Hujan malam itu tidak turun seperti air, melainkan seperti ribuan jarum yang dilemparkan dari langit.
Nara duduk di depan meja kerjanya, menatap kosong pada deretan angka dan grafik di layar monitor yang berkedip menyilaukan. Secangkir kopi yang tadinya mengepul kini sudah berubah dingin, permukaannya memantulkan pendar biru dari layar. Jam di sudut kanan bawah monitor menunjukkan pukul 23:42.
Di luar, suara guruh bergulung pelan, menyerupai erangan binatang buas yang tertahan di kerongkongan. Nara memijat pangkal hidungnya. Kepalanya berdenyut. Sebagai seseorang yang terbiasa berpikir logis, terstruktur, dan rasional, cuaca ekstrem seperti ini selalu membuatnya merasa tidak nyaman. Hujan deras membawa terlalu banyak variabel yang tidak bisa dikontrol: kemacetan, jarak pandang yang buruk, hingga kecelakaan.
Kata terakhir itu melintas di kepalanya tepat sedetik sebelum ponselnya bergetar hebat di atas meja kayu.
Getarannya mengagetkan Nara, memecah keheningan apartemennya yang hanya diisi oleh dengung mesin pendingin ruangan. Ia melirik layar ponsel. Pemanggilnya adalah Tante Sarah—ibunda Dina.
Nara mengerutkan kening. Hubungannya dengan Dina memang sangat dekat, mereka bersahabat sejak masa kuliah. Namun, melihat nama ibunda sahabatnya muncul di layar pada hampir tengah malam memicu alarm kecil di kepala Nara. Terlebih lagi, ia dan Dina sedang berada dalam fase "perang dingin". Tiga hari yang lalu, mereka bertengkar hebat karena sebuah masalah sepele yang merembet ke mana-mana. Sejak hari itu, tidak ada satupun pesan atau telepon yang bertukar di antara mereka.
Dengan perasaan waswas yang berusaha ia tekan, Nara menggeser tombol hijau di layar.
"Halo, Tante?" sapa Nara, suaranya serak karena terlalu lama diam.
Tidak ada jawaban langsung. Hanya terdengar suara napas yang memburu, disusul oleh isakan tertahan yang sangat menyayat hati. Bulu kuduk Nara seketika meremang.
"Tante? Tante Sarah? Ada apa?" Nada suara Nara naik satu oktaf. Ia berdiri dari kursinya tanpa sadar.
"Nara..." Suara Tante Sarah di seberang sana terdengar pecah, seolah pita suaranya baru saja diiris. "Dina, Ra... Dina..."
"Dina kenapa, Tante? Dina baik-baik saja, kan?" Jantung Nara mulai berdebar lebih cepat. Otak logisnya mencoba menyusun probabilitas, tapi kepanikannya mulai mengambil alih.
"Kecelakaan, Ra... Mobilnya... Ya Tuhan, anakku..." Tangisan Tante Sarah meledak, tak lagi mampu ditahan. "Dia... dia sudah nggak ada, Ra. Dina meninggal."
Waktu terasa berhenti berdetak.
Nara berdiri mematung. Ruangan apartemennya tiba-tiba terasa berputar pelan. Suara hujan di luar jendela yang tadinya berisik, kini terasa mendengung jauh seperti kaset rusak. Paru-parunya seolah lupa bagaimana caranya menarik oksigen.
"Tante bercanda, kan?" Suara Nara nyaris berupa bisikan. Penyangkalan adalah reaksi pertama yang paling masuk akal. Ini pasti salah paham. Dina adalah pengemudi yang sangat berhati-hati. Dina tidak mungkin...
"Di Rumah Sakit Pusat, Ra. Tante sekarang di sini... Kamu ke sini ya, Nak. Tante mohon..."
Sambungan terputus.
Nara menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Ponsel itu perlahan merosot dari genggamannya, menghantam karpet tebal di bawah kakinya dengan bunyi buk yang pelan. Ia tidak menangis. Belum. Tubuhnya sedang menolak memproses informasi yang baru saja masuk. Ini pasti kesalahan. Mungkin Tante Sarah salah mengenali korban. Mungkin itu mobil orang lain.
Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling gelap, Nara tahu Tante Sarah tidak mungkin salah.
Perjalanan menuju rumah sakit malam itu adalah serangkaian gambar buram yang tidak koheren dalam ingatan Nara.
Ia menyetir menembus hujan badai yang semakin menggila. Wiper mobilnya berdecit keras, bekerja dalam kecepatan maksimal, namun tetap gagal menyapu air yang terus mengguyur kaca depan. Jalanan aspal memantulkan cahaya lampu jalan yang kekuningan, menciptakan ilusi cermin yang licin dan mematikan.
Kita baru saja bertengkar tiga hari yang lalu, batin Nara, mengulang kalimat itu terus-menerus seperti mantra yang rusak. Kita belum baikan. Lo nggak bisa pergi gitu aja, Din. Lo belum baca chat terakhir gue. Lo belum bales.
Setibanya di rumah sakit, bau khas karbol, antiseptik, dan dinginnya pendingin ruangan langsung menyergap penciumannya. Lorong rumah sakit yang pucat dan panjang terasa seperti labirin tanpa ujung. Saat Nara menemukan Tante Sarah duduk meluruh di depan pintu ruang jenazah, di situlah dinding penyangkalan Nara akhirnya runtuh berkeping-keping.
