Matahari baru saja naik sepenggalah di atas Kompleks Asri Permai, namun udara sudah terasa gerahβ€”bukan karena cuaca, melainkan karena hawa kompetisi yang tidak kasat mata. Di Blok C-12, Bu Ratna sedang berdiri di teras rumahnya yang bergaya minimalis modern, memegang selang air dengan anggun. Ia menyiram deretan tanaman monstera dan aglonema yang daunnya mengkilap seperti baru dipoles minyak goreng.

Setiap semprotan air itu ia arahkan dengan presisi, seolah sedang melakukan ritual suci. Namun, matanya tidak benar-benar tertuju pada tanaman. Sudut matanya terus melirik ke rumah sebelah, Blok C-14, rumah Bu Sari.

Pagi itu, sebuah pemandangan yang "mengganggu" indra penglihatan Bu Ratna muncul. Ada sebuah kardus besar tergeletak di depan teras Bu Sari. Tulisan di kardus itu mencolok: "Air Purifier Pro - HEPA Filter H-13".

Bu Ratna mendengus pelan. β€œOalah, gaya lagi. Pasti hasil promo flash sale semalam,” batinnya. Ia tahu betul, tiga hari lalu Bu Sari mengeluh di grup WhatsApp warga soal debu proyek renovasi jalan yang bikin sesak napas. Dan hari ini, benda itu sudah nangkring di terasnya. Bu Ratna merasa tertantang.

Tak lama kemudian, pagar rumah C-14 berderit. Bu Sari keluar dengan daster batik yang sebenarnya sudah agak pudar warnanya, tapi ia memakai kacamata hitam di atas kepalaβ€”seolah-olah sedang berada di kafe tepi pantai, bukan di teras rumah subsidi yang cicilannya masih lima belas tahun lagi.

"Eh, Bu Ratna! Rajin sekali pagi-pagi sudah menyiram anak emasnya," sapa Bu Sari dengan nada suara yang sengaja ditinggikan dua oktav agar terdengar oleh tetangga lain yang sedang memanaskan mobil.

Bu Ratna mematikan keran. Ia menyeka keringat imajiner di dahinya dengan sapu tangan sutra. "Iya nih, Bu Sari. Namanya juga barang hidup, harus telaten diurus. Kalau tanaman saja nggak terurus, gimana mau urus yang lain, kan? Eh, itu apa Bu? Barang baru lagi? Wah, lancar ya rezekinya, padahal kan Pak Bambang kabarnya baru kena rolling jabatan ke daerah?"

Senyum Bu Sari membeku sesaat. Rolling jabatan suaminya adalah luka yang belum kering, dan Bu Ratna baru saja menaburkan garam di atasnya dengan sangat halus.

"Aduh, Bu Ratna ini informasinya cepat sekali ya, melebihi intel," balas Bu Sari, kini sambil berkacak pinggang di balik pagarnya. "Iya, Pak Bambang memang dipindah, tapi kan tunjangannya malah naik, Bu. Makanya ini, dia minta saya beli penjernih udara yang paling bagus. Katanya, kesehatan paru-paru itu mahal, nggak bisa cuma modal nyiram tanaman biar kelihatan hijau tapi debu di dalam rumah numpuk."

Bu Ratna tersenyum tipis, jenis senyum yang biasanya diberikan oleh antagonis di sinetron sebelum melakukan rencana jahat. "Oh, betul sekali. Memang udara bersih itu penting. Tapi kalau saya sih, lebih milih udara alami, Bu. Makanya saya tanam banyak oksigen alami di sini. Lagipula, mesin begitu kan listriknya boros ya? Takutnya nanti pas tagihan datang, Ibu malah jadi sesak napas lagi gara-gara angkanya, bukan gara-gara debu."

Bu Sari merasakan dadanya mulai panas. "Ah, soal listrik sih nomor sekian, Bu. Yang penting anak-anak nyaman. Lagipula, gaya hidup itu pilihan. Ada orang yang milih investasinya di barang elektronik biar praktis, ada juga yang milih investasi di tanaman... tapi sayangnya tanamannya cuma buat pajangan biar dipuji tetangga, padahal di dalam rumahnya sepi karena suaminya pulang malam terus demi lembur."

Skakmat. Kini giliran Bu Ratna yang merasa darahnya naik ke kepala. Suaminya memang sering lembur, dan itu adalah rahasia umum yang selalu ia tutupi dengan narasi "Suami saya itu sibuk proyek besar".

"Lembur itu kan demi masa depan, Bu Sari. Daripada di rumah terus tapi bingung mau ngapain karena kerjanya cuma nunggu gajian yang pas-pasan," suara Bu Ratna merendah, tapi penuh penekanan.

Tepat saat itu, Bu Linda, tetangga dari Blok C-15 yang dikenal sebagai 'corong informasi' komplek, lewat sambil menenteng kresek belanjaan dari tukang sayur. Ia berhenti di antara pagar kedua wanita itu.

"Lho, Bu Ratna, Bu Sari... pagi-pagi sudah akrab banget ngobrolnya. Lagi bahas apa sih? Seru banget kayaknya sampai mukanya merah-merah gitu," tanya Bu Linda dengan wajah polos yang dibuat-buat.

Bu Sari langsung menyambar, "Ini lho Jeng Linda, Bu Ratna lagi khawatir sama tagihan listrik saya. Baik banget ya beliau, sampai keuangan orang lain pun dipikirin. Padahal saya saja nggak pernah kepikiran mau nanya gimana kabar cicilan kulkas empat pintunya yang kemarin itu."

Bu Ratna memaksakan tawa. "Hahaha, Jeng Linda jangan dengerin Bu Sari. Saya cuma lagi kasih tips kesehatan saja. Maklum, kita kan sudah nggak muda lagi, harus pinter-pinter jaga diri... dan jaga gengsi."

Bu Linda manggut-manggut, matanya berbinar. Ini adalah bahan ghibah kualitas premium untuk grup WhatsApp cadangan yang tidak ada Bu Ratna dan Bu Sari di dalamnya. "Oalah... gitu. Eh, sudah dengar belum? Katanya minggu depan ada arisan RT di rumah Bu Ketua. Katanya temanya 'Garden Party'. Pasti Bu Ratna senang banget nih, bisa pamer koleksi monstera-nya. Tapi ya itu, jangan sampai ada yang merasa kalah saing terus malah nggak datang ya."

Kata-kata Bu Linda seperti menyiram bensin ke api yang sedang menyala di hati kedua wanita itu. Arisan RT adalah medan perang yang sesungguhnya. Di sana, pameran perhiasan, cerita keberhasilan anak, hingga merek sepatu adalah senjata utama.

"Tentu saya datang, Jeng Linda," sahut Bu Ratna cepat. "Malah saya mau bawa hidangan spesial nanti. Kebetulan saya baru beli oven baru yang pakai teknologi uap, jadi makanannya lebih sehat."

"Wah, saya juga pasti datang," timpal Bu Sari tak mau kalah. "Saya rencananya mau pakai dress yang baru dikirim saudara dari luar negeri. Sayang kalau cuma disimpan di lemari, nanti malah jamuran kayak pemikiran orang-orang yang merasa paling hebat di komplek ini."

Setelah Bu Linda pergi, kedua wanita itu saling melempar tatapan terakhir.

"Saya masuk dulu ya, Bu Sari. Mau cek skincare saya, takutnya kalau kelamaan di bawah matahari nanti flek hitamnya makin banyak, nggak bisa ditutupin pakai bedak pasar," sindir Bu Ratna sambil memutar badan.

"Silakan, Bu Ratna. Jangan lupa kacamatanya dipakai, supaya nggak silau lihat keberhasilan orang lain," balas Bu Sari telak.

Suara pintu yang dibanting keras dari kedua rumah itu menandakan bahwa perdamaian semu yang selama ini mereka jaga telah retak total. Di dalam rumah masing-masing, keduanya langsung merogoh ponsel.

Bu Ratna membuka status WhatsApp-nya. Ia memotret tanaman aglonema-nya dengan caption: "Yang alami memang lebih menyegarkan daripada yang buatan mesin. #BackToNature #GakSukaPamerTapiPunya".

Lima menit kemudian, Bu Sari membalas dengan status foto kardus air purifier-nya: "Kesehatan itu investasi, bukan cuma gaya-gayaan di teras. Jangan sampai cantik di luar, tapi pengap di dalam. #SmartLiving #WaspadaDebuTetangga".

Perang dingin telah resmi dimulai. Dan di Kompleks Asri Permai, tidak ada yang namanya gencatan senjata.