karena gugup. Karena dingin.
"Bapak duduk dulu. Kucingnya saya pegang."
"Boleh saya jelaskan dulu?"
"Boleh sambil duduk."
Daffa duduk di kursi di dekat pintu — kursi yang Rini biasanya pakai untuk menerima dokumen dari kurir, atau untuk meletakkan tas saat sedang mengantar pelanggan. Dia menaruh keranjang di pangkuannya, lalu mulai menjelaskan dengan suara yang masih kalem meskipun dia jelas-jelas baru saja diguyur hujan setara air bah:
"Kucing ini namanya Mira. Sebenarnya bukan kucing saya — kucing pasien saya. Operasi sterilisasi pagi tadi. Komplikasi kecil, jadi harus diobservasi semalaman. Klinik saya nggak punya fasilitas inap dengan suhu terkontrol. Saya udah coba telepon dua tempat lain, satu nggak angkat, satu lagi penuh. Akhirnya saya ingat saya pernah lewat sini dan lihat plang Mbak. Saya udah coba telepon nomor di plang, tapi mungkin nggak masuk karena hujan. Jadi saya bawa langsung."
Dia berhenti.
Lalu menambahkan, lebih pelan: "Maaf."
Rini sudah menghitung. Sejak Daffa muncul, ini sudah kata "maaf" ketiga.
Dia tidak berkomentar tentang itu.
"Pasiennya kucing umur berapa?"
"Empat tahun. Sehat secara umum, cuma agak stress hari ini."
"Mbak Daffa—"
"Pak."
"Maaf?"
"Saya pak. Bukan mbak."
Rini menatapnya.
Daffa tampak ingin meleleh ke lantai.
"Iya," katanya pelan. "Maaf, saya—"
"Saya yang minta maaf," Rini buru-buru bilang. "Pak Daffa. Iya. Maksud saya, Pak Daffa. Tadi tuh refleks aja, saya emang sering nyebut 'mbak' ke semua orang."
"Nggak apa-apa kok. Saya juga sering disangka dokter perempuan di telepon. Suara saya emang—"
"Bukan, suara Bapak nggak feminin. Saya yang—"
Mereka saling memotong sebanyak dua kali dalam sepuluh detik dan akhirnya berdua diam, seperti dua orang yang sama-sama menyadari bahwa percakapan ini sudah melenceng dari yang seharusnya.
Mira, di keranjang, mengeong satu kali. Tegas. Seolah berkata: bisa kalian fokus dulu, please.
Rini menggaruk dahinya. "Oke. Pak Daffa. Sebelum saya jawab, saya mau jujur. Saya prinsipnya nggak terima walk-in."
"Saya ngerti."
"Karena nanti yang berikutnya jadi gampang."
"Saya ngerti."
"Tapi—" Rini menarik napas. Bonang yang dari tadi duduk di samping kursi sambil mengamati sudah pindah ke pangkuan Daffa, padahal Daffa masih basah. Bonang adalah pengkhianat profesional. "Hujannya kayak gini. Dan kucing Bapak baru operasi. Dan klinik penuh."
"Iya."
"Jadi sekali ini saja."
"Sekali ini saja."
"Bapak janji?"
Daffa menatapnya dengan wajah yang sangat serius. "Saya janji."
Rini ingin tertawa tapi tidak bisa, karena Daffa terlalu serius dan tertawa akan terasa seperti mengolok-olok.
"Okelah," katanya. "Saya siapin kandangnya. Bapak duduk dulu, keringin diri, dan jangan lepas Bonang. Dia akan tersinggung."
"Bonang?"
"Kucing oren di pangkuan Bapak."
Daffa menunduk. Melihat Bonang. Bonang menatap balik dengan ekspresi seseorang yang sedang menerima upeti. "Halo, Bonang."
Bonang mengeong sekali. Datar. Tapi tetap di pangkuan Daffa.
Rini menggeleng pelan dan masuk ke ruang dalam.
Dia mempersiapkan kandang dengan cepat — kandang khusus yang biasa dia pakai untuk kucing pasca-operasi, dengan alas yang lebih lembut dan bisa diatur suhunya pakai lampu kecil. Selama lima tahun terakhir dia sudah cukup sering merawat kucing pasca-operasi, walaupun biasanya pemiliknya yang membawa, bukan dokter hewannya.
Saat dia kembali ke ruang depan, Daffa sudah lebih kering — relatif. Rambutnya masih basah, tapi sudah tidak menetes. Pakaiannya masih basah, tapi sudah tidak membentuk genangan. Dan Bonang masih di pangkuannya, sekarang sudah tidur.
"Mari," kata Rini.
Daffa berdiri dengan hati-hati supaya tidak mengganggu Bonang, tapi Bonang langsung melompat turun dengan ekspresi seseorang yang sudah selesai menerima upeti dan sekarang punya urusan lain.
Mereka memasukkan Mira ke kandang. Mira kucing kecil — kucing kampung gemuk yang tampak lelah tapi nggak rewel. Rini memeriksa lukanya sebentar — sudah dijahit rapi, dressing-nya bersih. Daffa memang teliti, terlihat dari caranya kerja.
"Lukanya kering?"
"Iya. Saya sudah ganti dressing sebelum berangkat. Besok pagi saya ganti lagi."
"Bapak mau jemput jam berapa?"
"Pagi. Jam tujuh kalau bisa."
"Jam tujuh bisa."
Daffa mengangguk. Lalu, dengan canggung khas orang yang tidak biasa berurusan di luar profesinya, dia mengeluarkan dompet. "Berapa, Mbak?"
"Bayarnya nanti waktu jemput. Kalau kucingnya kabur, saya yang rugi."
Daffa terdiam sebentar. Lalu — untuk pertama kalinya sejak dia masuk — dia tersenyum sedikit. Senyum kecil. Bukan senyum lebar atau senyum sopan. Senyum yang seperti baru saja diingatkan sesuatu yang lucu.
"Bayar di belakang," katanya pelan. "Modelnya bisnis lama banget."
"Bapak bisa juga komentarin model bisnis saya?"
"Bukan komentar. Cuma — observasi."
Rini melipat tangan. "Kalau gitu, Bapak juga harus tahu kalau penitipan saya nggak terima pembatalan mendadak, nggak terima refund, dan nggak menerima saran masakan dari dokter hewan."
"Saya ngerti."
"Bagus."
Daffa mengangguk. Dia mengambil jaketnya yang tadi dia gantung di sandaran kursi. Jaket itu masih basah. Dia mengenakannya dengan wajah orang yang tahu dia akan tetap kuyup sampai sampai di rumah, dan tidak ada gunanya melawan kenyataan itu.
"Mira," katanya pelan ke arah kandang, "kamu baik-baik di sini, ya."
Mira mengeong sekali. Tidak menjawab. Tidak juga membantah.
Daffa berbalik ke arah Rini. Dia membuka mulut. Lalu menutup mulut. Lalu membuka mulut lagi.
"Mbak Rini," akhirnya dia berkata.
"Iya?"
"Terima kasih sudah—" Dia berhenti. Mencari kata. "—menyelamatkan saya juga, kayaknya."
Rini tidak sempat menjawab.
Daffa sudah membuka pintu, mengangguk sopan, dan keluar ke hujan yang masih turun deras.
Pintu tertutup pelan.
Bonang melompat ke kursi yang baru saja ditinggalkan Daffa. Mengendus bekas duduknya. Lalu duduk di atasnya dengan ekspresi seseorang yang menandai wilayah.
Rini berdiri di ruang depan untuk beberapa saat.
Dia tidak memikirkan apa-apa yang spesifik. Tapi dia juga tidak segera bergerak.
Akhirnya dia menggeleng pelan, berbalik, dan kembali bekerja.
Tapi malam itu, saat dia mengunci pintu dan mematikan lampu untuk tidur, dia menyadari satu hal yang terus terngiang.
Menyelamatkan saya juga, kayaknya.
Apa maksudnya "juga"?
Rini memutuskan untuk tidak memikirkannya.
Lalu dia memikirkannya cukup lama.
Lalu dia tidur.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar