Mama Rini datang setiap Selasa siang. Selalu Selasa, selalu siang, selalu tanpa pemberitahuan — meskipun pemberitahuan sebenarnya tidak diperlukan karena dia sudah datang setiap Selasa siang selama lima tahun terakhir.
Rini sudah tahu. Mbak Tum sudah tahu. Bahkan, kelihatannya, Bonang juga tahu — karena setiap Selasa siang, Bonang akan menempatkan dirinya di kursi paling empuk di ruang tamu, mengantisipasi kedatangan satu-satunya manusia di dunia yang akan membelai-belai dia sambil bilang, "Bonang, kasihan kamu. Ditelantarkan sama emakmu yang sibuk ngurus kucing orang."
Hari ini Mama datang jam dua belas lewat sepuluh, membawa rendang dalam wadah Tupperware besar yang berat sekali, dan komentar yang sudah pasti akan datang dalam lima menit pertama.
"Bau, Nik."
"Mama, ini penitipan kucing."
"Ya tapi tetep aja bau."
"Mama, kucingnya delapan belas. Kalau nggak bau, itu yang aneh."
"Mama nggak bilang Mama nggak ngerti. Mama cuma bilang bau."
Mama meletakkan Tupperware di meja makan dengan gerakan ahli — gerakan ibu-ibu yang sudah lima puluh tahun meletakkan makanan di meja, yang tangannya tahu persis berapa banyak suara yang cukup untuk mengumumkan kehadiran tanpa terlalu berisik untuk dianggap ribut. Dia melepas sandalnya, menggantung tas di kursi, dan langsung — tanpa ditanya — masuk ke dapur untuk memeriksa kulkas Rini.
Rini tidak protes. Dia sudah lama menyerah pada bagian ini.
"Sayur kamu di kulkas udah layu, Nik."
"Iya, Ma. Tadi mau dibuang."
"Tadi kapan? Tahun lalu?"
"Mama."
"Mama cuma nyatakan fakta."
Rini menghela napas dan mengambil dua piring. Dia tahu protokol Selasa siang sudah harus dimulai: dia akan duduk, Mama akan menuangkan rendang ke piringnya, dan Mama akan bertanya hal-hal yang sebenarnya Mama sudah tahu jawabannya — bagaimana penitipan, ada berapa kucing sekarang, ada masalah apa minggu ini — sebelum akhirnya, di pertanyaan kelima atau keenam, akan datang pertanyaan yang sebenarnya.
Mereka duduk. Mama menuangkan rendang dengan tangan yang masih sigap di usianya yang sekarang sudah enam puluh tiga.
"Berapa kucingnya sekarang?"
"Delapan belas, Ma. Plus Bonang."
"Sembilan belas."
"Sembilan belas."
"Banyak amat."
"Bulan ini lagi tinggi. Banyak yang dinas luar."
Mama mengangguk. Mengunyah pelan. Menatap Rini.
Rini tahu pertanyaan kelima sebentar lagi.
"Nik."
"Iya, Ma."
"Kamu udah berapa lama nggak ke salon?"
Bukan pertanyaan kelima. Pertanyaan rute samping.
"Tiga bulan kali, Ma. Lupa."
"Rambutmu udah panjang banget."
"Iya."
"Kamu kayak nggak peduli sama diri sendiri."
"Mama, aku peduli. Aku cuma — sibuk."
"Sibuk ngurus kucing."
"Iya, Ma. Itu kerjaanku."
Mama meletakkan sendoknya. Bukan dengan keras. Hanya — meletakkan. Tapi ada sesuatu di gerakan itu yang membuat Rini tahu pertanyaan utama akan datang sekarang, bukan nanti.
"Nik."
"Iya, Ma."
"Mama nggak ngerti, kamu tahu kan?"
"Iya, Ma."
"Mama nggak ngerti kenapa kamu, anak satu-satunya Mama, lulusan UI, dulu udah jadi manager, sekarang malah—" Mama melambaikan tangan ke arah ruangan, ke arah kandang-kandang, ke arah lorong yang penuh, ke arah seluruh hidup yang Rini bangun lima tahun terakhir. "—begini."
"Mama udah pernah bilang."
"Mama tahu Mama udah pernah bilang. Tapi Mama akan tetap bilang. Karena Mama akan menyesal kalau Mama nggak bilang."
Rini diam. Dia tahu di titik ini, debat akan sia-sia. Mama tidak sedang minta jawaban. Mama sedang menyatakan keberadaannya sebagai mama.
"Kamu masih single, Nik."
"Iya."
"Tiga puluh dua."
"Iya."
"Rumahmu bau kucing."
"Iya."
"Dan Mama lihat kamu — Mama lihat — lebih kuyu dari waktu kamu masih di kantor itu."
Rini menatap rendang di piringnya.
Itu yang menusuk. Bukan komentar tentang bau, bukan komentar tentang single, bukan komentar tentang rambut. Komentar tentang kuyu.
Karena Rini tidak yakin Mama salah.
Beberapa minggu terakhir dia memang lelah. Bukan lelah yang dramatis. Lelah biasa. Lelah yang sudah jadi rutinitas. Tapi dia juga tidak yakin lelahnya sekarang lebih buruk dari lelah waktu di kantor — yang dia masih ingat, terkadang, di mimpi yang dia tidak mau ingat.
"Aku baik-baik aja, Ma."
"Mama tahu kamu akan bilang itu."
"Karena memang aku baik-baik aja."
"Nik. Mama mau kamu bahagia. Bukan baik-baik aja."
Rini menatap Mama.
Mama menatap kembali. Bukan dengan marah. Bukan dengan kecewa. Hanya — menatap, dengan cara yang hanya bisa dilakukan ibu kepada anaknya, yang tidak butuh kata-kata tambahan untuk mengatakan: Mama tahu kamu, dan Mama tahu kamu nggak sebahagia yang kamu pikir kamu adalah.
Rini tidak menjawab.
Dia hanya makan rendang.
Mama akhirnya mengangkat sendok lagi.
Mereka makan dalam diam selama beberapa menit.
Lalu Mama, dengan suara yang sudah kembali ke nada normal — nada Selasa-siang-biasa-saja — berkata, "Bonang gendut amat sekarang."
"Iya, Ma."
"Itu Mama yang ngajarin makan banyak ya?"
"Mama yang ngasih oleh-oleh ikan teri tiap minggu."
"Itu vitamin."
"Itu makanan kucing yang terlalu banyak."
"Itu vitamin."
Rini akhirnya tertawa — pelan, tapi sungguhan. Dan Mama, untuk pertama kalinya hari itu, juga tertawa.
Bonang, di kursi ruang tamu, mengeong sekali — seperti seseorang yang merasa namanya disebut dan ingin memastikan dia masih relevan.
Mama pergi jam tiga sore. Rendang ditinggal. Tupperware-nya akan diambil minggu depan. Rini melepas Mama sampai pintu pagar, sebagaimana dia melepas Mama setiap Selasa selama lima tahun terakhir.
"Mama," kata Rini saat Mama sudah hampir naik mobil.
"Iya?"
"Aku — aku ngerti. Maksud Mama. Aku ngerti."
Mama menatapnya. Lalu mengangguk. "Mama tahu kamu ngerti, Nik. Mama cuma — perlu kamu denger juga."
"Iya, Ma."
"Sampai minggu depan."
"Sampai minggu depan."
Mama masuk mobil. Rini berdiri di pagar sampai mobil itu menghilang di tikungan. Lalu dia kembali ke rumah.
Dan menyadari sesuatu.
Bonang, yang biasanya menyambutnya di pintu setiap kali dia masuk dari pagar, tidak datang menyambut.
"Bonang?"
Tidak ada suara.
Rini ke ruang tamu. Bonang masih di kursi — tapi tidak duduk seperti biasa. Dia berbaring. Dengan posisi yang aneh. Dan dia tidak menoleh saat Rini memanggil.
"Bonang. Sayang."
Rini mendekat. Menyentuh perutnya. Hangat — tapi tidak sehangat biasanya. Bonang membuka mata. Menatap Rini. Lalu menutup mata lagi.
Di dekat kursi, ada mangkuk makanan kucing yang Rini siapkan untuknya sebelum Mama datang.
Mangkuk itu masih penuh.
Bonang belum makan.
Bonang yang setiap hari makan paling pertama, paling cepat, paling banyak — tidak menyentuh makanannya.
Rini merasakan sesuatu yang dingin merayap di dada.
Dia tahu klinik yang paling dekat. Tiga blok dari sini. Plang biru. "Klinik Hewan Prasetya."
Dia mengambil HP-nya dengan tangan yang sedikit gemetar. Mencari di Google Maps. Mendapat nomornya.
Dia menelepon.
Tiga deringan.
Lalu sebuah suara mengangkat — suara yang sudah dikenalnya, suara yang sopan, suara yang tenang.
"Klinik Hewan Prasetya, dengan Daffa."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar