Bau apek bercampur aroma kapur barus menyerang indra penciuman Karina seketika saat ia membuka mata.
Ia mengerjap perlahan di tengah kegelapan yang pekat. Tidak ada cahaya pagi yang mengintip dari balik tirai, karena kamar ini sama sekali tidak memiliki jendela. Hanya ada sebuah kipas ventilasi kecil di sudut atas dinding yang berdengung lemah, gagal mengusir udara pengap yang terjebak di dalam ruangan berukuran dua kali tiga meter ini.
Punggungnya terasa kaku. Kasur busa tipis yang ia tiduri semalaman sama sekali tidak mampu menahan kerasnya lantai semen di bawahnya.
Karina bangkit perlahan, meraba-raba dinding mencari sakelar lampu.
Ctek.
Lampu bohlam kuning yang temaram menyala, memperlihatkan realitas menyedihkan yang harus ia hadapi pagi ini. Di sudut ruangan, koper merah mudanya tergeletak begitu saja, setengah terbuka karena tidak ada lemari untuk menyimpan pakaiannya. Di sebelahnya, tumpukan kardus berisi barang-barang bekas milik keluarga Fadel masih dibiarkan menumpuk hingga hampir menyentuh langit-langit.
Ini bukan kamar. Ini sungguh sebuah gudang.
Semalam, tepat setelah Fadel meninggalkannya, Bi Inah dan Siti masuk ke kamar tamu dengan wajah tertunduk. Tanpa banyak bicara, kedua asisten rumah tangga itu memindahkan koper Karina ke ruangan sempit ini. Tatapan iba dari Bi Inah masih terekam jelas di benak Karina, sebuah tatapan kasihan yang justru merobek harga dirinya lebih dalam daripada makian Bu Sofiah.
Karina menatap pantulan dirinya pada layar ponsel yang layarnya retak di ujung. Wajahnya pucat, kantung matanya menghitam.
Ia mengusap cincin emas putih yang melingkar di jari manisnya. Cincin yang dipasangkan Fadel dengan senyum penuh janji.
“Aku akan membahagiakanmu, Rin. Kamu adalah ratuku sekarang.”
Air mata yang sejak semalam berusaha ia tahan akhirnya menetes satu. Karina buru-buru menghapusnya dengan punggung tangan.
"Jangan menangis," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya serak dan bergetar di ruangan sempit itu. "Ini baru awal. Mas Fadel pasti sedang mencari cara agar Mama luluh. Aku hanya perlu bersabar sedikit lagi."
Karina terus merapal kalimat itu layaknya mantra. Membohongi dirinya sendiri adalah satu-satunya cara agar warasnya tetap terjaga pagi ini. Ia harus kuat. Ia istri yang sah, bukan pesakitan.
Ia segera merapikan daster katunnya, menggulung rambut panjangnya ke atas dan menjepitnya asal. Jam di ponselnya menunjukkan pukul setengah lima pagi. Waktunya ia menunjukkan bakti. Jika ia bisa membuatkan sarapan kesukaan Fadel dan mengambil hati Bu Sofiah dengan masakan yang lezat, mungkin segalanya akan membaik. Setidaknya, itulah harapan naifnya.
Karina membuka pintu kayunya yang berderit nyaring, melangkah keluar menuju dapur.
Udara pagi di dapur jauh lebih dingin. Bi Inah sedang memotong sayuran di meja pantri saat Karina masuk. Wanita paruh baya itu terlonjak kaget.
"Eh, Non Karina... sudah bangun?" sapa Bi Inah canggung. Ia buru-buru meletakkan pisaunya. "Non mau dibuatkan teh hangat? Biar Bibi buatkan."
"Tidak usah, Bi. Biar saya yang buat sendiri," tolak Karina halus, mencoba memaksakan sebuah senyuman. "Hari ini Bibi mau masak apa untuk sarapan?"
"Bibi mau bikin nasi goreng seafood, Non. Kesukaan Den Fadel sama Nyonya."