Ia melihat Raka—teman lama mereka semenjak masa kuliah—juga sudah ada di sana, memeluk Tante Sarah dengan wajah pucat pasi dan kemeja yang basah kuyup. Raka menoleh saat mendengar langkah kaki Nara. Tatapan pria itu kosong, matanya memerah. Tidak ada kata yang perlu diucapkan. Sorot mata Raka membenarkan semua mimpi buruk itu.
Nara melangkah gontai mendekati ruang jenazah. Pihak kepolisian yang berjaga menjelaskan kronologinya dengan nada datar yang profesional—nada yang justru membuat realita ini semakin kejam.
"Kecelakaan tunggal di jalan lingkar luar. Hujan sangat deras, jarak pandang minim. Kendaraan melaju cukup kencang, tergelincir, dan menghantam pembatas jalan beton sebelum akhirnya terbalik," jelas petugas itu sambil menyerahkan sebuah kantong plastik klip bening berisi barang-barang pribadi korban yang berhasil diselamatkan.
Di dalam plastik itu, Nara melihat ponsel milik Dina. Layarnya retak parah, menyerupai jaring laba-laba, dengan beberapa bercak kehitaman yang sudah mengering di sela-sela retakannya. Darah.
Nara merasa lambungnya bergejolak. Ia harus berpegangan pada dinding keramik yang dingin agar tidak tumbang.
Dina sudah tidak ada. Fakta itu akhirnya menghantamnya dengan kekuatan penuh, menghancurkan sisa-sisa pertahanan logikanya. Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya menggenang dan jatuh begitu saja, bercampur dengan titik-titik air hujan yang masih menempel di wajahnya. Malam itu, Nara menangis tanpa suara, membiarkan rasa bersalah dan kehilangan menenggelamkannya bulat-bulat.
Dua hari kemudian.
Pemakaman dilakukan di bawah langit abu-abu yang muram. Hujan seolah enggan berhenti sejak malam kecelakaan itu, menyisakan gerimis tipis yang membasahi tanah merah yang baru saja digali.
Nara berdiri agak jauh dari kerumunan pelayat, memegang payung hitamnya dengan erat. Matanya membengkak, pandangannya kosong menatap nisan kayu yang bertuliskan nama sahabatnya. Tante Sarah harus dipapah karena nyaris pingsan berkali-kali. Raka berdiri di seberang makam, menunduk dalam-dalam, rahangnya mengeras menyembunyikan duka.
Nara tidak bisa fokus pada doa-doa yang dirapalkan oleh pemuka agama. Pikirannya terus berputar pada satu hal: pertengkaran terakhir mereka.
“Lo tuh terlalu logis, Ra! Nggak semua hal di dunia ini bisa lo hitung pakai rumus dan logika lo yang kaku itu!”
Itu adalah kalimat terakhir yang diteriakkan Dina sebelum wanita itu membanting pintu apartemen Nara. Kalimat itu kini terus terngiang, menjadi gema yang menyiksa di dalam kepala Nara. Andai saja ia mencegah Dina pergi waktu itu. Andai saja ia mengirim pesan permintaan maaf lebih dulu. Andai saja.
Dunia yang logis dan masuk akal milik Nara telah mati bersamaan dengan tertutupnya liang lahad tersebut.
Sore harinya, setelah semua pelayat pulang dan tanah pemakaman kembali sepi, Nara kembali ke apartemennya. Tubuhnya terasa berat, seolah ia membawa bongkahan batu di pundaknya. Ruangan apartemennya terasa luar biasa kosong dan dingin. Ia melepaskan mantel hitamnya yang lembap, membiarkannya tergeletak di lantai, lalu menjatuhkan diri ke atas sofa.
Ia lelah. Lelah secara fisik dan mental. Yang ia inginkan hanyalah menutup mata dan berharap saat ia bangun, semua ini hanyalah mimpi buruk yang tidak masuk akal.
Di luar jendela, hujan kembali turun dengan deras. Rintiknya menghantam kaca dengan ritme yang konstan, mengingatkannya pada malam di mana Dina menghembuskan napas terakhirnya di dalam mobil yang ringsek.
Nara memejamkan mata, membiarkan kegelapan merengkuhnya.
Namun, tepat ketika kesadarannya mulai memudar, di tengah keheningan apartemen yang mencekam, sebuah suara memecah kesunyian.
Ting!
Layar ponsel Nara yang tergeletak di atas meja ruang tamu menyala dalam gelap. Sebuah notifikasi pesan masuk.
Nara membuka matanya dengan malas. Ia mendengus pelan, berpikir itu pasti ucapan belasungkawa dari rekan kerja atau kenalan jauh. Dengan sisa tenaga, ia meraih ponsel tersebut dan menyipitkan mata untuk membaca notifikasi di layar yang menyilaukan.
Napas Nara seketika tercekat. Jantungnya, yang sedari tadi berdetak lambat dan lelah, tiba-tiba memompa darah dengan kecepatan yang menyakitkan. Matanya membelalak lebar, menatap layar ponselnya seolah benda itu baru saja berubah menjadi makhluk hidup yang mematikan.
Di layar beranda, tertera sebuah notifikasi hijau dari aplikasi pesan singkat.
Dina (1 Pesan Baru) ▶ Voice Note (0:12)
Ruangan terasa berputar. Udara tiba-tiba terasa sangat dingin. Logika di kepala Nara berteriak bahwa ini tidak mungkin. Dina sudah dikuburkan beberapa jam yang lalu. Ponselnya yang hancur dan berlumuran darah ada di kantor polisi sebagai barang bukti.
Lalu... siapa yang baru saja mengirimkan rekaman suara ini?
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar