Pagi merayap masuk ke dalam apartemen Nara dengan enggan. Cahaya kelabu menembus celah-celah tirai vertikal, membawa serta sisa-sisa hawa dingin dari badai semalam. Hujan memang telah mereda menjadi gerimis tipis yang konstan, namun langit masih terlihat memar, seolah matahari menolak untuk menunjukkan diri setelah tragedi yang terjadi.

Nara terbangun dengan leher yang kaku dan rasa sakit yang menusuk di punggung bawahnya. Ia rupanya tertidur—atau lebih tepatnya jatuh pingsan karena kelelahan mental—di karpet ruang kerjanya, dengan posisi tubuh bersandar pada kaki meja. Headphone hitamnya tergeletak tak jauh dari tangannya, seolah benda itu adalah saksi bisu dari teror yang merenggut kewarasannya semalam.

Ia mengerjap perlahan, menyesuaikan matanya dengan cahaya pagi yang muram. Selama beberapa detik pertama, otaknya yang masih diliputi kabut tidur mencoba meyakinkan bahwa semua yang terjadi semalam hanyalah mimpi buruk. Kematian Dina, pemakaman di bawah hujan deras, dan... pesan suara itu. Ya, itu pasti hanya manifestasi dari rasa bersalahnya yang menumpuk.

Namun, ilusi kenyamanan itu hancur berkeping-keping begitu pandangannya jatuh pada layar ponsel yang tergeletak di atas meja. Benda itu ada di sana. Nyata.

Nara memaksa tubuhnya yang terasa berat untuk berdiri. Ia berjalan gontai menuju dapur, menyeduh kopi instan dengan air panas dari dispenser. Tangannya masih sedikit gemetar saat mengaduk cairan hitam pekat tersebut. Ia butuh kafein. Ia butuh sesuatu yang pahit dan panas untuk menyadarkannya bahwa ia berada di dunia nyata, dunia di mana logika dan hukum fisika masih berlaku.

Sambil memegang cangkir kopinya, Nara kembali ke ruang kerja dan menatap ponselnya. Ia tidak menyentuhnya, hanya menatapnya seolah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak.

Oke, mari kita bedah ini secara rasional, batin Nara, mengaktifkan kembali mode problem-solving yang selalu menjadi andalannya. Ia adalah seorang yang bekerja dengan logika. Ia memahami sistem, jaringan, dan kode. Di dunia ini, tidak ada yang namanya hantu di dalam mesin. Semua anomali pasti memiliki jejak logis.

Teori pertama: Delayed Message atau pesan yang tertunda. Nara membuka laptopnya, mengetikkan kata kunci dengan cepat di mesin pencari: 'WhatsApp server delay bug', 'voice note sent days later', 'timestamp error on messaging apps'. Ia membaca puluhan artikel di forum teknologi. Memang ada kasus di mana pesan tertahan di server karena masalah jaringan dan baru terkirim berhari-hari kemudian. Tapi, waktu pengiriman (timestamp) yang tertera pada pesan biasanya tetap menunjukkan waktu asli saat pesan itu dibuat, atau sistem akan memberikan indikator error. Pesan dari 'Dina' semalam masuk dengan timestamp pukul 23:42—waktu real-time saat Nara sedang duduk di apartemennya. Teori ini gagal.

Teori kedua: SIM Card Cloning atau kloning kartu SIM. Ini jauh lebih masuk akal. Seseorang, mungkin pencuri di lokasi kecelakaan, petugas derek yang nakal, atau siapa pun yang sempat memiliki akses ke puing-puing mobil Dina sebelum polisi mengamankannya, bisa saja mencabut kartu SIM Dina. Mereka memindahkannya ke ponsel lain, mengunduh ulang WhatsApp, dan memulihkan data. Tapi untuk apa? Motifnya apa? Memeras? Lelucon sakit jiwa? Dan bagaimana dengan detail suara Dina dan bunyi kabin mobil yang begitu spesifik?

"Rekaman lama," gumam Nara pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar serak dan asing di telinganya. "Pasti ada yang menemukan draft rekaman suara Dina yang belum sempat terkirim, lalu mereka mengirimkannya sekarang untuk meneror gue."

Ini adalah penyangkalan dalam bentuknya yang paling murni. Otak Nara sedang membangun jembatan logika dari ranting-ranting rapuh untuk menghindari jurang kenyataan yang terlalu menakutkan untuk dihadapi. Ia memegang erat teori kloning kartu SIM ini. Ini memberikannya sesuatu yang nyata untuk dilawan: seorang manusia brengsek, bukan entitas supranatural.

Nara meletakkan cangkir kopinya yang baru disesap sekali. Ia meraih ponselnya. Jarinya bergerak lincah membuka aplikasi WhatsApp. Ruang obrolannya dengan Dina masih berada di urutan teratas. Gelembung hijau berisi rekaman 12 detik itu masih menatapnya dengan tajam.

Nara mengetikkan sebuah pesan. Siapa ini? Jangan main-main. Ia menekan tombol kirim. Tanda centang satu berwarna abu-abu muncul. Terkirim ke server, tapi belum diterima oleh perangkat. Nara menunggu. Lima menit berlalu. Tanda centang itu tidak berubah menjadi dua. Sang pelaku sepertinya mematikan data selulernya setelah mengirimkan teror semalam.

Rasa frustrasi mulai menggelegak di dada Nara. Ia tidak bisa hanya duduk diam dan menunggu bajingan ini beraksi lagi. Ia harus mengkonfrontasinya. Ia harus membuktikan bahwa ada manusia lain di ujung sana.

Ibu jari Nara bergerak ke sudut kanan atas layar, menekan ikon telepon. Ia memilih panggilan audio WhatsApp.

Layar berubah, menampilkan foto profil Dina yang sedang tersenyum, dengan tulisan 'Memanggil...' di bawahnya.

Nara menempelkan ponsel itu ke telinganya. Jantungnya kembali berdetak dengan ritme yang memburu. Jika statusnya terus 'Memanggil...' (Calling), itu berarti ponsel tujuan sedang tidak terhubung ke internet. Itu akan mengkonfirmasi bahwa si pelaku sedang offline.

Tuuut... tuuut... tuuut... Suara nada tunggu itu terdengar standar, kosong. Bukti bahwa panggilan tidak masuk. Nara baru saja akan menjauhkan ponsel itu dari telinganya dengan helaan napas lega, ketika tiba-tiba layar berkedip.

Tulisan 'Memanggil...' (Calling) seketika berubah menjadi 'Berdering...' (Ringing).

Darah Nara seolah ditarik dari wajahnya hingga ke ujung kaki. Berdering. Itu berarti ponsel yang menggunakan nomor Dina sedang aktif. Terhubung ke jaringan internet. Menyala.

Nada panggil di telinganya berubah. Tidak lagi tuuut... tuuut... yang kosong, melainkan suara dering panjang yang khas ketika panggilan masuk ke perangkat penerima.

Tangan Nara mulai gemetar hebat. Angkat, batinnya menantang, meski seluruh insting primitifnya berteriak untuk segera mematikan panggilan itu. Angkat dan buktikan kalau lo cuma manusia biasa.

Dering pertama... Dering kedua... Dering ketiga...

Tiba-tiba, dering itu terputus dengan bunyi klik yang tajam. Timer di layar ponsel mulai berjalan: 00:01.

Panggilan itu dijawab.

Nara menahan napas. Mulutnya terasa kering seperti dijejali pasir. Ia memaksakan pita suaranya untuk bekerja. "Halo? Siapa lo? Gue laporin polisi kalau lo—"

Kalimat ancaman Nara terhenti di udara.

Tidak ada suara tawa mengejek di seberang sana. Tidak ada suara laki-laki asing atau remaja iseng. Sebagai gantinya, melalui speaker ponselnya, Nara mendengar suara yang sangat familier. Suara yang baru saja ia dengar semalam, yang berhasil menghancurkan pertahanannya.

Suara gemuruh hujan badai yang menghantam atap logam.

Nara membeku. Matanya membelalak lebar, menatap kosong ke arah dinding apartemennya. Ia menempelkan ponselnya lebih erat ke telinga, nyaris menyakiti tulang rawannya sendiri.

"Dina...?" bisik Nara, suaranya bergetar tak terkendali.

Dari ujung telepon, di sela-sela derau hujan yang memekakkan telinga, terdengar suara tarikan napas yang sangat berat dan basah. Seseorang sedang berjuang meraup oksigen di sana. Lalu, terdengar bunyi ritmis berfrekuensi rendah. Bzzzt... bzzzt... bzzzt... Suara lampu hazard.

"Ra..." Satu kata itu diucapkan dengan sangat pelan, nyaris tenggelam oleh suara hujan, namun efeknya bagi Nara seperti hantaman godam tepat di ulu hati. Itu suara Dina. Bukan rekaman. Ini live. Nara bisa mendengar bagaimana suara itu bergetar seiring dengan ritme napasnya di waktu yang bersamaan.

"Dingin, Ra..." Suara di seberang sana kini diselingi oleh bunyi gemeletuk gigi yang beradu. "Airnya... airnya mulai masuk. Kenapa lo belum dateng...?"

"Dina! Lo di mana, Din?! Bukannya lo udah—" Nara berteriak histeris, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Logikanya hancur berantakan. Otaknya mengalami korsleting antara apa yang ia ketahui sebagai fakta empiris dan apa yang sedang ia dengar saat ini.

Sebelum Nara bisa menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara logam yang berderit nyaring dan tajam, disusul oleh gemericik air yang mengalir deras, seolah ada kaca yang baru saja pecah dan membiarkan air bah masuk ke dalam kabin.

"Ra! RAAA!" Suara jeritan Dina melengking, penuh dengan keputusasaan dan teror yang absolut. Jeritan itu begitu nyata, begitu memilukan, hingga membuat Nara secara refleks menjauhkan ponsel dari telinganya.

Lalu... tut. tut. tut.

Panggilan terputus. Layar menunjukkan 'Panggilan Gagal'. Waktu menunjukkan durasi 14 detik.

Nara menjatuhkan ponselnya ke atas meja kerjanya. Napasnya memburu cepat, dadanya naik turun dengan kasar seolah ia sendiri baru saja tenggelam. Keringat dingin membasahi pelipis dan punggungnya. Ia mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak rak buku.

Penyangkalan itu telah mati. Tidak ada peretas. Tidak ada kloning kartu SIM. Tidak ada penjelasan teknis yang bisa menjawab bagaimana ia baru saja berbicara dengan orang mati di tengah badai hujan yang nyata.

Namun, sisa-sisa rasionalitasnya yang keras kepala menolak untuk menyerah sepenuhnya. Ia butuh satu bukti terakhir. Satu validasi fisik untuk memastikan bahwa ia benar-benar sudah gila.

Dengan tangan yang masih gemetar, ia meraih ponselnya kembali. Ia mencari kontak Tante Sarah dan menekan tombol panggil. Panggilan langsung tersambung pada dering kedua.

"Halo, Tante?" suara Nara bergetar, ia berusaha keras menstabilkannya.

"Iya, Ra? Ada apa Nak, pagi-pagi begini?" Suara Tante Sarah terdengar parau dan lelah, khas seseorang yang menangis semalaman.

Nara menelan ludah. "Maaf ganggu Tante istirahat. Ra... Ra cuma mau tanya sesuatu. Agak aneh pertanyaannya." Ia berhenti sejenak, mengumpulkan keberanian. "HP Dina... HP Dina yang dari polisi itu, sekarang ada di mana, Tante?"

Terdengar helaan napas panjang dari seberang. "Ada di laci meja rias Tante, Ra. Dari kemarin siang waktu polisi kembalikan, Tante masukkan ke situ. Tante belum sanggup melihatnya lama-lama. Kenapa, Ra?"

Jantung Nara merosot ke perutnya. "Tante... yakin? Tante bisa tolong cek sebentar?"

"Sebentar ya." Terdengar suara langkah kaki yang diseret, lalu bunyi decit laci kayu yang ditarik. "Iya, Ra. Ini ada di depan Tante. Masih di dalam plastik dari polisi. Kenapa, Nak? Kamu butuh data dari HP-nya? Tapi kata polisi ini sudah rusak total, mati total. Layarnya juga hancur."

Dunia di sekeliling Nara terasa berputar lambat. Matanya menatap kosong pada titik tak terlihat di dinding apartemennya.

"Mati total, Tante?" ulang Nara, suaranya kini nyaris tidak terdengar.

"Iya, Ra. Ditekan tombol apa pun tidak menyala. Sudah basah kuyup air hujan dan... darah." Suara Tante Sarah mulai kembali bergetar menahan tangis. "Ada apa, Ra?"

Air mata yang sejak tadi menggenang akhirnya jatuh membasahi pipi Nara. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana ia bisa menjelaskan kepada seorang ibu yang sedang berduka bahwa anak perempuannya baru saja menelepon dan menjerit minta tolong dari dalam mobil yang sedang tenggelam?

"Nggak apa-apa, Tante. Maaf Ra ganggu. Ra... Ra cuma kangen Dina."

Nara langsung mematikan sambungan telepon sebelum Tante Sarah sempat merespons.

Ponsel di tangannya kini terasa seperti sebuah artefak terkutuk. Jika ponsel asli Dina berada di laci kamar Tante Sarah dalam keadaan hancur dan mati total, lalu dari dimensi mana panggilan tadi berasal?

Ruang apartemennya mendadak terasa semakin dingin. Hujan gerimis di luar jendela perlahan mulai menderas, seolah merespons ketakutan yang kini sepenuhnya menguasai jiwa Nara. Penyangkalannya telah dihancurkan, menyisakan ruang kosong yang kini diisi oleh teror yang murni dan mencekam.