"Kalau begitu, biar saya saja yang masak, Bi. Bibi kerjakan yang lain saja. Saya tahu resep nasi goreng yang sering dipuji Mas Fadel waktu kami masih pacaran dulu," ucap Karina dengan secercah antusiasme. Ia mengambil apron yang tergantung di balik pintu dapur.
Bi Inah terlihat ragu. Matanya melirik gelisah ke arah lorong yang menghubungkan dapur dengan ruang keluarga. "Tapi... Nyonya bilang—"
"Ada apa ini ribut-ribut di dapur pagi-pagi?"
Suara dingin itu memotong kalimat Bi Inah.
Karina menoleh. Bu Sofiah sudah berdiri di ambang pintu dapur, mengenakan gaun tidur sutra berwarna burgundy yang terlihat mahal. Tangannya bersedekap di dada. Tatapannya menajam melihat Karina yang sudah mengenakan apron.
"Kamu mau ngapain?" tanya Bu Sofiah dengan nada menyelidik.
"Selamat pagi, Ma. Karina mau buat sarapan untuk Mas Fadel. Nasi goreng seafood kesukaannya," jawab Karina sopan, menundukkan kepalanya sedikit.
Bu Sofiah mendengus meremehkan. Ia berjalan mendekati meja pantri, menatap sinis ke arah bahan-bahan makanan yang sudah disiapkan Bi Inah.
"Tidak perlu."
Dua kata itu diucapkan dengan datar, namun rasanya seperti tamparan. Karina mendongak. "Tapi, Ma... Mas Fadel suka masakan saya."
"Itu dulu. Waktu dia belum punya pilihan karena terpaksa makan di pinggir jalan sama kamu," cibir Bu Sofiah telak. Ia mengambil pisau dari meja, menunjuk ujungnya ke arah talenan kayu. "Di rumah ini, Fadel hanya makan masakan yang resepnya dari saya. Perut anak saya itu sensitif. Saya tidak mau dia sakit perut gara-gara masakan kampung yang bumbunya sembarangan."
Tangan Karina yang memegang ujung apron meremas kain itu kuat-kuat. "Karina pastikan bersih, Ma. Karina akan masak sesuai—"
"Saya bilang tidak perlu ya tidak perlu!" potong Bu Sofiah dengan suara yang meninggi. Mata tajamnya menatap langsung ke retina Karina, menelanjangi sisa-sisa keberanian menantunya.
"Buka apron itu," perintah Bu Sofiah dingin. "Kamu jangan sok mengatur di dapur ini. Bi Inah yang akan memasak sarapan. Tugasmu adalah membersihkan lantai area kolam renang di belakang. Semalam habis hujan, banyak daun gugur. Bersihkan sampai tidak ada noda tanah sedikit pun."
Karina mematung. Di luar masih gelap, dan udara pagi sedang dingin-dinginnya. Membersihkan area kolam renang yang luas itu sendirian sama saja dengan menguras seluruh energinya bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.
"Tunggu apa lagi? Perlu saya panggilkan Fadel untuk menyuruhmu bergerak?" ancam Bu Sofiah, menggunakan nama putranya sebagai senjata penunduk.
Mendengar nama Fadel disebut, pertahanan Karina runtuh. Ia tidak ingin melihat wajah lelah suaminya atau mendengar helaan napas frustrasi pria itu lagi.
Dengan tangan bergetar, Karina melepaskan apron dari lehernya.
"Baik, Ma. Karina bersihkan sekarang," ucapnya lirih.
Ia berbalik, melangkah menuju halaman belakang, menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Di belakangnya, ia bisa mendengar sayup-sayup Bu Sofiah menegur Bi Inah.
“Bi, kalau dia berani sentuh bahan makanan Fadel lagi, singkirkan. Jangan sampai anak saya keracunan masakan orang miskin.”
Langkah Karina terhenti sejenak di ambang pintu kaca. Hatinya perih, seakan diiris pisau tak kasat mata. Namun, tidak ada satu pun air mata yang jatuh kali ini. Ia terus melangkah menembus udara pagi yang menggigit tulang.
Pukul tujuh pagi, matahari sudah bersinar terang.
Karina menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. Punggungnya terasa ingin patah setelah menyikat lumut di pinggiran kolam renang dan menyapu dedaunan basah selama dua jam lebih. Pakaian dasternya kini setengah basah dan kotor oleh cipratan air cucian.
Dari dalam rumah, sayup-sayup terdengar suara tawa dan denting sendok yang beradu dengan piring.
Karina meletakkan sikat lantai, lalu berjalan tertatih menuju pintu dapur. Ia lapar. Perutnya berbunyi sejak tadi, meminta diisi setelah dipaksa bekerja kasar.
Saat ia memasuki ruang makan yang terhubung langsung dengan dapur bersih, langkahnya terhenti.
Di meja makan kayu mahoni yang panjang dan mengilap itu, duduk Fadel dan Bu Sofiah. Meja itu dipenuhi berbagai hidangan mewah. Nasi goreng seafood, ayam panggang, sosis, dan potongan buah segar tersaji di atas piring keramik berlis emas. Aroma kopi hitam yang baru diseduh menguar, mengisi udara dengan kehangatan yang tak bisa Karina sentuh.
Fadel terlihat sangat santai, mengenakan kemeja kerja berwarna biru muda, tertawa mendengar cerita ibunya.
Karina berdiri kaku di dekat pilar. Mata kecokelatannya menatap meja itu.
Meja itu memiliki enam kursi.
Di ujung meja, Bu Sofiah duduk dengan elegan. Di sisi kanannya, Fadel duduk menikmati sarapannya.
Di sisi kiri meja, tepat di depan Fadel... kursi kosong itu ditutupi oleh tas Hermes milik Bu Sofiah dan setumpuk majalah fashion. Di kursi sebelahnya lagi, diletakkan keranjang berisi piring buah.
Tidak ada ruang.
Bahkan tidak ada satu pun piring kosong atau gelas tambahan yang disiapkan di atas meja. Meja itu di-setting khusus untuk dua orang. Hanya untuk Bu Sofiah dan putra kesayangannya.
Eksistensi Karina dihapus sepenuhnya.
Karina melangkah maju, mencoba memberanikan diri. Bunyi langkah kakinya yang pelan membuat Fadel menoleh.
"Eh, Rin," sapa Fadel dengan mulut masih mengunyah sepotong sosis. Ia menatap penampilan Karina dari atas ke bawah. Daster kotor, wajah kusam, rambut berantakan. Terlihat sedikit rasa risi melintas di mata pria itu, namun ia cepat-cepat menyembunyikannya. "Sudah bangun?"
Pertanyaan bodoh. Tentu saja Karina sudah bangun. Fadel pasti tahu dari ibunya bahwa ia telah dipekerjakan sejak subuh.
"Sudah, Mas," jawab Karina pelan. Ia berjalan mendekati meja makan. Tangannya tanpa sadar memegang sandaran kursi kosong yang tertutup tas mertuanya. "Masak apa hari ini?"
Bu Sofiah meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi klitik yang nyaring. Ia menatap Karina dengan tatapan menilai yang membuat kulit Karina terasa terbakar.
"Kamu jangan berdiri di situ," tegur Bu Sofiah dingin. "Bau keringatmu merusak selera makan."
Karina mematung. Wajahnya seketika memerah karena malu. Ia melirik ke arah Fadel, memohon pertolongan lewat sorot matanya. Tolong aku, Mas. Bela istrimu. Katakan bahwa bau keringat ini ada karena aku membersihkan rumahmu.
Namun Fadel memalingkan wajahnya ke arah piring. Pria itu menyuapkan sesendok nasi goreng dengan tenang.
"Iya, Rin. Kamu mandi dulu sana. Nanti kotoran dari luar menempel di mana-mana," ucap Fadel tanpa menatap wajah Karina.
