Kehancuran reputasi ternyata bukannya membuat Bu Ratna dan Bu Sari menarik diri untuk merenung, melainkan justru memicu insting bertahan hidup yang primitif: jika aku harus jatuh, maka kau harus jatuh lebih dalam lagi. Rasa malu yang membakar dada mereka kini bermutasi menjadi kebencian murni yang dingin. Mereka tidak lagi butuh kata-kata manis di depan warga; topeng itu sudah hancur berkeping-keping di lantai rumah Bu Ketua RT. Sekarang, yang tersisa hanyalah perang gerilya.

Senin pagi yang mendung di Kompleks Asri Permai terasa sangat mencekam. Bu Ratna berdiri di balkon lantai duanya, memandangi rumah Bu Sari dengan tatapan kosong. Di bawah, ia melihat pemandangan yang memuaskan hatinya: teras Bu Sari kosong. Air purifier kebanggaan itu sudah raib diangkut mobil boks kemarin sore. Namun, kepuasan itu sirna saat ia melihat Bu Sari keluar rumah dengan dandanan yang sangat menorβ€”mungkin terlalu menor untuk sekadar pergi ke pasarβ€”sambil menenteng tas belanjaan baru yang logonya sengaja dipamerkan ke arah kamera CCTV rumah Bu Ratna.

"Masih bisa gaya ya, padahal barang ditarik petugas," gumam Bu Ratna sinis. Tangannya meremas pagar balkon. Ia butuh sesuatu yang lebih besar untuk menghancurkan sisa-sisa kesombongan tetangganya itu.

Ide gila itu muncul saat ia melihat petugas kebersihan komplek sedang sibuk membersihkan selokan di ujung jalan. Bu Ratna turun dengan langkah terburu-buru. Ia menghampiri petugas itu dan memberikan selembar uang lima puluh ribu rupiah.

"Pak, tolong ya... selokan di depan rumah C-14 itu kayaknya mampet parah. Kalau bisa, tumpukan sampahnya agak digeser ke arah lubang pembuangan mereka saja biar nggak bau ke sini. Maklum, saya punya alergi debu dan bau," bohong Bu Ratna dengan wajah meyakinkan.

Petugas itu, yang tidak tahu-menahu soal perang dingin antar nyonya besar, hanya mengangguk patuh. Tak lama kemudian, aliran air selokan yang hitam dan berbau busuk mulai tertahan tepat di depan gerbang rumah Bu Sari. Genangan air limbah itu perlahan naik, membawa aroma bangkai tikus dan sisa sayuran busuk yang menyengat tepat ke arah teras rumah Blok C-14.

Di dalam rumahnya, Bu Sari sedang mencoba menghubungi Mbak Tika, berharap sekutunya itu mau meminjamkan sedikit uang untuk menutupi cicilan kartu kredit yang macet. Namun, panggilannya terus dialihkan ke kotak suara. Saat itulah, indra penciumannya menangkap aroma yang tidak asing: bau selokan yang sangat tajam.

Ia berlari ke depan dan terpekik. Air selokan sudah meluap hingga membasahi ujung ubin terasnya. Dan di sana, berdiri Bu Ratna yang sedang pura-pura menyapu daun kering di depannya sendiri sambil menutup hidung dengan sapu tangan sutra.

"Aduh, Bu Sari! Itu selokannya kenapa ya? Kok baunya sampai ke rumah saya? Apa karena jarang dibersihkan ya? Kasihan lho, nanti kalau airnya masuk ke dalam rumah, perabotan 'impor'-nya bisa rusak semua kena air got," sindir Bu Ratna tanpa menoleh, suaranya terdengar sangat puas.

Bu Sari tidak bodoh. Ia melihat petugas kebersihan tadi berbicara dengan Bu Ratna. Ia tahu ini sabotase. "Oh, jadi ini mainnya? Oke," gumam Bu Sari dengan gigi bergeletuk.

