Cahaya dari layar ponsel membelah kegelapan ruang tamu apartemen Nara, memancarkan pendar kehijauan yang terasa sangat tidak wajar. Di tengah ruangan yang hanya diterangi oleh kilatan petir sesekali dari balik jendela, kotak notifikasi itu tampak seperti sebuah halusinasi yang diproyeksikan oleh otaknya yang kelelahan.

Nara menahan napas. Udara di sekitarnya mendadak terasa membeku, meresap melalui pori-pori kulitnya dan menusuk langsung ke tulang. Matanya terpaku pada deretan huruf di layar kaca tersebut, membacanya berulang-ulang seolah ia tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk memahami bahasa manusia.

Dina (1 Pesan Baru) ▶ Voice Note (0:12)

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Logika Nara, sistem pertahanan mental yang selama ini ia bangun dengan kokoh, langsung bekerja layaknya alarm darurat. Ini tidak mungkin, batinnya berteriak. Ini anomali. Ini kesalahan sistem. Ini pasti ada penjelasan teknisnya.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Nara meraih ponsel itu. Benda pipih berbahan metal dan kaca tersebut terasa sedingin balok es di telapak tangannya. Ibu jarinya melayang di atas layar, ragu-ragu untuk menyentuh tombol buka kunci. Jantungnya berdebar begitu keras hingga ia bisa merasakan denyutannya di pelipis, berpacu melawan ritme hujan deras yang terus menghantam kaca jendela apartemennya di lantai delapan.

"Ini cuma delay," gumam Nara pada ruangan yang kosong, suaranya parau dan bergetar. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Ya, pasti delay dari server. Badai malam itu... sinyal pasti buruk. Pesannya baru terkirim sekarang. Masuk akal. Ini sangat masuk akal."

Ia mengusap layar, membuka kunci ponselnya. Aplikasi pesan singkat itu langsung terbuka, menampilkan ruang obrolan antara dirinya dan Dina.

Latar belakang ruang obrolan itu adalah foto selfie mereka berdua di sebuah kedai kopi enam bulan yang lalu. Dina tersenyum lebar, memamerkan gigi gingsulnya, sementara Nara berpose dengan wajah datar yang dibuat-buat. Pemandangan foto yang biasanya membuat Nara tersenyum itu, malam ini terasa seperti sebuah ironi yang mengerikan. Senyum Dina di foto itu kini terasa seperti tatapan dari alam lain.

Mata Nara langsung tertuju pada gelembung pesan hijau di bagian paling bawah. Gelembung itu berisi ikon mikrofon kecil, garis gelombang audio yang statis, dan durasi angka 0:12.

Ia menelan ludah yang terasa setajam kepingan kaca. Otaknya yang analitis mulai membedah setiap piksel informasi di layar itu. Jika ini adalah pesan yang tertunda (delayed message) dari malam kecelakaan, maka waktu pengirimannya seharusnya menunjukkan tanggal tiga hari yang lalu. Aplikasi biasanya akan mencatat waktu asal pesan tersebut dibuat, atau setidaknya memberikan indikasi bahwa ini adalah pesan lama yang baru masuk.

Namun, angka kecil di sudut kanan bawah gelembung hijau itu menghancurkan seluruh teori rasionalnya dalam sekejap.

23:42.

Nara tersentak mundur, nyaris menjatuhkan ponselnya lagi. Waktu yang tertera di layar ponselnya saat ini adalah 23:45. Pesan itu tidak dikirim tiga hari yang lalu. Pesan itu dikirim tepat tiga menit yang lalu. Tepat saat ia memejamkan mata di atas sofa.

"Nggak, nggak, nggak..." Nara menggelengkan kepalanya dengan cepat, mundur selangkah hingga punggungnya menabrak sandaran sofa.

Ingatannya kembali terlempar pada malam di rumah sakit. Kantong plastik klip bening di tangan petugas kepolisian. Di dalam plastik itu, ponsel Dina hancur tak berbentuk. Layarnya retak seribu, rangkanya bengkok, dan ada noda darah yang mengering di sudutnya. Polisi bilang ponsel itu mati total akibat benturan keras dan korsleting air hujan yang masuk ke dalam kabin mobil. Benda itu bahkan sudah masuk ke dalam daftar barang bukti dan dikembalikan ke Tante Sarah siang tadi setelah pemakaman.

Bagaimana mungkin sebuah ponsel yang mati total, layarnya hancur, dan berada di dalam laci kamar seorang ibu yang sedang berkabung, bisa mengirimkan pesan suara?

Seseorang membajak akunnya, pikir Nara cepat. WhatsApp Web. Ada orang iseng yang menautkan akun Dina di komputer dan mengirim pesan ini. Rasa takut di dada Nara kini perlahan bercampur dengan rasa marah yang mendidih. Siapa orang brengsek yang tega melakukan lelucon sakit jiwa seperti ini di malam pemakaman? Apakah ini ulah rekan kerja Dina yang membencinya? Atau hacker iseng yang mencari mangsa secara acak?

Nara memicingkan matanya, menatap status di bawah nama kontak Dina di bagian atas layar. Jika seseorang sedang menggunakan WhatsApp Web, statusnya pasti akan muncul tulisan 'Online' atau setidaknya 'Terakhir dilihat hari ini pada...'.

Kosong.

Tidak ada status apa pun. Tidak ada 'Online', tidak ada keterangan 'Terakhir dilihat'. Ruang di bawah nama Dina bersih, seolah nomor itu memang tidak pernah aktif. Fitur privasi? Mungkin saja. Tapi Dina tidak pernah menyembunyikan status online-nya dari Nara. Mereka sering begadang dan memantau status satu sama lain saat sedang lembur bekerja.

Nara meletakkan ponsel itu kembali ke atas meja dengan gerakan kasar, seakan benda itu baru saja mengeluarkan bisa beracun. Ia berdiri, meremas rambutnya dengan frustrasi, lalu mulai mondar-mandir di ruang tamu.

Suara hujan di luar terdengar semakin beringas. Angin menderu, menciptakan suara siulan panjang yang menyelinap dari celah-celah ventilasi. Apartemen seluas 45 meter persegi itu tiba-tiba terasa sangat luas, dingin, dan mengancam. Bayangan-bayangan yang dilemparkan oleh furnitur di bawah cahaya lampu jalan yang masuk dari jendela tampak memanjang, menyerupai siluet orang yang sedang berdiri menatapnya.

Nara berjalan ke arah dapur, menyalakan lampu, dan menuangkan air mineral ke dalam gelas dengan tangan yang masih gemetar. Air itu tumpah sedikit, membasahi meja pantry. Ia menenggak air itu rakus, berusaha mengembalikan kewarasannya. Suhu tubuhnya terasa menurun drastis, tapi keringat dingin terus mengucur dari pelipis dan tengkuknya.

Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela dapur. Wajahnya pucat pasi, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang pekat, dan rambut sebahunya berantakan. Ia terlihat seperti orang gila.

Ini cuma lelucon, Ra. Jangan biarkan otak lo dimanipulasi oleh ketakutan lo sendiri, batinnya mengafirmasi. Lo sedang berduka. Kondisi psikologis lo sedang tidak stabil. Halusinasi, paranoia, itu reaksi yang normal.

Tapi ponsel di meja ruang tamu itu nyata. Lampu indikator notifikasinya yang berwarna putih berkedip setiap sepuluh detik, sebuah pengingat visual yang konstan bahwa ada pesan yang belum dibuka. Pesan dari seseorang yang raganya baru saja ia lihat diturunkan ke dalam liang lahad beberapa jam yang lalu.

Dua belas detik.

Apa yang bisa diucapkan dalam waktu dua belas detik?

Rasa bersalah yang sejak tadi ia tekan kembali merayap naik, mencengkeram dadanya dengan kuat. Tiga hari yang lalu mereka bertengkar. Tiga hari yang lalu Nara meneriakkan kata-kata yang menyakitkan. Bagaimana jika... bagaimana jika ini benar-benar pesan terakhir Dina yang sempat nyangkut di server, dan kebetulan saja sistem mengalami bug pada timestamp-nya? Bagaimana jika isi voice note itu adalah permintaan maaf Dina sebelum mobilnya menghantam pembatas jalan? Atau lebih buruk lagi... bagaimana jika itu adalah suara Dina yang menangis karena ucapan kejam Nara?

Nara tidak akan pernah tahu jika ia tidak memutarnya.

Dengan langkah gontai yang terasa sangat berat, seolah pergelangan kakinya diikat dengan rantai besi, Nara kembali ke ruang tamu. Ia duduk di tepi sofa, mencondongkan tubuhnya ke arah meja. Ponsel itu masih tergeletak di sana, menunggunya.

Ia mengulurkan tangan. Ragu. Menariknya kembali.

Jari-jarinya terasa kebas. Ia menatap gelembung hijau itu lekat-lekat. Angka 0:12 itu terasa mengejeknya. Menguji seberapa jauh logika dan keberaniannya bisa bertahan.

Nara menarik napas panjang, menahannya di paru-paru, lalu memejamkan mata. Ia memanjatkan doa singkat yang entah ditujukan kepada siapa—berharap bahwa ketika ia menekan tombol putar, yang terdengar hanyalah suara angin, atau kresek statis, atau mungkin suara tawa seorang peretas yang bisa langsung ia maki-maki. Apa saja, asalkan bukan hal yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehatnya.

Perlahan, ia membuka mata. Dengan satu gerakan cepat dan putus asa, ujung telunjuk Nara menekan tombol play berbentuk segitiga di dalam gelembung hijau tersebut.

Animasi garis gelombang audio mulai bergerak. Detik mulai berjalan. 0:01... 0:02...

Nara mendekatkan speaker ponsel itu ke telinganya. Hujan di luar seolah berhenti berdetak. Dunia di sekelilingnya senyap, menyisakan ruang hampa yang kini hanya diisi oleh suara dari dalam perangkat tersebut.

Dan pada detik ketiga, rasionalitas Nara hancur lebur selamanya.