Hati Karina bagai dijatuhi bongkahan es raksasa. Dingin. Mati rasa. Suaminya sendiri merasa jijik kepadanya.
"Aku belum sarapan, Mas," ucap Karina lirih, suaranya bergetar menahan tangis. "Perutku sakit. Boleh aku ikut makan dulu?"
Ia tidak bermaksud merengek. Ia hanya benar-benar lapar. Penderitaan asam lambungnya mulai terasa melilit perutnya.
Bu Sofiah mendecak kesal. "Tingkahmu ini memalukan sekali. Memangnya kamu kelaparan sampai tidak bisa menahan diri untuk mandi dulu? Di rumah ini ada aturan tak tertulis, Karina. Orang yang kotor tidak boleh duduk di meja makan utama."
Bu Sofiah mengangkat tangannya, memanggil Bi Inah yang sejak tadi berdiri kaku di sudut dapur kotor.
"Bi, tolong siapkan nasi sisa semalam di piring seng. Kasih telur dadar satu. Biarkan dia makan di meja dapur belakang. Di sini tempatnya makan manusia yang bersih."
Piring seng.
Meja dapur belakang.
Mata Karina membelalak. Ia menatap Fadel dengan putus asa. "Mas...?" panggilnya dengan suara pecah.
Fadel menghela napas panjang, meletakkan sendoknya. Ia terlihat lelah, seolah kehadiran Karina adalah beban yang merusak paginya yang indah.
"Turuti saja kata Mama, Rin. Daripada jadi ribut pagi-pagi," ucap Fadel dengan nada memohon yang lebih terdengar seperti perintah. "Kamu makan saja di dapur. Nanti selesai makan, kamu baru mandi. Aku buru-buru, harus meeting pagi ini. Jangan buat mood aku hancur sebelum kerja dong, Sayang."
Sayang. Kata itu terdengar seperti ejekan di telinga Karina.
Fadel mengambil serbet, membersihkan mulutnya, lalu berdiri. Ia mencium pipi ibunya, tapi hanya menepuk pelan bahu Karina saat melewatinya. Tanpa pelukan, tanpa ciuman di dahi seperti yang selalu ia lakukan bulan lalu.
"Aku jalan dulu ya. Jangan nakal di rumah," kata Fadel sebelum menghilang di balik pintu utama.
Karina berdiri mematung. Matanya menatap nanar sisa nasi goreng di piring Fadel yang tidak dihabiskan. Ruang makan itu tiba-tiba terasa begitu luas, begitu asing, dan ia berdiri di sana layaknya patung yang tak diharapkan.
Bu Sofiah menatapnya dengan senyum penuh kemenangan. Kemenangan mutlak. Ia berhasil menunjukkan siapa yang berkuasa penuh atas putranya.
"Sudah puas melihat suamimu mengabaikanmu?" bisik Bu Sofiah dengan nada kejam. "Sana ke belakang. Jangan kotori pandangan saya."
Karina tidak membantah. Ia tidak menangis. Sesuatu di dalam dadanya terasa putus.
Dengan langkah berat yang seakan menyeret beban berton-ton, Karina berbalik dan berjalan menuju dapur kotor. Ia duduk di kursi plastik reot yang biasa digunakan asisten rumah tangga untuk memotong sayur. Di depannya, Bi Inah meletakkan sepiring nasi putih dingin dengan telur dadar tipis di atas piring kaleng.
Bukan piring keramik berlis emas.
Karina menatap makanan itu. Tangannya gemetar saat mengambil sendok. Ia memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya. Rasanya hambar. Sulit untuk ditelan melewati tenggorokannya yang menyempit karena menahan isak tangis yang tertahan.
Aku makan di sini. Di meja plastik. Di piring seng. Di rumah suamiku sendiri.
Beberapa jam berlalu. Matahari semakin tinggi.
Setelah memastikan seluruh piring kotor dicuci bersih, Karina berjalan menuju ruang tengah dengan lap microfiber di tangannya. Ia diperintahkan Bu Sofiah untuk mengelap seluruh perabotan antik di ruang tamu, sesuatu yang biasanya dikerjakan Siti.
Rumah itu sepi. Fadel sudah di kantor. Para asisten sibuk di area servis belakang.
Karina jongkok di depan lemari pajangan kristal, mengusap debu imajiner di kaca lemari dengan gerak lambat. Pikirannya melayang entah ke mana. Tatapan matanya kosong. Rasa lelah fisiknya sudah tak seberapa dibandingkan rasa hancur di batinnya.
Lalu, sayup-sayup terdengar suara dari arah ruang keluarga.
Itu suara Bu Sofiah. Sepertinya wanita itu sedang menelepon seseorang. Terdengar tawa renyahnya yang khas, berbeda seratus delapan puluh derajat dari nada ketus yang selalu ia gunakan pada Karina.
Karina menghentikan gerakannya. Ia tidak berniat menguping, namun ruangan itu terlalu lengang, membuat suara Bu Sofiah menggema hingga ke ruang tamu.
"...Iya, Jeng. Tenang saja, Fadel baik-baik saja kok. Dia kan anak penurut, mana berani dia melawan ibunya sendiri."
Terdengar jeda sejenak. Bu Sofiah sepertinya sedang mendengarkan balasan dari lawan bicaranya.
"Ah, perempuan itu?" Nada Bu Sofiah seketika berubah merendahkan. Karina menahan napas. Tangannya mencengkeram kain lap erat-erat. Ia tahu siapa 'perempuan itu' yang dimaksud.
"Biarin saja. Paling sebentar lagi juga dia sadar diri dan pergi sendiri. Saya sengaja tidak kasih dia kamar yang layak. Biar dia tahu rasanya tidak dihargai. Lagian, Fadel juga tidak peduli. Buktinya tadi pagi dia biarkan saja istrinya makan di dapur kotor sama pembantu." Bu Sofiah tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat jahat di telinga Karina.
Napas Karina memburu. Dadanya naik turun menahan luapan emosi yang menyesakkan.
"Status istri? Alah, kertas nikah itu cuma selembar. Bisa diurus nanti," lanjut Bu Sofiah dengan santai.
Karina berdiri perlahan. Kakinya terasa lemas. Ia melangkah mendekati pilar pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga, menyembunyikan tubuhnya di sana.
"Fadel itu cuma kasihan sama dia, Jeng," kalimat mematikan itu keluar begitu saja dari mulut Bu Sofiah. "Dari awal saya sudah bilang, wanita miskin dari keluarga berantakan seperti dia tidak pantas masuk ke keluarga kita. Dia itu tidak ada fungsinya di sini."
Jeda lagi. Lalu, kalimat terakhir yang diucapkan Bu Sofiah menembus jantung Karina tepat di tengahnya. Menghancurkan sisa-sisa harapan rapuh yang mati-matian ia pertahankan sejak pagi.
"Tidak usah khawatir dia bakal menguasai harta Fadel. Sampai kapan pun, dia tidak akan pernah saya anggap menantu. Dia cuma numpang di sini."
Dia cuma numpang di sini.
Mata Karina membelalak sempurna. Udara seakan ditarik paksa dari paru-parunya.
Lap microfiber di tangannya terlepas, jatuh tanpa suara ke lantai marmer yang dingin.
Karina menatap bayangannya sendiri di kaca lemari kristal. Wajah yang lelah, mata yang redup, dan status yang kini tak lebih dari seorang parasit yang dibenci.
Jika ia hanya menumpang... lalu untuk apa semua janji pernikahan itu?
Di balik dinding pilar, tangan Karina terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Dia cuma numpang. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya bagai kaset rusak. Menghapus kepatuhan, membakar sisa-sisa kesabaran, dan memantik sebuah perasaan baru yang belum pernah Karina rasakan sebelumnya di rumah ini.
Amarah.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar