"Heh, itu! Tolong ambilkan lap basah ke sini. Meja ini ketumpahan teh."

Langkah Karina terhenti di ambang pintu geser pembatas ruang keluarga. Tangannya yang sedang memegang nampan berisi setoples kue kering menegang.

Ia menoleh perlahan. Di sofa ruang keluarga yang berlapis kulit asli, Bu Sofiah sedang duduk bersama dua orang temannya, sesama sosialita perumahan elite ini—Tante Rini dan Tante Sisca. Mereka mengenakan pakaian mahal, perhiasan emas yang menumpuk di pergelangan tangan, dan memancarkan aroma parfum branded yang menyengat hingga ke sudut ruangan.

Ketiga wanita paruh baya itu menatap ke arah Karina. Namun, tatapan Bu Sofiah sama sekali tidak mengarah ke wajahnya. Jari telunjuk bermulut merah menyala milik mertuanya itu menunjuk tepat ke arah dada Karina, seakan wanita itu adalah benda mati.

"Tunggu apa lagi? Budek kamu?" tegur Bu Sofiah dengan nada tinggi. "Saya bilang ambilkan lap basah. Cepat!"

Karina menghela napas panjang. Ia meletakkan nampan kue di atas meja konsol terdekat, lalu berbalik menuju dapur kotor untuk mengambil lap yang diminta.

Langkah kakinya terasa berat. Namun, ada yang jauh lebih berat dari sekadar kelelahan fisik yang menderanya. Sesuatu yang mengganjal di rongga dadanya, mengiris perlahan setiap kali mertuanya membuka mulut.

Itu. Kata ganti tunjuk untuk benda mati. Bukan 'dia'. Bukan 'perempuan itu'. Bukan 'Karina'.

Hanya... itu.

Sejak pertengkarannya dengan Fadel semalam, ada perubahan tak kasat mata yang terjadi di rumah ini. Bu Sofiah tampaknya menyadari bahwa putranya tidak lagi berdiri di pihak istrinya. Merasa mendapat lampu hijau, wanita paruh baya itu mulai menaikkan level kekejamannya.

Ia tidak lagi sekadar menyuruh Karina mengerjakan pekerjaan rumah. Ia mulai melucuti hal yang paling mendasar dari diri seorang manusia: identitasnya.

Sepanjang pagi ini, tak sekalipun nama 'Karina' keluar dari mulut penghuni rumah.

“Suruh 'itu' yang menyapu halaman depan.”

“Jangan biarkan 'itu' menyentuh porselen saya.”

“Bawa makanan sisa ini ke belakang, kasih ke 'itu'.”

Karina membasahi lap microfiber di wastafel dapur, memerasnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit di ulu hatinya belum sepenuhnya hilang, tetapi ia menolak untuk menangis lagi. Air matanya sudah habis terkuras semalam saat Fadel meninggalkannya di kamar bekas gudang tanpa sedikit pun rasa iba.

Ia kembali ke ruang keluarga dengan kepala menunduk.

"Ini, Ma... lap basahnya," ucap Karina pelan seraya berjongkok di dekat meja kaca untuk mengelap tumpahan teh chamomile tersebut.

Tante Sisca, yang duduk tepat di seberang Bu Sofiah, menurunkan kacamata bacanya sedikit. Matanya memindai penampilan Karina dari atas ke bawah. Daster katun pudar, rambut yang dicepol berantakan tanpa riasan, dan tangan yang kasar karena terlalu banyak bersentuhan dengan deterjen.

"Loh, Sof. Ini asisten rumah tanggamu yang baru?" tanya Tante Sisca dengan kening berkerut. "Kok nggak dikasih seragam kayak si Inah dan Siti? Kelihatan kucel banget loh, Jeng. Nanti merusak pemandangan kalau ada tamu penting datang."

Gerakan tangan Karina yang sedang mengelap meja terhenti sesaat. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia menunggu. Ia menunggu mertuanya meralat ucapan wanita itu. Ia menunggu Bu Sofiah berkata, Bukan, ini istri anakku. Seketus apa pun nadanya nanti, Karina hanya butuh eksistensinya diakui.

Bu Sofiah menyesap tehnya dengan anggun. Ia melirik Karina dari sudut matanya, lalu tertawa kecil meremehkan.

"Bukan, Jeng. Dia bukan asisten rumah tangga," jawab Bu Sofiah santai.

