PRANG!

Sebuah piring keramik putih dihempaskan ke dalam wastafel baja. Suara benturannya begitu keras hingga memekakkan telinga, disusul cipratan air sabun yang mengenai wajah dan daster katun yang dikenakan Karina.

Tubuh Karina tersentak mundur. Napasnya tertahan. Tangannya yang masih berlumur busa sabun gemetar perlahan.

"Kamu pikir mencuci piring itu cuma direndam air lalu dibilas?!"

Suara tajam itu menggema, memecah keheningan dapur mewah bernuansa marmer hitam tersebut. Bu Sofiah berdiri berkacak pinggang hanya dua langkah dari tempat Karina berdiri. Sepasang mata wanita paruh baya itu menatapnya dengan kilat permusuhan yang tidak ditutup-tutupi. Alisnya yang disulam rapi menukik tajam.

"Lihat ini!" Bu Sofiah menunjuk ke arah piring keramik yang baru saja ia lempar. Jari telunjuknya yang dihiasi cincin berlian besar mengetuk-ngetuk permukaan piring dengan kasar. "Masih ada noda minyaknya! Kamu ini punya mata atau tidak? Atau memang di rumah asalmukamu tidak pernah diajari kebersihan dasar seperti ini?"

Karina menunduk. Ia menelan ludah yang terasa sebesar kerikil di tenggorokannya. Hatinya mencelos mendengar kata 'rumah asalmumu' diucapkan dengan nada begitu merendahkan. Ini adalah hari ketiganya tinggal di rumah keluarga suaminya. Hari ketiga sejak ia resmi menginjakkan kaki di tempat yang seharusnya menjadi surga barunya.

Namun, surga tidak memiliki dapur sedingin ini.

"Maaf, Ma," cicit Karina pelan. Ia segera memutar keran air, berniat mengambil piring itu kembali. "Karina cuci ulang sekarang."

"Tentu saja kamu harus cuci ulang! Memangnya siapa yang mau makan dari piring kotor bekas minyak seperti itu? Saya? Suamimu? Keluarga ini punya standar, Karina. Bukan standar sembarangan seperti yang biasa kamu jalani sebelumnya!" bentak Bu Sofiah lagi. Suaranya cukup keras untuk didengar oleh dua orang asisten rumah tangga yang sedang pura-pura sibuk menyapu di ruang makan seberang.

Kedua asisten itu hanya saling lirik, menunduk, tidak berani ikut campur.

Karina meraih spons cuci piring. Ia menggosok piring keramik itu kuat-kuat, lebih kuat dari yang seharusnya, mencoba menyalurkan rasa sesak yang tiba-tiba menekan dadanya. Air dingin mengalir membasahi jari-jarinya yang mulai keriput karena sudah hampir satu jam ia berdiri di depan wastafel ini.

Dulu, ia membayangkan kehidupan setelah menikah adalah tentang membuatkan kopi untuk suaminya di pagi hari, memasak sarapan bersama, lalu mengantar suaminya ke depan pintu dengan senyuman. Bukan bangun pukul empat pagi, diperintahkan untuk mengurus seluruh piring kotor sisa pesta semalam, sementara asisten rumah tangga justru dilarang membantunya.

“Biarkan Karina yang membersihkan semuanya, Bi. Dia kan anggota keluarga baru, harus tahu cara mengurus rumah. Biar tidak manja.”

Begitu kata Bu Sofiah tadi pagi saat Karina baru keluar dari kamar tamu.

"Masih ada sisa panci di kompor. Itu juga berkerak. Jangan cuma piring yang kamu urus. Bersihkan semuanya sampai mengkilap. Jangan sampai saya masuk ke dapur ini lagi dan masih mencium bau amis," titah Bu Sofiah. Nadanya dingin, tidak menyisakan ruang untuk bantahan.

"Iya, Ma," jawab Karina pelan. Ia tidak melawan. Ia tidak berani melawan. Ia mencintai Fadel, suaminya. Dan ibunya selalu berpesan sebelum ia menikah: Surgamu kini ada pada suamimu. Hormati keluarganya seperti kamu menghormati keluargamu sendiri.

Karina sedang berusaha melakukan itu. Sangat berusaha.

Tiba-tiba, suara derap langkah berat terdengar menuruni tangga. Jantung Karina berdetak lebih cepat. Itu Fadel. Aroma parfum maskulin yang sangat dihafalnya menguar perlahan memasuki area dapur.

Karina mengangkat wajahnya, menoleh dengan sebersit harapan.

Fadel muncul dengan setelan kemeja kerja yang rapi, lengan bajunya digulung hingga siku, dan rambut yang tersisir sempurna. Wajahnya yang tampan terlihat segar, berbanding terbalik dengan Karina yang wajahnya kusam, rambutnya dicepol asal, dan tubuhnya bau bumbu dapur.

"Ada apa ini pagi-pagi sudah ramai, Ma?" tanya Fadel. Ia berjalan menghampiri meja pantri, mengambil sebuah apel merah dari dalam keranjang buah.

Mata Karina bertemu dengan mata suaminya. Ia berharap Fadel melihat tangannya yang merah, melihat betapa lelahnya ia. Ia berharap Fadel akan berkata: Ma, biarkan asisten saja yang mengerjakan itu. Karina bukan pembantu.

Bu Sofiah langsung mengubah ekspresinya. Wajah yang tadinya kaku dan galak kini melembut seketika melihat putranya. "Ini loh, Del. Istrimu. Mama cuma minta tolong cuci piring, tapi masih berminyak semua. Mama kan khawatir nanti kamu sakit perut kalau piringnya tidak bersih."

Fadel mengunyah apelnya. Ia melirik ke arah wastafel, melihat piring-piring kotor yang menumpuk, lalu menatap Karina.

Tidak ada raut kemarahan di wajah Fadel, tapi juga tidak ada pembelaan. Fadel hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang biasanya membuat Karina luluh, tapi pagi ini terasa begitu menyakitkan.

"Ya sudah, Ma. Namanya juga Karina baru belajar menyesuaikan diri sama standar rumah ini," kata Fadel santai. Ia lalu menatap Karina. "Sayang, cuci yang bersih ya. Kamu kan tahu Mama orangnya perfeksionis banget soal kebersihan. Turuti saja, ya? Biar Mama senang."

Hati Karina seperti ditikam jarum kasat mata.

Turuti saja, ya?

Hanya itu?

Tidak adakah pembelaan untuknya? Karina baru tidur tiga jam semalam karena membantu menyiapkan acara arisan keluarga Bu Sofiah. Dan kini, ketika ia dipermalukan layaknya asisten rumah tangga yang tidak becus bekerja, suaminya hanya menyuruhnya untuk 'menuruti saja'?

Fadel mendekat, mengusap puncak kepala Karina dengan sayang yang terasa artifisial. "Aku berangkat ke kantor dulu ya. Kamu baik-baik di rumah temani Mama."

Karina ingin berteriak. Ia ingin menahan tangan Fadel dan memintanya melihat kenyataan. Aku istrimu, Mas. Bukan pesuruh ibumu. Tapi mulutnya terkunci rapat. Ia hanya bisa mengangguk pelan. "Iya, Mas. Hati-hati di jalan."

"Ma, Fadel jalan dulu," pamit Fadel, mencium pipi ibunya, lalu berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Kepergian Fadel seperti membawa pergi seluruh oksigen di dapur itu.

Bu Sofiah mendengus pelan, menatap punggung putranya yang menjauh dengan bangga, lalu kembali menoleh pada Karina dengan tatapan jijik.

"Kamu dengar sendiri, kan? Suamimu saja setuju dengan saya," desis Bu Sofiah. "Jangan pernah berpikir karena kamu sudah dinikahi anak saya, kamu bisa bersantai dan menjadi nyonya besar di rumah ini. Kamu harus tahu posisimu."

Bu Sofiah membalikkan badan, melangkah pergi meninggalkan dapur dengan suara hak sandal rumahnya yang berketuk arogan di lantai marmer.

Meninggalkan Karina sendirian.

Ditemani tumpukan piring berlemak, panci berkerak, dan harga diri yang hancur berserakan di lantai dapur.

Hari merambat lambat, seolah waktu sengaja mempermainkan penderitaan Karina.

Seharian itu, Karina tidak diberikan waktu untuk bernapas. Setelah urusan dapur selesai, Bu Sofiah memerintahkannya untuk menyortir pakaian-pakaian lama di ruang setrika. Saat Karina berniat beristirahat sejenak untuk makan siang, Bu Sofiah tiba-tiba memintanya memindahkan pot-pot tanaman di halaman belakang karena "tukang kebun sedang cuti".

Dua asisten rumah tangga, Bi Inah dan Siti, hanya bisa memandangnya dengan tatapan iba dari kejauhan. Mereka tahu nyonya besar mereka sedang menunjukkan kekuasaannya, menggarisbawahi teritori yang tidak boleh disentuh oleh menantu barunya.

Menjelang malam, sekujur tubuh Karina terasa remuk. Tulang-tulangnya seakan kehilangan pelumas. Telapak tangannya lecet karena memindahkan pot tanah liat yang berat.

Ia duduk di tepi ranjang di dalam kamar tamu—kamar yang ia tempati sejak malam pertama tiba di rumah ini. Awalnya, ia mengira mereka tidur terpisah karena kamar utama Fadel sedang direnovasi perlengkapannya. Itu alasan yang diberikan Bu Sofiah saat hari pertama menyambutnya.

Malam ini, tubuhnya terlalu lelah untuk menangis. Karina hanya menatap koper besarnya yang masih tergeletak di sudut ruangan. Koper merah muda berisi seluruh hidupnya yang ia bawa dari rumah kecilnya dulu. Ia belum sempat membongkarnya sepenuhnya.

Pintu kamar terbuka. Fadel masuk, masih mengenakan celana bahan dan kaus putih santai. Ia baru selesai mandi. Aroma sabun mandi yang segar membuat Karina sedikit mengangkat wajahnya.

"Mas..." panggil Karina dengan suara serak.

Fadel menoleh. "Kenapa, Rin? Sakit?"

"Sedikit lelah," jawab Karina jujur. Ia berharap suaminya akan mendekat, memijat pundaknya, atau setidaknya memberikan pelukan hangat yang ia butuhkan hari ini.

Namun Fadel hanya berdiri di ambang pintu. "Makanya, kalau kerja itu jangan terlalu diforsir. Mama kan cuma minta kamu beres-beres sedikit. Kamu jangan terlalu diambil hati kalau Mama agak keras, itu cara Mama melatih kamu jadi nyonya rumah."

Karina memejamkan mata sesaat. Sedikit? Melatih? Ia memilih untuk tidak mendebat. Berdebat dengan Fadel tidak pernah membuahkan hasil. Pria itu selalu memiliki seribu alasan untuk membela ibunya.

Karina bangkit berdiri dengan susah payah. Ia mengusap daster yang sudah digantinya sehabis mandi. "Mas, besok aku mau mulai beres-beres kopernya. Baju-bajuku aku susun di lemarimu sebelah mana? Aku takut salah taruh dan mengganggu barang-barangmu."

Pertanyaan itu sederhana. Pertanyaan wajar dari seorang istri yang baru pindah ke rumah suaminya.

Namun, ekspresi Fadel tiba-tiba berubah. Ia tampak salah tingkah. Pria itu mengusap tengkuknya dengan canggung, matanya tidak berani menatap langsung ke arah Karina.

"Eh... soal baju..." Fadel bergumam pelan.

"Kenapa, Mas? Lemarimu sudah penuh? Kalau penuh, aku bisa pakai lemari plastik dulu tidak apa-apa, asal ada tempatnya," tawar Karina dengan lembut.

"Bukan begitu, Rin," potong Fadel cepat. Ia menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan sesuatu yang ia tahu akan meledak. "Lemari di kamarku tidak bisa kamu pakai."

Kening Karina berkerut. "Maksudnya? Lalu bajuku ditaruh di mana?"

Fadel melangkah maju, tangannya memegang kedua bahu Karina. "Begini, Sayang. Mama... Mama bilang, untuk sementara waktu, kamu tidak bisa pindah ke kamar utama. Kamu tidur di sini saja dulu."

Darah Karina terasa berhenti mengalir. Ia menatap wajah suaminya, mencari kebohongan atau mungkin sebuah candaan. Tapi raut wajah Fadel sangat serius dan... sedikit pengecut.

"Tidur di sini? Di kamar tamu?" suara Karina bergetar tipis. "Kenapa, Mas? Renovasinya belum selesai?"

Fadel mengalihkan pandangannya ke arah dinding. "Bukan... kamar utamanya tidak direnovasi, Rin. Hanya saja, Mama bilang pamali kalau kita langsung sekamar. Ada tradisi keluarga yang bilang, kalau menantu baru harus 'dibersihkan' dulu auranya dengan tidur terpisah selama beberapa bulan."

Karina bukan orang bodoh. Ia tahu tidak ada tradisi konyol semacam itu. Itu hanya alasan yang dibuat-buat. Itu adalah akal-akalan Bu Sofiah.

"Tradisi apa, Mas? Kita sudah sah menikah. Di mata agama dan hukum, aku istrimu. Mengapa aku tidak boleh tidur di kamar suamiku sendiri?" Nada suara Karina mulai naik. Rasa lelah seharian kini bercampur dengan rasa tidak terima yang meledak-ledak.

"Ssst! Jangan keras-keras, nanti Mama dengar!" desis Fadel panik. Ia melepaskan tangannya dari bahu Karina, mundur selangkah. "Tolonglah, Rin. Mengalah saja. Ini rumah Mama, kita harus ikuti aturannya. Cuma sementara."

"Sementara berapa lama, Mas?!" Karina mendesak, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. "Tadi pagi aku disuruh mengurus seluruh rumah seperti pembantu. Sekarang, aku bahkan dilarang tidur di kamar suamiku sendiri? Aku ini istrimu atau orang asing yang menumpang di sini?!"

"Karina!" bentak Fadel pelan namun tegas. Rahangnya mengeras. "Jangan mulai drama. Aku lelah baru pulang kerja. Kamu pikir aku tidak pusing memikirkan cara agar kamu bisa diterima di keluarga ini? Kamu yang harusnya usaha, bukan malah melawan aturannya!"

Karina membeku. Aku yang harusnya usaha?

Fadel menghela napas panjang, meraup wajahnya dengan frustrasi. "Pokoknya bajumu jangan dipindah. Besok Bi Inah akan memindahkan kopermu."

"Dipindahkan ke mana? Ini kan kamar tamu," tanya Karina dengan suara bergetar. Hatinya mencelus merasakan firasat yang sangat buruk.

Fadel terdiam cukup lama. Ia menelan ludah, matanya menyorotkan rasa bersalah yang segera ia kubur dalam-dalam.

"Kamar ini mau dipakai untuk ruang menjahit Mama," ucap Fadel nyaris berbisik. "Barang-barangmu... akan dipindahkan ke kamar belakang. Di dekat paviliun asisten."

Karina terdiam. Bumi seakan berhenti berputar. Matanya melebar menatap pria yang mengucapkan janji suci di hadapan ayahnya sebulan yang lalu. Pria yang berjanji akan menjaganya, memuliakannya.

Kamar belakang.

Itu bukan kamar. Itu adalah bekas gudang penyimpanan barang bekas yang ukurannya bahkan tidak lebih besar dari kamar mandinya di rumah dulu. Tidak ada jendela yang layak, letaknya tepat di sebelah dapur kotor.

"Kamu menyuruhku tidur di bekas gudang, Mas?" bisik Karina. Air mata itu akhirnya jatuh, mengalir di pipinya yang pucat. "Istrimu... kamu suruh tidur di sana?"

Fadel memalingkan wajahnya. "Itu bukan gudang, sudah dibersihkan. Tolonglah, Rin. Jangan egois. Demi kebaikan kita bersama. Malam ini aku tidur di atas. Kamu istirahatlah."

Tanpa menunggu persetujuan Karina, tanpa mencoba menghapus air matanya, Fadel memutar tubuhnya dan melangkah keluar. Pintu ditutup dari luar, meninggalkan bunyi klik yang menggema di telinga Karina.

Karina berdiri kaku di tengah ruangan.

Dadanya naik turun dengan cepat. Air matanya terus mengalir dalam keheningan yang menyiksa. Ia menatap sekeliling ruangan tamu yang rapi ini, lalu menatap koper merah mudanya.

Ia memberikan segalanya untuk pria itu. Ia meninggalkan pekerjaannya, meninggalkan rumahnya, demi mengabdi pada sebuah pernikahan yang ia yakini didasari oleh cinta.

Namun malam ini, realitas menamparnya dengan begitu kejam.

Di rumah yang megah ini, di antara lantai marmer dan lampu kristal yang berkilauan...

Ia tidak hanya tidak dianggap sebagai istri.

Ia bahkan tidak memiliki tempat untuk sekadar meletakkan kepalanya. Ia tidak punya kamar. Ia tidak punya hak.

Dan yang paling menyakitkan dari segalanya... pria yang seharusnya menjadi pelindungnya, adalah orang pertama yang menyerahkannya pada penderitaan.