Minggu pagi di Kompleks Asri Permai biasanya tenang, tapi tidak bagi penghuni Blok C-12 dan C-14. Sejak pukul tujuh, aroma masakan sudah bertarung di udara. Dari dapur Bu Ratna, tercium aroma salmon yang dikukus dengan rempah-rempah mahalβ€”sebuah upaya keras untuk membuktikan bahwa keluarganya adalah penganut gaya hidup sehat kelas atas. Sementara itu, dari dapur Bu Sari, semerbak aroma butter dan kayu manis menyeruak, tanda bahwa ia sedang menyiapkan pencuci mulut "bahan impor" yang ia banggakan di grup WhatsApp.

Pukul sepuluh tepat, rumah Bu Ketua RT sudah disulap menjadi area garden party. Meja-meja panjang ditata dengan taplak bunga-bunga. Ibu-ibu komplek berdatangan dengan dresscode floral yang meriah, tapi pusat perhatian semua orang hanya tertuju pada dua sosok: Bu Ratna yang datang dengan gamis sutra motif bunga lili, dan Bu Sari yang mengenakan gaun terusan bergaya kasual-elegan dengan kacamata hitam bertengger di kepala.

"Aduh, silakan duduk Ibu-Ibu cantik," sapa Bu Ketua RT dengan ramah, meski matanya terus melirik ke arah tas yang dibawa Bu Ratna dan Bu Sari secara bergantian.

Pertempuran dimulai saat sesi prasmanan. Bu Ratna dengan tenang meletakkan wadah keramik berisi Steamed Salmon-nya di tengah meja.

"Silakan dicicipi ya, Ibu-Ibu. Ini salmonnya segar sekali, baru sampai tadi subuh. Saya kukus pakai oven uap terbaru, jadi nutrisinya tidak hilang. Penting lho di usia kita ini makan yang tidak digoreng-goreng terus, biar kolesterol dan... wajah tidak cepat kusam," ujar Bu Ratna sambil melirik Bu Sari yang kebetulan sedang mengambil gorengan di piring lain.

Bu Sari tersenyum simpul, ia meletakkan Pudding Caramel dengan hiasan buah beri di samping salmon Bu Ratna. "Wah, salmon ya? Sehat sekali. Tapi hati-hati lho Bu Ratna, salmon kalau salah olah atau kualitasnya 'aspal', rasanya bisa amis sekali. Saya sih lebih pilih bawa ini, French Vanilla Pudding. Bahannya saya pesan khusus, vanilanya asli polong, bukan esens botolan yang seribuan itu. Biar lidah kita nggak kaget sama rasa yang 'biasa saja'."

Suasana meja makan mendadak hening. Ibu-ibu lain, termasuk Bu Linda, mulai memperlambat kunyahan mereka. Ini adalah pembukaan yang sangat menjanjikan.

"Eh, ngomong-ngomong soal yang 'biasa saja'," sela Bu Linda, sengaja memancing di air keruh. "Tadi saya lewat depan rumah Bu Sari, itu kardus besarnya sudah dibuang ya? Padahal kan bagus buat difoto-foto lagi."

Bu Sari tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan amplas. "Sudah dipasang dong, Jeng Linda. Udara di rumah saya sekarang sejuk sekali, bersih. Kasihan anak-anak kalau harus hirup debu dari jalanan... atau debu dari rumah tetangga yang jarang dibersihkan bagian atasnya."

Bu Ratna yang sedang mengunyah salmonnya hampir tersedak. Ia tahu itu sindiran untuk atap rumahnya yang memang sudah agak berlumut. "Memang ya, ada orang yang lebih mentingin udara di dalam rumah daripada nama baik di luar. Kalau saya sih, mending rumah apa adanya tapi cicilan tenang. Daripada barang mewah berjejer, tapi setiap tanggal muda mukanya pucat karena dikejar-kejar debt collector barang elektronik."

"Lho, siapa yang dikejar debt collector, Bu Ratna?" tanya Bu Sari dengan nada kaget yang dibuat-buat. "Maksud Ibu saya? Duh, jangan disamakan dong. Kami kan beli barang selalu cash. Kalau cicil-cicil itu biasanya buat orang yang 'maksa kaya' tapi tabungannya nol. Kayak yang beli oven uap tapi suaminya harus lembur bagai kuda sampai nggak pernah kelihatan di rumah itu, ya?"

Kali ini, Bu Ratna tidak bisa menahan diri. Ia meletakkan garpunya dengan denting yang cukup keras di atas piring porselen.

"Suami saya lembur karena tanggung jawabnya besar, Bu Sari. Proyeknya triliunan. Bukan kayak yang di rumah terus tapi sebenernya lagi pusing cari pinjaman sana-sini buat nutupi gaya hidup istrinya yang 'halu'. Ingat lho, jabatan itu titipan, kalau tiba-tiba dicabut karena kinerja buruk... ya wassalam."

Wajah Bu Sari memerah sempurna. Serangan soal jabatan suaminya adalah "tombol nuklir" bagi emosinya. "Maksud Ibu apa ya bawa-bawa jabatan suami saya? Kurang kerjaan sekali ngurusin dapur orang! Urusi saja itu anak Ibu yang kemarin saya lihat pulang malam-malam diantar cowok nggak jelas. Jangan-jangan sibuk ngurus tanaman sampai lupa ngurus moral anak sendiri!"

"Heh! Berani ya Ibu bawa-bawa anak saya!" Bu Ratna berdiri dari kursinya.

"Kenapa? Takut kenyataannya terbongkar? Ibu itu cuma jago bungkus borok pakai tanaman mahal!" balas Bu Sari, ikut berdiri.

Bu Ketua RT panik, ia mencoba menengahi. "Sudah, sudah Ibu-Ibu... ini acara arisan, bukan ring tinju. Malu dilihat warga lain."

Tapi "racun" sudah menyebar. Di saat yang sama, ponsel Bu Linda berdenting. Ia melihat notifikasi grup WhatsApp "Geng Cantik Elegan" yang ternyata belum ditutup oleh Bu Ratna. Secara tidak sengaja, Bu Linda memperlihatkan layar ponselnya ke tetangga sebelah yang merupakan sekutu Bu Sari.

Dalam hitungan detik, rahasia-rahasia kecil yang mereka simpan di grup WhatsApp masing-masing mulai bocor. Hinaan tentang "leher abu-abu", "rumah jamuran", hingga "pinjol" berpindah dari dunia digital ke telinga semua orang yang hadir di sana.

"Oh, jadi begitu ya Bu Ratna? Di grup bilang saya bau daster?" teriak Bu Sari setelah mendapat bocoran dari temannya.

"Dan kamu bilang saya nenek sihir yang mau bangkrut?" balas Bu Ratna tak kalah kencang.

Arisan itu berakhir dengan kekacauan. Bu Ratna pulang dengan perasaan hancur karena rahasia suaminya yang sering lembur (ternyata karena sedang menghindari konflik rumah tangga) mulai terendus, sementara Bu Sari pulang dengan tangisan karena merasa harga dirinya diinjak-injak soal jabatan suaminya yang benar-benar di ujung tanduk.

Sesampainya di rumah, Bu Ratna tidak langsung masuk. Ia berdiri di teras, menatap tanaman aglonemanya yang tadi pagi ia sayangi. Tiba-tiba, ia merasa tanaman itu tidak ada artinya. Ia merogoh ponsel, jempolnya gemetar, bukan untuk meminta maaf, melainkan untuk memblokir nomor Bu Sari.

Namun, ia melihat sebuah status WhatsApp baru dari Bu Sari yang diposting satu menit lalu: "Ternyata yang selama ini dianggap teman adalah ular berbisa. Hati-hati sama tetangga yang kelihatannya suci tapi hatinya penuh busuk. #TetanggaMulutBeracun #KarmaIsReal"

Bu Ratna berteriak histeris di dalam rumahnya, membanting tas sutranya ke lantai. Perang ini belum berakhir, ia baru saja dimulai.