Bonang membaik. Pelan-pelan, tapi membaik.

Tiga hari setelah ke klinik, dia sudah makan dengan ritme yang lebih dekat ke ritme normal — meskipun masih lebih sedikit dari sebelumnya. Rini ganti makanannya, beli fontain air kecil seperti yang Daffa sarankan (Bonang awalnya menatap benda itu dengan tatapan "ini hinaan apa lagi?" sebelum akhirnya minum dari sana tiga hari kemudian), dan mulai membuat catatan khusus tentang Bonang di buku yang biasa dia pakai untuk catat kucing-kucing titipan.

Rini tidak menelepon Daffa lagi. Daffa juga tidak menelepon dia. Itu kesepakatan yang tidak diucapkan, tapi Rini tahu — Daffa orang yang akan menghormati batas yang sudah dibuat, bahkan kalau batas itu cuma diasumsikan.

Hari Sabtu pagi, lima hari setelah malam hujan itu, Rini bangun seperti biasa.

Setengah lima. Cakaran sopan di pintu. Bonang yang sekarang lebih perlahan tapi tetap tepat waktu. Mbak Tum yang datang jam setengah enam dengan tas plastik yang hari ini, sepertinya, berisi sesuatu yang berbentuk bulat dan agak besar — kelihatannya semangka.

"Mbak, ini buat Mbak. Anak saya beli tiga, kebanyakan."

"Mbak Tum, ini semangka."

"Iya."

"Tiga?"

"Iya. Anak saya kira lagi promo."

"Mbak Tum tahu kan saya tinggal sendiri?"

"Bagikan sama kucing-kucingnya."

"Kucing nggak makan semangka, Mbak."

"Bagikan sama tetangga."

Rini menggeleng pelan, menerima semangka itu, dan mulai pagi normalnya.

Sampai dia membuka pintu depan untuk mengambil koran yang biasa nyangkut di pagar.

Di teras depan rumahnya, di lantai, duduk seekor kucing hitam.

Bukan duduk di samping pagar. Bukan duduk di luar pagar. Di teras dalam pagar. Duduk dengan posisi yang sangat tenang — ekornya terlipat rapi di sekeliling kakinya, matanya kuning, menatap pintu yang baru saja Rini buka seperti dia memang sudah menunggu pintu itu terbuka.

Rini berhenti.

Kucing hitam itu menatapnya.

Rini menutup pintu.

Lalu membukanya lagi.

Kucing itu masih di sana.

"Mbak Tum," panggil Rini ke arah dapur.

"Apa, Mbak?"

"Ada kucing di teras."

"Kucing siapa?"

"Saya nggak tahu."

Mbak Tum datang dengan tangan masih basah dari mencuci. Dia menatap kucing itu. Kucing itu menatap balik.

"Tetangga punya?"

"Tetangga sebelah kanan punya kucing kuning. Tetangga sebelah kiri punya anjing. Tetangga depan nggak punya hewan. Saya udah tahu semua kucing di kompleks ini, Mbak Tum. Ini bukan dari sini."

"Mungkin nyasar."

"Mungkin."

Rini melangkah keluar. Kucing itu tidak bergerak. Rini berjalan ke sisi taman kecil di teras, melihat-lihat — barangkali ada catatan, kalung, sesuatu. Tidak ada. Kucing itu tidak punya kalung. Tidak punya tag. Bulu hitamnya kotor di beberapa bagian, tapi tidak kurus. Mata kuningnya jernih.

Bukan kucing telantar. Bukan juga kucing rumahan biasa.

Kucing yang ada di antara dua dunia.

"Pergi," kata Rini, halus tapi tegas. Dia menunjuk ke arah pagar yang terbuka. "Sana, pulang."

Kucing itu menatapnya. Tidak bergerak.

"Sana. Pulang."

Tidak bergerak.

"Saya nggak terima walk-in."

Mbak Tum di belakang Rini tertawa pelan.

"Mbak ngomong sama kucing kayak ngomong sama bapak-bapak yang nawarin asuransi."

"Mbak Tum, tolong fokus."

"Saya fokus, Mbak. Cuma ya, kucingnya nggak ngerti bahasa formal."

Rini menghela napas. Dia mendekat lagi — pelan, supaya tidak menakuti. Kucing itu membiarkan dia mendekat. Tidak menarik diri, tidak melarikan diri. Hanya menatap.

Rini berjongkok di depannya.

Kucing itu mengangkat kepalanya sedikit, seolah-olah memberi salam.

"Kamu siapa?"

Tidak ada jawaban, tentu saja.

"Kamu nggak punya rumah?"

Kucing itu mengedipkan mata. Pelan. Lambat. Kedipan kucing yang artinya — Rini tahu ini dari pengalaman — aku percaya kamu.

Rini menggeleng.

"Tidak. Tidak. Saya nggak akan terjebak."

Dia berdiri. Dia masuk kembali ke rumah. Dia menutup pintu.

Tiga puluh detik kemudian, dia membuka pintu lagi.

Kucing itu masih di sana.

Empat jam kemudian, kucing itu masih di sana.

Rini sudah selesai memberi makan delapan belas kucing titipan plus Bonang. Sudah mandi. Sudah sarapan (sisa rendang Mama). Sudah membersihkan kandang yang kosong (yang ditinggal Persi minggu lalu). Sudah mencatat tiga kucing yang akan dijemput pemiliknya besok.

Kucing hitam itu masih di teras.

Sekarang dia tidur. Posisi yang nyaman, di sudut teras yang teduh, seolah-olah dia memang berhak di sana.

Mbak Tum, yang sudah pulang sebentar untuk berbelanja dan kembali, melihat itu dan berkomentar, "Mbak, kucing itu nggak nyasar."

"Saya tahu."

"Dia milih sini."

"Saya — tahu."

"Saya kasih makan sedikit boleh?"

Rini terdiam.

Memberi makan kucing yang datang tanpa pemilik = memberi izin tinggal. Itu hukum yang sudah Rini tegakkan sejak hari pertama. Penitipan kucing ini punya 18 kucing yang membayar. Ada batas. Ada sistem. Ada alasan.

Tapi kucing itu — kucing hitam tanpa nama itu — sudah duduk di teras Rini selama empat jam. Tanpa berisik. Tanpa menggedor. Tanpa minta apa-apa. Hanya — ada.

Dan ada sesuatu di "hanya ada" itu yang Rini tidak punya energi untuk lawan hari ini.

"Sedikit aja, Mbak Tum."

"Sedikit."

Mbak Tum mengambil mangkuk kecil dan satu sendok makan basah. Dia membawanya ke teras. Meletakkannya di lantai, beberapa langkah dari kucing hitam itu.

Kucing itu membuka mata. Menatap mangkuk. Lalu menatap Mbak Tum. Lalu menatap Rini, yang berdiri di pintu menonton dengan tangan terlipat.

Lalu, dengan gerakan yang anggun dan terukur, kucing itu berdiri, berjalan ke mangkuk, dan mulai makan.

Tidak rakus. Tidak buru-buru. Seolah-olah dia memang yakin makanan ini sudah memang miliknya.

Rini menggelengkan kepalanya.

"Saya nggak akan ngasih dia nama," katanya, lebih ke dirinya sendiri daripada ke Mbak Tum. "Itu artinya boleh tinggal selamanya."

Mbak Tum mengangguk dengan ekspresi seseorang yang sudah punya pendapat tapi tahu sekarang bukan saatnya menyampaikan.

Sore harinya, hujan turun lagi — bukan hujan badai seperti malam itu, hanya hujan biasa.

Rini, yang sudah duduk di teras untuk waktu santai sore-sorenya, menyadari kucing hitam itu tidak ada lagi di sudutnya yang biasa.

Dia merasa sedikit lega.

Lalu dia merasa sedikit kosong.

Lalu dia merasa kesal sama dirinya sendiri karena merasa kosong gara-gara kucing yang dia tidak kenal.

Dia masuk ke rumah, mengunci pintu teras (karena hujan), dan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.

Saat dia melewati ruang tengah, dia melihat sesuatu di sofa.

Sesuatu yang hitam. Yang gulung. Yang bernapas pelan dengan ritme tenang seseorang yang sudah tidur lama.

Si kucing hitam itu. Tidur di sofanya. Di dalam rumahnya.

Yang Rini, secara teknis, tidak pernah mengizinkan masuk.

Rini berhenti.

Menatap.

Menyadari bahwa pintu samping yang menuju taman — pintu yang dia kira sudah dia tutup, tapi mungkin tidak dia kunci — kelihatannya cuma menutup tidak penuh.

Kucing itu — dengan caranya sendiri, kapan-kapan di antara empat jam terakhir, dengan diam-diam, dengan strategi yang lebih baik dari yang Rini akui — sudah memutuskan dia tinggal.

Bonang muncul dari arah dapur. Melihat kucing hitam itu. Tidak protes. Tidak mengeong. Hanya — menatap. Mengendus dari jarak. Lalu, dengan cara Bonang yang khas, melompat ke sofa, mencari spot di sebelah kucing hitam itu (bukan di atasnya, bukan terlalu jauh — di sebelah), dan duduk.

Dua kucing.

Di sofa.

Di rumah Rini.

Yang satu adalah kucingnya. Yang satu lagi adalah — apa? Tamu? Penyusup? Penghuni baru?

Rini menarik napas panjang.

"Aku nggak akan ngasih kamu nama," katanya pelan ke kucing hitam itu.

Kucing itu membuka satu mata. Menatapnya. Lalu menutup matanya kembali.

"Itu artinya kamu boleh tinggal selamanya. Aku nggak akan ngasih kamu izin itu."

Kucing itu tidak bergerak.

Bonang, di sebelahnya, mengeong satu kali — datar, pendek — seperti seseorang yang mau bilang, Mama, ini drama tuh nggak perlu, kucingnya udah nggak mau pergi.

Rini berdiri di sana untuk waktu yang cukup lama.

Lalu dia menyerah dan masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam tiga — dua, plus satu lagi, yang dia belum memberikan nama.

Di luar, hujan turun pelan dan tenang.

Di dalam, di sofa, dua kucing tidur berdampingan seolah-olah memang itu yang seharusnya terjadi sejak awal.

Dan Rini — meskipun dia tidak akan mengakuinya, bahkan kepada dirinya sendiri — mulai menyusun mangkuk ketiga di rak dapur, di sebelah mangkuk Bonang, dengan posisi yang sengaja diatur agar terlihat selalu sudah di sana.