Karina menghembuskan napas lega yang tertahan.

"Terus siapa dong? Keponakan dari kampung?" timpal Tante Rini penasaran.

Bu Sofiah meletakkan cangkirnya perlahan. Senyum sinis tersungging di bibirnya. "Bukan siapa-siapa. Cuma orang yang lagi numpang makan dan numpang tidur di sini. Yah, namanya juga keluarga kita selalu diajarkan bersedekah, kan? Hitung-hitung nampung orang susah biar dapat pahala."

Dada Karina serasa dihantam palu godam.

Napasnya tercekat. Matanya membelalak menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan meja kaca yang baru saja ia lap.

Orang yang menumpang makan.

Orang susah.

Bukan menantu. Bahkan bukan manusia yang memiliki ikatan keluarga dengan mereka. Di mata teman-teman sosialita mertuanya, Karina tak lebih dari seorang gelandangan yang dipungut dari jalanan karena belas kasihan.

"Oh, ya ampun, Sof! Kamu itu memang baik hati banget, ya!" seru Tante Sisca kagum, sama sekali tidak menyadari badai yang sedang menghancurkan jiwa wanita yang berjongkok di depan lututnya. "Tapi ya hati-hati loh, Jeng. Zaman sekarang banyak orang susah yang dikasih hati minta jantung. Udah ditampung, nanti malah ngelunjak mau menguasai harta."

"Tenang saja, Jeng Sisca. Fadel itu pintar mengelola aset. Dia tahu mana yang berharga dan mana yang cuma sampah," balas Bu Sofiah dengan penekanan tajam pada kata terakhir. "Lagian, 'itu' tidak akan lama di sini. Kalau sudah sadar diri, paling juga pergi sendiri cari tumpangan lain."

Setiap kata yang keluar dari mulut Bu Sofiah seperti jarum yang ditusukkan tepat ke gendang telinga Karina.

Ia punya nama. Ayahnya memberinya nama Karina Anindita. Nama yang indah, yang artinya perempuan murni yang sempurna. Ayahnya membesarkannya dengan penuh kasih sayang, menyekolahkannya hingga sarjana dengan keringat dan air mata.

Dan kini, di rumah suaminya sendiri, namanya dihapus. Digantikan dengan sebutan 'orang susah', 'itu', dan 'sampah'.

"Sudah bersih belum mejanya?" tegur Bu Sofiah keras, membuyarkan lamunan Karina. "Kalau sudah bersih, cepat pergi ke dapur! Jangan berdiam diri di situ, bau keringatmu bikin kami pusing!"

Karina berdiri perlahan. Kakinya gemetar menahan amarah dan luka yang melebur menjadi satu. Ia menatap wajah mertuanya sesaat. Ada kepuasan yang terpancar jelas di mata Bu Sofiah. Kepuasan karena berhasil menginjak-injak harga diri seseorang hingga tak bersisa.

"Baik, Ma," ucap Karina dengan suara yang anehnya terdengar sangat tenang, berbanding terbalik dengan badai di dalam dadanya.

Ia membalikkan badan dan melangkah pergi. Bukan untuk menangis. Bukan untuk meratap. Setiap langkahnya membekaskan satu kesadaran baru: Di rumah ini, aku tidak punya siapa-siapa selain diriku sendiri.

Pukul empat sore.

Suara deru mobil terdengar memasuki pekarangan. Itu akhir pekan, dan Fadel pulang lebih cepat dari biasanya setelah menyelesaikan urusan di kantor cabang.

Karina sedang berada di ruang tengah, mengelap vas keramik besar seperti yang diperintahkan Bu Sofiah. Saat pintu utama terbuka, Fadel masuk dengan setelan kemeja kasual. Pria itu terlihat segar, tawanya sesekali terdengar saat ia berbicara di telepon dengan seseorang.

Mendengar suara suaminya, tanpa sadar Karina menghentikan kegiatannya. Matanya mengikuti setiap gerak-gerik Fadel. Ia teringat pertengkaran mereka semalam. Apakah Fadel sudah tenang? Apakah pria itu akan meminta maaf karena telah mendorongnya? Ataukah setidaknya, pria itu akan menyapanya?

Fadel mematikan sambungan teleponnya. Matanya mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan, dan saat itulah tatapannya bersirobok dengan mata Karina.

Karina menelan ludah. Ia bersiap membuka mulut. "Mas..."

Namun, Fadel langsung membuang muka. Pria itu melengos begitu saja, seolah Karina hanyalah angin lalu, seolah istrinya itu sama sekali tidak kasat mata.

"Ma! Fadel pulang!" seru Fadel, berjalan melewati Karina begitu saja menuju ruang keluarga, tempat Bu Sofiah masih asyik menonton televisi.

Udara di sekitar Karina mendadak terasa dingin. Tangan yang memegang lap basah itu terkulai lemas. Fadel benar-benar mengabaikannya. Bukan sekadar marah, tapi pria itu menghapus keberadaannya.

Dari balik pilar ruang keluarga, Karina bisa mendengar percakapan ibu dan anak itu.

"Eh, anak Mama udah pulang. Gimana kerjaan hari ini, Sayang?"

"Lancar, Ma. Cuma agak capek habis ngecek site tadi," keluh Fadel manja. Pria dewasa berusia dua puluh delapan tahun itu menyandarkan kepalanya di bahu ibunya.

"Sini Mama pijitin kepalanya. Kamu pasti pusing, kan?" Bu Sofiah mengelus rambut putranya dengan penuh kasih sayang. "Oh ya, tadi malam tidurmu nyenyak? Nggak ada yang ganggu kamu, kan?"

Pertanyaan itu sarat akan sindiran. Fadel terdiam sesaat, lalu mendengus pelan.

"Nyenyak kok, Ma. Fadel kunci pintunya dari dalam."

Hati Karina mencelos mendengarnya. Fadel mengunci pintu kamar utamanya? Seolah Karina adalah ancaman yang akan menyusup masuk dan mengganggunya?

"Baguslah," sahut Bu Sofiah puas. "Mama tuh cuma mau kamu tenang, Del. Mama nggak mau kamu stres mikirin hal-hal yang nggak penting di rumah ini. Fokus aja sama kariermu."

Fadel mengangguk. "Iya, Ma." Pria itu lalu menoleh ke arah dapur kotor. Suaranya ditinggikan. "Kopi hitam satu! Gulanya sedikit aja, airnya yang mendidih!"

Karina tersentak di tempatnya berdiri.

Kopi hitam satu.

Kalimat itu diucapkan begitu saja, melayang di udara tanpa subjek, tanpa nama. Fadel tidak memanggilnya 'Rin'. Tidak ada kata 'tolong'. Tidak ada sebutan 'Sayang'. Nada suaranya persis seperti bos yang sedang meneriakkan pesanan kepada pelayan warung kopi pinggir jalan.

Karina memejamkan matanya erat-erat. Ia menggigit bibir bagian dalamnya keras-keras hingga mengecap rasa anyir darah.

Semalam, Fadel masih memanggilnya Karina saat mereka bertengkar. Namun hari ini, Fadel tampaknya telah menyetujui permainan ibunya. Mengikuti aturan main rumah ini untuk melenyapkan identitas Karina. Jika ia tidak diberi nama, maka ia tidak memiliki tempat. Jika ia tidak memiliki tempat, maka ia tidak pantas menuntut hak.

"Budek ya?!" Suara Fadel terdengar lagi, kali ini lebih keras dan penuh kejengkelan. Pria itu mencondongkan tubuhnya dari sofa, menatap lurus ke arah Karina yang masih mematung di dekat vas keramik. "Kamu dengar nggak sih? Bikin kopi!"

Kamu. Bukan Karina.

Tatapan Fadel begitu dingin dan asing. Tidak ada sisa-sisa cinta di sana. Hanya ada kekesalan, seolah keberadaan Karina merusak akhir pekannya yang tenang.

Karina menatap lekat-lekat mata pria itu. Ia ingin melihat keraguan di sana. Ia ingin melihat rasa bersalah. Tapi tidak ada apa-apa selain keegoisan yang telanjang.

"Iya," jawab Karina akhirnya. Suaranya serak dan datar. Ia membalikkan badan, berjalan menuju pantri.

Setiap langkah yang ia ambil menuju dapur terasa seperti menapaki pecahan kaca. Fadel, pria yang berjanji di depan altar untuk melindunginya, kini telah resmi bergabung dengan penyiksanya. Pria itu tidak hanya diam melihat Karina dihancurkan, tapi kini ia ikut memegang palunya.

Saat Karina menyeduh kopi hitam itu, air matanya tidak jatuh. Ada sesuatu yang terasa membeku di dalam rongga dadanya. Rasa sedih yang menumpuk perlahan mengeras, berubah menjadi amarah yang sunyi.

Ia mengaduk kopi itu perlahan. Hitam. Pahit. Seperti pernikahannya.

Karina membawa cangkir kopi itu kembali ke ruang keluarga. Ia meletakkannya di atas meja kaca di hadapan Fadel. Pria itu sedang asyik bermain ponsel, sama sekali tidak menatap ke arahnya.

"Kopinya," ucap Karina pelan.

Fadel tidak menjawab. Ia hanya meraih gagang cangkir itu dan menyesapnya pelan. "Kurang manis," gumamnya pada layar ponsel. "Lain kali kalau disuruh bikin kopi tuh yang becus. Jangan bikin orang tambah pusing."

Karina berdiri di sana selama beberapa detik. Ia menatap ubun-ubun suaminya. Tangannya gatal ingin menyiramkan sisa kopi panas itu ke wajah pria tersebut, memaksa pria itu untuk menatapnya, untuk mengakui eksistensinya.

Tapi Karina menahannya. Belum saatnya.

Ia mundur perlahan, kembali menelan rasa sakit itu ke dasar perutnya yang paling dalam.

Malam harinya, rumah besar itu tiba-tiba dipenuhi hiruk-pikuk.

Adik kandung Bu Sofiah, Tante Maya, datang berkunjung dari luar kota bersama suami dan dua anak remajanya. Kedatangan keluarga besar itu disambut meriah. Bu Sofiah memerintahkan seluruh asisten rumah tangga untuk memasak besar-besaran.

Karina diperintahkan untuk mengupas berpuluh-puluh bawang, memotong daging sapi, dan membersihkan ikan hingga tangannya bau amis. Ia bekerja dalam diam di sudut dapur kotor, mendengarkan gelak tawa yang menggema dari ruang tamu.

Fadel tampaknya sangat gembira dengan kedatangan paman dan bibinya. Sesekali terdengar suaranya yang berat menimpali lelucon pamannya. Sebuah kehangatan keluarga yang sempurna. Keluarga yang bahagia.

Sebuah keluarga di mana Karina tidak diikutsertakan di dalamnya.

Menjelang pukul tujuh malam, semua hidangan mewah telah tersaji di meja makan utama. Aroma sapi lada hitam, ikan gurame asam manis, dan sup asparagus memenuhi udara.

"Bi Inah! Cepat panggilkan Tuan dan Nyonya, makan malam sudah siap!" perintah Bu Sofiah dari arah ruang makan.

Karina mencuci tangannya yang bau amis di wastafel dapur kotor. Ia mengeringkannya dengan lap kain. Jantungnya berdebar pelan. Ini adalah makan malam keluarga besar. Tante Maya dan pamannya ada di sini. Secara logika, sebagai istri Fadel, ia harus ikut menyambut tamu. Ia harus duduk bersama mereka. Fadel pernah bilang bahwa ia tidak bisa tidur di kamar utama karena alasan 'tradisi'. Tapi malam ini, di depan keluarga besar, apakah suaminya akan tetap menyembunyikannya?

Karina merapikan daster bersalinnya, mencoba membuat dirinya terlihat sedikit lebih pantas, lalu berjalan perlahan menuju area pantri yang berbatasan langsung dengan ruang makan utama.

Ia berdiri di balik pilar pembatas, mengamati situasi.

Keluarga besar itu mulai berdatangan menuju ruang makan. Tante Maya tertawa lepas sambil menggandeng lengan Fadel.

"Fadel, Tante dengar kamu baru nikah ya bulan lalu? Kok istrinya nggak diajak ke sini sih pas kita baru datang tadi? Tante kan penasaran mau lihat. Kata ibumu, istrimu itu pemalu banget ya?" goda Tante Maya seraya mengambil piring.

Jantung Karina berhenti berdetak. Ia menatap Fadel.

Ini kesempatannya. Panggil aku, Mas. Panggil namaku dan kenalkan aku pada keluargamu.

Fadel menarik kursi untuk bibinya. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman canggung yang dipaksakan.

"Ah, iya, Tante. Dia... dia lagi kurang enak badan. Jadi istirahat di kamar belakang. Nggak usah diganggu, biar istirahat aja," jawab Fadel dengan lancar. Sebuah kebohongan yang meluncur begitu mudah dari bibirnya.

Karina mematung. Fadel tidak menyebut namanya. Pria itu menyembunyikannya. Pria itu malu mengakuinya sebagai istri di depan keluarga besarnya sendiri.

Bu Sofiah, yang sedang menuangkan air es, menyeringai penuh kemenangan. "Sudah, Jeng Maya, nggak usah bahas orang yang nggak ada. Ayo kita makan selagi hangat. Fadel, ambilkan lauk untuk pamanmu."

Dari balik pilar, Karina menatap pemandangan itu dengan napas yang tercekat di kerongkongan.

Matanya menyapu seluruh penjuru ruang makan mewah tersebut. Meja kayu mahoni besar itu terlihat begitu penuh dengan berbagai hidangan dan gelak tawa.

Bu Sofiah duduk di ujung meja (kepala keluarga).

Fadel duduk di sisi kanan ibunya.

Paman Herman duduk di sisi kiri.

Tante Maya duduk di sebelah suaminya.

Kedua anak mereka duduk berjejer di sisi meja yang lain.

Enam orang.

Karina menghitung jumlah kursi yang mengelilingi meja makan raksasa tersebut.

Satu... dua... tiga... empat... lima... enam.

Hanya ada enam kursi.

Padahal meja makan itu dirancang untuk delapan orang. Biasanya ada satu kursi ekstra di sudut meja dekat pintu dapur yang tidak pernah dipakai. Namun malam ini, kursi itu lenyap.

Karina mengalihkan pandangannya ke arah sudut ruang makan. Ia melihat Bi Inah berdiri kaku dengan kepala menunduk.

Karina melangkah gontai menghampiri asisten rumah tangga tersebut. Ia menyentuh lengan Bi Inah perlahan.

"Bi..." bisik Karina, suaranya terdengar hampa. "Kursi yang biasa di ujung situ... ke mana?"

Bi Inah tersentak. Wanita paruh baya itu menatap Karina dengan mata berkaca-kaca penuh rasa iba. Ia celingukan sebentar, memastikan Nyonya Besar tidak mendengarnya, lalu berbisik dengan suara bergetar.

"Maaf, Non. Tadi... tadi Nyonya Besar yang suruh Siti memindahkan kursinya ke gudang belakang."

Karina menatap Bi Inah tak percaya. "Gudang?"

Bi Inah mengangguk pelan, air matanya menetes. "Iya, Non. Nyonya bilang... Nyonya bilang tidak butuh kursi ekstra, karena orang yang tidak punya nama tidak butuh tempat untuk duduk di rumah ini."

Bumi seakan berhenti berputar.

Suara denting sendok dan garpu, tawa renyah Fadel, dan obrolan hangat keluarga itu berubah menjadi dengungan panjang yang menyakitkan di telinga Karina.

Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap kembali ke arah ruang makan yang terang benderang itu. Mereka terlihat seperti sebuah lukisan keluarga sempurna yang dibingkai oleh kemewahan.

Dan di dalam bingkai itu, tidak ada ruang untuknya.

Bukan hanya namanya yang dihapus. Tempatnya di rumah ini pun secara harfiah telah dilenyapkan.

Karina berdiri di dalam bayang-bayang dapur kotor, menatap kursi yang seharusnya menjadi miliknya—kursi yang kini tidak pernah ada.

Air matanya tidak lagi menetes. Tidak ada lagi rasa sedih yang menyayat. Sesuatu yang dingin dan mematikan merayap naik dari ujung kakinya, membekukan seluruh hatinya.

Ia menatap wajah Fadel yang sedang tertawa lebar. Pria itu bahkan tidak repot-repot melirik ke arah dapur untuk mencari tahu apakah istrinya sudah makan atau belum. Pria itu membuangnya begitu saja.

Karina menarik napas panjang. Udara yang masuk ke paru-parunya terasa tajam bak belati.

Baiklah, batin Karina. Tangannya terkepal di sisi tubuh, kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri.

Kalau kalian menganggapku tidak ada di meja ini... maka aku akan memastikan suatu saat nanti, kalian sendirilah yang tidak akan pernah punya tempat duduk di rumah ini.