Pintu rumah Blok C-12 dan C-14 mungkin sudah tertutup rapat, tapi di dunia digital, "pintu" itu justru baru saja didobrak lebar-lebar. Kompleks Asri Permai punya satu rahasia umum: setiap warga punya minimal tiga grup WhatsApp. Satu grup resmi yang ada Ketua RT-nya (untuk pengumuman sampah dan iuran), satu grup tanpa Ketua RT (untuk mengeluh soal iuran), dan satu lagi grup "VVIP" yang isinya hanya sekutu terdekat untuk menggoreng isu panas.

Di meja makannya yang berlapis taplak renda putih, Bu Ratna tidak lagi memegang selang air. Ia memegang ponselnya dengan jempol yang bergerak secepat kilat. Nafasnya masih agak memburu. Sindiran Bu Sari soal "suami lembur" benar-benar menghantam ulu hatinya.

Ia membuka grup WhatsApp bernama "Geng Cantik Elegan". Isinya hanya tiga orang: Bu Ratna sendiri, Bu Linda si informan, dan Bu Desi yang suaminya seorang pengusaha material sukses di ujung jalan.

Bu Ratna: "Jeng Linda, tadi lihat kan? Gayanya itu lho, astaga... kardus air purifier aja dipajang di teras kayak pajangan museum. Norak banget nggak sih?"
Bu Linda: "Iya Jeng, saya juga kaget. Mana tadi pas lewat, bau daster Bu Sari kayak belum dicuci tiga hari. Padahal katanya mau beli barang branded terus. Kontras banget ya sama kardusnya."
Bu Desi: "Halah, paling juga itu barang kredit di toko elektronik sebelah, Jeng. Suaminya kan lagi goyang jabatannya. Saya denger dari suami saya, Pak Bambang itu lagi banyak masalah di kantor. Makanya istrinya hobi pamer buat nutupin malu."
Bu Ratna: "Nah! Itu dia yang saya curigai. Kasihan ya, hidup demi validasi orang lain. Saya sih tadi cuma ngingetin pelan-pelan soal listrik, eh malah saya dibilang muka kusam. Padahal perawatan saya kan jelas, nggak kayak dia yang mukanya putih tapi lehernya abu-abu karena kebanyakan bedak tabur."

Bu Ratna tersenyum puas membaca balasan teman-temannya. Dukungan moral dari sekutu adalah bahan bakar terbaik untuk egonya yang sedang terluka. Namun, di sisi lain pagar, di rumah C-14, Bu Sari juga tidak tinggal diam. Ia sedang duduk di sofa barunyaβ€”yang memang masih bau pabrik dan agak kerasβ€”sambil mengetik dengan penuh emosi di grup "Anti-Ribet Squad".

Bu Sari: "Guys, tadi si nenek sihir sebelah mulai lagi. Masa saya beli air purifier dibilang pamer? Terus bawa-bawa jabatan suami saya lagi. Emang ya, kalau orang jiwanya miskin, lihat orang lain senang dikit langsung panas."
Mbak Tika: "Sabar Jeng Sari. Biasalah, dia kan merasa paling senior di komplek ini. Mentang-mentang rumahnya paling pojok dan tanamannya banyak. Padahal tanamannya itu kan cuma buat nutupin pager yang udah mulai keropos karena nggak mampu cat ulang."
Bu Sari: "Wkwk, bener banget Mbak Tika! Tadi saya sindir soal suaminya yang jarang pulang, mukanya langsung berubah jadi kayak tomat busuk. Rasain! Lagian siapa suruh nyenggol duluan. Eh, denger-denger arisan besok dia mau bawa masakan pakai oven uap baru katanya. Palingan juga beli jadi terus ngaku-ngaku bikin sendiri."
Mbak Tika: "Tenang Jeng, kita kasih panggung aja besok. Kita lihat sejauh mana dia mau akting jadi orang kaya paling sehat sedunia."

Pertempuran di layar kaca ponsel itu berlangsung hampir dua jam. Di balik layar, masing-masing pihak merasa menang karena memiliki "pasukan" yang membenarkan setiap kata-kata mereka. Namun, kenyataan di dunia nyata mulai terasa menyesakkan.

Siang harinya, Pak Hendra, suami Bu Ratna, pulang lebih awal karena ada dokumen yang tertinggal. Ia mendapati istrinya sedang sibuk memotret oven barunya dari berbagai sudut untuk bahan status WhatsApp selanjutnya.

"Bu, kok belum masak? Bapak lapar ini, mau balik ke kantor lagi," tanya Pak Hendra sambil mengusap wajah yang tampak sangat lelah.

"Bentar, Pak! Ini lagi cari angle yang pas. Nanti kalau difoto terus kelihatannya murahan, malah jadi bahan omongan Bu Sari sebelah. Bapak kan tahu sendiri, dia itu matanya kayak elang kalau soal barang orang lain," jawab Bu Ratna tanpa menoleh.

Pak Hendra menghela napas panjang. "Gusti... Ibu ini ya. Masalah tetangga kok dipikirin terus. Bapak kerja keras begini buat bayar cicilan oven itu, bukan buat Ibu berantem sama Bu Sari. Sadar Bu, kita ini hidup bertetangga, bukan lagi ikut lomba."

"Bapak nggak ngerti! Ini soal harga diri keluarga kita, Pak. Kalau kita kelihatan kalah, nanti kita diinjak-injak sama mereka!" bentak Bu Ratna, akhirnya meletakkan ponselnya dengan kasar.

Kondisi serupa terjadi di rumah Bu Sari. Pak Bambang baru saja masuk ke rumah dan hampir tersandung kardus besar yang masih ada di tengah ruang tamu.

"Sari! Ini barang kenapa nggak segera dipasang? Ganggu jalan aja," keluh Pak Bambang.

Bu Sari keluar dari kamar dengan wajah yang masih penuh masker hitam. "Tunggu dulu, Mas! Itu sengaja saya taruh situ biar orang lewat bisa lihat dulu. Kalau langsung dipasang di dalam, mana ada yang tahu kita punya barang baru. Mas itu gimana sih, nggak ada seninya hidup bermasyarakat."

"Seni apa? Seni cari musuh?" suara Pak Bambang meninggi. "Mas sudah bilang, jangan terlalu boros dulu. Posisi Mas di kantor lagi nggak aman. Bukannya nabung, malah beli ginian. Buat apa sih?"

"Buat kesehatan anak-anak, Mas! Dan buat bungkem mulut Bu Ratna yang tadi pagi udah berani nanya-nanya soal jabatan Mas! Mas mau kita diremehkan?"

Keduanya terjebak dalam lingkaran setan yang sama: mereka merasa perlu memiliki segalanya untuk membuktikan sesuatu kepada orang-orang yang sebenarnya tidak mereka sukai.

Sore harinya, udara di kompleks semakin panas saat rencana arisan diumumkan secara resmi di grup WhatsApp utama RT 05.

Ibu Ketua RT: "Selamat sore ibu-ibu cantik... Mengingatkan kembali arisan bulan ini di rumah saya ya, Minggu jam 10 pagi. Temanya Garden Party, dresscode: Floral/Bunga-bunga. Ditunggu kehadirannya ya semua!"
Bu Ratna: "Siap Bu RT! Insya Allah saya bawa menu 'Steamed Salmon' pakai oven uap baru saya, biar kita semua tetap sehat dan glowing. [Emoji Jempol]"
Bu Sari: "Wah, sehat banget ya Jeng Ratna. Saya juga Insya Allah bawa pencuci mulut spesial, pakai bahan-bahan impor yang kemarin saudara kirim. Biar lidah kita nggak kaget sama yang biasa-biasa aja. [Emoji Senyum Manis]"

Balasan-balasan itu memicu riuh rendah emoji dari warga lain. Namun, bagi yang paham subteksnya, itu adalah tantangan duel terbuka. Bu Linda, yang memantau dari rumahnya, langsung mengetik di grup pribadinya bersama Bu Ratna.

Bu Linda: "Jeng Ratna, lihat deh! Si Sari nggak mau kalah lagi. Masa bawa bahan impor? Palingan juga beli di minimarket depan komplek terus ganti label. Hati-hati Jeng, dia pasti mau nyolong panggung nanti."
Bu Ratna: "Biarin aja Jeng Linda. Orang kalau aslinya biasa aja, mau pakai bahan dari bulan pun rasanya bakal hambar. Saya sudah siapkan strategi biar dia kelihatan 'kecil' nanti di acara."

Malam itu, Kompleks Asri Permai seolah menyimpan bom waktu. Di balik tembok-tembok rumah yang saling berdempetan, ada kecurigaan yang semakin menebal. Persahabatan mereka yang dulu manisβ€”saat mereka masih saling meminjamkan garam atau menjaga anak-anak bermain bersamaβ€”kini telah terkubur di bawah tumpukan barang-barang bermerek dan status media sosial yang penuh duri.

Iri dengki bukan lagi sekadar perasaan, tapi sudah menjadi gaya hidup. Mereka tidak lagi bersaing untuk menjadi lebih baik, melainkan bersaing untuk membuat tetangganya merasa lebih buruk. Dan saat lampu-lampu rumah mulai padam, di balik kegelapan, kedua wanita itu masih sibuk memikirkan satu hal: Besok, hinaan apa lagi yang paling tajam untuk dilemparkan?