Ia tidak membalas dengan kata-kata. Bu Sari masuk ke rumah, mengambil selang airnya sendiri, dan menyalakannya dengan kekuatan penuh. Ia tidak menyiram tanaman, melainkan mengarahkan semprotan air itu ke tumpukan sampah di depan rumahnya, mendorongnya kembali ke arah selokan Bu Ratna. Perang selokan pun pecah. Mereka berdua berdiri di depan pagar masing-masing, saling dorong sampah menggunakan aliran air selang, sementara air kotor menciprat ke mana-mana, mengenai daster mahal mereka, mengenai pilar rumah mereka yang megah.

"Ibu gila ya! Sampahnya balik ke sini!" teriak Bu Ratna, martabatnya hilang seketika saat cipratan air got mengenai wajahnya.

"Ibu yang mulai duluan! Jangan pikir saya nggak tahu Ibu nyogok tukang sampah! Dasar nenek sihir licik!" balas Bu Sari, terus menyemprotkan air dengan membabi buta.

Pertengkaran fisik hampir saja terjadi jika saja tidak ada mobil patroli keamanan komplek yang lewat. Keduanya langsung mematikan selang dan masuk ke rumah dengan napas terengah-engah, meninggalkan genangan air hitam yang kini merendam kedua depan rumah mereka.

Namun, itu hanyalah pembukaan. Sore harinya, Bu Sari melancarkan serangan balasan yang lebih sistematis. Ia tahu Pak Hendra, suami Bu Ratna, sangat menjaga reputasi kendaraannya. Setiap sore, mobil dinas Pak Hendra selalu diparkir dengan rapi di depan pagar.

Bu Sari mengambil segenggam biji jagung dan sisa nasi dari dapurnya. Dengan gerakan cepat dan sembunyi-sembunyi, ia menaburkan sisa makanan itu di atas atap mobil Pak Hendra dan di sela-sela pembersih kaca (wiper). Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi "pasukan" burung gereja dan burung dara liar di komplek itu untuk berdatangan.

Dalam sekejap, mobil sedan hitam yang mengkilap itu dipenuhi oleh burung-burung yang mematuk dan, tentu saja, meninggalkan kotoran di mana-mana. Tidak hanya itu, cakaran kecil dari kaki burung-burung itu meninggalkan baret-baret halus di cat mobil yang harganya setara dengan tiga tahun gaji Pak Bambang.

Saat Pak Hendra keluar rumah untuk berangkat ke pertemuan darurat di kantornya, ia hampir pingsan melihat kondisi mobilnya. "Ibu! Lihat ini! Siapa yang naruh nasi di atas mobil?!" teriak Pak Hendra frustrasi.

Bu Ratna keluar dan langsung menoleh ke rumah sebelah. Di balik jendela yang tertutup gorden tipis, ia bisa melihat bayangan Bu Sari yang sedang memegang ponsel, seolah-olah sedang merekam kejadian itu.

"Ini pasti kerjaan perempuan ular itu, Pak! Dia sengaja!" teriak Bu Ratna sambil menunjuk-nunjuk ke arah rumah Bu Sari.

Pak Hendra tidak lagi peduli siapa yang mulai. Ia merasa hidupnya hancur. "Cukup, Ratna! Cukup! Bapak sudah kena SP di kantor, mobil rusak, tetangga menjauh... Ibu mau kita diusir dari sini baru Ibu puas?"

Namun, kata-kata Pak Hendra hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Bagi Bu Ratna, ini bukan lagi soal keberlangsungan hidup, tapi soal siapa yang bertahan paling akhir.

Malam itu, Bu Ratna melancarkan sabotase digital yang paling mematikan. Ia memiliki akses ke salah satu akun "bodong" di media sosial yang sering ia gunakan untuk memantau musuh-musuhnya. Ia mengumpulkan semua foto-foto Bu Sari saat sedang pamer barang yang kini diketahui sebagai barang tarikan atau barang KW. Ia membuat sebuah thread di platform lokal dengan judul: "Hati-Hati Penipuan Gaya Hidup di Kompleks Mewah: Pamer Barang Impor Padahal Cicilan Pinjol Menumpuk".

Ia menyertakan inisial "BS dari Blok C-14" dan menyebarkan tautan tersebut ke grup WhatsApp warga yang isinya orang-orang yang membenci Bu Sari. Dalam sekejap, tautan itu viral di lingkungan internal komplek.

Efeknya instan. Pukul sepuluh malam, rumah Bu Sari didatangi oleh dua orang pria berjaket kulit yang tampak sangar. Mereka bukan penagih hutang resmi, melainkan orang dari koperasi simpan pinjam ilegal tempat Bu Sari diam-diam mengambil uang untuk menutupi hutang lamanya.

"Bu Sari! Keluar! Jangan sembunyi!" teriak salah satu pria itu sambil menggedor pagar besi dengan keras.

Suara gedoran itu memecah kesunyian malam. Warga mulai mengintip dari balik jendela. Bu Ratna berdiri di balik pintu rumahnya, tersenyum penuh kemenangan. Ia merasa inilah saatnya Bu Sari benar-benar hancur.

Namun, senyum itu hilang saat ia mendengar suara tangisan anak-anak Bu Sari dari dalam rumah. Suara ketakutan mereka terdengar sangat jelas di malam yang sepi. Dan tiba-tiba, sebuah ingatan melintas di kepala Bu Ratnaβ€”ingatan saat dua tahun lalu, ketika anak bungsu Bu Sari jatuh sakit dan Bu Ratnalah yang mengantarkannya ke rumah sakit tengah malam karena Pak Bambang sedang dinas luar kota. Saat itu, mereka masih saling memegang tangan, saling menguatkan.

Keheningan yang mencekam itu pecah ketika Pak Bambang keluar rumah dengan wajah pucat, mencoba bernegosiasi dengan pria-pria tersebut. Di saat yang sama, Bu Sari keluar dengan mata sembab, memeluk anak-anaknya di teras. Pemandangan itu terekam oleh kamera ponsel beberapa tetangga lain yang kini sudah berada di pinggir jalan, menonton pertunjukan "jatuhnya sang sosialita" dengan gembira.

Bu Ratna melihat Bu Linda di seberang jalan, sedang asyik merekam video sambil berbisik-bisik ke arah kamera ponselnya. "Lihat tuh, kasihan ya... gaya setinggi langit, jatuhnya ke got," bisik Bu Linda dalam videonya.

Tiba-tiba, rasa mual menyerang perut Bu Ratna. Bukan karena bau selokan, tapi karena ia menyadari bahwa dialah yang memicu kedatangan orang-orang itu malam ini lewat unggahannya. Ia menyadari bahwa di mata tetangga lain, ia dan Bu Sari hanyalah badut yang menghibur mereka. Saat Bu Sari hancur, giliran Bu Ratna yang akan menjadi target berikutnya.

Tapi egonya masih terlalu besar untuk melangkah keluar dan membantu. Ia memilih mematikan semua lampu rumahnya dan bersembunyi di dalam kamar, mendengarkan caci maki penagih hutang di sebelah rumahnya yang terus berlanjut hingga tengah malam.

Perseteruan ini telah berubah menjadi monster yang tidak bisa lagi dikendalikan. Racun itu kini tidak hanya ada di mulut mereka, tapi sudah merembes ke tanah tempat mereka berpijak, ke dalam rumah tempat mereka berteduh, dan ke dalam masa depan anak-anak mereka yang tidak berdosa.

Keesokan paginya, sebuah papan bertuliskan "RUMAH INI DIJUAL" terpasang di depan gerbang Blok C-14. Bu Sari dan keluarganya tidak terlihat. Rumah itu tampak kosong dan sepi, menyisakan bau selokan yang masih belum sepenuhnya hilang.

Bu Ratna berdiri di depan pagarnya, menatap papan itu dengan perasaan yang aneh. Ia menang. Musuhnya pergi. Rumah itu kini kosong. Tapi kenapa ia merasa seolah-olah dialah yang kehilangan segalanya?