0:01...

Detik pertama diisi oleh desis statis yang tajam, seperti suara radio rusak yang mencari frekuensi di tengah badai. Nara memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan speaker ponsel itu menempel erat di telinga kanannya.

0:02...

Statis itu memudar, digantikan oleh suara gemuruh yang bergemuruh rendah namun konstan. Butuh sepersekian detik bagi otak Nara untuk mengidentifikasi suara tersebut. Itu adalah suara hujan. Hujan yang sangat deras, menghantam permukaan logam dan kaca dengan ritme yang memekakkan telinga. Suaranya bergema, terperangkap, mengindikasikan bahwa si perekam berada di dalam sebuah ruangan tertutup yang sempit. Sebuah kabin.

0:03...

Lalu, terdengar suara napas.

Napas itu memburu, terengah-engah, dan putus asa. Suara tarikan udara yang dipaksakan masuk ke dalam paru-paru yang seolah sedang terhimpit. Dan di sela-sela napas yang kacau itu, sebuah suara memecah derau hujan.

"Ra..."

Mata Nara langsung terbuka lebar. Bola matanya nyaris melompat dari rongganya. Jantungnya seakan berhenti berdetak selama satu ketukan penuh, sebelum akhirnya memompa darah dengan kecepatan yang membuat dadanya terasa mau meledak.

Itu suara Dina.

Tidak ada keraguan, tidak ada distorsi, tidak ada kemiripan yang dibuat-buat. Itu adalah pita suara sahabatnya. Nada panggilannya, seraknya, kepanikannya—semuanya mutlak milik Dina.

0:06...

"Ra, angkat, Ra... Tolong gue..." Suara di seberang sana kini terdengar gemetar hebat, diselingi isakan tangis yang tertahan. "Gue... gue masih di mobil, Ra. Gelap banget. Tolong jemput gue, Ra. Sakit..."

0:10...

Terdengar bunyi decit logam yang melengkung paksa—kreeeaaakkk—diikuti suara pecahan kaca yang berjatuhan seperti kristal yang dilempar ke lantai beton.

0:12...

Bunyi benturan tumpul mengakhiri rekaman itu dengan kasar. Garis gelombang audio kembali menjadi garis lurus.

Hening.

Ponsel di tangan Nara tergelincir, jatuh menghantam lantai kayu apartemennya dengan bunyi klak yang keras. Namun, Nara tidak peduli. Seluruh otot di tubuhnya mendadak kehilangan tenaga. Lututnya lemas, membuatnya merosot dari tepi sofa hingga terduduk di atas karpet.

Nara menatap ruang kosong di depannya dengan mulut setengah terbuka. Paru-parunya menolak bekerja. Udara di sekitarnya terasa lenyap dihisap oleh kevakuman yang ditinggalkan oleh dua belas detik audio tersebut.

"Nggak..." bisiknya, suaranya pecah, lebih mirip udara yang berdesis keluar dari ban kempis. "Nggak mungkin. Nggak mungkin."

Tangannya mulai gemetar liar. Sensasi dingin merayap dari ujung jari kakinya, naik ke tulang belakang, lalu mencengkeram tengkuknya dengan kuku-kuku es. Ia mencoba menarik napas panjang, tapi yang keluar justru suara tercekik. Nara sedang mengalami serangan panik.

Ia merangkak dengan susah payah menuju kamar mandi. Lantai kayu terasa membekukan lutut dan telapak tangannya. Begitu mencapai kloset, isi perutnya bergejolak hebat. Nara muntah. Ia memuntahkan semua rasa kaget, penolakan, dan teror yang baru saja menghantam kewarasannya. Hanya cairan asam lambung yang keluar karena ia nyaris tidak makan apa pun sejak hari pemakaman.

Setelah perutnya terasa kosong dan perih, ia bersandar pada dinding ubin kamar mandi yang dingin. Keringat sebesar biji jagung membasahi dahi dan lehernya. Ruangan kamar mandi itu terasa berputar.

Gue baru aja nguburin dia tadi sore, batin Nara menjerit liar. Gue lihat sendiri petinya. Gue pegang nisannya. Gue lihat mamanya nangis pingsan.

Lalu, suara siapa yang baru saja memanggilnya?

Bagaimana mungkin seseorang yang sudah berada dua meter di bawah tanah, membeku di dalam peti mati kayu, bisa mengirimkan pesan suara yang begitu jernih, mengemis untuk dijemput dari sebuah mobil yang rongsokannya sudah berada di tempat rongsokan polisi?

Nara memejamkan mata, memukulkan bagian belakang kepalanya ke ubin kamar mandi secara perlahan. Logika, Ra. Pakai logika lo. Ia memaksa otak analitisnya yang sedang sekarat untuk bangkit kembali.

Sebagai seseorang yang bekerja dengan data dan sistem, Nara tahu bahwa segala hal di dunia digital bisa direkayasa. Deepfake audio sudah sangat canggih. Seseorang dengan sampel suara yang cukup—mungkin dari video-video lama Dina di media sosial—bisa membuat AI (Artificial Intelligence) menirukan suara sahabatnya itu dengan tingkat akurasi 99%.

"Ya. AI. Pasti AI," gumam Nara, mencengkeram pinggiran wastafel dan memaksa dirinya berdiri. Ia menyalakan keran, membasuh wajahnya dengan air sedingin es berkali-kali hingga kulitnya memerah.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin di atas wastafel. Mata yang merah, bibir yang pucat, dan rahang yang mengeras karena amarah. Ketakutan yang tadi menguasainya perlahan mulai tergeser oleh kemarahan yang membakar. Jika ini benar-benar ulah seseorang yang meretas akun Dina dan menggunakan AI untuk membuat lelucon di hari kematiannya, Nara bersumpah akan melacak IP address orang itu, menyeretnya ke polisi, dan menghancurkan hidupnya.

Dengan langkah yang jauh lebih mantap dan dipenuhi adrenalin kemarahan, Nara kembali ke ruang tamu. Ia memungut ponselnya dari lantai. Layarnya tidak retak, hanya aplikasi WhatsApp yang masih terbuka, menampilkan voice note tersebut.

Ia berjalan ke meja kerjanya, mengambil headphone noise-canceling andalannya yang biasa ia gunakan untuk fokus bekerja, dan mencolokkannya ke ponsel. Ia tidak akan membiarkan ketakutannya menang. Ia akan membedah audio ini. Ia akan mencari celahnya. Ia akan membuktikan bahwa ini adalah rekayasa murahan.

Nara duduk tegak di kursi kerjanya, memakai headphone tersebut. Dunia luar seketika senyap. Hujan dan badai di luar jendela teredam sepenuhnya. Kini, hanya ada dia dan rekaman berdurasi dua belas detik itu.

Ia menekan play sekali lagi.

0:01... Desis statis. Nara mengerutkan kening. Analisis pertama: Jika ini adalah AI yang di-generate melalui software, noise atau suara latar belakangnya biasanya ditambahkan belakangan dan terasa artifisial. Namun, suara rintik hujan yang menghantam logam ini terasa terlalu nyata, terlalu organik.

0:03... Suara napas. Nara memejamkan mata, memfokuskan pendengarannya pada frekuensi napas tersebut. Tarikannya tidak stabil, ada suara cairan—mungkin darah atau dahak—di tenggorokan si pembicara. AI masih sangat kesulitan meniru suara pernapasan yang wet (basah) dan asimetris seperti ini.

0:06... "Ra, angkat, Ra... Tolong gue... Gue... gue masih di mobil, Ra. Gelap banget. Tolong jemput gue, Ra. Sakit..."

Nara menahan napas. Ia memutar bagian ini berulang-ulang. Menggeser slider audio mundur, maju, mundur, maju.

Ada satu detail kecil, detail yang sangat remeh, yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekat Dina. Saat Dina sedang sangat ketakutan atau menangis histeris, rahangnya cenderung menegang, membuat pelafalan huruf "R"-nya menjadi sedikit tertahan, nyaris terdengar seperti lisp atau cadel yang sangat halus.

Ra... angkat, Ya... Tolong gue...

Nara membuka matanya. Tubuhnya kaku seperti papan.

AI tidak mungkin mengetahui hal itu. Program komputer mungkin bisa meniru pitch, nada, dan timbre suara Dina, tapi tidak dengan cacat fonetik mikroskopis yang hanya muncul saat Dina sedang dalam kondisi psikologis tertentu.

Tidak hanya itu, ada suara lain di latar belakang yang baru ia sadari ketika menggunakan headphone. Di bawah suara hujan dan napas Dina yang panik, ada dengung ritmis berfrekuensi rendah.

Bzzzt... bzzzt... bzzzt...

Itu adalah suara lampu hazard mobil yang menyala di tengah kesunyian malam.

Analisisnya selesai, dan kesimpulannya adalah mimpi buruk yang paling mengerikan. Ini bukan rekayasa komputer. Ini bukan prank dari peretas iseng. Rekaman ini asli. Kondisi akustik kabin mobil, suara hujan, lampu hazard, dan detail suara Dina—semuanya otentik.

Nara mencabut headphone dari kepalanya dengan kasar, seolah benda itu baru saja mengalirkan listrik tegangan tinggi ke telinganya. Napasnya kembali memburu. Matanya menatap nanar ke arah layar ponsel yang kini layarnya sudah meredup.

Jika rekaman ini asli, lalu dari mana pesan ini berasal?

Polisi bilang Dina tewas di tempat kejadian. Mobilnya hancur. Ponselnya rusak parah sebelum sempat digunakan.

Lalu siapa, atau apa, yang baru saja berbicara padanya dari dalam kegelapan yang jaraknya tidak diketahui itu? Dan mengapa ia memintanya untuk menjemput?

Hujan di luar tiba-tiba menghantam kaca jendela apartemen Nara dengan kekuatan ganda, diiringi kilatan petir yang menyilaukan, seolah alam semesta sedang menertawakan sisa-sisa rasionalitas yang sedang berusaha mati-matian ia pertahankan.