Kekacauan di rumah Bu Ketua RT tidak berhenti di teras rumahnya saja. Ibarat virus, kabar tentang "Arisan Berdarah" itu menyebar ke seluruh penjuru Kompleks Asri Permai lebih cepat daripada bau sampah di musim hujan. Sore itu, grup WhatsApp resmi RT 05 yang biasanya berisi info jadwal kerja bakti atau iuran keamanan, mendadak senyap secara mencurigakan. Kesenyapan itu justru lebih menakutkan bagi Bu Ratna; ia tahu benar bahwa di luar sana, puluhan jari sedang mengetik di grup-grup "bayangan" tanpa dirinya.
Di Blok C-12, suasana rumah terasa seperti peti mati. Bu Ratna duduk di sofa ruang tamu yang remang-remang, tidak berniat menyalakan lampu. Pikirannya terus memutar ulang kejadian tadi siang. Wajah merah padam Bu Sari, tatapan menghakimi Bu Linda, dan yang paling menyakitkan: bisik-bisik warga saat ia berjalan pulang dengan kepala tertunduk.
Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari Pak Hendra, suaminya.
Pak Hendra: "Bu, ini ada apa lagi? Kok teman kantor Bapak nanya, katanya Ibu berantem di arisan sampai bawa-bawa jabatan suami orang? Istri manajer Bapak kebetulan tinggal di blok sebelah, dia cerita ke suaminya. Sekarang Bapak jadi bahan omongan di kantor. Malu, Bu!"
Bu Ratna melempar ponselnya ke ujung sofa. Air matanya menetes, bukan karena menyesal telah menghina Bu Sari, tapi karena ia merasa menjadi korban. Ia merasa semua orang tidak adil kepadanya.
Sementara itu, di Blok C-14, situasinya tidak jauh berbeda—bahkan mungkin lebih panas. Pak Bambang baru saja sampai di rumah dan langsung mendapati Bu Sari sedang menangis sesenggukan sambil membanting botol-botol skincare-nya ke kasur.
"Puas kamu sekarang, Sari? Puas?!" suara Pak Bambang menggelegar di kamar tidur. "Baru saja Mas dipanggil atasan lewat telepon. Katanya ada laporan kalau keluarga Mas sering pamer kekayaan yang tidak wajar di lingkungan, sampai bawa-bawa urusan kantor ke ranah publik. Mas sudah bilang, kita ini lagi dipantau karena efisiensi perusahaan! Kenapa kamu malah cari gara-gara sama istrinya Pak Hendra?"
"Dia duluan yang mulai, Mas! Dia bilang Mas bakal dipecat karena kinerja buruk! Mana ada istri yang terima suaminya dihina begitu?" balas Bu Sari dengan suara serak.
"Tapi nggak perlu kamu balas dengan bawa-bawa urusan anak orang lain! Sekarang satu komplek tahu kalau kita lagi kesulitan ekonomi karena kamu keceplosan bilang soal 'cari pinjaman' pas lagi emosi tadi. Kamu pikir mereka bakal kasihan? Enggak, Sari! Mereka itu cuma haus tontonan!"
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Blok C-12 dan C-14 sama-sama gelap gulita lebih awal. Tidak ada status WhatsApp pamer makanan, tidak ada foto tanaman yang estetik. Yang ada hanyalah dua pasang suami-istri yang saling menyalahkan di balik pintu yang terkunci rapat.
Keesokan paginya, Kompleks Asri Permai terasa berbeda. Saat Bu Ratna mencoba keluar untuk mengambil koran, ia melihat Bu Linda sedang asyik mengobrol dengan dua ibu dari Blok D di depan rumahnya. Begitu melihat Bu Ratna, percakapan itu langsung terhenti. Mereka bertiga melempar senyum yang sangat tipis—jenis senyum "formalitas kepada orang bermasalah"—lalu segera bubar dengan langkah terburu-buru.
Bu Ratna merasa seperti penderita kusta di lingkungannya sendiri.
Di sisi lain, Bu Sari yang biasanya bangga dengan mobil yang diparkir di depan, kini merasa cemas setiap kali ada motor lewat. Ia takut itu adalah penagih hutang yang datang di waktu yang salah, atau lebih buruk lagi: tetangga yang sengaja lewat hanya untuk mengintip kehancurannya.
Dunia digital mereka pun mulai berbalik arah. Di grup "Anti-Ribet Squad", Mbak Tika yang tadinya sangat mendukung Bu Sari, mulai menarik diri.
Mbak Tika: "Duh Jeng Sari, kayaknya mending kita cooling down dulu deh. Masalah kemarin itu agak sensitif ya, bawa-bawa jabatan suami soalnya. Suami saya juga jadi agak risih kalau saya terlalu dekat dulu, takut kebawa-bawa urusan kantor. Maaf ya Jeng..."
Bu Sari melempar ponselnya ke lantai. “Munafik! Kemarin saja paling kencang komporin,” umpatnya dalam hati.
Dampak dari mulut beracun itu mulai merusak segala arah. Reputasi yang mereka bangun bertahun-tahun dengan bungkus "keluarga harmonis dan mapan" runtuh hanya dalam satu jam arisan. Racun yang mereka semprotkan satu sama lain kini justru berbalik menggerogoti hidup mereka sendiri.
Puncaknya terjadi pada sore hari, ketika sebuah mobil boks berhenti di depan rumah Bu Sari. Petugas keluar dan mulai mengangkut kembali kardus besar berisi air purifier yang tempo hari dipamerkan. Ternyata, pembayaran kartu kreditnya bermasalah dan barang tersebut ditarik kembali.
Bu Ratna, yang mengintip dari balik gorden, ingin sekali tertawa. Ia ingin sekali memotret kejadian itu dan mengunggahnya dengan caption pedas. Namun, tangannya tertahan saat ia melihat Pak Bambang keluar rumah dengan wajah hancur, memohon-mohon pada petugas agar tidak mengangkut barang itu di depan mata tetangga.
Di saat yang sama, sebuah mobil dinas kantor Pak Hendra berhenti di depan rumah Bu Ratna. Sopirnya menyerahkan sebuah surat resmi. Saat Bu Ratna membacanya, jantungnya seolah berhenti detak. Pak Hendra diminta menghadap dewan etik kantor karena adanya laporan mengenai ketidakharmonisan keluarga yang mempengaruhi citra profesional perusahaan.
Keduanya, di balik pagar masing-masing, baru menyadari satu hal: dalam perang antar tetangga, tidak pernah ada pemenang sejati. Yang ada hanyalah dua pihak yang sama-sama hancur, ditonton oleh orang-orang yang bertepuk tangan di balik layar ponsel mereka.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar