Rasa perih yang menusuk dinding lambungnya memaksa Karina melipat tubuh. Keringat dingin sebesar biji jagung merembes di keningnya.

Ia duduk meringkuk di atas kasur busa tipis di dalam kamar bekas gudang itu. Tangannya meremas perutnya kuat-kuat. Penyakit maag yang sudah lama tak kambuh kini menyerang dengan beringas, buah dari stres yang menumpuk dan perut yang hanya diisi sepiring nasi sisa dengan seiris telur dadar dingin sejak pagi.

Karina merogoh tas kecilnya dengan tangan gemetar. Ia mencari-cari strip obat lambung yang biasanya selalu ia bawa.

Kosong.

Hanya tersisa beberapa lembar uang lima puluh ribuan, sisa tabungan dari gaji terakhirnya sebelum ia resign demi mematuhi permintaan Fadel untuk menjadi ibu rumah tangga penuh waktu.

Napas Karina terengah-engah. Ia melirik kalender kecil di layar ponselnya. Tanggal ini. Pantas saja perut bagian bawahnya juga ikut terasa keram. Ia sedang datang bulan, dan ia sama sekali tidak punya persediaan pembalut di koper merah mudanya. Semalam ia terlalu kacau untuk memikirkan hal-hal kecil seperti itu.

"Aku harus keluar," bisik Karina pada dirinya sendiri.

Ia memaksakan diri untuk berdiri, berpegangan pada dinding yang catnya mulai mengelupas. Minimarket terdekat hanya berjarak lima ratus meter dari gerbang perumahan elite ini. Ia bisa berjalan kaki ke sana, membeli obat dan pembalut, lalu segera kembali sebelum Bu Sofiah menyadari ketidakhadirannya.

Karina merapikan daster katunnya, mencuci muka sejenak di wastafel dapur kotor, lalu berjalan menuju pintu utama.

Langkahnya terhenti saat ia tiba di halaman depan. Pagar besi tempa setinggi tiga meter yang memagari rumah mewah itu tertutup rapat. Gembok besar mengunci jerujinya dari dalam.

Pak Yanto, satpam rumah yang sudah bekerja belasan tahun untuk keluarga ini, sedang duduk di pos sambil menyesap kopi. Melihat Karina mendekat, pria paruh baya itu buru-buru berdiri.

"Eh, Non Karina. Ada yang bisa dibantu, Non?" sapa Pak Yanto canggung.

"Pak Yanto, saya minta tolong bukakan gerbang sebentar. Saya mau ke minimarket depan, mau beli obat," ucap Karina dengan suara yang ditahan agar tidak terdengar terlalu kesakitan.

Raut wajah Pak Yanto seketika berubah tegang. Ia mengusap tengkuknya serba salah. "Waduh, maaf, Non. Bukannya saya tidak mau membukakan. Tapi..."

"Tapi kenapa, Pak?"

"Kunci gemboknya dibawa sama Nyonya Besar, Non."

Kening Karina berkerut. "Dibawa Mama? Biasanya kan kunci gerbang selalu ada di pos satpam?"

"Iya, Non, biasanya begitu. Tapi semenjak kemarin..." Pak Yanto menundukkan kepala, suaranya mengecil. "Semenjak Non Karina pindah ke sini, Nyonya perintahkan supaya kunci gerbang utama dan pintu belakang diserahkan ke beliau. Tidak ada yang boleh keluar masuk tanpa seizin Nyonya langsung. Saya bisa dipecat kalau ketahuan membukakan pintu, Non."

Dada Karina terasa sesak.

Semenjak ia pindah ke sini.

Aturan itu dibuat khusus untuknya. Untuk mengurungnya.

"Ya sudah, tidak apa-apa, Pak Yanto. Biar saya yang minta izin ke Mama," ucap Karina dengan suara bergetar.

Ia membalikkan badan, menyeret langkahnya kembali ke dalam rumah. Rasa sakit di perutnya kini terkalahkan oleh denyut nyeri di kepalanya. Ia tidak menyangka ia harus meminta izin hanya untuk sekadar membeli kebutuhan pribadinya yang paling mendasar.

Karina mencari keberadaan mertuanya. Rumah itu begitu besar dan sunyi. Langkah kakinya membawanya menuju paviliun belakang yang terhubung dengan taman indoor.

Di sanalah Bu Sofiah berada.

Wanita paruh baya itu sedang duduk bersandar di kursi malas berbahan beludru merah. Kakinya direndam dalam baskom kayu berisi air hangat bertabur kelopak mawar. Siti, salah satu asisten rumah tangga, duduk di lantai keramik, memijat betis Bu Sofiah dengan hati-hati.

Di atas meja kaca di sampingnya, sebuah ipad menyala menampilkan drama Korea, ditemani secangkir teh chamomile dan sepiring macaron.

Pemandangan yang sangat kontras dengan kamar pengap tak berjendela yang baru saja ditinggalkan Karina.

Karina menelan ludah. Ia melangkah maju perlahan. "Ma... maaf mengganggu waktunya."

Bu Sofiah tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada layar ipad. Ia hanya mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar Siti berhenti memijat.

"Ada apa? Kerjaanmu sudah selesai semua sampai kamu berani keluyuran di area saya bersantai?" tanya Bu Sofiah tanpa nada bersahabat sedikit pun.

"Sudah, Ma. Lantai kolam renang sudah bersih. Piring-piring juga sudah dicuci." Karina meremas ujung dasternya. "Ma, Karina mau minta izin."

"Izin apa?"

"Karina mau keluar sebentar ke minimarket depan kompleks. Boleh minta tolong kunci gerbangnya, Ma?"

Barulah saat itu Bu Sofiah menoleh. Alisnya yang disulam menukik tajam. Ia menatap Karina dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan penuh selidik dan jijik.

"Ke minimarket? Mau ngapain kamu siang-siang begini keluyuran keluar rumah?"

"Karina mau beli obat maag, Ma. Perut Karina sakit sekali dari tadi. Sekalian... sekalian mau beli pembalut. Karina sedang datang bulan," jawab Karina jujur. Suaranya dipelankan, merasa canggung membicarakan hal pribadi di depan Siti yang kini menundukkan wajah dalam-dalam.

Bukannya iba, Bu Sofiah justru mendengus kasar.

"Kamu pikir ini rumah kos-kosan? Yang penghuninya bisa bebas keluar masuk sesuka hati setiap kali butuh sesuatu?" Bu Sofiah menyandarkan punggungnya kembali. "Tidak. Kamu tidak boleh keluar."

Jantung Karina seakan berhenti berdetak sesaat. "Tapi Ma, Karina sangat butuh obat itu sekarang. Perut Karina perih sekali. Hanya sebentar, Ma. Minimarketnya dekat."

"Saya bilang tidak ya tidak!" suara Bu Sofiah meninggi. Tatapannya menajam bak belati. "Kamu itu istri sah dari anak saya, Fadel. Apa kata tetangga kalau melihat menantu keluarga ini jalan kaki ke minimarket pakai daster kusam begitu siang bolong? Mau ditaruh di mana muka keluarga kita? Mau bikin gosip kalau Fadel tidak becus mengurus istri?"

"Kalau begitu, Karina ganti baju yang lebih pantas, Ma—"

"Masalahnya bukan cuma bajumu!" potong Bu Sofiah telak. "Masalahnya itu kelakuanmu! Baru tiga hari di sini sudah berani minta keluar rumah. Besok-besok kamu mau minta kunci mobil? Lusa kamu mau minta uang belanja puluhan juta untuk foya-foya di mall?"

"Karina pakai uang Karina sendiri, Ma. Karina masih punya tabungan," bela Karina cepat. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak dengan asumsi keji itu.

Tawa sumbang seketika meluncur dari bibir Bu Sofiah. Tawa yang sangat keras, memantul di dinding kaca paviliun. Siti yang duduk di lantai semakin menundukkan kepalanya, tubuh asisten rumah tangga itu ikut gemetar.

Dari arah lorong, Bi Inah yang sedang membawa tumpukan handuk bersih menghentikan langkahnya, berdiri kaku menyaksikan adegan itu.

"Uangmu sendiri? Uang tabungan dari gaji pegawai rendahanmu itu?" Bu Sofiah menunjuk wajah Karina. "Jangan sok pamer di depan saya, Karina. Kamu pikir dengan uang segitu kamu bisa hidup mandiri di rumah ini? Selama kamu menginjakkan kaki di tanah saya, kamu hidup dari belas kasihan keluarga ini!"

Karina membeku. Mulutnya terbuka tapi suaranya tercekat di tenggorokan.

"Coba kamu pikir pakai otakmu," lanjut Bu Sofiah, tidak peduli dengan fakta bahwa dua asisten rumah tangga sedang mendengarkan hinaan itu secara langsung. "Kamu mau beli obat pakai uangmu, tapi kamu tinggal di rumah anak saya, makan nasi dari beras yang dibeli anak saya, minum air dari listrik yang dibayar anak saya. Kamu itu cuma benalu! Tidak usah sok mau mandiri beli barang sendiri!"

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Karina. Rasa sakit di perutnya kini tak ada artinya dibandingkan hancurnya harga dirinya saat ini. Dipermalukan. Ditelanjangi martabatnya di depan para pekerja rumah.

"Lagipula, sakit maag sedikit saja manja sekali. Minum air putih hangat sana! Orang miskin biasa hidup susah, jangan mendadak sok jadi nyonya yang kalau sakit sedikit harus minum obat mahal!"

"Ma..." suara Karina pecah. Air mata pertamanya jatuh. "Karina benar-benar butuh pembalut, Ma. Kalau tembus..."

"Itu urusanmu!" bentak Bu Sofiah. "Pakai kain bekas saja sana! Kalau sampai darahmu mengotori kasur atau lantai rumah ini, kamu yang harus sikat lantainya pakai sikat gigi sampai bersih! Paham?!"

Dada Karina naik turun. Ia menatap mertuanya dengan pandangan buram karena air mata. Tidak ada secercah pun sisi kemanusiaan di mata wanita itu. Bu Sofiah menikmati momen ini. Ia menikmati melihat Karina mengemis tak berdaya.

"Siti! Lanjutkan pijatnya. Paha saya pegal melihat muka perempuan ini," perintah Bu Sofiah tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ipad.

Siti buru-buru mengangguk. "B-baik, Nyonya."

Karina berdiri di sana selama beberapa detik, seperti pesakitan yang baru saja dijatuhi hukuman mati tanpa pengadilan. Ia membalikkan badan dengan langkah gontai. Bi Inah yang berdiri di lorong segera memalingkan wajah, pura-pura menyibukkan diri dengan lipatan handuk, tidak berani menatap mata Karina.

Dunia Karina runtuh perlahan.

Ia kembali berjalan menuju area dapur belakang yang sepi. Udara terasa mencekik lehernya. Tangisnya tak bisa lagi ditahan. Ia menangis tanpa suara, bahunya bergetar hebat.

Dengan tangan gemetar, ia merogoh kantong dasternya, mengeluarkan ponsel yang layarnya retak.

Ia hanya punya satu tumpuan tersisa. Suaminya. Laki-laki yang seharusnya menjadi pelindungnya. Laki-laki yang membawa ia masuk ke dalam neraka ini.

Karina mendial nomor Fadel.

Nada sambung terdengar. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

Hati Karina berdebar kencang, berdoa dalam hati agar Fadel mengangkatnya.

“Halo?” Suara bariton Fadel akhirnya terdengar dari seberang sana, diiringi sayup-sayup suara ketikan keyboard komputer. Nada suaranya terdengar datar, sedikit terburu-buru.

"Mas..." panggil Karina dengan suara parau dan bergetar. "Mas Fadel..."

“Ada apa, Rin? Kenapa suaramu begitu? Nangis lagi?” Fadel menghela napas pendek. Tidak ada nada khawatir, justru tersirat sedikit kejengkelan di sana.

"Mas, aku minta tolong..." Karina terisak kecil, menutup mulutnya agar suaranya tidak terdengar keras. "Tolong pesankan aku obat maag sama pembalut dari aplikasi ojek online. Alamatkan ke rumah. Atau... atau Mas bisa telepon Mama, minta Mama bukakan gerbang sebentar buat aku? Aku mau ke minimarket, Mas."

Hening sejenak di seberang sana. Suara ketikan keyboard berhenti.

“Kamu mau keluar rumah? Memangnya Mama tidak kasih izin?”

"Mama pegang kuncinya, Mas. Semua gerbang digembok. Pak Yanto tidak berani buka tanpa izin Mama. Dan Mama bilang... Mama bilang aku tidak boleh keluar rumah sama sekali." Air mata Karina mengalir semakin deras, menetes membasahi layar ponselnya.

Bukannya marah mendengar istrinya dikurung, Fadel justru mendecak pelan.

“Ya ampun, Rin. Kamu ini ada-ada saja. Mama itu kan cuma khawatir. Kamu kan baru pindah, belum tahu lingkungan sini. Kalau kamu kenapa-kenapa di jalan bagaimana? Mama itu peduli sama keselamatanmu.”

Karina melebarkan matanya. Peduli? Apakah suaminya itu buta atau memang sengaja menutup mata?

"Peduli apa, Mas?! Mama menghinaku di depan Siti dan Bi Inah! Mama bilang aku benalu! Mama suruh aku pakai kain bekas untuk datang bulan! Di mana letak pedulinya?!" Nada suara Karina tanpa sadar meninggi, memuntahkan rasa sakit yang sejak tadi ia bendung.

“Karina! Jaga nadamu!” bentak Fadel dari seberang telepon. Suaranya menjadi dingin. “Jangan menjelek-jelekkan ibuku di belakangnya. Mama itu orang tua, kalau bicaranya agak keras ya dimaklumi saja. Kamu kan yang anak muda, harusnya kamu yang sabar, bukan malah melawan balik.”

"Aku sedang sakit, Mas. Aku butuh obat..." Karina mulai merengek, membuang harga dirinya di depan suaminya sendiri.

“Sakit maag saja dibesar-besarkan. Kamu kan bisa minta tolong Bi Inah buatkan air jahe hangat. Soal pembalut, kamu tunggu saja besok pagi saat Siti pergi ke pasar, kamu bisa titip sama dia.”

"Mas... aku butuhnya sekarang. Darahnya bisa tembus ke mana-mana. Perutku perih sekali."

Terdengar suara helaan napas panjang yang sangat kasar dari Fadel. Sebuah suara yang secara tak langsung mengatakan bahwa Karina adalah beban hidupnya.

“Rin, aku ini sedang sibuk kerja. Sedang banyak laporan yang harus diselesaikan untuk meeting jam dua nanti. Bisa tidak kamu jangan ganggu aku dengan masalah sepele urusan rumah tangga begini? Bikin pusing tahu tidak?”

Masalah sepele.

Sakitnya, harga dirinya yang diinjak, keadaannya yang dikurung... bagi Fadel itu semua hanyalah masalah sepele yang mengganggu waktu kerjanya.

"Mas... kamu suamiku. Aku cuma minta kamu telepon Mama, bilang kalau istrimu ini manusia yang butuh keluar rumah," ucap Karina putus asa.

“Dengar, Rin. Aku tidak mau berdebat sama Mama cuma gara-gara masalah gerbang dan pembalut. Nanti Mama malah makin tidak suka sama kamu. Ikuti saja dulu maunya Mama, ya? Anggap saja ini ujian buat kamu membuktikan kalau kamu itu istri yang penurut.”

Ikuti saja dulu. Lagi-lagi kalimat sakti itu yang keluar. Kalimat yang membungkam mulut Karina, mengikat kaki dan tangannya tak kasat mata.

“Sudah ya, aku mau lanjut kerja. Jangan bikin ulah di rumah. Assalamualaikum.”

Klik.

Sambungan terputus.

Hanya terdengar bunyi tut panjang yang berdengung di telinga Karina. Ia menurunkan ponselnya perlahan. Tangannya terkulai lemas di sisi tubuhnya.

Ia menatap layar ponsel yang perlahan menggelap hingga akhirnya mati, menampilkan pantulan wajahnya sendiri di permukaan kaca yang retak. Wajah seorang wanita pucat, dengan mata bengkak kemerahan, dan bibir yang bergetar.

Karina menoleh, menatap sekeliling area dapur kotor itu. Ia menatap piring seng yang masih menyisakan sedikit nasi bekas sarapannya. Ia menatap lorong gelap yang mengarah ke kamar bekas gudang tempatnya tidur.

Lalu, perlahan, matanya menatap jauh melewati jendela dapur, menatap tembok pagar belakang rumah yang menjulang tinggi dengan pecahan kaca tertanam di atasnya.

Tembok yang mengelilingi rumah mewah ini.

Selama ini ia berpikir bahwa pernikahan adalah pelabuhan, tempat di mana dua orang saling berjanji untuk saling melindungi dan berbagi kehidupan. Ia mengira rumah suaminya akan menjadi tempatnya berteduh.

Tapi sore ini, rasa sakit di perutnya menyadarkannya pada satu realitas yang paling mengerikan.

Ia tidak bisa keluar. Ia tidak boleh memegang uang. Ia tidak diizinkan membuat keputusan sekecil apa pun untuk tubuhnya sendiri. Tidak ada satu orang pun di rumah ini yang menganggapnya manusia utuh. Dan suaminya... suaminya adalah penjaga gerbang yang memastikan ia tetap tunduk.

Bahkan asisten rumah tangga digaji, diberi cuti bulanan, dan diizinkan keluar untuk membeli keperluan mereka.

Karina tidak memiliki satupun dari hak itu.

Udara di dadanya seakan ditarik habis. Napasnya tercekat hebat.

Ini bukan rumah.

Ini adalah penjara.

Dan ia mulai merasa terjebak, tanpa pintu keluar, tanpa siapa pun yang sudi memegang kuncinya.