Rasa perih di perut Karina sedikit mereda setelah Bi Inah, secara sembunyi-sembunyi, membawakannya sebotol air hangat dalam kemasan kaca bekas sirup. Karina mendekapkan botol panas itu ke perut bagian bawahnya, meringkuk di atas kasur busa tipis di sudut kamar bekas gudang yang pengap.
Dalam keheningan malam yang hanya diisi dengungan kipas ventilasi, ingatan itu menyusup masuk tanpa diundang. Ingatan tentang masa lalu yang kini terasa seperti sebuah kehidupan lain. Kehidupan yang sangat jauh.
“Sakit banget ya, Yang?”
Suara itu terdengar hangat di telinga Karina. Ia ingat hari itu. Hujan turun sangat deras, membasahi jalanan Jakarta yang macet. Karina terbaring di kamar kosnya yang sederhana, meringkuk menahan nyeri haid hari pertama yang selalu menyiksanya.
Pintu kosnya diketuk. Saat ia membukanya, Fadel berdiri di sana. Kemejanya basah kuyup, rambutnya meneteskan air hujan. Namun di kedua tangannya, pria itu membawa sekantong penuh obat pereda nyeri, cokelat hangat, dan bubur ayam.
“Mas... kamu kan lagi kerja? Kok sampai hujan-hujanan begini?” tanya Karina waktu itu, terharu hingga matanya berkaca-kaca.
Fadel tersenyum, senyum yang begitu tulus hingga membuat sudut matanya berkerut. Ia mengusap puncak kepala Karina dengan tangannya yang dingin.
“Kerjaan bisa nunggu, Rin. Tapi perempuanku lagi kesakitan. Aku nggak akan pernah biarin kamu nahan sakit sendirian. Selama ada aku, kamu adalah prioritasku. Cepat sembuh, ya, Ratuku.”
Air mata menetes dari sudut mata Karina, membawanya kembali pada kenyataan yang dingin.
Dulu, jangankan kehujanan, mendengar suara Karina sedikit serak di telepon saja Fadel sudah panik luar biasa. Dulu, Fadel adalah pria yang menjadikannya ratu. Pria yang memohon pada ayah Karina agar diizinkan membawa putrinya dan berjanji akan menjaganya dengan sisa nyawanya.
Lalu, ke mana perginya pria itu sekarang?
Ke mana perginya pria yang berjanji tidak akan membiarkannya kesakitan sendirian?
Suara deru mesin mobil yang memasuki pekarangan rumah membuyarkan lamunan Karina. Itu pasti mobil Fadel. Suaminya sudah pulang.
Karina segera mengusap air matanya dengan kasar. Ia merapikan rambutnya yang berantakan, memaksakan diri untuk berdiri meski perutnya masih terasa nyeri. Ia harus menyambut suaminya. Ia masih seorang istri.
Karina membuka pintu kayunya yang berderit, melangkah menyusuri lorong dapur yang temaram menuju ruang tengah.
Di ruang keluarga, Fadel baru saja meletakkan tas kerjanya di atas sofa. Pria itu melonggarkan dasinya dengan wajah kelelahan. Bu Sofiah menyambut putranya dengan segelas air es dan senyum lebar.
"Gimana kerjanya hari ini, Sayang? Lancar?" tanya Bu Sofiah, mengelus lengan Fadel dengan bangga.
"Lancar, Ma. Cuma capek banget, meeting dari siang nggak kelar-kelar," keluh Fadel seraya meneguk air esnya hingga tandas.
"Mas Fadel."
Panggilan lirih itu membuat kedua orang di ruang keluarga tersebut menoleh. Karina berdiri di ambang batas antara ruang makan dan ruang keluarga. Tangannya bertaut di depan perut.
Senyum Bu Sofiah seketika luntur, digantikan tatapan tajam yang mengintimidasi. Fadel hanya menatap Karina sekilas, raut wajahnya tidak berubah sama sekali. Tidak ada senyum sambutan. Tidak ada tatapan khawatir.
"Aku bawakan tasnya ke atas ya, Mas?" tawar Karina, melangkah maju mendekati sofa.
Tepat saat tangan Karina hendak menyentuh handle tas kerja kulit milik Fadel, Bu Sofiah menepis pelan punggung tangan menantunya.
