Telepon genggam itu tergeletak di atas meja kaca ruang tamu bagaikan sebuah granat yang pinnya sudah dicabut.

Nara duduk bersila di atas karpet berbulu, berjarak sekitar dua meter dari meja tersebut, memeluk lututnya erat-erat. Ia sudah duduk di posisi yang sama selama hampir tiga jam sejak panggilannya dengan Tante Sarah berakhir. Matanya memerah, kering, dan perih karena terlalu lama menatap layar ponsel yang kini sudah menghitam, namun tubuhnya menolak untuk beranjak.

Logikanya telah runtuh sepenuhnya. Fakta bahwa ponsel Dina yang asli tergeletak tak bernyawa di dalam laci meja rias Tante Sarah—hancur, basah, dan bersimbah darah—merupakan paku terakhir pada peti mati rasionalitas Nara. Panggilan telepon tadi pagi, suara napas Dina yang memburu, jeritan minta tolongnya, desau hujan badai... semua itu bukan berasal dari dunia yang Nara kenal.

Ia merasa seolah sedang berdiri di tepi jurang kegilaan, dan satu dorongan kecil lagi akan membuatnya jatuh terjerembap tanpa bisa kembali.

Hari merangkak menuju sore. Langit di luar jendela apartemennya tidak menunjukkan tanda-tanda akan cerah. Hujan gerimis yang sejak pagi mengguyur kini mulai menebal kembali. Awan abu-abu pekat bergulung rendah, menelan sisa-sisa cahaya matahari dan memaksa lampu-lampu jalan menyala lebih awal. Guntur bergemuruh pelan di kejauhan, menyerupai geraman makhluk raksasa yang sedang kelaparan.

Perut Nara berbunyi perih, memprotes karena hanya diisi oleh secangkir kopi hitam dan asam lambung sejak kemarin. Namun, membayangkan makanan saja sudah membuatnya mual.

Tiba-tiba, suasana apartemen yang hening dipecahkan oleh suara yang kini paling ditakuti oleh Nara.

Ting!

Tubuh Nara tersentak hebat hingga punggungnya membentur kaki sofa di belakangnya. Matanya terbelalak, menatap ngeri ke arah meja kaca. Layar ponselnya menyala, memancarkan cahaya putih kebiruan yang mengusir bayang-bayang di sekitarnya. Lampu indikator hijau berkedip pelan. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

Napas Nara kembali memburu. Ia tidak ingin melihatnya. Ia ingin berlari ke dapur, mengambil palu dari kotak perkakas, dan menghancurkan ponsel itu hingga menjadi serpihan debu. Ia ingin memutus semua koneksi dengan benda terkutuk itu.

Namun, rasa bersalahnya—rasa bersalah karena pertengkaran terakhir mereka, karena ia tidak ada di sana saat Dina membutuhkannya—menahannya. Bagaimana jika ini benar-benar Dina? Bagaimana jika, entah melalui anomali alam semesta atau dimensi yang retak, sahabatnya itu benar-benar terjebak di suatu tempat dan hanya bisa menghubungi Nara?

Dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan dari dasar jiwanya, Nara merangkak maju mendekati meja. Tangannya yang dingin dan gemetar meraih ponsel tersebut.

Di layar beranda, notifikasi itu terpampang jelas.

Dina (1 Pesan Baru) ▶ Voice Note (0:18)

Delapan belas detik. Enam detik lebih lama dari pesan pertama semalam.

Nara menelan ludah yang terasa setajam silet. Ia menggeser layar, membuka kunci, dan masuk ke ruang obrolan. Gelembung hijau baru itu berada tepat di bawah daftar riwayat panggilan gagal tadi pagi.

Nara tidak langsung memutarnya. Ia menatap gelembung itu selama beberapa menit, menyiapkan mentalnya untuk segala kemungkinan terburuk. Panggilan tadi pagi terputus tepat saat Dina menjerit karena air mulai masuk. Jika voice note ini adalah kelanjutan dari peristiwa tersebut, Nara tahu persis apa yang akan ia dengar.

Ia meraih headphone noise-canceling-nya, memakainya dengan gerakan lambat, dan memasang kabelnya ke ponsel. Ia harus mendengar setiap detailnya. Ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam mobil itu.

Dengan jari telunjuk yang bergetar hebat, ia menekan tombol play.

0:01... Tidak ada desis statis kali ini. Rekaman langsung dibuka dengan suara air. Namun, ini bukan sekadar suara rintik hujan yang menghantam atap mobil. Ini adalah suara air yang menggenang. Suara air kotor yang bergerak, berdesir, dan menabrak sesuatu di dalam ruangan sempit. Krosok... krosok... seperti suara ombak kecil yang menyapu material kain dan busa.

0:04... Terdengar suara batuk yang parah. Batuk basah yang mengerikan, seolah paru-paru si pembicara sedang berjuang mengeluarkan cairan.

"Uhuk... Ra..." Nara memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya langsung jebol. Suara Dina kali ini berbeda drastis dari pesan pertama dan panggilan telepon tadi pagi. Jika sebelumnya suara Dina dipenuhi oleh kepanikan yang meledak-ledak dan jeritan histeris, kali ini suaranya terdengar... pasrah. Sangat lemah, serak, dan putus asa. Itu adalah suara seseorang yang energinya telah terkuras habis oleh rasa dingin dan ketakutan.

0:08... "Ra... dingin banget, Ra..." Suara Dina diiringi bunyi gemeletuk gigi yang tak terkendali. "Airnya udah sedada gue... Kaki gue... kaki gue kejepit, Ra. Gue nggak bisa gerak..."

Nara mencengkeram lututnya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih. Deskripsi itu terlalu grafis, terlalu nyata. Ia bisa membayangkan kabin mobil Dina yang ringsek, gelap gulita, sementara air hujan yang bercampur lumpur perlahan-lahan naik menelan tubuh sahabatnya.

0:11... Di latar belakang, suara gemuruh hujan badai di luar mobil masih terdengar beringas, namun ada suara lain yang perlahan mendominasi frekuensi rekaman tersebut.

Kreeeeakkk...

Suara lengkingan logam yang tertekan. Diikuti oleh bunyi berderak yang sangat halus namun tajam, seperti suara es yang mulai retak saat diinjak. Tik... tik... tik... Sebagai seseorang yang logis, otak Nara secara otomatis menerjemahkan bunyi tersebut. Itu adalah suara kaca mobil. Kaca depan atau jendela yang sudah retak akibat benturan, kini sedang menahan tekanan air dan angin dari luar yang semakin masif. Kaca itu akan segera pecah.

0:14... "Gue takut gelap, Ra..." Suara Dina kini nyaris berupa bisikan yang ditelan oleh suara air yang terus bergolak di sekitarnya. "Tolong... jangan biarin gue sendirian di sini..."

0:16... Suara retakan kaca itu tiba-tiba mengeras. KRAAAKK! Lalu, disusul oleh suara gemuruh air bah yang menerjang masuk dengan brutal. Suara air itu menenggelamkan segalanya, memukul microphone ponsel dengan distorsi yang memekakkan telinga.

0:17... Di sela-sela distorsi air yang menderu, terdengar satu tarikan napas pendek yang tercekik—sebuah gurgling sound, suara gelembung udara terakhir yang lolos dari tenggorokan yang terendam air.

0:18... Klik. Rekaman berhenti.

Keheningan yang menyusul terasa seperti pukulan telak di gendang telinga Nara.

Ia membeku. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga dadanya terasa sakit, seolah tulang rusuknya retak dari dalam. Headphone di kepalanya terasa seberat besi. Ia merenggut benda itu dari telinganya dan melemparnya ke sembarang arah. Headphone itu membentur dinding dan jatuh ke lantai dengan bunyi keras.

"Arrrgh!" Nara berteriak, sebuah teriakan frustrasi, ketakutan, dan rasa sakit yang menyatu. Ia menangkupkan kedua tangannya ke wajah, menangis sejadi-jadinya hingga bahunya berguncang hebat.

Ia baru saja mendengarkan proses kematian sahabatnya.

Bukan rekayasa. Bukan cerita dari petugas kepolisian. Ia mendengarnya langsung. Ia menjadi saksi audio dari detik-detik terakhir Dina sebelum air merenggut nyawanya.

"Gue minta maaf, Din... Gue minta maaf..." racau Nara di sela-sela isakannya yang putus asa. Ia menunduk hingga dahinya menyentuh permukaan meja kaca. "Gue jahat... Harusnya gue ngejar lo malam itu. Harusnya gue larang lo bawa mobil."

Rasa bersalah itu bermutasi menjadi monster yang mencabik-cabik kewarasannya. Ia teringat kembali pada perdebatan konyol mereka. Perdebatan tentang hal sepele yang memicu ego masing-masing hingga Dina keluar dari apartemen ini dengan air mata bercucuran. Jika saja Nara sedikit menurunkan egonya malam itu, Dina pasti masih duduk di sofa ini bersamanya, menertawakan hal-hal bodoh di internet.

Nara mengangkat kepalanya perlahan. Pandangannya buram oleh air mata, menatap ke arah jendela apartemennya.

Di luar, hujan semakin mengamuk. Angin membanting rintik-rintik air ke kaca jendela dengan keras, menciptakan bunyi trak-trak-trak yang membuat Nara tersentak. Bunyi itu... bunyi air yang menghantam kaca jendelanya... entah mengapa terdengar sama persis dengan bunyi air yang menghantam kaca mobil Dina di dalam rekaman tadi.

Nara menelan ludah. Ia berdiri perlahan, kakinya masih gemetar. Entah dorongan masokis dari mana, ia berjalan mendekati jendela besar di ruang tamunya. Kaca jendela itu basah kuyup, mengaburkan pemandangan lampu-lampu kota di bawah sana menjadi coretan-coretan warna yang meleleh.

Saat Nara menempelkan telapak tangannya ke permukaan kaca yang sedingin es, matanya menangkap sesuatu yang membuat napasnya seketika berhenti.

Di antara pantulan wajahnya yang pucat dan berantakan di kaca jendela, tersembunyi di balik titik-titik air hujan yang mengalir turun... ada bayangan lain.

Itu sangat tipis, nyaris transparan, namun bentuknya terlalu spesifik untuk diabaikan oleh otaknya. Di belakang pantulan wajah Nara, di luar jendela apartemennya yang berada di lantai delapan, terbentuk sebuah siluet.

Bukan siluet manusia. Melainkan siluet sebuah kap mobil yang ringsek, dengan salah satu lampu hazard kuning yang berkedip samar dari balik kegelapan badai.

Nara terkesiap, terhuyung mundur hingga tersandung karpet dan jatuh terduduk di lantai. Ia menunjuk ke arah jendela dengan jari bergetar, mulutnya terbuka tapi tak ada suara yang keluar.

Ia mengerjapkan mata berkali-kali, mengusap wajahnya dengan kasar. Ketika ia kembali menatap ke arah jendela, siluet itu sudah hilang. Hanya ada kegelapan malam, hujan yang menderu, dan pantulan lampu ruang tamunya sendiri.

Halusinasi. Otaknya sedang memainkan trik kejam akibat kelelahan dan trauma audio yang baru saja ia alami.

Tapi saat Nara menunduk dan melihat layar ponselnya yang masih menyala di atas meja, menampilkan gelembung voice note kedua dari orang yang sudah mati, ia menyadari satu hal yang mengerikan.

Teror ini tidak hanya hidup di dalam ponselnya. Teror ini mulai merembes keluar, menembus realitas, dan perlahan-lahan menenggelamkan dunia nyatanya.