Klinik itu lebih kecil dari yang Rini bayangkan.

Ini bukan klinik besar dengan ruang tunggu mewah dan AC yang terlalu dingin. Ini klinik kecil di ruko tiga lantai — lantai satunya saja yang dipakai untuk praktik, lantai dua kelihatannya kosong dari luar, dan ada papan kayu kecil di dekat pintu masuk yang bertuliskan, dengan tulisan tangan yang rapi: "Dilarang membawa anjing dan kucing yang sama secara bersamaan. Terima kasih."

Rini berdiri di depan pintu kaca dengan keranjang Bonang di tangan kiri dan kartu BPJS Mama di tangan kanan — yang baru dia sadari beberapa detik kemudian, yang ini nggak akan dipakai, Nik, ini kucing. Dia memasukkan kartu itu kembali ke dompet dan mencoba terlihat lebih tenang dari yang dia rasakan.

Di balik kaca, dia bisa melihat Daffa sedang berdiri di meja resepsionis sambil bicara dengan perempuan paruh baya — kelihatannya asisten atau front desk. Daffa belum sadar Rini sudah datang. Rini melihat Daffa dalam mode-kerja-nya untuk pertama kalinya — Daffa dengan jas dokter putih, rambut yang sudah kering dan rapi, ekspresi yang lebih profesional dari yang Rini lihat malam itu di terasnya.

Rini menarik napas. Mendorong pintu.

Bel kecil di atas pintu berdering. Daffa menoleh.

Untuk satu detik, ada jeda di wajahnya — seperti dia sedang mengonfirmasi ke dirinya sendiri ini orang yang sama. Lalu dia tersenyum kecil. Senyum yang sama seperti tadi malam, saat dia mengomentari model bisnis Rini.

"Mbak Rini."

"Pak Daffa."

"Bonang sakit?"

"Tidak makan sejak pagi. Lemas."

Daffa langsung profesional. "Mari ke ruang dalam."

Rini mengikuti. Ruang pemeriksaan kecil, bersih, dindingnya putih dengan satu poster anatomi kucing dan satu poster anatomi anjing. Meja pemeriksaan stainless, lampu di atasnya. Ada satu rak kecil dengan obat-obatan dan alat-alat yang Rini tidak kenal namanya tapi tahu fungsinya secara umum.

Daffa membuka pintu keranjang dengan hati-hati. "Halo, Bonang."

Bonang mengeong sekali. Datar. Lemas. Tapi dia keluar dari keranjang sendiri — pelan, tidak agresif, dan langsung duduk di meja stainless seolah-olah dia tahu ini drill.

"Dia kucing klinik berpengalaman," kata Rini.

"Saya bisa lihat."

Daffa memeriksanya dengan tangan yang sangat tenang. Mengecek suhu, mata, gusi, perut. Bonang membiarkannya. Bahkan saat Daffa menekan-nekan pelan di perut bawah, Bonang hanya mengeong satu kali — bukan protes, hanya komentar.

"Dia umur berapa, Mbak?"

"Sekitar empat belas tahun. Saya pungut di pasar lima tahun lalu, waktu itu udah dewasa, kira-kira sembilan tahun. Jadi sekarang—"

"Sekitar empat belas."

"Iya."

Daffa mengangguk pelan. Dia mengangkat Bonang dengan satu tangan untuk merasakan beratnya — bukan dengan timbangan, hanya dengan refleks dokter yang sudah tahu berat normal kucing.

"Dia turun berat?"

"Sedikit. Saya pikir karena cuaca."

"Bisa jadi. Bisa juga bukan."

Daffa membuka mulut Bonang dengan lembut, memeriksa gigi dan gusi. "Gusinya pucat sedikit. Tapi bukan pucat darurat."

"Apa artinya itu?"

"Bisa banyak hal. Kucing setua Bonang biasanya mulai punya isu — bisa ginjal, bisa pencernaan, bisa cuma stress. Saya mau ambil sample darah biar pasti, kalau Mbak setuju."

"Setuju."

Daffa melakukannya dengan cepat. Bonang hanya mengeong pelan sekali saat jarum masuk, lalu kembali duduk dengan ekspresi seperti dia sudah pasrah dengan apapun yang manusia mau lakukan padanya hari ini.

"Hasilnya bisa keluar dalam dua jam. Tapi sementara, saya kasih cairan rehidrasi dan vitamin. Itu nggak akan menyakiti dia apapun penyebabnya."

"Boleh."

Daffa menyiapkan infus kecil. Bonang menatap jarum tanpa minat. Rini memperhatikan tangan Daffa — sangat presisi, sangat tenang. Dan dia memperhatikan satu hal lagi: di kantong jas dokter Daffa, ada sesuatu yang berbentuk kecil, persegi panjang. Dia tidak bertanya apa itu.

Sementara mereka menunggu, Daffa mempersilakan Rini duduk. Dia juga duduk di kursi seberang — bukan di balik meja, tapi di kursi pasien yang sebelahnya. Posisi yang sengaja netral.

"Bonang lima tahun ya bersama Mbak?"

"Iya."

"Dia dipungut di pasar."

"Iya."

"Di hari Mbak resign."

Rini menoleh ke Daffa.

Daffa kelihatan menyadari dia baru saja menyimpulkan terlalu jauh dari yang Rini ceritakan.

"Maaf," katanya. "Saya — kemarin malam Mbak bilang Mbak pungut dia waktu masih dewasa, sembilan tahun. Tadi Mbak bilang lima tahun lalu. Saya cuma — menghitung. Lupakan."

"Saya nggak bilang itu di hari resign."

"Iya, betul. Itu asumsi saya. Maaf."

"Tapi Bapak benar."

Daffa mengangkat alisnya.

"Hari yang sama," kata Rini. "Saya nggak sengaja lewat pasar setelah keluar kantor terakhir."

Daffa diam sejenak. Lalu, "Kalau begitu kayaknya Bonang yang nemu Mbak."

"Semua orang bilang begitu."

"Karena semua orang benar."

Rini tertawa pendek. Bukan tawa yang besar — tawa yang seperti embusan napas yang kebetulan ada suaranya. "Bapak Daffa," katanya, "Bapak nggak harus ramah ke saya gara-gara tadi malam."

"Saya nggak ramah karena tadi malam."

"Lalu?"

Daffa tampak ingin menjawab. Lalu mengubah pikirannya. Lalu — Rini bisa melihat ini di wajahnya — mengubah pikirannya lagi.

"Saya cuma — orangnya begini."

"Selalu minta maaf?"

"Selalu minta maaf."

Rini menatap dia. "Itu kebiasaan dari kapan?"

"Lama."

"Lama itu kapan?"

Daffa menatap Rini balik. Tatapan yang tidak menghindar, tapi juga tidak menjawab. Hanya — diam.

Lalu dia bilang, sangat pelan, "Lama, Mbak."

Rini tahu dia tidak akan dapat jawaban lebih jauh dari itu.

Dia tidak memaksa.

Mereka diam beberapa saat. Bonang tertidur di pangkuan Rini, infusnya sudah hampir habis.

Hasil darah keluar satu jam kemudian — bukan dua jam, karena lab klinik Daffa kecil dan tidak ada pasien lain hari itu. Daffa membaca hasilnya, mengangguk pelan, lalu menjelaskan dengan suara yang sangat tenang.

"Ginjalnya udah mulai turun. Belum darurat, tapi sudah tahap awal. Wajar untuk umurnya."

"Itu — gimana?"

"Berarti Mbak harus mulai ganti pola makan dia. Saya kasih rekomendasi makanan ginjal yang masih enak menurut kebanyakan kucing. Saya juga kasih vitamin. Dan — yang paling penting — dia harus minum lebih banyak."

"Bonang nggak suka minum."

"Bonang nggak akan suka mulai sekarang juga. Tapi kita bisa pakai trik. Air fontain kecil. Atau campur dengan kuah makanan basah."

Rini mencatat di kepala. Lalu, tanpa berpikir, menatap Daffa dan bertanya, "Bonang akan baik-baik aja kan?"

Daffa menatapnya kembali. Bukan dengan jawaban cepat. Tapi dengan tatapan yang sebenarnya — yang berarti dia memikirkan jawabannya dulu sebelum mengucapkan.

"Dia akan baik-baik aja untuk waktu yang lama, kalau Mbak rawat dengan baik. Tapi dia kucing tua, Mbak. Saya nggak mau bohong."

Rini mengangguk.

Dia memeluk Bonang lebih erat di pangkuannya. Bonang mengeong pelan, mungkin protes karena dipeluk terlalu erat, mungkin tahu apa yang baru saja Rini dengar.

Daffa berdiri, mengambil resep, mengembalikan Bonang ke keranjang. Saat Rini berdiri dan mengeluarkan dompet, Daffa menggeleng pelan.

"Nggak perlu, Mbak."

"Pak. Bapak udah ambil darah, kasih infus, hasil lab—"

"Nggak perlu."

"Saya bayar."

"Mbak, dengar." Daffa berhenti sejenak. "Tadi malam saya datang ke pintu Mbak tengah malam, hujan, tanpa janji, dan Mbak buka pintu. Saya nggak akan tahu harus bawa kucing pasien saya ke mana kalau Mbak nggak buka pintu. Konsultasi ini — anggap saja balasan."

"Pak Daffa—"

"Anggap saja itu."

Rini menatapnya.

Daffa menatap balik. Bukan dengan menantang. Bukan dengan memaksa. Hanya — bertahan di posisinya, dengan cara yang sangat tenang, yang membuat Rini tahu dia tidak akan menang berdebat di sini.

"Baik," kata Rini akhirnya. "Tapi sekali aja."

"Sekali aja."

"Saya nggak akan terima konsultasi gratis lagi."

"Saya juga nggak akan menawarkan lagi."

"Bagus."

"Bagus."

Mereka sama-sama mengangguk. Lalu, sama-sama, menyadari betapa kakunya mereka berdua dan sama-sama hampir tertawa — tapi tidak ada yang sebenarnya tertawa, karena entah kenapa rasanya akan terlalu cepat.

Rini berjalan keluar dengan Bonang di keranjang dan resep di tangan. Di pintu, dia berhenti sebentar.

"Pak Daffa."

"Iya?"

"Mira sehat?"

"Pulang ke rumahnya pagi tadi. Saya udah jemput jam tujuh seperti janji."

"Bagus."

"Iya."

Rini keluar.

Di jalan, sambil membawa Bonang pulang, dia merasakan sesuatu yang ganjil di dada — bukan tidak enak, tapi tidak biasa. Seperti hari biasa tapi sedikit miring. Seperti playlist yang volumenya berbeda dari yang biasa dia dengar.

Dia memutuskan untuk tidak menganalisis itu.

Dia memutuskan itu untuk kedua kalinya dalam dua hari.

Dia tahu, di tingkat yang dia tidak akui, itu artinya sesuatu.