"Tidak usah," potong Bu Sofiah ketus. "Tanganmu pasti habis cuci-cuci di belakang, kan? Nanti tas kulit anak saya malah bau sabun cuci piring. Biar Siti saja yang bawa."
Karina menarik tangannya kembali seolah baru saja menyentuh bara api. Ia menatap Fadel, berharap suaminya akan melarang ibunya berbuat demikian. Namun, pria itu hanya menghela napas panjang, seakan percakapan ini menambah beban di kepalanya.
"Iya, Rin. Biar Siti aja. Tanganmu kotor," ucap Fadel santai.
Karina menelan ludah yang terasa perih. "Aku sudah cuci tangan, Mas. Aku istrimu, wajar kan kalau aku yang mengurus barang-barangmu?"
"Kamu ini dikasih tahu membantah terus, ya!" sentak Bu Sofiah dengan suara melengking. "Ini rumah saya, aturannya ya aturan saya. Kalau saya bilang asisten yang bawa, ya asisten yang bawa. Kamu tidak usah sok rajin cari muka di depan Fadel!"
"Ma, sudahlah. Fadel capek mau dengar ribut-ribut," sela Fadel cepat. Ia menatap ibunya dengan lembut, lalu beralih menatap Karina dengan sorot mata yang mengeras. "Rin, tolong jangan mulai. Masuk kamar sana. Aku mau mandi, gerah."
Fadel berbalik, melangkah menuju tangga tanpa menoleh lagi ke arah istrinya.
"Mas, tunggu!" panggil Karina. Kakinya bergerak lebih cepat, menyusul langkah panjang suaminya hingga menahan lengan kemeja Fadel di anak tangga pertama.
Fadel menepis tangan Karina, meski tidak kasar, namun cukup membuat Karina tersentak.
"Apa lagi sih, Rin?" desis Fadel dengan rahang mengeras. Suaranya dipelankan agar ibunya yang berada di ruang keluarga tidak mendengar terlalu jelas.
"Aku butuh bicara sama kamu, Mas," suara Karina bergetar hebat. Matanya memerah menahan tangis. "Berdua. Hanya kita berdua. Sebagai suami dan istri."
Fadel memutar bola matanya malas. "Besok pagi saja. Aku capek."
"Nggak bisa besok, Mas! Ini tentangku. Tentang kita. Tentang posisiku di rumah ini," potong Karina dengan nada yang sedikit meninggi, tidak peduli jika mertuanya mendengar. Kesabarannya sudah mencapai ambang batas sejak siang tadi. "Tolong, Mas. Kalau kamu masih menganggap aku istrimu, turun ke kamarku sekarang. Aku tunggu."
Tanpa memberi kesempatan Fadel membantah, Karina membalikkan badannya dan berjalan cepat menuju dapur kotor. Ia tidak sanggup lagi berada di ruangan yang sama dengan Bu Sofiah. Ia butuh jawaban dari suaminya malam ini juga.
Karina duduk di tepi kasur busanya yang keras. Udara di dalam kamar bekas gudang itu terasa semakin mencekik. Lima menit berlalu. Sepuluh menit berlalu.
Apakah Fadel akan datang? Ataukah pria itu lebih memilih tidur di kamar mewahnya yang ber-AC, mengabaikan istrinya yang menahan sakit di ruangan sempit ini?
Tepat saat air mata Karina hampir tumpah lagi, terdengar langkah kaki mendekat. Pintu kayu berderit terbuka. Fadel masuk dengan wajah bersungut-sungut. Ia sudah berganti pakaian dengan setelan kaus santai dan celana pendek. Rambutnya masih setengah basah.
Pria itu menutup pintu di belakangnya, lalu menatap sekeliling ruangan dengan ekspresi jijik yang tidak ditutup-tutupi. Ia mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya.
"Ya ampun, Rin. Kamar ini bau apek banget sih? Kamu nggak semprot pengharum ruangan apa? Terus ini kenapa panas banget, kamu nggak nyalain kipas angin?" gerutu Fadel, bahkan sebelum ia sempat menanyakan kabar Karina.
"Tidak ada kipas angin di sini, Mas," jawab Karina datar. "Dan baunya memang begini dari awal. Ini bekas gudang barang-barang usang ibumu, kalau kamu lupa."
Fadel mendecak kesal. Ia enggan duduk di atas kasur busa itu, memilih berdiri bersandar pada dinding yang catnya mengelupas.
"Ya udah, mau ngomong apa? Cepat. Aku mau istirahat," ucapnya ketus, melipat kedua lengannya di dada.
Karina mendongak, menatap lekat-lekat mata pria di hadapannya. Ia mencari bayangan Fadel yang dulu, namun pria yang berdiri di depannya kini terasa seperti orang asing.
"Sampai kapan, Mas?" tanya Karina pelan.
"Sampai kapan apanya?"
"Sampai kapan aku harus hidup seperti ini?" Suara Karina mulai bergetar, namun ia menahannya sekuat tenaga agar tidak terisak. Ia ingin Fadel melihat keseriusannya, bukan sekadar rengekan. "Tadi siang, aku kesakitan parah. Aku hanya minta tolong dibukakan gerbang untuk beli obat dan pembalut. Tapi ibumu menghinaku, Mas. Dia bilang aku ini benalu. Dia suruh aku pakai kain bekas."
Fadel membuang muka. "Kan aku udah bilang, Mama itu cuma asal jeplak aja kalau lagi emosi. Kamu baperan banget sih jadi orang."
"Baperan kamu bilang?!" Nada suara Karina naik setengah oktaf. Ia berdiri, mendekati suaminya. "Mas, ibumu menyuruhku makan sisa makananmu di piring seng! Piring seng, Mas! Sementara anjing pudel ibumu makan di mangkuk keramik! Ibumu melarangku menyentuh makanan yang dibeli pakai uangmu, seolah aku ini pencuri di rumah ini!"
"Karina, pelan-pelan ngomongnya! Nanti Mama dengar!" Fadel mendesis panik, matanya melotot ke arah pintu.
"Biarin dia dengar!" tantang Karina, matanya menyalang penuh luka. "Biar dia tahu menantunya sedang menuntut haknya! Mas, kamu sadar nggak apa yang terjadi di sini? Aku dicabut dari kehidupanku. Kamu memintaku resign dari pekerjaanku. Kamu bilang kamu akan mencukupi semuanya. Tapi kenyataannya? Aku disuruh mengepel kolam renang, menyikat lantai, mencuci piring jongkok, tanpa boleh memegang uang sepeser pun. Aku ini istri atau pembantu gratisan keluargamu?!"
"Jaga mulutmu, Karina!" bentak Fadel tak tertahan lagi. Tangannya menunjuk wajah istrinya. "Jangan berani-berani kamu menyamakan dirimu dengan pembantu. Pembantu di sini digaji. Kamu? Kamu tinggal enak, makan gratis, tidur di rumah mewah."
"Tidur di sini kamu bilang enak?!" Karina menunjuk kasur busa tipis di bawah kaki mereka. Air matanya akhirnya pecah, mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. "Kamu tidur di kasur king size, pakai AC. Istrimu tidur di lantai, di ruangan tanpa jendela, bau kapur barus, menahan sakit maag sendirian! Kamu bilang ini enak, Mas?!"
Fadel terdiam. Wajahnya memerah, antara malu dan marah karena disudutkan dengan fakta yang tak bisa ia bantah.
"Dan yang paling menyakitkan dari semua ini..." Karina memukul dadanya sendiri berulang kali. Sakitnya begitu nyata, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. "...adalah melihat suamiku sendiri diam saja. Kamu diam, Mas. Kamu melihatku dipermalukan di depan para asisten rumah tangga, dan kamu menunduk menatap piringmu."
"Aku bukannya diam!" Fadel mencoba membela diri, suaranya terdengar sumbang. "Aku sedang berusaha menengahi! Tapi kamu nggak ngerti posisiku, Rin! Mama itu orang tua tunggal. Dia cuma punya aku. Kalau aku membela kamu secara terang-terangan, Mama bisa jantungan! Mama bisa merasa aku lebih milih perempuan lain dibanding ibu kandungnya sendiri!"
"Perempuan lain?!" Karina tertawa sumbang. Tawa yang mengiris hati. "Aku ini istrimu, Mas! Istri sahmu! Agama mana pun menyuruhmu melindungi istrimu. Bukannya aku memintamu melawan ibumu, tapi setidaknya berdirilah untukku! Beri aku tempat yang layak! Beri aku harga diri!"
"Terus kamu maunya aku gimana?!" teriak Fadel, rasa frustrasinya meledak. Ia maju selangkah, menatap Karina dengan sorot mata yang tak lagi menyisakan kehangatan. "Kamu maunya aku usir ibuku dari rumahnya sendiri? Atau kamu maunya kita pindah ngontrak di petakan kumuh demi ego kamu?!"
"Ego?! Kamu bilang aku egois?!" Karina menatap Fadel dengan rahang terbuka, tidak percaya dengan kalimat manipulatif yang baru saja meluncur dari mulut suaminya. "Mas, aku bahkan rela mengabdi pada ibumu asal aku di-manusia-kan! Aku rela mencuci kakinya kalau perlu, asal dia menganggapku ada! Tapi tadi siang, aku mendengar sendiri dia bicara di telepon dengan temannya. Ibumu bilang..."
Napas Karina tersendat. Mengucapkan kalimat itu kembali rasanya seperti menaburkan garam di atas luka yang menganga.
"...ibumu bilang aku ini cuma menumpang. Dia bilang, aku miskin, berasal dari keluarga berantakan, dan status istriku cuma sebatas formalitas yang bisa diurus nanti. Dia sengaja tidak memberiku kamar supaya aku sadar diri dan pergi!"
Wajah Fadel memucat sesaat. Ia gelagapan, matanya bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan, menghindari tatapan tajam istrinya.
"Itu... itu pasti kamu salah dengar," elak Fadel dengan suara yang mulai gemetar.
"Jangan bohongi aku, Mas," desis Karina dengan suara rendah yang mematikan. Matanya menatap lekat ke dalam manik mata suaminya. "Reaksimu membuktikan semuanya. Kamu tahu, kan? Kamu tahu ibumu merencanakan ini semua. Kamu sengaja tidak memberikan kamar utama padaku, bukan karena tradisi konyol. Tapi karena ibumu memang tidak pernah sudi aku menetap di rumah ini. Iya, kan?!"
"Rin, tolonglah..." Fadel meraup wajahnya dengan kedua tangan, terlihat sangat pengecut di mata Karina.
"Jawab aku, Mas!" teriak Karina keras, suaranya serak dan pecah. Tangannya mencengkeram kaus suaminya, mengguncang tubuh pria itu dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Kamu mengiyakan ibumu saat dia bilang aku hanya benalu di sini?! Kamu suamiku, Mas! Ke mana janji-janjimu dulu? Ke mana Fadel yang dulu rela hujan-hujanan membelikanku obat?! Siapa pria pengecut yang berdiri di depanku ini?!"
Mendengar kata 'pengecut', harga diri Fadel tersengat. Ia menghempaskan cengkeraman tangan Karina dengan kasar hingga tubuh wanita itu terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk di atas kasur busa.
"Cukup, Karina!" bentak Fadel dengan rahang mengeras. Napasnya memburu. Matanya menatap istrinya dengan kilat amarah yang belum pernah Karina lihat sebelumnya.
Karina mendongak, menatap pria itu dari bawah. Hatinya hancur berkeping-keping. Fadel tidak menolongnya berdiri. Fadel tidak meminta maaf karena telah mendorongnya. Pria itu justru memandangnya layaknya musuh.
"Kamu pikir cuma kamu yang berkorban di sini?" desis Fadel dengan nada sinis. "Kamu pikir aku bahagia melihat keadaan setiap hari ribut seperti ini? Kamu selalu menuntut, menuntut, dan menuntut! Kamu ungkit-ungkit masalah obat, masalah gerbang, masalah kamar! Sadar diri sedikit, Karina! Sebelum nikah sama aku, kamu cuma pegawai kecil yang buat beli baju layak saja harus nabung berbulan-bulan!"
Kalimat itu menampar Karina lebih keras dari pukulan fisik mana pun.
Telinganya berdenging. Pandangannya mengabur. Fadel—suaminya sendiri—merendahkan status sosialnya. Pria yang dulu mengatakan bahwa harta tidak ada artinya dibanding cinta mereka.
"Kamu dinikahi masuk ke keluarga terpandang," lanjut Fadel, suaranya tajam seperti belati yang menguliti jiwa Karina. "Wajar kalau Mama menuntut kamu berubah. Wajar kalau Mama menguji mentalmu. Kalau kamu memang tulus mencintai aku, harusnya kamu tahan banting. Bukan malah merengek minta hak ini itu seolah kamu menikah sama aku cuma mengincar kenyamanan hidupnya saja."
"Kamu... kamu menuduhku menikahimu karena harta?" bisik Karina. Suaranya hampir tak terdengar, tenggelam oleh isak tangis yang tertahan di kerongkongan.
"Buktinya kamu sekarang protes cuma karena masalah materi, kan? Masalah piring, masalah uang jajan, masalah kasur," balas Fadel dingin. "Kalau kamu memang cinta sama aku, kamu akan terima kondisi ini sampai Mama luluh. Bukannya malah nyerang aku setiap aku pulang kerja."
Karina menggeleng perlahan. Ia tidak mengenali pria ini. Ini bukan Fadel. Ini monster yang mengenakan wajah suaminya.
Bagaimana mungkin pria ini memutarbalikkan fakta dengan begitu kejam? Karina menderita secara fisik dan mental, kehilangan kebebasannya, disiksa secara psikologis, dan Fadel menyebutnya 'mengincar materi'?
Rasa cinta yang selama ini membuat Karina bertahan, perlahan-lahan mulai terkikis. Retak. Digantikan oleh sebuah kekosongan yang dingin dan gelap.
Karina mengusap air matanya dengan punggung tangan. Ia perlahan bangkit berdiri. Kali ini, ia tidak menangis tersedu-sedu. Tidak ada lagi rengekan. Tatapan matanya yang tadi penuh permohonan kini berubah menjadi pudar dan kosong.
"Jadi begitu, Mas," ucap Karina pelan, nyaris seperti berbisik. "Jadi, rasa sakitku... harga diriku yang diinjak ibumu... statusku yang direndahkan jadi pembantu di rumah ini... menurutmu itu semua karena aku tidak tulus mencintaimu?"
Fadel mendengus membuang muka. "Kamu sendiri yang membuat kesimpulan seperti itu."
Karina menatap tangan suaminya yang terlipat di depan dada. Tangan yang dulu selalu menggenggamnya erat, kini tertutup rapat menjadi benteng pertahanan untuk menyingkirkannya.
"Mas, tolong..." Karina melangkah maju satu langkah. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar, mencoba meraih lengan Fadel. Ini adalah percobaan terakhirnya. Panggilan terakhir dari seorang istri yang sedang berada di tepi jurang keputusasaan. "...lihat aku, Mas. Lihat mataku. Apa kamu benar-benar tidak peduli lagi padaku?"
Bukannya membalas tatapan istrinya, Fadel justru memundurkan tubuhnya, menghindari sentuhan Karina seperti menghindari penyakit menular.
Pria itu meraup wajahnya dengan frustrasi, lalu membalikkan badan menuju pintu. Tangannya meraih kenop pintu kayu yang berdebu itu.
"Tidur, Rin," ucap Fadel tanpa menoleh ke belakang. Suaranya datar, tanpa emosi, tanpa penyesalan. "Aku lelah. Aku butuh ketenangan."
"Mas..." panggil Karina dengan suara yang nyaris hilang.
Fadel memutar kenop pintu. Sebelum melangkah keluar, ia menoleh sedikit dari atas bahunya, menatap Karina dengan sorot mata yang mempertegas segalanya.
"Jangan bikin suasana makin rumit."
Klik.
Pintu tertutup rapat.
Langkah kaki Fadel terdengar menjauh, menyusuri lorong panjang kembali ke singgasana nyamannya di lantai atas.
Meninggalkan Karina yang berdiri kaku di tengah ruangan sempit itu.
Kata-kata terakhir Fadel terus menggema di dinding-dinding lembap kamar bekas gudang tersebut. Jangan bikin suasana makin rumit.
Cinta tidak seharusnya rumit jika kedua orang berjuang bersama. Tapi malam ini, Karina menyadari satu kebenaran absolut yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Di rumah ini, ia berjuang sendirian.
Perlahan, Karina menjatuhkan tubuhnya ke lantai semen yang dingin. Ia tidak menangis lagi. Air matanya sudah kering, menguap bersama sisa-sisa cinta naif yang ia bawa ke dalam rumah ini. Tangannya meremas daster usangnya. Tatapan matanya menajam menembus kegelapan malam.
Sesuatu di dalam diri Karina, wanita yang lembut dan penurut itu, baru saja mati.
Dan sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya, baru saja lahir.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar